collapse

* Artikel Pilihan

Penulis Topik: Imam Sebagai Keistimewaan Islam  (Dibaca 2509 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9591
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Imam Sebagai Keistimewaan Islam
« pada: Pebruari 11, 2013, 05:44:55 PM »
Ketika Nabi saw memperkenalkan Ali bin Abi Thalib sebagai imam, Rasulullah saw bersabda :

Sepeninggalku, bawalah seluruh persoalan keagamaan kepada Ali. Tanyakan kepadanya dan para pelanjutku yang lain, apa saja yang hendak kalian ketahui.( Murtadha Muthahhari, Imamah & Khilafah, Hal. 39 )

Sabda Rasulullah tersebut, selaras dengan firman Allah :

Maka bertanyalah kepada ahli dzikr jika kamu tidak mengetahui (16:43)

Ini adalah suatu keistimewaan dalam Islam, bahwa komunitas mulism mempunyai seorang imam yang menjadi tempat bertanya tentang segala problematika yang dihadapi umat.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Imam Sebagai Keistimewaan Islam
« Jawab #1 pada: Pebruari 11, 2013, 07:41:04 PM »
^celakanya umat tidak mengetahuinya.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Imam Sebagai Keistimewaan Islam
« Jawab #2 pada: Pebruari 11, 2013, 09:04:56 PM »
sepeninggal 11 Imam, tanyakanlah segala hal kepada Imam yang ke 12... Sang Imam Mahdi yang tersembunyi dalam medan gaya...

di zaman dunia yang semakin mendekati puncak kekacauan, manusia justru dituntut untuk bertanya kepada sang Imam yang "di-ghaib-kan"Nya.
sungguh ini adalah sebuah filter yang sangat rapat untuk menyaring hamba2 pilihanNya sebagai barisan penumpas angkara murka di akhir zaman.
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9591
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Imam Sebagai Keistimewaan Islam
« Jawab #3 pada: Pebruari 11, 2013, 10:19:51 PM »
^ seluruh argumen syiah, yang mengungkap berbagai problem sejak tragedi hari khamis hingga kepemimpinan imam ke 11 adalah sangat memuaskan akal. tapi begitu membicarakan soal imam ke 12, berbagai jawaban yang saya terima pun rasanya tidak memuaskan. perumpamaan dari Ust. Abu Zahra tentang "12 lampu", ketika saya sampaikan kepada semua orang, tak ada satupun yang bisa menerima perumpamaan tersebut.

selama hampir setahun, saya menanyakan nash nama-nama 12 imam, tak satupun ustadz yang memberikan satu hadits pun tentang nama-nama imam itu, sampai saya menemukannya sendiri di dalam sebuah buku karya ulama syiah juga. tapi, setelah melalui sebuah penyelidikan yang panjang terhadap nash-nash selama kurun waktu hampir 7 tahun, dan juga berdasar kepada pengalaman spiritual pribadi, maka adanya "imam suci" tersebut pada setiap zaman merupakan keniscayaan logis. keniscayaan logis itu seperti umpamanya "tidaklah mungkin si fulan ada, kecuali terlebih dahulu ada ibunya". itulah keniscayaan logis, karena tidaklah mungkin manusia lahir dari belahan batu. masalahnya, saya tidak pernah melihat ibunya si fulan, dan tidak pula bertemu ibunya si fulan. walaupun tidak melihat atau bertemu dengannya, tidaklah mungkin saya untuk mengatakan bahwa si fulan tak pernah punya ibu, ia lahir ke dunia begitu saja tanpa ibu.

Demikian pula halnya dengan "keniscayaan keberadaan imam suci". tidaklah mungkin "imam suci" tersebut tidak ada pada zaman ini. akal mengatakan, "imam suci yang tahu segala pengetahuan" tersebut wajib ada. bedanya, dengan soal "kasus si fulan", muqodimah (premise) logicnya tidak perlu dipelajari sampai 7 tahun lamanya. sebab, sudah menjadi pengetahuan umum, manusia terlahir dari rahim seorang wanita. sedangkan penyaksian akal terhadap keberadaan imam suci ini melalui berbagai-bagai jalan, salah satunya melalui "filsafat gerak semesta", yang mengajarkan tidaklah mungkin gerak itu tanpa sebab dan tujuan. sebab dan tujuan gerak ini berawal dan berakhir pada sosok sempurna dari keberadaan. lalu, kalau diuraikan seluruhnya tentang fislafat gerak ini, niscaya akan membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya, jika kita tidak cukup beruntung mengerti dengan cepat. tetapi di sini saya tidak bermaksud menguraikan filsafat gerak itu, melainkan sekedar menggambarkan bahwa dari situlah "keniscayaan logic keberadaan imam suci" muncul. dengan demikian, untuk soal keberadaan imamnya, sedikitpun saya tidak meragukannya. ia memang benar-benar ada. tapi soal "bersembunyi" nya, inilah yang sayapun masih meragukannya. tapi dari keraguan inilah saya terus belajar, tentang mana alasan yang tepat dan alasan yang tidak tepat atas ghaibnya imam.

sementara pihak di luar syiah selalu menuntut bukti "wujud terlihat" atas keberadaan imam, seolah "tidak terlihat" berarti "tidak ada". hal ini tentu tidak sesuai dengan prinsip filsafat yang menyatakan bahwa "keberadaan wujud yang tidak pernah kita lihat adalah jauh lebih banyak dan lebih besar dari wujud yang pernah kita lihat." oleh karena itu, membuktikan ada dan tiadanya sesuatu dengan "wujud yang terlihat" merupakan kesalahan nalar.

tetapi di sisi lain, "ghaibnya sang imam" juga terasa seperti sebuah kesalahan nalar. apalagi ghaibnya hingga beratus-ratus tahun lamanya. tugas dia membimbing umat. tapi dia tidak hadir di tengah umat. jadi, keghaibannya yang panjang adalah bertentangan dengan sifat tugasnya sebagai imam. keghaibannya adalah hal yang tak masuk akal. kini saya menemukan dua hal yang tidak masuk akal.

pertama, keghaiban sang imam
kedua, ketiadaan sang imam

jadi, yang masuk akal menurut saya adalah "imam itu ada di tengah umat, menjalankan tugasnya membimbing umat, semestinya tidak ghabi atau sembunyi". ini adalah hipotesa, yang harus dibuktikan oleh kenyataan ilmiah. faktanya, sang imam itu tidak ada, tidak ditemukan di tengah umat. ketika fakta tidak sesuai dengan hipotesa, maka harus dievaluasi dengan dua cara :

pertama, apakah ada kesalahan di dalam hipotesa itu sendiri
kedua, apakah ada kesalahan di dalam menafsirkan fakta

untuk mengevaluasi kesalahan hipotesa logic, berati harus kembali menelusuri muqadimah-muqadimahnya. tapi, apabila sudah sangat yakin bahwa hipotesa itu sudah dibuat berdasarkan kaidah-kaidah yang benar, maka ada satu kemungkinan lagi, yaitu "salah dalam menafsirkan fakta".

sulitnya persolan imam mahdi ini, membawa umat - yang ingin sampai pada suatu keyakinan 'ainal yakin`- kepada pemikiran falsafati yang panjang dan berliku-liku. berbeda dengan umat awam, yang cukup percaya dengan riwayat atau nash-nash yang dikatakan "dari nabi". tapi tampaknya para ulama syiah mempunya dua opsi untuk umat. mereka yang memilih untuk percaya kepada nash-nash, disajikannya nash-nash yang meyakinkan. sedangkan mereka yang tidak percaya kepada nash-nash itu, dan menginginkan "pembuktian secara akliah", para ulama syiah ini menyajikan kajian falsafah yang pelik, tapi memberi pencerahan kepada pihak yang mau memikirkannya.

ketika melakuan penyelidikan filsafat tentang keberadaan imam Mahdi ini, tidak terpikir oleh saya bahwa apa-apa yang telah saya temukan di dalam ranah filsafat itu, kemudian akan dimengerti dan diyakini oleh orang lain sebagaimana saya meyakininya. tetapi, saya mencoba mempublikasikan sedikit demi seikit temuan-temuan saya ini untuk mendapatkan respon dari pihak lain. sejatinya respon itu diharapkan membantu saya dalam melakukan penyelidikan lebih jauh lagi, atau untuk mengulang kembali kajian-kajian yang mungkin hampir terlupakan.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline aten

  • Tamu
  • *
  • Tulisan: 26
  • Total likes: 2
  • Jenis kelamin: Pria
  • coretan singkat, mudahan manfaat
    • Lihat Profil
Re:Imam Sebagai Keistimewaan Islam
« Jawab #4 pada: Juli 25, 2014, 04:24:35 PM »
di jawa juga ada tokoh yang masih sembunyi, yang diyakini suatu saat akan menampakkan diri, saat itu kemakmuran, kesejahteraan, kedamaian yang selama ini didambakan akan terwujud. Ia tokoh piningit. Apakah ini yang dimaksud Imam Mahdi? Jika ya, kenapa ada yang berani mengatakan bahwa tokoh peningit adalah bapak jokowi? Betapa mudah.

Banyak orang tidak meragukan kemampuan Rosul Mohammad, disegala bidang. Bliau dapat membayangkan keadaan umatnya sepeninggal bliau. Bliau sangat bersedih, karena nanti umatnya tidak lagi taat, akibatnya pasti sulit mendapat keberkahan Illahi.

Penerawangan bliau berbeda dengan ramalan kemunculan imam mahdi yang akan mendatangkan kebahagiaan umat.

Terserah kita mana yang mau dipegang?
 
 

 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
3298 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 11, 2013, 11:02:53 PM
oleh Kang Asep
17 Jawaban
6626 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 15, 2016, 11:51:54 AM
oleh Saban.jagung
2 Jawaban
2082 Dilihat
Tulisan terakhir April 26, 2013, 03:38:20 PM
oleh Abu Zahra
1 Jawaban
873 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 25, 2015, 10:54:37 PM
oleh Monox D. I-Fly
1 Jawaban
1092 Dilihat
Tulisan terakhir April 13, 2017, 07:07:03 PM
oleh comicers
0 Jawaban
921 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 06, 2015, 10:44:25 PM
oleh comicers
1 Jawaban
831 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 31, 2015, 07:45:58 AM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
780 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 18, 2016, 09:25:27 AM
oleh rusydalfalasifah
0 Jawaban
70 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 24, 2018, 12:21:22 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
201 Dilihat
Tulisan terakhir April 27, 2018, 11:54:25 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan