collapse

* Artikel Pilihan

Penulis Topik: Imam Mahdi dan Khilafah : Menunggu datangnya atau bangkit dan berjuang bersama2?  (Dibaca 8141 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1062
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 21
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Soal:
Keyakinan kaum Muslim akan kembalinya Khilafah ‘ala Minhaj Nubuwwah semakin meningkat. Namun, ada sebagian yang percaya, bahwa Khilafah akan berdiri sendiri, karena sudah merupakan janji Allah. Caranya, dengan menurunkan Imam Mahdi. Pertanyaannya, benarkan Imam Mahdi yang akan mendirikan Khilafah? Ataukah kaum Muslim yang mendirikannya, kemudian lahirlah Imam Mahdi?

Jawab:
1- Kalaupun ada hadits yang menunjukkan Imam Mahdi akan mendirikan, maka hadits tersebut tetap tidak boleh dijadikan alasan untuk menunggu berdirinya Khilafah. Karena berjuang untuk menegakkan Khilafah hukumnya tetap wajib bagi kaum Muslimin, sebagaimana hadits Nabi:
مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةِ اللهِ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَحُجَّةَ لَهُ، وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
“Siapa saja yang melepaskan tangannya dari ketaatan kepada Allah, niscaya dia akan menjumpai Allah pada Hari Kiamat dengan tanpa mempunyai hujah. Dan, siapa saja yang mati sedangkan di atas pundaknya tidak terdapat bai’at, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” (Hr. Muslim)[1]
Manthuq hadits di atas menyatakan, bahwa “Siapa saja yang mati, ketika Khilafah sudah ada, dan di atas pundaknya tidak ada bai’at, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” Atau “Siapa yang mati, ketika Khilafah belum ada, dan dia tidak berjuang untuk mewujudkannya, sehingga di atas pundaknya ada bai’at, maka dia pun mati dalam keadaan mati jahiliyah.” Karenanya, kewajiban tersebut tidak akan gugur hanya dengan menunggu datangnya Imam Mahdi.
2- Memang banyak hadits yang menuturkan akan lahirnya Imam Mahdi, namun tidak satupun hadits-hadits tersebut menyatakan, bahwa Imam Mahdilah yang akan mendirikan Khilafah. Hadits-hadits tersebut hanya menyatakan, bahwa Imam Mahdi adalah seorang Khalifah yang saleh, yang akan memerintah dengan adil, dan akan memenuhi bumi dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kezaliman dan penyimpangan. Dari Abi Sa’id al-Hudhri ra. berkata, dari Nabi saw. bersabda:
لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَمْتَلِيءَ الأَرْضُ ظُلْمًا وَعُدْوَانًا، ثُمَّ يَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِيْ أَوْ عِتْرَتِيْ فَيَمْلَؤُهَا قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَعُدْوَانًا
Hari kiamat tidak akan tiba, kecuali setelah bumi ini dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan. Setelah itu, lahirlah seorang lelaki dari kalangan keluargaku (Ahlu al-Bait), atau keturunanku, sehingga dia memenuhi dunia ini dengan keseimbangan dan keadilan, sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan. (Hr. Ibn Hibban)[2]
Dalam riwayat lain, dari Abdullah, dari Nabi Rasulullah saw. beliau bersabda:
لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَمْلِكَ النَّاسَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِىءُ اسْمَهُ اسْمِي وَاسْمَ أَبِيْهِ اسْمُ أَبِيْ فَيَمْلَؤُهَا قِسْطًا وَعَدْلاً
Hari kiamat tidak akan tiba, kecuali setelah manusia ini diperintah oleh seorang lelaki dari kalangan keluargaku (Ahlu al-Bait), yang namanya sama dengan namaku, dan nama bapaknya juga sama dengan nama bapakku. Dia kemudian memenuhi dunia ini dengan keseimbangan dan keadilan. (Hr. Ibn Hibban)[3]
3- Hanya saja, terdapat riwayat yang menyatakan, bahwa Imam Mahdi tersebut lahir setelah berdirinya Khilafah, bukan sebelumnya. Diriwayatkan dari Ummu Salamah, berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:
يَكُوْنُ اخْتِلاَفٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيْفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ المَدِيْنَةِ هَارِبًا إِلَى مَكَّةَ فَيَأْتِيْهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ فَيَخْرُجُوْنَهُ وَهُوَ كاَرِهٌ فَيُبَايِعُوْنَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ وَيُبْعَثُ إِلَيْهِ بَعْثٌ مِنَ الشَّامِ فَيُخْسِفَ بِهِمْ بِالبَيْدَاءِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالمَدِيْنَةِ فَإِذَا رَأَى النَّاسُ ذَلِكَ أَتَاهُ أَبْدَالُ الشَّامِ وَعَصَائِبُ أهْلِ العِرَاقِ فَيُبَايِعُوْنَهُ، ثُمَّ يَنْشَأُ رَجُلٌ مِنْ الشَّامِ أَخْوَالُهُ كَلْبٌ فَيَبْعَثُ إِلَيْهِمْ بَعْثًا فَيُظْهِرُوْنَ عَلَيْهِمْ وَذَلِكَ بَعْثُ كَلْبٍ وَالْخَيْبَةِ لِمَنْ لَمْ يَشْهَدْ غَنِيْمَةَ كَلْبٍ فَيُقَسِّمُ المَالَ وَيَعْمَلُ فِي النَّاسِ.. وَيُلْقِيَ الإِسْلاَمَ بِجِرَانِهِ فِي الأَرْضِ فَيَلْبَثُ سَبْعَ سِنِيْنَ ثُمَّ يَتَوَفَّى وَيُصَلِّى عَلَيْهِ الُمسْلِمُوْنَ وَفِي رِوَايَةٍ فَيَلْبَثُ تِسْعَ سِنِيْنَ
“Akan muncul pertikaian saat kematian seorang Khalifah. Kemudian seorang lelaki penduduk Madinah melarikan diri ke kota Makkah. Penduduk Makkah pun mendatanginya, seraya memintanya dengan paksa untuk keluar dari rumahnya, sementara dia tidak mau. Lalu, mereka membai’atnya di antara Rukun (Hajar Aswad) dengan Maqam (Ibrahim). Disiapkanlah pasukan dari Syam untuknya, hingga pasukan tersebut meraih kemenangan di Baida’, tempat antara Makkah dan Madinah. Tatkala orang-orang melihatnya, dia pun didatangi oleh para tokoh Syam dan kepala suku dari Irak, dan mereka pun membai’atnya. Kemudian muncul seorang (musuh) dari Syam, yang paman-pamannya dari suku Kalb. Dia pun mengirimkan pasukan untuk menghadapi mereka, hingga Allah memenangkannya atas pasukan dari Syam tersebut, hingga al-Mahdi merebut kembali daerah Syam dari tangan mereka. Itulah suatu hari bagi suku Kalb yang mengalami kekalahan, yaitu bagi orang yang tidak mendapatkan ghanimah Kalb. Al-Mahdi lalu membagi-bagikan harta-harta tersebut dan bekerja di tengah-tengah masyarakat… menyampaikan Islam ke wilayah di sekitarnya. Tidak lama kemudian, selama tujuh atau, dia pun meninggal dunia, dan dishalatkan oleh kaum Muslim. Dalam riwayat lain dinyatakan, tidak lama kemudian, selama sembilan tahun. ” (Hr. At-Thabrani)
Hadits di atas, dengan jelas menyatakan, bahwa akan lahir Khalifah baru setelah meninggalnya Khalifah sebelumnya. Sebagaimana yang dinyatakan dalam lafadz:
يَكُوْنُ اخْتِلاَفٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيْفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ
“Akan muncul pertikaian saat kematian seorang Khalifah. Kemudian keluarlah seorang lelaki..” (Hr. At-Thabrani)
Dengan demikian, pandangan yang menyatakan, bahwa Imam Mahdilah yang akan mendirikan Khilafah Rasyidah Kedua jelas merupakan pandangan yang lemah. Demikian juga pandangan yang menyatakan, bahwa tidak perlu berjuang untuk menegakkan Khilafah, karena tugas itu sudah diemban oleh Imam Mahdi, sehingga kaum Muslim sekarang tinggal menunggu kedatangannya, adalah juga pandangan yang tidak berdasar.
Jadi jelas sekali, bahwa Imam Mahdi bukanlah orang yang mendirikan Khilafah, dan dia bukanlah Khalifah yang pertama dalam Khilafah Rasyidah Kedua yang insya Allah akan segera berdiri tidak lama lagi. Karena itulah, tidak ada pilihan lain bagi setiap Muslim yang khawatir akan mati dalam keadaan jahiliyah, selain bangkit dan berjuang bersama-sama para pejuang syariah dan Khilafah hingga syariah dan Khilafah tersebut benar-benar tegak di muka bumi ini. Allah Akbar.

Tanya Jawab di : http://hizbut-tahrir.or.id/2008/04/01/imam-mahdi-dan-khilafah/
« Edit Terakhir: Oktober 06, 2012, 12:57:47 PM oleh kang radi »
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1062
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 21
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Tidak Fatalis: Menunggu Imam Mahdi
Pengabaian terhadap perjuangan menegak-kan Khilafah Islamiyah juga disebabkan karena pemahaman yang salah terhadap hadis-hadis yang menuturkan akan turunnya Imam Mahdi. Akibatnya, mereka menunggu-nunggu kedatangan Imam Mahdi, dan berdiam diri terhadap perjuangan menegakkan Khilafah Islamiyah. Menurut kelompok fatalis ini, dakwah Islam tidak harus fokus pada upaya menegakkan syariah dan Khilafah Islamiyah, tetapi harus fokus pada perbaikan kualitas ibadah mahdhah belaka semacam shalat, zakat, puasa, dan lain sebagainya. Bahkan sebagian gerakan Islam hanya fokus pada ajakan-ajakan untuk memperbaiki shalat, akhlak dan sebagainya. Mereka beralasan, jika shalatnya baik, niscaya Khilafah Islamiyah akan berdiri dengan sendirinya.
Pemahaman seperti ini jelas keliru. Pasalnya, menegakkan Khilafah Islamiyah adalah kewajiban syariah. Seorang Muslim tidak boleh abai dengan kewajiban ini, atau tidak berupaya memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh. Sebab, Khilafah Islamiyah adalah thariqah syar’iyyah untuk menerapkan Islam secara sempurna. Ketiadaan Khilafah Islamiyah telah menyebabkan terabaikannya hampir 2/3 ajaran Islam. Untuk itu, menegakkan kembali Khilafah Islamiyah harus dijadikan fokus utama perjuangan gerakan Islam.
Adapun hadis-hadis yang berbicara tentang akan turunnya Imam Mahdi sesungguhnya sama sekali tidak menafikan kewajiban menegakkan Khilafah Islamiyah atas kaum Muslim. Hadis-hadis tersebut juga tidak memerintahkan kaum Muslim untuk hanya menunggu kedatangan Imam Mahdi dan berdiam diri terhadap kewajiban menegakkan Khilafah Islamiyah.
Salah jika hadis-hadis tersebut dijadikan alasan untuk mengabaikan perjuangan menegakkan syariah dan Khilafah. Bahkan abai terhadap aktivitas menegakkan Khilafah Islamiyah dengan alasan menunggu-menunggu kedatangan Imam Mahdi termasuk perbuatan maksiat.
Perbaikan kualitas ibadah mahdhah seperti sholat, zakat, puasa, dan lain sebagainya adalah termasuk kewajiban penting dalam Islam. Seorang Muslim tidak diperkenankan mengabaikan kewajiban ini. Hanya saja, perbaikan kualitas shalat, zakat, dan puasa bukanlah metode syar’i untuk menerapkan syariah Islam secara menyeluruh. Thariqah untuk menerapkan syariah Islam secara menyeluruh adalah dengan menegakkan Daulah Khilafah Islamiyah, tidak dengan yang lain.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Dengan menegakkan Khilafah islamiyyah diharapkan masalah-masalah umat bisa diakomodir dengan baik untuk kemudian diolah dan diambil solusi dan ekskusi atasnya oleh satu otoritas yang wajib ditaati, maka khilafah adalah diperlukan untuk umat. Akan tetapi kita mengetahui bersama bahwa umat ini telah terbagi menjadi sedemikian banyaknya golongan dan kelompok dengan latar belakang yang berbeda dan  tentu saja dengan kepentingan yang berbeda pula. Adapun perbedaan ini ada yang begitu tajamnya sehingga untuk menjadi suatu kesatuan yang toleran amatlah sulit, lalu bagaimanakah melewati kendala seperti ini? ini adalah bagian pertama yang musti diatasi. Selanjutnya bagaimana cara menentukan, siapakah yang berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan?
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9591
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Quote (selected)
1- Kalaupun ada hadits yang menunjukkan Imam Mahdi akan mendirikan, maka hadits tersebut tetap tidak boleh dijadikan alasan untuk menunggu berdirinya Khilafah. Karena berjuang untuk menegakkan Khilafah hukumnya tetap wajib bagi kaum Muslimin, sebagaimana hadits Nabi:
مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةِ اللهِ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَحُجَّةَ لَهُ، وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
“Siapa saja yang melepaskan tangannya dari ketaatan kepada Allah, niscaya dia akan menjumpai Allah pada Hari Kiamat dengan tanpa mempunyai hujah. Dan, siapa saja yang mati sedangkan di atas pundaknya tidak terdapat bai’at, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” (Hr. Muslim)

pertanyaannya, apakah baiat itu mesti terjadi hanya pada kekhalifahan?

bukankah baiat juga terjadi pada imamah? jadi, bagaimana bila seseorang mati sebelum berbait pada seorang khalifah, tapi ia telah berbaiat pada seorang imam, apakah hukumnya masih jahiliyah?

apakah HTI tidak membendakan antara imamah dengan khilafah?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9591
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Kutip dari: ratna
Adapun perbedaan ini ada yang begitu tajamnya sehingga untuk menjadi suatu kesatuan yang toleran amatlah sulit, lalu bagaimanakah melewati kendala seperti ini? ini adalah bagian pertama yang musti diatasi. Selanjutnya bagaimana cara menentukan, siapakah yang berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan?

kalau berdasarkan riwayat-riwayat syiah, perpecahan umat ini tidak akan dapat teratasi hingga munculnya Imam Mahdi di Mekkah al Mukaromah. hanya Imam Mahdilah yang bisa mempersatukan Umat Islam di bawah kepemimpinannya. artinya, kelompok muslim mana yang tidak bersedia untuk bergabung dengan kelompok imam Mahdi, maka akan ditumpas habis bersama kaum kafir, sehingga umat tidak lagi bermazhab-mazhab, berpartai-partai, atau bersekte-sekte.

kemustahilan mempersatukan umat islam kecuali oleh imam Mahdi, tidak berarti kaum muslimin tidak perlu berupaya mempersatukan umat islam. seruan untuk bersatu dan larangan untuk berpecah belah sudah jelas dalam al Quran. bagi kaum syiah, usaha mempersatukan umat Islam ini merupakan bentuk dari usaha menyongsong Imam Mahdi.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1062
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 21
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
pertanyaannya, apakah baiat itu mesti terjadi hanya pada kekhalifahan?

bukankah baiat juga terjadi pada imamah? jadi, bagaimana bila seseorang mati sebelum berbait pada seorang khalifah, tapi ia telah berbaiat pada seorang imam, apakah hukumnya masih jahiliyah?

apakah HTI tidak membendakan antara imamah dengan khilafah?

Maaf sebelumnya tapi coba perhatikan copy paste yang bercetak tebal dibawah ini dari harian bangsa

Istilah Khilafah dan Imamah sebetulnya sinonim; maknanya adalah sistem pemerintahan Islam. Namun, oleh segelintir orang, kedua istilah itu dianggap berbeda pengertiannya. Ulil Abshar Abdalla, bekas Koordinator JIL (Jaringan Islam Liberal), misalnya, memandang ada perbedaan antara Khilafah dan Imamah; begitu juga istilah turunannya seperti imam dan khalifah. Ulil menyatakan, “Imam di sini adalah penguasa dalam pengertian umum.” Dalil-dalil agama tentang wajibnya mengangkat imam, menurut Ulil, hanya menegaskan saja hukum sosial yang sudah berlaku berabad-abad. Salah satu hukum sosial itu adalah bahwa setiap masyarakat selalu akan mengangkat seorang pemimpin yang mengatur dan menyelenggarakan kepentingan mereka. Pemimpin itu, kata Ulil, “Bisa kepala suku, lurah, camat, bupati, raja, sultan, khalifah, presiden, CEO, manager, dan lain-lainnya.” (www.harianbangsa.com).

Walhasil bagi Ulil, Imamah itu berarti kepemimpinan yang bersifat umum. Adapun Khilafah adalah kepemimpinan yang lebih khusus, yang kata Ulil, berdasarkan sejarah Islam bentuknya adalah kerajaan. Khilafah seperti ini, menurut Ulil, hanyalah suatu kebetulan sejarah (historical coincidence). Karena itu, sistem itu dapat diganti sesuai dengan asas rasionalitas yang, bagi Ulil, adalah aplikasi doktrin Ahlus Sunnah bahwa penentuan imam bukanlah berdasarkan teks agama (seperti pendapat golongan Syiah), melainkan berdasarkan ijtihad dan pilihan (ikhtiyâr). Ujung-ujungnya, Ulil ingin menegaskan bahwa sistem republik (bukan kerajaan) saat ini yang berdasarkan demokrasi adalah sudah final dan merupakan sistem paling ideal hingga saat ini. (www.harianbangsa.com).


Pendapat di atas memang harus diakui, tetapi bukan diakui sebagai pernyataan ilmiah, melainkan sebagai sesuatu yang aneh. Betapa tidak, karena kalau pendapat itu dibandingkan dengan pendapat para ulama fikih siyâsah dan ulama bahasa Arab, akan terbukti aneh. Dalam konteks seperti inilah, tepat sekali pernyataan Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, “Idza takallama al-mar’u fi ghayri fannihi atâ bi hadzihi al-‘aja’ib (Jika seseorang berbicara di luar bidang keahliannya, dia akan mengucapkan kalimat yang ajaib).” (Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari, III/683).

Coba, kita lihat pendapat Imam Ar-Razi mengenai istilah Imamah dan Khilafah dalam kitab Mukhtâr ash-Shihâh hlm. 186:

الخلافة أو الإمامة العظمى، أو إمارة المؤمنين كلها يؤدي معنى واحداً، وتدل على وظيفة واحدة و هي السلطة العيا للمسلمين

Khilafah, Imamah al-‘Uzhma, atau Imarah al-Mukminin semuanya memberikan makna yang satu (sama) dan menunjukkan tugas yang juga satu (sama), yaitu kekuasaan tertinggi bagi kaum Muslim. (Lihat: Muslim al-Yusuf, Dawlah al-Khilâfah ar-Râsyidah wa al-‘Alaqât ad-Dawliyah, hlm 23; Wahbah a-Zuhaili, Al-Fiqh a-Islâm wa Adillatuhu, VIII/270).

Mari kita lihat juga pendapat serupa dari Imam Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah hlm. 190:

وإذ قد بيَّنَّا حقيقة هذا المنصف وأنه نيابة عن صاحب الشريعة في حفظ الدين وسياسة الدنيا به تسمى خلافة وإمامة والقائم به خليفة وإمام

Telah kami jelaskan hakikat kedudukan ini (khalifah) dan bahwa ia adalah pengganti dari Pemilik Syariah (Rasulullah saw.) dalam menjaga agama dan mengatur dunia dengan agama. (Kedudukan ini) dinamakan Khilafah dan Imamah dan orang yang melaksanakannya (dinamakan) khalifah dan imam. (Lihat Ad-Dumaiji, Al-Imâmah al-‘Uzhma ‘Inda Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ‘ah, hlm. 34).

Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu (VIII/418) menyatakan pendapat serupa:

الخلافة (أو الإمامة أو إمارة المؤمنين) أو أي نظام شوري يجمع بين مصالح الدنيا والآخرة كلها ذات مدلول واحد

Khilafah (atau Imamah atau Imarah al-Mukminin) atau yang berarti sistem berdasarkan musyawarah yang menghimpun kemaslahatan dunia dan akhirat, semuanya mempunyai pengertian yang sama. (Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, VIII/418).

Dhiyauddin ar-Rays dalam kitabnya, An-Nazhariyât as-Siyâsiyah al-Islâmiyyah hlm. 92 juga mengatakan:

يلاحظ أن الخلافة والإمامة الكبرى وإمارة المؤمنين ألفاظ مترادفة بمعنى واحد

Patut diperhatikan bahwa Khilafah, Imamah al-Kubra, dan Imarah al-Mu’minin adalah istilah-istilah yang sinonim dengan makna yang sama. (Lihat Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, VIII/465).

Semua kutipan ulama di atas menyatakan bahwa istilah Imamah dan Khilafah (juga Imaratul Mukminin) maknanya sama, tidak berbeda.

Kutipan-kutipan yang menunjukkan kesamaan makna Khilafah dan Imamah itu masih banyak sekali. Silakan cek pendapat yang sama dari: Rasyid Ridha dalam kitabnya, Al-Khilâfah aw al-Imâmah al-‘Uzhma, hlm. 101; Prof. Dr. Ali as-Salus dalam kitabnya, ‘Aqîdah al-Imâmah ‘Inda asy-Syî‘ah al-Itsnâ ‘Asyariyah (terj.) hlm. 16; Zainal Abidin Ahmad dalam bukunya, Membentuk Negara Islam, hlm. 30; dan Hasbi ash-Shiddieqy dalam bukunya, Islam dan Politik Bernegara, hlm. 42-43.

Silakan cek juga pendapat para ulama bahasa Arab (ahli kamus) yang menyamakan arti Imamah dan Khilafah, misalnya: Rawwas Qal‘ah Jie dan Hamid Shadiq Qunaibi dalam Mu‘jam Lughah al-Fuqahâ’, hlm. 64, 150, dan 151; Ibrahim Anis dkk dalam Al-Mu‘jam al-Wasîth, 1/27 dan 251.

Jika Imamah dan Khilafah pengertiannya sama, demikian juga istilah Imam dan Khalifah. Keduanya sama-sama berarti pemimpin tertinggi dalam negara Khilafah, tidak berbeda. Ini sebagaimana pernyataan Ibnu Khaldun yang telah dikutip di atas. Imam Nawawi dalam Rawdhah ath-Thâlibîn (X/49) menegaskan hal yang sama:

يجوز أن يقال للإمام :الخليفة، والإمام، وأمير المؤمنين

Boleh saja Imam itu disebut dengan Khalifah, Imam, atau Amirul Mukminin. (Lihat: ad-Dumaiji, Al-Imâmah al-‘Uzhmâ, hlm. 34).

Nah, setelah kita bentangkan pendapat para ulama yang ahli seperti di atas, Apa ada pendapat lain , Mohon koreksinya !!!

Mengapa Imamah dan Khilafah Semakna?

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, atas dasar apa para ulama menyamakan pengertian Imamah dan Khilafah? Di sinilah Imam Taqiyuddin an-Nabhani memberi penjelasan yang gamblang dalam kitabnya, Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyah Juz 2. Imam An-Nabhani berkata, “Telah terdapat hadis-hadis sahih dengan dua kata ini [Khilafah dan Imamah] dengan makna yang satu. Tidak ada makna dari salah satu kedua kata itu yang menyalahi makna kata yang lain, dalam nas syariah mana pun, baik dalam al-Quran maupun dalam as-Sunnah, karena hanya dua itulah yang merupakan nas-nas syariah. Tidaklah wajib berpegang dengan kata ini, yaitu Khilafah atau Imamah, tetapi yang wajib ialah berpegang dengan pengertiannya.” (Taqiyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyyah, II/13).

Jadi, Khilafah dan Imamah memiliki arti yang sama karena nas-nas syariah, khususnya hadis-hadis sahih, telah menggunakan dua kata itu, yaitu kata “imam” atau “khalifah” secara bergantian namun dengan pengertian yang sama. Sebagai contoh, kadang Rasulullah saw. menggunakan kata “khalifah” seperti sabdanya:

إِذَا بُوْيِعَ لِخَلِيْفَتَيْنِ فَاقْتُلُوْا الآخِرَ مِنْهُمَا

Jika dibaiat dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya. (HR al-Bazzar dan ath-Thabrani dalam Al-Awsâth. Lihat Majma’ az-Zawâ’id, V/198). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim. Lihat: Syarh Muslim oleh Imam Nawawi, XII/242).

Namun, kadang Rasulullah saw. juga menggunakan kata “imam” seperti sabdanya:

مَنْ بَايَعَ إَمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمْرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِنْ جَاءَ آخِرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوْا عُنُقَ اْلآخِرَ

Siapa saja yang membaiat seorang imam, lalu ia memberikan genggaman tangannya dan buah hatinya kepadanya, hendaklah ia menaati imam itu sekuat kemampuannya. Kemudian jika datang orang lain yang hendak merebut kekuasaan imam itu maka penggallah leher orang lain itu. (HR Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, an-Nasa’i, dan Ahmad).

Kata “khalifah” dan “imam” dalam kedua hadis di atas mempunyai pengertian yang sama, yaitu pemimpin tertinggi dalam Negara Islam. (Lihat: Rawwas Qal’ah Jie dan Hamid Shadiq Qunaibi, Mu‘jam Lughah al-Fuqahâ, hlm. 64 dan 151). Jika “khalifah” dan “imam” sama pengertiannya maka sistem pemerintahan yang dipimpinnya, yaitu “Khilafah” dan “Imamah”, juga sama maknanya; tidak berbeda.

Antara Khilafah dan Imarah

Dalam banyak hadis shahih memang ada pembahasan kepemimpinan dalam pengertian umum. Kepemimpinan dalam arti umum ini disebut dengan istilah Imârah, Qiyâdah, atau Ri’âsah. Imam Taqiyuddin An-Nabhani menerangkan, “Imarah (kepemimpinan) itu lebih umum, sedangkan Khilafah itu lebih khusus, dan keduanya adalah kepemimpinan (ri’âsah). Kata Khilafah digunakan khusus untuk suatu kedudukan yang sudah dikenal, sedangkan kata Imarah digunakan secara umum untuk setiap pemimpin (amir).” (Taqiyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyyah, II/125).

Hadis tentang Imarah, misalnya, sabda Nabi saw.:

إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

Jika keluar tiga orang dalam sebuah perjalanan, hendaklah satu orang dari mereka menjadi pemimpinnya. (HR Abu Dawud).

Dengan demikian, jelaslah bahwa kepemimpinan dalam arti yang umum, memang juga diterangkan dalam Islam, namun istilahnya bukan Khilafah atau Imamah,  melainkan Imarah. Imarah inilah yang bersifat umum sehingga mencakup kepala suku, lurah, camat, bupati, raja, sultan, khalifah, presiden, CEO, manager, dan sebagainya.
« Edit Terakhir: Oktober 06, 2012, 07:52:20 PM oleh kang radi »
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9591
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
saya save dulu artikelnya :)
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil

kalau berdasarkan riwayat-riwayat syiah, perpecahan umat ini tidak akan dapat teratasi hingga munculnya Imam Mahdi di Mekkah al Mukaromah. hanya Imam Mahdilah yang bisa mempersatukan Umat Islam di bawah kepemimpinannya. artinya, kelompok muslim mana yang tidak bersedia untuk bergabung dengan kelompok imam Mahdi, maka akan ditumpas habis bersama kaum kafir, sehingga umat tidak lagi bermazhab-mazhab, berpartai-partai, atau bersekte-sekte.


jika sang imam mahdi datang kemudian memperoleh kemenangan berarti tidak ada lagi manusia kafir dimuka bumi?


kemustahilan mempersatukan umat islam kecuali oleh imam Mahdi, tidak berarti kaum muslimin tidak perlu berupaya mempersatukan umat islam. seruan untuk bersatu dan larangan untuk berpecah belah sudah jelas dalam al Quran. bagi kaum syiah, usaha mempersatukan umat Islam ini merupakan bentuk dari usaha menyongsong Imam Mahdi.


jama'ah muslimin sudah terlunta-lunta di sepanjang tahun di abad ini, usaha-usaha untuk mempersatukan umat perlu di dukung sungguh-sungguh, biarlah perbedaan tetap menjadi perbedaan, akan tetapi persamaanlah yang mesti dikedepankan. Jika kanjeng Rosul saw masih menyebut sebagai kaum muslimin kepada dua kelompok besar yang bertentangan dari pengikut Beliau saw, maka masih ada jalan untuk menjalin kembali persatuan. Jadi biarlah Alloh swt yang mengatur dengan kehendaknya kapan sang Imam akan diturunkan, dan saya rasa kewajiban kita adalah ber'ikhtiyar.
« Edit Terakhir: Oktober 07, 2012, 09:17:17 AM oleh ratna »
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9591
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Kutip dari: ratna
jika sang imam mahdi datang kemudian memperoleh kemenangan berarti tidak ada lagi manusia kafir dimuka bumi?

betul, setelah Imam Mahdi menguasai Yerusalem kelak, maka tidak akan ada lagi seoarang manusiapun yang kafir. orang kafir berbondong-bondong mask Islam. yang tidak mau menyerah, akan dibunuh. sehingga manusia yang tersisa di muka bumi ini hanya kaum muslimin yang tunduk kepada agama Allah.

tapi setelah wafatnya Isa as dan Imam Mahdi as, manusia mulai menyimpang kembali dari ajaran yang lurus. dan orang-orang kembali kepada kekafiran.

Kutip dari: ratna
Jadi biarlah Alloh swt yang mengatur dengan kehendaknya kapan sang Imam akan diturunkan, dan saya rasa kewajiban kita adalah ber'ikhtiyar.

saya hanya tertarik dengan naskah-naskah tentang Imam Mahdi dalam literatur syiah yang begitu terperinci. kisah Imam Mahdi diceritakan mulai dari kelahirannya hingga wafatnya, bagiaman perjuangan di dalam hidupnya, siapa sahabat-sahabat yang akan menjadi pembelanya dan siapa nama-nama musuhnya. semuanya dijelaskan secara terperinci atau lebih terperinci dibanding dengan riwayat-riwayat imam mahdi yang ada pada mazhab-mazhab lainnya.

dan yang lebih menarik adalah dari ramalan-ramalan orang syiah itu, Israel dan Amerika yang disokong akan menguasai dunia Islam mulai dari penguasaan al Aqso di Palestina, Kemudian Iran, kemudian negeri-negeri paman Syam, Yaman, Lebanon dan Suriah. Lalu agresi mereka akan diarahkan kepada Iran dan terakhir adalah ke Arab Saudi. dan diramalkan raja trakhir kerajaan Arab Saudi itu bernama Abdullah. setelah itu tidak akan ada lagi raja baru sampai kedatangan Imam Mahdi.

riwayat-riwayat tersebut telah ditulis oleh ulama-ulama syiah sejak ratusan tahun lalu. walaupun banyak orang dari ahlu sunnah yang menyebut riwayat-riwayat orang syiah itu dipenuhi dengan kedustaan, tapi saya melihat ramalan-ramalan itu mulai terbukti kebenarannya. sudah jelas al Aqsa saat ini berada dalam genggaman bangsa Israel. Kemudian kita melihat bagaimana Iran di luluh lantakan oleh Amerika. lalu kita melihat pergoalan timur tengah mulai dari Mesir, Libya hingga Suriah. Jika kemudian gempuran terhadap Iran benar-benar terjadi, berarti menurut saya, ramalan-ramalan orang Syiah itu benar adanya. jika demikian adanya, maka riwayat-riwayat yang ada pada mereka itu tidak bisa diremehkan begitu saja.

dan satu lagi kisah yang menarik, bahwa ketika bangsa-bangsa barat yang sejatinya digerakan oleh Yahudi hendak menyerang mekkah al Mukaromah, Imam Mahdi muncul untuk menghadang, dan perjuangannya melawan rute orang kafir yang digunakan untuk menguasai dunia Islam. jika mereka bergerak dari al Aqsa, Irak, Mesir, Turki, Libya, Suriah, Iran, hingga Arab Saudi, maka sang Imam akan melakukan perlawana mulai dari Arab Saudi, Iran, Suriah, Irak, Hingga Yerusalem/Palestina. Demikianlah apa yang bisa saya tangkap dari buku-buku syiah yang berisi kisah-kisah Imam Mahdi.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1062
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 21
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
betul, setelah Imam Mahdi menguasai Yerusalem kelak, maka tidak akan ada lagi seoarang manusiapun yang kafir. orang kafir berbondong-bondong mask Islam. yang tidak mau menyerah, akan dibunuh. sehingga manusia yang tersisa di muka bumi ini hanya kaum muslimin yang tunduk kepada agama Allah.

tapi setelah wafatnya Isa as dan Imam Mahdi as, manusia mulai menyimpang kembali dari ajaran yang lurus. dan orang-orang kembali kepada kekafiran.

saya hanya tertarik dengan naskah-naskah tentang Imam Mahdi dalam literatur syiah yang begitu terperinci. kisah Imam Mahdi diceritakan mulai dari kelahirannya hingga wafatnya, bagiaman perjuangan di dalam hidupnya, siapa sahabat-sahabat yang akan menjadi pembelanya dan siapa nama-nama musuhnya. semuanya dijelaskan secara terperinci atau lebih terperinci dibanding dengan riwayat-riwayat imam mahdi yang ada pada mazhab-mazhab lainnya.

dan yang lebih menarik adalah dari ramalan-ramalan orang syiah itu, Israel dan Amerika yang disokong akan menguasai dunia Islam mulai dari penguasaan al Aqso di Palestina, Kemudian Iran, kemudian negeri-negeri paman Syam, Yaman, Lebanon dan Suriah. Lalu agresi mereka akan diarahkan kepada Iran dan terakhir adalah ke Arab Saudi. dan diramalkan raja trakhir kerajaan Arab Saudi itu bernama Abdullah. setelah itu tidak akan ada lagi raja baru sampai kedatangan Imam Mahdi.

riwayat-riwayat tersebut telah ditulis oleh ulama-ulama syiah sejak ratusan tahun lalu. walaupun banyak orang dari ahlu sunnah yang menyebut riwayat-riwayat orang syiah itu dipenuhi dengan kedustaan, tapi saya melihat ramalan-ramalan itu mulai terbukti kebenarannya. sudah jelas al Aqsa saat ini berada dalam genggaman bangsa Israel. Kemudian kita melihat bagaimana Iran di luluh lantakan oleh Amerika. lalu kita melihat pergoalan timur tengah mulai dari Mesir, Libya hingga Suriah. Jika kemudian gempuran terhadap Iran benar-benar terjadi, berarti menurut saya, ramalan-ramalan orang Syiah itu benar adanya. jika demikian adanya, maka riwayat-riwayat yang ada pada mereka itu tidak bisa diremehkan begitu saja.

dan satu lagi kisah yang menarik, bahwa ketika bangsa-bangsa barat yang sejatinya digerakan oleh Yahudi hendak menyerang mekkah al Mukaromah, Imam Mahdi muncul untuk menghadang, dan perjuangannya melawan rute orang kafir yang digunakan untuk menguasai dunia Islam. jika mereka bergerak dari al Aqsa, Irak, Mesir, Turki, Libya, Suriah, Iran, hingga Arab Saudi, maka sang Imam akan melakukan perlawana mulai dari Arab Saudi, Iran, Suriah, Irak, Hingga Yerusalem/Palestina. Demikianlah apa yang bisa saya tangkap dari buku-buku syiah yang berisi kisah-kisah Imam Mahdi.

yang jadi pertanyaan adie, Bagaimana kita mengetahui kalau orang itu Imam Mahdi (Bukan Gadungan) ???
terus apa Imam Mahdi yang mengajak orang bersama2 berjuang (Artinya mengumpulkan orang2) atau Orang2 yang sekarang sedang berusaha memajukan lg Islam yang menemukan IMAM Mahdi ???

adie belum baca banyak soal IMAM MAHDI, makannya bertanya disini bila ada pendapat yang lain
soalnya masih kepikiran dengan judul forum ini "Menunggu datangnya atau bangkit dan berjuang bersama2???"
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9591
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Kutip dari: kang radi
yang jadi pertanyaan adie, Bagaimana kita mengetahui kalau orang itu Imam Mahdi (Bukan Gadungan) ???

Pertama, bila kita memiliki ilmal yakin wa ainal yakin, maka kita pasti mengetahui apakah seseorang itu Imam Mahdi gadungan atau bukan.

Kedua, Imam Mahdi sendiri yang akan menjelaskan dengan dengan bukti-bukti yang nyata bahwa beliau adalah Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu oleh umat manusia, sebagaimana Muhammad menjelaskan dengan bukti-bukti yang meyakinkan bahwa dia adalah nabi dan utusan Allah sejati, bukan yang palsu sehingga tidak seorangpun yang berjumpa dengan nabi tidak mengakui kebenaran sang Utusan, kecuali karena kesombongan mereka saja.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
betul, setelah Imam Mahdi menguasai Yerusalem kelak, maka tidak akan ada lagi seoarang manusiapun yang kafir. orang kafir berbondong-bondong mask Islam. yang tidak mau menyerah, akan dibunuh. sehingga manusia yang tersisa di muka bumi ini hanya kaum muslimin yang tunduk kepada agama Allah.

tapi setelah wafatnya Isa as dan Imam Mahdi as, manusia mulai menyimpang kembali dari ajaran yang lurus. dan orang-orang kembali kepada kekafiran.

saya hanya tertarik dengan naskah-naskah tentang Imam Mahdi dalam literatur syiah yang begitu terperinci. kisah Imam Mahdi diceritakan mulai dari kelahirannya hingga wafatnya, bagiaman perjuangan di dalam hidupnya, siapa sahabat-sahabat yang akan menjadi pembelanya dan siapa nama-nama musuhnya. semuanya dijelaskan secara terperinci atau lebih terperinci dibanding dengan riwayat-riwayat imam mahdi yang ada pada mazhab-mazhab lainnya.

dan yang lebih menarik adalah dari ramalan-ramalan orang syiah itu, Israel dan Amerika yang disokong akan menguasai dunia Islam mulai dari penguasaan al Aqso di Palestina, Kemudian Iran, kemudian negeri-negeri paman Syam, Yaman, Lebanon dan Suriah. Lalu agresi mereka akan diarahkan kepada Iran dan terakhir adalah ke Arab Saudi. dan diramalkan raja trakhir kerajaan Arab Saudi itu bernama Abdullah. setelah itu tidak akan ada lagi raja baru sampai kedatangan Imam Mahdi.

riwayat-riwayat tersebut telah ditulis oleh ulama-ulama syiah sejak ratusan tahun lalu. walaupun banyak orang dari ahlu sunnah yang menyebut riwayat-riwayat orang syiah itu dipenuhi dengan kedustaan, tapi saya melihat ramalan-ramalan itu mulai terbukti kebenarannya. sudah jelas al Aqsa saat ini berada dalam genggaman bangsa Israel. Kemudian kita melihat bagaimana Iran di luluh lantakan oleh Amerika. lalu kita melihat pergoalan timur tengah mulai dari Mesir, Libya hingga Suriah. Jika kemudian gempuran terhadap Iran benar-benar terjadi, berarti menurut saya, ramalan-ramalan orang Syiah itu benar adanya. jika demikian adanya, maka riwayat-riwayat yang ada pada mereka itu tidak bisa diremehkan begitu saja.

dan satu lagi kisah yang menarik, bahwa ketika bangsa-bangsa barat yang sejatinya digerakan oleh Yahudi hendak menyerang mekkah al Mukaromah, Imam Mahdi muncul untuk menghadang, dan perjuangannya melawan rute orang kafir yang digunakan untuk menguasai dunia Islam. jika mereka bergerak dari al Aqsa, Irak, Mesir, Turki, Libya, Suriah, Iran, hingga Arab Saudi, maka sang Imam akan melakukan perlawana mulai dari Arab Saudi, Iran, Suriah, Irak, Hingga Yerusalem/Palestina. Demikianlah apa yang bisa saya tangkap dari buku-buku syiah yang berisi kisah-kisah Imam Mahdi.

Apakah riwayat-riwayat / ramalan? itu berasal dari kanjeng Rosul saw atau perkataan-perkataan dari ulama-ulama syi'ah Kang?
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9591
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Apakah riwayat-riwayat / ramalan? itu berasal dari kanjeng Rosul saw atau perkataan-perkataan dari ulama-ulama syi'ah Kang?

menurut ulama-ulama syiah, riwayat-riwayat itu dari rasulullah. tapi banyak dari riwayat-riwayat itu yang tidak ada di dalam kitab-kitab hadits ahlusunnah.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1062
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 21
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Pertama, bila kita memiliki ilmal yakin wa ainal yakin, maka kita pasti mengetahui apakah seseorang itu Imam Mahdi gadungan atau bukan.

Kedua, Imam Mahdi sendiri yang akan menjelaskan dengan dengan bukti-bukti yang nyata bahwa beliau adalah Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu oleh umat manusia, sebagaimana Muhammad menjelaskan dengan bukti-bukti yang meyakinkan bahwa dia adalah nabi dan utusan Allah sejati, bukan yang palsu sehingga tidak seorangpun yang berjumpa dengan nabi tidak mengakui kebenaran sang Utusan, kecuali karena kesombongan mereka saja.

pertanyaan saya selanjutnya (Maaf pak jadi banyak nanya :D)
Apakah yang harus kita lakukan sebelum imam mahdi datang
1. Apakah menunggu kedatangan imam mahdi dan mempelajari ISLAM dengan benar
seperti belajar lagi SHALAT yang benar, berzakat (mal,fitrah dll, belajar fiqih
sementara yang benci ISLAM tiap harinya terus tiap hari melakukan sesuatu supaya ISLAM dalam kemunduran
seperti serangan FISIK (PERANG), serangan PIKIRAN (ghazwul fikri)  dan tindakan2lainnya
atau
2. Berjuang bersama dalam hal Apapun sesuai kemampuan, minimal melakukan defensif Sehingga serangannya sedikit teredam
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9591
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
yang harus kita lakukan sebelum datangnya imam mahdi adalah :


 memahami Islam dengan benar.
 menjalankan Islam dengan benar.
 
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
13 Jawaban
7556 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 11, 2013, 05:30:42 AM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
5198 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 05, 2012, 06:07:37 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
2662 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 27, 2013, 02:20:57 AM
oleh ratna
11 Jawaban
4169 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 20, 2013, 05:41:06 PM
oleh kang radi
2 Jawaban
1379 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 10, 2014, 08:19:13 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
449 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 24, 2015, 04:39:32 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1041 Dilihat
Tulisan terakhir April 24, 2015, 07:42:10 AM
oleh Agate
1 Jawaban
1684 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 15, 2015, 11:58:32 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
835 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 18, 2015, 03:00:56 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1523 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 17, 2016, 08:58:46 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan