collapse

* Artikel Pilihan

Penulis Topik: Ideologi Ibnu Sa`ad  (Dibaca 2719 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9591
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Ideologi Ibnu Sa`ad
« pada: Januari 07, 2013, 06:30:05 PM »
Ideologi Ibnu Sa`ad [1]

Di Karbala, lebih dari 1400 tahun yang lalu, dari pihak pembawa pesan Madinah berdiri sosok indah pelanjut risalah, al Imam. Ia hadapan seluruh wajahnya kepada lautan manusia dari syam. Kali ini mereka diwakili oleh Umar bin Sa`ad, yang mau membunuh cucu Nabi saw karena tergiur jawaban sebagai gubernur. Imam Husain mengajak Ibnu Sa`ad untuk meninggalkan Ibnu Ziyad dan bergabung bersama beliau. Mari kita simak, bagaimana dialog antara dua kubu ideologi ini.

Ibnu Sa`ad    : Aku takut mereka akan menghancurkan rumahku.
Imam Husain    : Aku nanti membangunkan bagimu rumah yang bagus.
Ibnu Sa`ad    : Aku takut mereka merampas harta bendaku
Imam Husain   : Aku akan gantikan hartamu dengan yang lebih baik dari itu.
Ibnu Sa`ad   : Di Kufah, aku punya keluarga, aku takut mereka akan dibunuh Ibn Ziyad.

Ayat At Taubah 24 seakan-akan turun khusus untuk Umar bin Sa`ad :

 

Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (Q.S 9:24)

Namun ayat ini boleh jadi turun untuk kita – wa iyadzu billah – jika kita lebih mendahulukan kepentingan keluarga dan kelompok kita, rumah yang kita banggakan, harta kekayaan yang kita kumpulkan, perdagangan yang kita jalankan, di atas kecintaan kepada Allah dan RasulNya dan jihad di jalannya.

“Inilah Ideologi Ibnu Sa`ad, untuk itu ia hidup dan mati : hartanya, rumahnya, keluarga dan kelompoknya,” kata Syaikh Jawad Mughniyah. “Adapun agama dan hati nurani, adapun Allah dan RasulNya, hanyalah kata-kata yang diulang-ulang selama terpelihara hartanya, rumah, anak-anak dan kelompoknya. Ibnu Sa`ad memerangi Imam Husain demi kepentingan pribadi, dan kecintaan kepada dunia. Semua yang mendahulukan kekayaan dan keluarga di atas ketaatan kepada Allah dan RasulNya, maka ia sedng hidup dengan ideologi Ibnu Sa`ad, walaupun ia menangisi Imam Husain sampai memutih matanya, walaupun ia menguti Ibnu Sa`ad seribu kali, selama yang mendorongnya untuk bertindak sama dengan yang mendorong Ibnu Sa`ad membunuh Imam Husain.”[3]

Keterangan Nomor :

[3] Syaikh Muhammad Jawad Mughniyah, al Husayn wa Bathalat al Karbala, Beirut : Muassasah Dar al Kitab al Islami
 1. Buletin At Tanwir, Edisi 24 November 2012
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Ideologi Ibnu Sa`ad
« Jawab #1 pada: Januari 08, 2013, 11:54:36 AM »
^ sangat suetuju sekali dengan akang. Jika si fulan berkata "aku cinta padamu wahai fulanah" maka si fulanah itu pasti menuntut pembuktian ucapan itu dari si fulan. Misalnya kiriman bunga, apel tiap malam minggu, menanyakan kabar, mengucapkan selamat tidur atau memenuhi kebutuhanya. Jika si fulan tidak mengerjakan salah satu dari hal-hal itu, tentu si fulanah akan berkata kepada si fulan, " Ah kamu hanyalah seorang pembual belaka". Seorang ustad mengaku mencintai agamanya yakni Islam dan ia adalah seorang ahli ceramah, orator yang ulung, penasehat yang baik, dan berilmu. Tetapi ketika ia diminta untuk memberikan tausiah, dia memberikan tarif sejumlah sekian rupiah. Minimal dp harus dibayar kontan dan sisanya nanti setelah selesai ceramah. Apakah si uatads itu bisa dikatakan mencintai agamanya? sedangkan ia enggan menyebarkan ilmunya sehingga agama itu tumbuh subur dan menjadi pedoman manusia? ada banyak contoh-contoh ustads macam ini berseliweran di sekitar kita, amat sulit mencari ustads yang betul-betul amanah dengan agamanya. Bagaimana dengan kita? sudahkah kita membuktikan cinta kita kepada Kanjeng Rosul saw dan ahlul baitnya? sejauh manakah pembuktian yang telah kita lakukan ..... ah jadi pingin nangis baca postingan Kang Asep diatas.. :(
 

 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
1101 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 09, 2013, 11:33:21 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1445 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 20, 2013, 07:25:40 PM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
1552 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 10, 2013, 10:21:49 PM
oleh Asterisk
0 Jawaban
1250 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 13, 2013, 12:32:03 PM
oleh comicers
4 Jawaban
1384 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 24, 2014, 10:07:51 PM
oleh ratna
0 Jawaban
658 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 14, 2014, 07:25:33 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
2303 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 05, 2014, 11:12:41 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
523 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 09, 2014, 09:27:43 PM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
841 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 18, 2015, 10:46:19 PM
oleh Van Barts
0 Jawaban
96 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 26, 2017, 09:22:59 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan