collapse

* Artikel Pilihan

Penulis Topik: Contoh Sikap Teladan Ulama Dalam Masalah Khilafiyah  (Dibaca 3745 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Contoh Sikap Teladan Ulama Dalam Masalah Khilafiyah
« pada: Juli 11, 2012, 09:57:40 AM »

Contoh Sikap Teladan Ulama Dalam Masalah Khilafiyah
Sumber : myquran.com
dari postingan : LeoSinga

Selanjutnya berikut saya ingin berbagi tulisan kisah para ulama dalam menyikapi perbedaan pendapat dalam masalah khilafiyah yang bijak dan patut kita contoh,mungkin diantara para pembaca belum mengetahuinya atau barangkali malah sudah pernah membacanya namun tidak ada salahnya kita simak lagi bareng-bareng kisah ini semoga bermanfaat bagi kita :

1. Sepenggal Kisah KH Abdullah Syafi'i dengan Buya Hamka

Suatu ketika di hari Jumat, KH. Abdullah Syafi'i mengunjungi sahabatnya Buya Hamka di masjid Al-Azhar Kebayoran Jakarta Selatan. masjid dimana menjadi tempat Buya Hamka melakukan aktifitas sehari-hari, Hari itu menurut jadwal seharusnya giliran Buya Hamka yang jadi khatib. Karena menghormati shahabatnya, maka Buya minta agar KH. Abdullah Syafi'i yang naik menjadi khatib Jumat.

Yang menarik, tiba-tiba adzan Jumat dikumandangkan dua kali, padahal biasanya hanya satu kali. Rupanya, Buya menghormati ulama betawi ini dan tahu bahwa adzan dua kali pada shalat Jumat itu adalah pendapat shahabatnya. Jadi bukan hanya mimbar Jumat yang diserahkan, bahkan adzan pun ditambah jadi dua kali, semata-mata karena ulama ini menghormati ulama lainnya.

Begitulah sikap kedua tokoh ulama besar negeri ini. Siapa yang tidak kenal Buya Hamka, dengan perguruan Al-Azhar dan tafsirnya yang fenomenal. Dan siapa tidak kenal KH Abdullah Syafi'i, pendiri dan pemimpin Perguruan Asy-Syafi'iyah, yang umumnya kiyai betawi hari ini adalah murid-murid beliau.

Bahkan satu lagi menurut penuturan putra Buya Hamka yakni Rusydi Hamka, ayahnya itu ketika mau mengimami shalat tarawih, menawarkan kepada jamaah, mau 23 rakaat atau mau 11 rakaat. Jamaah di masjid Al-Azhar kala itu memilih 23 rakaat, maka beliau pun mengimami shalat tarawih dengan 23 rakaat. Esoknya, jamaah minta 11 rakaat, maka beliau pun mengimami shalat dengan 11 rakaat.

Inilah tipologi ulama sejati yang ilmunya mendalam dan wawasannya luas. Tidak pernah meributkan urusan khilafiyah, sebab pada hakikatnya urusan khilafiyah lahir karena memang proses yang alami, di mana dalil dan nash yang ada menggiring kita ke arah sana. Bukan sekedar asal beda dan cari-cari perhatian orang. Karena itu harus disikapi dengan luas dan luwes.


2. Kisah Kebesaran Hati Seorang Kh Idham Cholid Dan Buya Hamka

Ada sebuah kisah yang patut kita teladani sebagai umat Islam dalam menjaga ukhuwah. Kisah yang terjadi antara pemimpin Nahdlatul Ulama, KH Idham Cholid, dan pemimpin Muhammadiyah, Buya Hamka, yang ketika itu sedang melakukkan perjalanan ke tanah suci. Saat sedang dalam perjalanan menuju tanah suci di dalam sebuah kapal laut, waktu melakukan sholat subuh berjamaah, para pengikut Nadhlatul Ulama heran saat KH Idham Cholid yang mempunyai kebiasaan menggunakan doa qunut dalam kesehariannya, malah tidak memakai doa qunut tatkala Buya hamka dan sebagian pengikut Muhammadiyah menjadi makmumnya.
Demikian pula sebaliknya, tatkala Buya Hamka mengimami shalat subuh, para pengikut Muhammadiyah merasa heran ketika Buya Hamka membaca doa qunut karena KH Idham Cholid dan sebagian pengikut NU menjadi makmumnya.

KH Idham Cholid adalah tokoh pemimpin NU yang mempunyai kebiasaan membaca doa qunut dalam shalat shubuh. Namun, saat ditunjuk menjadi imam shalat subuh, beliau tidak membacanya  demi menghormati sahabatnya Buya Hamka dan para pengikutnya. Padahal, dalam tradisi NU membaca doa qunut dalam shalat subuh adalah sunah muakkad. Sungguh ini adalah tindakan yang begitu arif dan bijak. Begitu pun sifat kearifan ditunjukan oleh pemimpin Muhammadiyah, Buya Hamka, yang kesehariannya tidak membaca doa qunut justru membaca doa qunut saat mengimami shalat subuh dengan alasan yang sama. Mereka malah berpelukan mesra setelah shalat, saling menghormati, dan saling berkasih sayang.
Inilah para pemimpin yang sebenarnya yang begitu dalam dan luas keilmuan dan wawasannya. Meskipun terdapat perbedaan pendapat tetapi tetap bersatu dalam persaudaraan. Mereka lebih mengedapankan ukhuwah Islamiyyah ketimbang masalah khilafiah yang tidak akan ada ujungnya. Mereka tidak mengenal istilah saling mencela, mengejek, atau saling menuduh sesama muslim yang berbeda pandangan yang justru akan menimbulkan suatu fitnah.

3. Kisah Kebesaran Hati Seorang Imam Syafi’i Dan Imam Malik

Imam Syafi’i adalah seorang tokoh besar pendiri Mazhab Syafi’i. Beliau dikenal sangat cerdas. Ada yang mengatakan bahwa sejak usia 7 tahun sudah hafal al-Qur’an. Beliau bukan berasal dari keluarga yang berkelebihan. Namun berkat kecerdasannya itu, beliau bisa belajar pada seorang guru di Mekah tanpa mengeluar biaya sedikit pun.

Imam Malik juga tokoh besar pendiri Mazhab Maliki. Beliau berasal dari keluarga terhormat, baik sebelum maupun sesudah datangnya Islam. Kakeknya, Abu Amir termasuk keluarga pertama yang memeluk agama Islam dan juga menjadi ulama hadis terpandang di Madinah. Sejak Muda, Imam Malik menjadi orang yang cinta kepada ilmu. Beliau belajar ilmu hadis pada ayah dan paman-pamannya. Al-Muwatta’, kitab fikih yang berdasar dari kumpulan hadis-hadis pilihan, adalah kitab karangan beliau yang menjadi pegangan para santri sampai sekarang.

Imam Syafi’i dan Imam Malik bertemu di Madinah. Ceritanya, setelah berguru pada banyak ulama di Mekah, Imam Syafi’i ingin sekali melanjutkan pengembaraannya ke Madinah. Apalagi beliau mengetahui di Madinah ada Imam Malik, ulama yang termashur itu. Di hadapan Imam Malik, Imam Syafi’i mengucal al-Muwatta’, kitab yang sebelumnya sudah dihafalnya saat berada di Mekah. Imam Malik sangat kagum pada Imam Syafi’i dan begitulah hubungan antara kedua tokoh besar itu selanjutnya.
Dalam tradisi Mazhab Syafi’i, saat melaksanakan shalat Shubuh dibacakan doa Qunut. Berbeda dalam tradisi Mazhab Maliki, tak ada doa Qunut dalam salat subuh. Namun, perbedaan tradisi itu tak membuat hubungan keduanya retak. Mereka tetap menjadi guru dan murid yang saling menghormati pendapat masing-masing.

Suatu hari, Imam Syafi’i berkunjung dan menginap di rumah Imam Malik. Saling berkunjung dan menginap itu sudah menjadi kebiasaan antara keduanya. Imam Syafi’i diminta gurunya menjadi imam saat melaksanakan salat subuh. Karena ingin menghormati gurunya, Imam Syafi’i tak membaca doa Qunut dalam salat berjama’ah itu.

Begitu pun sebaliknya. Di lain hari, Imam Malik menginap di kediaman Imam Syafi’i. Saat Shubuh, mereka melaksanakan salat subuh berjama’ah, Imam Syafi’i meminta gurunya menjadi imam salat. Dengan alasan yang sama, Imam Malik pun membaca doa Qunut.

Begitulah para ulama mencontohkan sikap dalam masalah Khilafiyah mereka tidak menyesatkan,mengkafirkan amalan saudaranya tetapi justru saling menghormati dan menghargai,..indah bukan ? semoga bermanfaat.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Contoh Sikap Teladan Ulama Dalam Masalah Khilafiyah
« Jawab #1 pada: Juli 11, 2012, 09:58:15 AM »
Kutip dari: ab_ha
Tulisan TS dan komen-komen seolah menyatakan:

- Tidak boleh menyalahkan khilafiyah dalam masalah bid'ah
- Tidak boleh membid'ahkan
- Tidak boleh menyatakan perbuatan bid'ah sesat


Tapi sebenarnya, TS menyatakan demikian atau tidak?

Apabila anda menduga bahwa dengan postingannya itu TS hendak menyatakan point-point sebagaimana yang anda sebutkan tadi, sebaiknya anda menanyakan langsung kepada TS, apakah benar TS bermaksud menyatakan begitu? Pertanyaan tersebut untuk menjernihkan kata “seolah-olah” yang bias dan menghindari prasangka.

Quote (selected)
Padahal, beberapa contoh yang disebutkan masih dalam koridor boleh:

1. Pak AR mengganti bid'ah Yasinan malam jum'at dengan kajian tafsir Al Qur'an tiap malam jum'at

Tidak ada masalah dalam hal “mengganti yasinan” dengan “kajian tafsir al-Quran”. Yang menjadi masalah adalah apabila mengganti yasinan dengan kajian al-Quran dengan mengemukakan alasan bahwa yasinan itu bid`ah. Sementara masyarakat setempat belum bisa menerima argumentasinya, sehingga terjadi konflik.

Jadi, di sini anda perlu mengerti, bahwa menganggap suatu amalan itu sebagai bid`ah dan menyatakan bahwa amalan tersebut bid`ah adalah sepenuhnya hak anda. Tetapi, mengganggu ketentraman orang lain dengan menyatakan kepada orang itu bahwa perbuatannya itu bid`ah bin sesat, nah itulah yang “terlarang”. Perlu anda perhatikan perbedaan antara “menjelaskan” dan “mencela”, “dakwah” dengan “menyakiti perasaan tetangga”.

Quote (selected)
2. Adzan dua kali guna menghindari perpecahan, sesekali qunut shubuh (yang bid'ah itu kalau cuma di sholat shubuh dan terus menerus), shalat tarawih 23 rakaat (bahkan lebih juga boleh), saling menghormati diantara para ulama sekalipun mereka berbeda ijtihadiyah... semua hal yang baik.

Tapi tentu beda kondisi:

1. Orang yang punya akal, bisa diskusi, ditunjukin lemahnya hadits tentang keutamaan membaca surat Yasin tiap malam jum'at, dia ngeyel dengan alasan yang penting banyak yang mengamalkan.  Ditunjukin hadits shahih keutamaanm membaca surat AL Kahfi di malam jum'at, dia ngeyel dan menolak dengan alasan jarang yang mengamalkan...

Sama seperti ngeyelnya orang yang fanatik terhadap hadits, tapi lemah akal. Kalau dikasih tau bahwa untuk memahami hadits itu perlu menggunakan logika, dia membantah dengan mengatakan “logika itu Cuma produk orang kafir”.

Kita mengerti bahwa yang ini benar dan yang itu salah. Bagi kita sesuatu batas antara haq dan batil itu begitu jelas. Sebagaimana menurut anda, mana bid`ah dan mana bukan bid`ah itu mungkin sangatlah jelas. Tetapi anda tidak memahami dengan jelas, alasan sebenarnya dari penolakan orang lain terhadap anda. Anda sangat fahaman dengan dalil-dalil yang ada dikepala anda sendiri, tapi anda tidak faham dalil-dalil yang ada dikepala lawan bicara anda. Inilah masalahnya.

Quote (selected)
2. Orang yang bisa mikir, mau belajar, ditunjukin dalil-dalil tentang kapan dibacanya qunut, mana dalil yang kuat tentang ini, disampaikan sunnah Rasul Shalallahu'alaihi wassalam tentang penyelenggaraan jenazah, nggak usah memaksakan diri selamatan, kalau mau sedekah silakan aja tanpa perlu ngundang orang dsb, dia tetap ngeyel dan malah menuduh wahabi...

Kalau seseorang tidak mampu menyelami argumentasi orang lain, apa dia bisa disebut “orang yang bisa mikir” ?

Saya faham apa yang ada dikepala anda, bahwa amalan yang berdasarkan hadits yang shaheh, maka itulah amalan yang haq. Sedangkan amalan yang tidak berdasarkan nash, atau amalan yang tidak ada nashnya adalah amalan yang batil. Benar kan? Tapi anda tidak faham apa yang ada dikepala saya, mengapa saya mengamalkan do`a qunut setiap shubuh. Iya kan? Ketidak fahaman anda terhadap “dalil” yang ada di kepala saya, adalah contoh bahwa dalam cara diskusi anda itu seperti masturbasi, yakni gak peduli dengan apa yang ada dikepala orng lain, asal suka diri sendiri. lebih jauh, ada kemungkinan yang dimaksud dengan “dalil” dalam benak kita masing-masing adalah berbeda. Dan anda tidak faham perbedaan ini.


Quote (selected)
Dua hal diatas tentu beda.  Menghadapi orang awam yang perlu di 'emong' dan manghadapi ahlul makruh wadh dholalah tentu beda...

Coba definisikan dua hal berikut :

1.   orang awam yang perlu di emong
2.   ahlul makruh wa dholalah
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
1652 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 24, 2012, 08:58:24 PM
oleh Kang Asep
10 Jawaban
5270 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 21, 2013, 04:43:23 PM
oleh kang radi
0 Jawaban
1416 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 29, 2013, 04:16:46 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1479 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 18, 2015, 12:08:41 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
947 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 22, 2014, 01:25:10 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1099 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 16, 2014, 04:08:04 AM
oleh kijafar
0 Jawaban
16704 Dilihat
Tulisan terakhir September 11, 2016, 02:43:48 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
246 Dilihat
Tulisan terakhir April 15, 2017, 09:26:12 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
893 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 24, 2017, 04:30:11 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
209 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 16, 2017, 12:27:35 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan