collapse

* Artikel Pilihan

Penulis Topik: Al Muzany  (Dibaca 86 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Al Muzany
« pada: April 29, 2018, 08:59:38 AM »
Al Muzany
Edisi : 29 April 2018, 08:50:35

Baru saja saya membaca blog Al Muzany, http://al-muzaniy.blogspot.co.id - Al Muzany, dia adalah lawan debat saya selama kurang lebih 10 tahun lamanya. Membaca tulisan di blog nya, tampaknya dia masih sama seperti dulu, konsisten menyerang mazhab syiah. Dan saya ketika berdebat dengan al Muzany, tidak dalam posisi sebagai pembela syiah, atau mewakili syiah, tetapi sebagai logicer yang berupaya menguji validitas argument-argument sdr. Al Muzany.

Tulisan-tulisan Muzany fokus menyerang mazhab Syiah. Dan saya mengkritisinya, serta mengajukan pertanyaan padanya.  Saya mencoba membentur-benturkan argumen syiah dengan argumen al Muzany. Sebenarnya saya bermaksud mempelajari sesuatu dari al Muzany, agar saya dapat mematahkan argumen-argumen orang-orang syiah, saat saya hadir di majelis-majelis mereka. Ailh-alih mendapatkan argumen yang berguna untuk dapat mematahkan argumen-argumen syiah, saya malah melihat kekacauan di dalam jalan pemikiran al Muzany. Dia tertipu oleh kesalahan-kesalahan penalarannya sendiri, sehingga saya menilai bahwa al Muzany orang adalah orang yang memiliki wawasan keagamaan yang luas, namun logikanya gak main.  Walaupun demikian, tidak dapat saya pungkiri, selama 10 tahun saya menjalin diskusi atau debat dengan al Muzany, saya telah banyak belajar darinya. Sebenarnya saya mengagumi keluasan wawasan pengetahuan sdr. Al Muzany ini. Namun kelemahannya dalam hal berpikir logis,  Ini yang membuat saya merasa prihatin terhadapnya.

Setiap orang bebas berpendapat dan berkeyakinan. Karena itu, saya perdebatan saya dengan sdr. Al Muzany tidak dalam rangka mengubah keyakinan dia, melainkan untuk melihat, apakah pendapat-pendapatnya tersebut dapat setujui ataukah tidak. Jika saya tahu pendapatnya benar, maka wajib saya setuju terhadap pendapat-pendapatnya. Dari sekian banyak pendat-pendapatnya tentang mazhab Syiah, tentu banyak pendapat-pendapatnya yang benar, namun juga tidak sedikit yang keliru.  Serangan dia terhadap mazhab Syiah tidak tepat, jauh dari sasaran, sehingga saya mengibaratkan al Muzany seperti petinju buta yang melayangkan tinju-tinju nya, tapi tidak mengetahui posisi lawannya berada di mana, sehingga dia hanya meninju angin saja. Namun dia merasa dapat memukul argumen-argumen syiah dan menjatuhkannya. Itu terlihat seperti sebuah lawakan.

Selain fokus menyerang syiah, al Muzany - sejalan dengan pendapat ibnu Taimiyah - ia juga menyangkal peranan penting ilmu logika dalam memahami agama. Menurut dia, sama sekali umat Islam tidak membutuhkan produk logika Yunani tersebut. Karena Islam sudah sempurna, sudah lengkap, tidak butuh sesuatupun tambahan dari luar selain al Quran dan al Hadis. Sekilas tampak argumen al Muzany tersebut benar. Tapi kalau logika digambarkan seperti matematika, di mana kita dapat menggunakan matematika untuk keperluan kasus faraid (bagi waris), juga diperlukan untuk mengolah data harta baitul mas atau kas negara, di mana sekarang persoalan hitung matematis ini sudah sangat kompleks, sehingga penolakan terhadap ilmu matematika tidaklah masuk akal, maka akan terlihat bahwa penolakan terhadap logika juga tidak masuk akal.

Walaupun menyangkal peranan ilmu logika, ada sedikit gaya mirip dielaktika logika yang selalu dia gunakan untuk menyerang mazhab syiah,  yaitu dengan mengutip ucapan-ucapan ulama syiah sendiri, mengutip banyak perkataan dari buku-buku atau kitab-kita syiah, lalu dijadikan alat untuk menyerang ideologi syiah itu sendiri. Itu seperti prinsip dialektika logika, dimana semestinya mematahkan argumentasi lawan adalah dengan argumentasinya sendiri, bukan dengan argumentasi kita. Al Muzany telah melakukan satu langkah dengan benar dalam seni dialektika logika. Tetapi, sayangnya dia tidak melakukan praktik dialektika logika dengan benar. Apabila dia berdebat dengan saya, misalnya, dia tidak berusaha mematahkan argumen saya dengan argumen saya sendiri, melainkan dia menyeret kutipan-kutipan dali dari kitab-kitab yang tidak ada sangkut pautnya dengan argumen saya, dan dia  menilai pendapat saya dengan tolak ukur kitab tersebut. Ini jelas, masih sangat jauh dari apa yang disebut dengan dielektika logika.

Pandangan al Muzany terhadap konsep imamah syiah, itu dia katakan sebagai karangan orang-orang syiah belaka. Al Muzany mengakui 11 imam Syiah itu sebagai keturunan nabi saw, dan termasuk kepada para imam ahlu sunnah yang diridahai oleh Allah swt. Bila menyebut 11 imam-imam syiah tersebut, al Muzany mengikutinya dengan ucapan radiyallahu anhu. Tidak ada penilaian yang buruk dari al Muzany terhadap 11 imam syiah tersebut. Namun, al Muzany menganggap bahwa imam ke 12 syiah hanyalah khayalan, karangan orang-orang syiah. Dan menurutnya, orang-orang syiah banyak menisbatkan ucapan-ucapan bohong terhadap imam-imam mereka. Terhadap tuduhannya ini, saya tidak pernah menyangkal ataupun membenarkannya. Karena tidak memiliki argumen yang kuat untuk menyangkal atau membenarkannya dan lagi pula saya anggap penyangkalan seperti itu tidak diperlukan. Karena itu, soal penyangkalan al Muzany tentang imam ke-12 tidak pernah saya persoalkan. Tetapi yang saya persoalkan itu adalah logika dia, bagaimana bisa dia mengutip dari sebagian kitab syiah, lalu berpikir bahwa apa yang dia kutip merupakan keyakinan seluruh orang syiah, dan bila seorang syiah tidak memiliki keyakinan seperti itu, berarti itu syiah awam atau syiah recehan ? Dalam logika ini adalah fallacy Glitering of Generalities, menggenaralisasi sesuatu dan juga fallacy of Zero Calusa alias fallacy himpunan kosong.

Yang saya maksud Falalcy himpunan kosong itu, al Muzany menciptakan sendiri biografi syiah, mensifatinya, sehingga terciptalah kelompok syiah di dalam alam khayalnya, di mana itu tak pernah ada di dunia nyata. Misalnya, dia menciptakan karakter pembohong bagi orang syiah. Konsepnya "jika syiah, maka pembohong. Jika bukan pembohong, maka bukan syiah", sehingga "selalu berbohong" adalah kriteria semua orang yang ada dalam himpunan syiah. Dengan demikian, jika dia seorang syiah menyampaikan argumen-argumen yang benar terhadapnya, maka dia akan menilai bahwa syiah tersebut sedang bertaqiyah, berkamuflase. Tapi jika perkataan syiah tersebut salah, maka akan cepat-cepat dia menilai bahwa itulah wajah asli dari syiah. Bagaimana mungkin saya dapat mengikuti pola pemikiran seperti ini ?

Sejatinya tak ada himpunan orang dengan keyakinan-keyakinan seperti yang diciptakan oleh al Muzany, sehingga term "syiah" yang dia sebut sejatinya hanyalah "himpunan kosong". Al Muzany berpikir bahwa dia sedang menyerang dan mematahkan argumen mazhab syiah, tapi saya melihat dia sedang melawan "himpunan kosong". Ini hanyalah cotoh kecil dari kesalahan-kesalahan logic al Muzany.

Selama berdebat dengan al Muzany, saya tidak pernah berbicara atas nama syiah, tidak pernah menyatakan diri mewakili keyakinan syiah. Tetapi, saya berbicara selalu atas nama diri sendiri saja, dan yang saya bicarakan adalah keyakinan diri sendiri saja. Juga saya tidak pernah menyangkal ajaran-ajaran ahul sunnah, bahkan tidak pernah menyangkal al Muzany, melainkan sekedar melakukan analisa logis terhadap pemikiran-pemikiran al Muzany. Hasil analisa logis itu adalah bagi diri saya sendiri, saya tidak dapat mengharapkan al Muzany dapat mengerti hasil analisa-anlisa saya terhadap pemikirannya, karena untuk mengerti itu perlu memahami bahasa logika. Tapi, bagaimana al Muzany mengerti bahasa logika, jika dia enggan untuk mencoba melihat sedikit saja terhadap logika, sebagai Hukum Berpikir Tepat yang patus dijadikan tolok ukur untuk menguji validitas-validitas argument.
« Edit Terakhir: April 29, 2018, 09:02:57 AM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan