collapse

* Artikel Pilihan

Penulis Topik: Al Mawaddata Fi Al Qurba  (Dibaca 4345 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9275
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 355
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Al Mawaddata Fi Al Qurba
« pada: September 09, 2012, 07:52:32 AM »
Mencintai keluarga Rasulullah adalah perintah Allah dalam al Quran.

ذلك الذي يبشر الله عباده الذين آمنوا وعملوا الصالحات قل لا أسألكم عليه أجرا إلا المودة في القربى ومن يقترف حسنة نزد له فيها حسنا إن الله غفور شكور

Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal shaleh. Katakanlah: "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang pada Kerabat Rasul". Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (Q.S 42:23)

“Al Mawaddata Fil Al Qurba” mengandung arti “kasih sayang terhadap keluarga Rasulullah”. Tetapi sebagian orang mengartikan bahwa Al Qurba tersebut tidak merujuk kepada keluarga Rasulullah tetapi mengandung arti “kekeluargaan”.

Habib Abu Bakar berkata, “Bila lapadz tersebut hanya `Qurba` maka hal itu bisa diartikan `keluarga` secara umum. Tapi kalau lapadz dalam ayat tersebut adalah “Al Qurba”, adanya Alif Lam menunjukan lapadz tersebut khusus merujuk kepada kelaurga Rasulullah.”

Dalam english fungsi Ali Lam adalah sebagaimana fungsi “The”, menyatakan subjek khusus, bukan umum. Misalnya “The Family”, ini tidak dimaksudkan seluruh keluarga, melaikan keluarga tertentu.

Selain tidak sesuai dengan kaidah berbahasa Arab, mengartikan Al Qurba dengan “kekeluargaan” juga bertentangan dengan ayat-ayat lain yang mengandung lapadz Al Quran yang jelas-jelas mereka sepakati diartikan sebagai “keluarga Rasulullah”. Adanya dua penerjemahan untuk lapadz yang sama, yaitu Al Qurba ini, merupakan bukti yang jelas dari inkonsistensi para penerjemah dan penafsir.

Mari perhatikan ayat berikut :
واعلموا أنما غنمتم من شيء فأن لله خمسه وللرسول ولذي القربى واليتامى والمساكين وابن السبيل إن كنتم آمنتم بالله وما أنزلنا على عبدنا يوم الفرقان يوم التقى الجمعان والله على كل شيء قدير
[/size]

Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, Kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnusabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Q.S 8:41)

Perhatikan pada terjemah al Quran Depag yang anda miliki, Al Qurba diterjemahkan “Kerabat Rasul” atau “Kekeluargaan” ? Bandingkan dengan terjemah Al Qurba pada surah 42:23 tadi! Ladaz keduanya sama, tapi mengapa terjemahnya berbeda, yang satu diterjemahkan “kekeluargaan” dan lainnya diterjemahkan sebagai “Kerabat Rasul” ? Bukankah ini merupakan bentuk inkonsistensi dalam penerjemahkan al Quran? Ataukah ini suatu konspirasi untuk menyembunyikan kebenaran? Ataukah sebagai cara untuk menghilangkan peran keluarga Rasulullah dalam beragama?

Habib Abu Bakar berkata bahwa Ibnu Taimiyah membantah surah 42:23 tersebut turun kepada keluarga Rasulullah, dengan alasan bahwa surah tersebut turun di Mekkah, sedangkan keluarga Rasulullah berada di Madinah. , “Mana bukti kalau ayat ini turun di Mekkah?”

Jika jika seseorang memberi sesuatu yang berharga kepada anda, maka tentu anda sangat berterima kasih kepada orang itu, dan anda berhutang budi padanya. Dan apa yang lebih berharga dari pada nikmatnya Islam? Atas nikmatnya Islam yang kita peroleh ini, kepada siapa kita berhutang budi? Kepada Allah? Tanpa melalui perantaraan Rasulullah, apakah nikmat Islam ini akan sampai kepada kita? Tidak kan? Maka kepada Rasulullah lah kita berhutang budi? Apa kita tidak ingin membalas budi Rasulullah? Ataukah kita tak peduli bila termasuk kepada golongan orang-orang yang tak tau berbalas budi?

Apakah Rasulullah meminta balas budi kita atas nikmat yang telah kita peroleh ini? Jelas sekali, kita diminta untuk berbalas budi. Tapi bukan imbalan uang yang diharapkan oleh Rasulullah sebagai bentuk balas budi, melainkan “cinta terhadap keluarga beliau” : “Aku tidak meminta kepada kailan upah atas seruanku, kecuali kasih sayang terhadap kerabatku.” (Q.S 42:23)

Jika Al Qurba ditafsir “kekeluargaan” atau “keluarga” secara umum, maka apakah itu termasuk bentuk balas budi kepada Rasulullah? Apa sebelum kedatangan Rasulullah orang-orang tidak mencintai keluarganya? Apa tidak ada sistem kekerabatan yang solid di kalangan kaum jahiliyah? Kalau untuk mencintai keluarga sendiri, tidak dikatakan sebagai bentuk balas budi kepada Rasulullah, semua orang berkasih sayang terhadap keluarganya masing-masing.

Ada pendapat yang mengatakan, “Lebih baik Al Qurba tersebut diartikan sebagai `kekeluargaan`, karena apabila dengan sesama muslim saja dapat terjalin kekeluargaan yang dipenuhi kasih sayang, maka apalagi terhadap keluarga rasulullah.” Tapi faktanya, akibat orang tidak mengetahui bahwa arti sebenarnya dari al Qurba dalam ayat tersebut adalah “Keluarga Rasulullah”, orang menghilangkan peran keluarga Rasulullah dalam beragama. Bukankah ini hal yang fatal? Apakah tampak sepele perbedaan arti “keluarga rasululullah” dengan “kekeluargaan”, sedangkan akibat perbedaan arti tersebut merupakan sesuatu yang fatal?

Al Mawadah itu ada tiga tingkatan:

Pertama, Mawadah kepada Allah
Kedua, Mawadah kepada Allah dan RasulNya
Ketiga, Mawadah kepada Al Kurba, Kerabat Rasulullah

Habib berkata, “Jangan salah-salah cinta, cinta salah-salah. Orang mengira mencintai Allah, padahal bukan Allah, mencintai Rasulullah, padahal bukan Rasulullah.”  Untuk mencintai Allah yang sesungguhnya, perlu ada orang yang memperkenalkan Allah dengan benar. Dan orang yang yang dapat memperkenalkan Allah dengan benar itu adala ornag yang sudah benar-benar mengenal  dan mencintai Allah dengan benar, yaitu Rasulullah. Ustadz Nazmi berkata, “Demikian pula tidak mungkin mencintai keluarga Rasulullah, kecuali belajar kepada orang yang mencintai keluarga Rasulullah.” Jika tak kenal, maka tak sayang.  Jika tidak mengenal dengan baik keluarga Rasulullah, maka bagaimana dapat mencintai mereka dengan benar, kata-kata “cinta” itu hanya akan merupakan hiasan bibir belaka.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Faiq Al-Hakim

Re:Al Mawaddata Fi Al Qurba
« Jawab #1 pada: September 11, 2012, 08:24:04 AM »
Kang @Asep

Kaum muslimin memang wajib mencintai keluarga Rosulullah. Tapi kecintaan kita kepada keluarga Rosulullah jangan sampai menciderai kemuliaan al-Quran dan Nabi Muhammad SAW sebagai pembawanya .... Ada baiknya bila kita melihat apa yg disampaikan ulama Thabathaba'i mengenai surat  as-Syura: 23.

"Permintaan berupa imbalan kepada keluarga Rosul tidak sejalan dengan martabat kenabian karena ini dapat menimbulkan tuduhan negatif. Betapa tidak, karena sebagian besar penuntut kemegahan duniawi bila melakukan sesuatu, mereka menuntut fasilitas atau meminta imbalan manfaat untuk anak dan keluarga mereka."

Memang ada berbagai penafsiran tentang ayat dalam surat al-syura:23 ini, namun mayoritas ulama mengatakan bahwa ayat ini ditujukan kepada suku Quraisy di Mekkah, dan kasih sayang yg diminta itu karena adanya hubungan kekerabatan antara Nabi SAW dg suku Quraisy. Dalam beberapa riwayat menyebutkan bahwa bila mereka enggan beriman kepada apa yg diajarkan oleh Nabi SAW, maka hendaklah mencintai Nabi SAW dikarenakan hubungan kekerabatan itu, tidak membencinya dan tidak pula menganggunya disebabkan hubungan kekerabatan itu.
 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9275
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 355
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Al Mawaddata Fi Al Qurba
« Jawab #2 pada: September 12, 2012, 10:31:36 PM »
@ Faiq al-Hakim

kata kang Faiq, permintaan imbalan tidak sejalan dengan martabat kenabian.

tapi kalimat "aku tidak meminta imbalan atas seruanku, kecuali ...."

ini soal pemahaman bahasa kang. kalau sesuatu itu dikecualikan, berarti menegaskan adanya yang ditiadakan dalam kalimat pangantar. jadi, berdasarkan ayat itu seharusnya antum mengakui kalau "permintaan imbalan" itu memang ada.

dalam hal ini, kita belum menyentuh makna "al Qurba", tapi makna "pengecualian".

kalau misalnya dikatakan "tidak ada seorang nabipun yang pernah memasuki sidratul mumtaha"

itu berarti memang tak ada seorang nabipun.

tapi kalau ditambahkan kecuali, "kecuali nabi muhammad saw" itu berarti :

"Ada nabi yang pernah masuk ke sidratul Mumtaha, yaitu nabi Muhammad".

demikian pula "aku tidak meminta imbalan atas seruanku, kecuali mawadata fil Qurba".

itu berarti "imbalan yang aku minta dari kalian adalah mawaddata fil Quran".

bener enggak?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
1138 Dilihat
Tulisan terakhir April 07, 2012, 11:24:28 PM
oleh Kang Asep
5 Jawaban
2805 Dilihat
Tulisan terakhir April 07, 2013, 10:51:45 PM
oleh Sandy_dkk
8 Jawaban
18086 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 20, 2013, 05:30:59 AM
oleh wa2nlinux
1 Jawaban
2241 Dilihat
Tulisan terakhir September 05, 2012, 09:32:37 PM
oleh A.R
9 Jawaban
6448 Dilihat
Tulisan terakhir April 13, 2013, 11:39:58 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1176 Dilihat
Tulisan terakhir April 22, 2013, 07:00:08 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1742 Dilihat
Tulisan terakhir April 25, 2013, 10:47:27 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
919 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 28, 2014, 05:37:57 PM
oleh Abu Zahra
3 Jawaban
1060 Dilihat
Tulisan terakhir April 17, 2015, 09:36:31 AM
oleh hamaslover
2 Jawaban
1466 Dilihat
Tulisan terakhir April 25, 2015, 06:50:51 AM
oleh ratna

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan