collapse

* Artikel Pilihan

Penulis Topik: Agnostic bukan ateis  (Dibaca 11017 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Agnostic bukan ateis
« pada: Januari 08, 2013, 10:36:47 PM »
Menurut Kamus Bahasa Indonesia keluaran Pusat Bahasa, agnostic dideskripsikan sebagai “ Orang yg berpendapat bahwa tiada sesuatu yg dapat diketahui tentang Tuhan selain dari hal-hal kebendaan. ”  Sementara Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikannya sebagai “ Orang yang berpandangan bahwa kebenaran tertinggi (misal Tuhan) tidak dapat diketahui dan mungkin tidak dapat diketahui. ”

Saya lebih suka mengatakan, Aghnostic orang yang tidak percaya apa yang dikatakan oleh agama, tapi dia percaya adanya Tuhan ( kebenaran tertinggi ), walaupun bagi orang agnostic masih ada sisa pertanyaan, yakni apakah Tuhan bisa “diketahui” oleh manusia ?. Saya memberikan tanda petik pada kata “ diketahui,” karena makna kata tersebut sangat luas, bukan hanya sekedar diketahui seperti kita mengetahui sesuatu materi dengan gamblang. Dari pengertian diatas bisa disimpulkan, bahwa orang Agnostik memang cenderung percaya akan adanya Tuhan ( entitas yang luar biasa ). Beda dengan Ateis yang tidak percaya dengan adanya Tuhan, apalagi agama. Agnostic mengakui adanya kebenaran tertinggi, tapi tidak mungkin bisa diketahui oleh manusia, apalagi oleh dogma agama. Itu pendapat Agnostic. Dan bagi saya memang masuk akal. Kita manusia hanya bisa menebak nebak saja. Tidak ada yang menjamin kebenaran agama 100%, kecuali tentu saja, oleh penganut agama itu sendiri.

Agnostik selalu bertanya tanya, keberadaan akan Tuhan. Mirip orang orang yang belajar Tasawuf atau Sufi. Kalau Tuhan dianggap tidak ada, kok ada saya ?. Kalau dianggap ada, terus bagaimana membuktikannya ?, bagaimana mengetahuinya ?, dan dimana ?. Tapi bagi orang ber-agama, sangat simpel untuk mengetahuinya, dasarnya adalah keyakinan, iman. Bahwa apa yang ada di dunia ini tak mungkin tak ada yang menciptakannya. Agnostic percaya itu, tapi masih tetap ada pertanyaan besar bagaimana mengetahui si pencipta. Ada keraguan agnostic disana. Beberapa kalangan menyebut agnostic mirip dengan skeptis.

Agnostic bukanlah orang murtad atau menghujat Tuhan seperti orang Ateis. Kita simak kata Clarence Darrow (1857 – 1938), seorang penganut Agnostik.

“Aku tidak menganggap bahwa disebut agnostic adalah hinaan, tetapi itu lebih merupakan pujian. Aku tidak berpura-pura tahu ketika banyak orang yang tidak tahu justru yakin.”

Intinya, Agnostic itu tidak pura pura. Menjadi Agnostic itu menurut penganutnya sangat membanggakan. Sangat oke..! Keren…!

Kita simak lagi apa kata penganutnya yang lain, Robert Green Ingersoll (1833-1899). ;

“Aku percaya bahwa kebahagiaan adalah satu-satunya hal baik, dan cara untuk bisa bahagia adalah membuat orang lain bahagia ”

Hebat bukan pedoman orang Agnostic. Tidak seperti Ateis yang suka menghujat Tuhan, dianggap Tuhan tidak ada. Namun umat ber-agama justru saling klaim, bahwa agama dia yang paling bener, dan saling menghujat serta saling menghancurkan. Apakah hal semacam itu dianggap baik…?

Pendapat pendapat tokoh Agnostic, sangat baik, humanis, sangat manusiawi. Dimana dia mementingkan hubunga antar manusia daripada saling menghujat dan saling perang antar ego kelompok. Mereka mengakui adanya kekuatan besar yang ada di sekitar kita. Sebuah kekuatan yang tak mungkin dijangkau oleh manusia. Mereka mengakui bahwa seseorang yang berbuat baik akan mendapatkan sesuatu yang baik, begitu sebaliknya. Tapi mereka masih bertanya tanya, apakah sorga dan neraka itu benar benar ada…? Sikap skeptis inilah yang mendasari Agnostik tidak percaya pada dogma dogma agama. Agama bagi mereka, hanyalah undang undang yang dibuat manusia dengan meminjam nama Tuhan.

Para agnostic mengatakan, bahwa agnostic adalah pilihan paling logis daripada Teis ataupun Ateis. Karena mereka menganggap ajaran Teis ( agama ) adalah sesuatu yang tidak logis. Ajaran tersebut cenderung dipergunakan untuk kepentingan kelompok kelompok. Susahnya lagi, Teis kalau dikritik, malah ngamuk. Kadang diantara orang beragama menggunakan agamanya untuk men justifikasi ( memberikan cap ) orang orang yang tak sepaham atau orang yang tak disukai. Tentu saja justifikasi yang mereka berikan pasti nama jelek, atau menjelekan. Bukankah itu sama dengan fitnah ?, meng-atas namakan agama. Misalnya, bid’ah, kafir, murtad… dsb. Jadi untuk apa ribet ribet menggunakan aturan aturan agama kalau pada akhirnya kita meng kafirkan dan memusuhi orang lain…? Kenyataanya memang itulah yang terjadi, banyak orang beragama membuat orang lain menjadi bisa dijauhi orang lainnya, berimbas pada pergaulan sosialnya, kondisi kehidupan orang tersebut menjadi terhambat. Hanya karena kata kata ( fatwa ) sang tokoh agama. Kalau sudah begitu…, siapakah yang layak masuk neraka…? ( kalau Teis percaya ada neraka ).

Agnostic bisa mengakomodasi semua aturan aturan agama di dunia. Misalnya masalah dosa, orang agnostic menganggap perbuatan tidak baik. Perbuatan tidak baik akan ada balasannya saat itu juga. Siapa yang menabur sesuatu, akan menuai sesuatu juga. Perbuatan akan terbalaskan sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukan. Misalnya lagi tentang karma. Kalau kamu bohong, kamu akan disebut pembohong. Dan satu saat kamu juga akan kena batunya, akibatnya ( karmanya ) kamu tidak dipercaya orang lagi. Coba kita simak salah satu pemikiran agnostic :
“ Kenapa saya memilih agnostic, karena agnostic ini yg paling logis dari yg lain. THEISME , saya merasa dalam theisme banyak sekali hal yg tidak logis, dan saya berprasangka bahwa ajaran 2 THEISME diciptakan oleh manusia dan digunakan untuk kepentingan kelompok tertentu.
Saya sering berdiskusi dengan orang THEISME, dari diskusi saya, pada intinya mereka menjawab bahwa dalam memahami keTUhanan kita jangan mengandalkan dan bersandar pada logika.. untuk sementara saya menganggap bahwa itu jawaban orang yg kehabisan jawaban.. Jadi kenapa saya tidak memilih THEISME karena saya tidak setuju dengan beberapa ketidakmasuk akal dalam THEISME.
ATHEIS, kenapa saya tidak memilih ATHEIS? karena saya masih berkeyakinan bahwa segala sesuatu itu ada tidak mungkin ada dengan sendirinya.. saya blm dapat mempercayai bahwa ada berasal dari ketidakadaan mutlak. Jadi, pandangan agnostic saya. saya jelas meyakini bahwa Tuhan itu ADA dan DIA yg menciptakan alam semesta.. jadi agama saya apa? Agamanya Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan nya siapa? Tuhan Yang Maha Esa. Terima kasih, mohon maaf bila ada yg kurang berkenan. SALAM. “

Pemikiran Agnostik tentang dosa :
“ Ga ada yg namanya dosa, yg ada perbuatan yg tidak baik. Yg termasuk dalam perbuatan yg tidak baik antara lain:

     Menyakiti atau merugikan sesama, sadar atau engga.
     Menyakiti makhluk lain.
     Melakukan sesuatu yg secara ga langsung berdampak buruk buat sesama
     Melanggar hukum/norma resmi di lingkungan sekitar

Mungkin masih ada sih yg lain sih, saat ini cuman kepikir segitu. Bottom line is, gue gak ada tanggung jawab sama tuhan/dewa dewi/whatever. Tanggung jawab gue sama hidup gue sendiri, sesama manusia dan lingkungan sekitar. Kalo gue merasa guilty karena gue berbuat salah, gue merasa guilty bukan karena gue takut masuk neraka atau takut dimarahin tuhan, tapi emang karena gue berbuat salah, plain and simple. “
“ gw bukan agnostik, tapi kalau gw agnostic, mungkin gw akan menganggap dosa itu sebagai rasa bersalah [guilty] karena telah melakukan yang suatu masyarakat anggap itu tidak baik atau melanggar norma2 yang udah terbentuk dalam masyarakat sejak dulu, sehingga perasaan bersalah itu menjadi beban bagi diri kita sendiri.”
“ Kalo gw agnostic, gw juga bakal ngerasa dosa itu = guilty. Karena pada dasarnya semua manusia, aturan hidup bersosial itu adalah norma dan guilty itu juga bakal kepentok sama norma itu sendiri, makanya sekalipun gw hanya agnostik misalkan, gw bakal tetep mengikuti norma yang ada “
“ Kalo gw agnostik gw juga akan menghargai mereka yang para theis, monotheis, polytheis, pluralis karena gw merasa bahwa gw dan mereka adalah sama, sama-sama mempercayai ada-nya suatu entitas yang lebih besar di belakang manusia, beda-nya mereka berjalan lewat jalur organisasi [resmi la istilah-nya] sedangkan kan berjalan dengan jalur bebas. ”

Pemikiran Agnostik tentang karma :
“ ….kalau apa yang kamu tabur tetep aja bakal kamu tuai, jangan harap kalo lu males mau jadi kaya, jangan harep klo lo tukang bohong mau dipercaya, jangan harap bencana alam gak bakal terjadi kalau lu gak jaga alam, maka-nya gw bilang semua tergantung dari diri kita sendiri, dan untuk apa yang buruk terjadi adalah akibat perbuatan kita sendiri, jadi jangan pernah deh nyalain si takdir, kasian takdir di kambing hitamkan, cere salain takdir, orang mati salain takdir, bencana alam salain takdir. “
“ betul tuh, karma itu sekalipun kita seorang yang agnsotik pasti ada karena relasi karma itu bukan karena agama, tapi karena kehidupan. ky contoh diatas, kalo elu sering bohong, ya akibatnya elu dicap sebagai pembohong kalo udah dicap pembohong, secara ngga langsung juga elu membohongi diri sendiri dan akibatnya elu sendiri yang kena batunya, sekalipun elu ngomong kebenaran suatu saat nanti ya bakalan ga ada yang percaya “.

Sangat jelas dan gamblang cara berpikir mereka , masuk akal serta brilian, mirip cara berpikir Ateis. Kenapa mereka memilih Agnostik…? Dari beberapa pemikiran yang saya copas, sangat jelas, mereka tak mau terkotak kotak, apalagi diperalat sama yang namanya agama. Kejujuran dan apa adanya serta bersosialisasi dengan mahluk lain, adalah inti dari kehidupan yang sebenarnya daripada sekedar ber-agama. Mereka tak mau menerima dogma dogma atau doktrin agama begitu saja tanpa nalar yang jelas. Keyakinan adalah sesuatu yang absurd bagi mereka, kalau tak boleh di sebut kebohongan.
Agnostik meyakini sesuatu yang luar biasa yang menguasai segalanya di sekeliling mereka, tapi juga tidak yakin sesuatu yang luar biasa itu bisa dibuktikan ada.

Orang ber agama menyebut sesuatu yang luar biasa yang melingkupi kehidupan di dunia ini adalah TUHAN.

Sungguh kebesaran Tuhan yang luar biasa dan begitu mulia serta beragam. Maka belajar mengenal segalanya adalah kunci manusia untuk segala bentuk dalam memilih suatu kehidupannya. Jangan bicara soal salah dalam masalah ini. Karena anggapan salah dalam soal ini, adalah tak sepaham atau tak segolongan.

Tuhan telah memberikan semuanya dengan segala akibatnya. Silahkan memilih dengan segala pemikiran dan keyakinan masing masing. Maha besar Tuhan dengan segala ciptaannya.

Oleh. Didik Suwitohadi

http://randaka.wordpress.com/2012/03/21/agnostic-pemikiran-jalan-tengah/
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Agnostic bukan ateis
« Jawab #1 pada: Januari 08, 2013, 10:39:30 PM »
Adie baru tau apa itu istilah agnostic, setelah di status temen di FB, Jadi renungan juga seperti benar tapi hati kok gak nerima kenapa yach ?
 

Offline Sandy_dkk

Re:Agnostic bukan ateis
« Jawab #2 pada: Januari 09, 2013, 01:35:02 AM »
apakah Didik Suwitohadi si penulis artikel ini adalah seorang agnostic?
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9259
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Agnostic bukan ateis
« Jawab #3 pada: Januari 09, 2013, 06:22:19 AM »
ketika kaum agnostic tidak dapat menyentuh realitas tuhan, tidak berarti semua orang sama seperti mereka. jika tuhan tidak dapat diketahui, berarti berita tentang tuhan dari para filsuf, para nabi dan rasul adalah bohong? dari mana mereka mengetahui sifat-sifat Tuhan, bila tuhan tidak dapat diketahui?

adapun bagi orang yang memang belum dapat menyentuh realitas tuhan, maka memang sebaiknya jangan so tahu. ketika orang bertanya kepada saya tentang Allah, apakah Dia berjisim atau tidak, maka saya menjawab "tidak tahu". ini adalah kelamahan saya, ketidak tahuan saya, tapi di sisi lain adalah kejujuran saya.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Agnostic bukan ateis
« Jawab #4 pada: Januari 09, 2013, 10:55:30 PM »
apakah Didik Suwitohadi si penulis artikel ini adalah seorang agnostic?

dapat dikatakan begitu kang biru, dia seorang agnostic

 

Offline comicers

Re:Agnostic bukan ateis
« Jawab #5 pada: Januari 18, 2013, 12:15:19 AM »
Agnostik: Untuk Apa Anda Percaya?
OPINI | 03 April 2012 | 08:14 Dibaca: 740   Komentar: 12   1 bermanfaat

“Demi Tuhan, bila langkah ini adalah kebodohan, maka saya akui bahwa saya adalah makhluk paling bodoh sepanjang zaman.”

Konfirmasi saya mengenai Tuhan adalah bahwa saya tidak tahu. Karena itulah saya pikir saya seorang agnostik, orang yang tidak mengetahui. Saya tidak akan menyangkal ketika anda mengatakan bahwa saya adalah manusia bodoh atau manusia peragu. Seperti artikel yang baru-baru ini saya temukan dengan judul fantastis : ‘Agnostik adalah Kebodohan Sempurna, Atheis adalah Kesombongan Sempurna’.

Saya takjub dengan penulisnya. Beliau pastilah orang yang sangat pintar dan rendah hati, atau kalau tidak, beliau pastinya orang yang sangat sok tahu. Dan karena saya menghargai kejujuran, maka saya akui saya lebih menganggapnya sebagai sok tahu.

Saya akan mencoba berbagi pandangan dengan teman-teman disini. Terutama mengenai penegasan apakah agnostik itu bodoh dan peragu. Saya katakan, ya. Kami bisa jadi adalah manusia bodoh, tetapi ‘peragu’ butuh penjabaran lebih jauh. Dengan mengatakan bahwa kami bodoh, tidak menutup peluang bahwa anda juga bodoh. Tapi tentu saja bukan itu point-nya :D

· Tahukah anda relativisme Einstein?

· Tahukah anda bagaimana handphone bisa mengirim sms?

· Tahukah anda mengapa begitu banyak orang di Indonesia setidaknya di dunia maya ini yang menganggap agnotisisme adalah pilihan ragu dan bodoh?

Biar saya yang menjawab bagian terakhir ini : karena mereka lupa perbedaan antara kata percaya dan tahu. Tahukah anda bedanya?

Bagi saya, setidaknya ada dua kategori manusia berkaitan dengan ketuhanan :

1. Orang yang mencari keyakinan

2. Orang yang mencari pengetahuan.

Perbedaan di antara keduanya akan terlihat dalam situasi berikut :

A : Apakah anda percaya Tuhan ada?

Believer : Ya

Saya : Hmm . . . tidak begitu.

Kenapa saya menjawab ‘Hmm’ dan ‘Tidak begitu’? Karena begitulah menurut saya seharusnya. Keberadaan Tuhan ranahnya objektif. Jadi mau bagaimanapun anda yakin dengan keyakinan anda mengenai Tuhan, itu tidak menjawab apakah Tuhan itu ada atau tidak. Ringkasnya, di kesempatan lain ketika saya sedang malas menerangkan, maka saya mungkin langsung akan menjawab to the point sehingga banyak yang salah tangkap.

A : Apakah anda percaya Tuhan ada?

Saya : Tidak.

Jawaban ‘tidak’ saya tidak bisa diartikan sebagai ’saya percaya tuhan tidak ada’. Malah, ini merupakan jawaban kebalikannya, yaitu : ’saya tidak percaya Tuhan ada’ demikian pula, saya juga ‘tidak percaya Tuhan tidak ada.’ Kenapa? Sekali lagi, ranahnya objektif, dan mengambil kesimpulan di ranah tersebut dengan sebuah subjektivitas yakni keyakinan, adalah hal yang kurang tepat.

Biar saya perjelas disini, bagi saya pribadi ketika anda menyodorkan dua pilihan apakah Tuhan itu ada atau tidak, saya akan menjawab tidak tahu. Maka beberapa dari anda akan memaksa saya untuk mengambil posisi, yang sebenarnya, adalah bukti kebingungan anda.

Analogikan anda dan saya sedang meneliti mengenai makanan yang ada di hadapan kita. Berbagai bukti diuji dan akhirnya dikonfirmasi bahwa makan tersebut merupakan soto. Disini, kita akhirnya tahu. Perkara sebelumnya anda percaya atau tidak, bukan urusan saya. Tapi untuk apa kepercayaan tersebut??? Sangat mengherankan bukan?

A : Mari kita uji makanan ini.

B : Kalau sudah kau uji, saya tidak bisa percaya lagi dong?

Beberapa orang mengatakan bahwa pilihan mereka didasarkan pada bukti rasional. Maaf, saya menyela, tapi apapun bukti rasional yang anda tawarkan, bahkan ketika konfirmasi itu nyata, buktinya sudah bisa diverifikasi dengan akurat, maka kita tidak perlu percaya lagi. Kita sudah sampai tahap bahwa kita tahu. Dan beberapa dari kita sepertinya masih bingung antara ’sudah tahu’ atau hanya sedang ‘memupuk keyakinannya’.

Saya ambil contoh : Harun Yahya. Beliau berangkat dari kepercayaan bahwa Tuhan itu ada, maka beliau kemudian membawa sekian bukti bahwa Tuhan itu ada. Beliau adalah kategori ’si pemupuk keyakinan.’

Nah, sekarang setalah kita membedakan antara kepercayaan dan pengetahuan, sebenarnya tidak perlu lagi dijelaskan mengenai apakah seorang agnostik itu ragu atau tidak. Singkatnya, kami memang seolah ragu dengan ketuhanan. Tapi itu hanya berarti bahwa kami tidak tahu dan tidak mengambil sikap terhadap kepercayaan, yang kemudian ditafsirkan sebagai plin plan/ peragu. Padahal, disinilah letak kebingungan masyarakat pada umumnya, yang mencampuradukkan antara keberadan Tuhan dengan keberadaan menurut pendapatnya.

· Believer : Oh, bukankah kami adalah makhluk bodoh karena tidak bisa melihat bukti-bukti keberadaanMu?

· Saya : Doamu???

http://filsafat.kompasiana.com/2012/04/03/agnostik-untuk-apa-anda-percaya/
 

Offline Isaacus Newtonus

Re:Agnostic bukan ateis
« Jawab #6 pada: Januari 18, 2013, 08:43:15 AM »
Jadi jika Agnostik percaya keberadaan Tuhan namun tidak bisa mengetahui seperti apa Tuhan, bisakah Agnostik disamakan dengan Deisme? (sebab saya mengasumsikan bahwa baik Agnostik maupun Deisme sama-sama menolak Kitab Suci dan hal-hal supranatural, seperti mujizat)

 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Agnostic bukan ateis
« Jawab #7 pada: Januari 18, 2013, 06:49:30 PM »
Jadi jika Agnostik percaya keberadaan Tuhan namun tidak bisa mengetahui seperti apa Tuhan, bisakah Agnostik disamakan dengan Deisme? (sebab saya mengasumsikan bahwa baik Agnostik maupun Deisme sama-sama menolak Kitab Suci dan hal-hal supranatural, seperti mujizat)

wah ada istilah baru nih deisme dan setelah cari info di google ternyata ada perbedaan deisme dan Agnostik

"kaum agnostik itu tidak membenarkan maupun menyangkal keberadaan Tuhan, Kaum agnostik, tidak puas hanya mengakui ketidaktahuan mereka mengenai yang Mahakuasa berhenti di sana, dan menolak untuk melangkah lebih jauh. Mereka memilih untuk tidak menentukan pendirian dalam persoalan yang tidak mereka ketahui. Pada akhirnya kaum agnostik mempertahankan semacam netralitas, skeptisisme atau ketidakacuhan berkenaan dengan persoalan-persoalan keagamaan "

Sedangkan deisme

"deisme adalah sebuah paham yang mengatakan bahwa Allah (atau Tuhan) adalah layaknya pembuat jam. Mengapa pembuat jam? Sebab seperti seorang pembuat jam itu membuat sebuah jam lengkap dengan systemnya. Setelah menciptakan sebuah jam, seorang pembuat jam tidak perlu lagi mengotrol jalannya jam, sebab jam akan berjalan sesuai dengan system yang telah berlaku dalam jam.
Demikian dengan Tuhan. Ia menciptakan dunia lengkap dengan sistemnya. Setelah dunia diciptakan Sang Pencipta itu kemudian lepas tangan, tidak ikut campurtangan lagi pada ciptaannya, semua ciptaan berjalan sesuai dengan mekanisme alamiahnya. Mungkin bisa dikatakan setelah dunia (dan segala isinya) diciptakan berlaku hukum sebab akibat. kehidupan manusia perlu didukung karena manusia punya sifat ingin bertahan hidup, bertahan hidup itu membutuhkan tenaga, tdan seterusnya. Semua berjalan sesuai dengan sistemnya.
Deisme ini dituduh sebagai biang kerok, cikal bakal lahirnya atheisme di kemudian hari. Sering disebut dalam berbagai tulisan, untuk mencapai atheisme kita butuh selangkah lagi dari deisme. Deisme ini mengesampingkan peran Tuhan dari hidup manusia, Tuhan hanya berperan dalam penciptaan, sebab setelah itu ciptaan sendiri yang menentukan hidupnya. Intinya peran Tuhan dilupakan segera setelah Ia menciptakan ciptaan"

Sumber http://kebahagiaan-berbagi.blogspot.com/2009/09/sedikit-tentang-agnostik-setitik.html
 

Offline Sandy_dkk

Re:Agnostic bukan ateis
« Jawab #8 pada: Maret 26, 2013, 11:10:44 PM »
mungkin saya sendiri lebih cenderung kepada faham deisme...
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9259
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Agnostic bukan ateis
« Jawab #9 pada: Maret 26, 2013, 11:22:56 PM »
kalau menurut saya, Deisme tersebut adalah mustahil. kenapa? sebab perbuatan Tuhan bersifat azali, kekal, tidak bersifat baru dan tidak berubah. sedangkan Deisme berarti "Allah berbuat sesuatu" lalu "Dia diam". hal ini tidaklah mungkin. sama tidak mungkinnya dengan keyakinan bahwa "Dulu Allah berfirman" tapi "sekarng Allah diam". sedangkan firman Allah bersifat azali.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re:Agnostic bukan ateis
« Jawab #10 pada: Maret 26, 2013, 11:37:26 PM »
kalau menurut saya, Deisme tersebut adalah mustahil. kenapa? sebab perbuatan Tuhan bersifat azali, kekal, tidak bersifat baru dan tidak berubah. sedangkan Deisme berarti "Allah berbuat sesuatu" lalu "Dia diam". hal ini tidaklah mungkin. sama tidak mungkinnya dengan keyakinan bahwa "Dulu Allah berfirman" tapi "sekarng Allah diam". sedangkan firman Allah bersifat azali.

betul kang, perbuatan Tuhan tidak berubah.

termasuk perubahan perbuatan ini: dahulu Allah menciptakan bumi, kemudian Allah memeliharanya, lalu Allah mengkiamatkannya.
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Sandy_dkk

Re:Agnostic bukan ateis
« Jawab #11 pada: Maret 27, 2013, 12:01:31 AM »
bumi berubah, tapi sebenarnya perbuatan Allah atas bumi tidak berubah.
deisme versi saya meyakini hal ini...

perumpamaan deisme seperti pembuat jam yang setelah membuat jam lalu diam memang tidak tepat, karena si pembuat jam dan jam sama2 terikat waktu. tapi entahlah, apakah ada perumpamaan lain yang lebih tepat dari itu.

perbuatan Allah, menciptakan makhluk, memelihara makhluk, dan meng'kiamat'kan makhluk, terjadi 'diluar' alur waktu. sedangkan makhluk, berada didalam alur waktu, sehingga terciptanya makhluk, terpeliharanya makhluk, dan kiamatnya makhluk, berubah tergantung waktu dalam kesan para makhluk.
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Sandy_dkk

Re:Agnostic bukan ateis
« Jawab #12 pada: Maret 27, 2013, 12:34:47 AM »
Allah menciptakan alam semesta beserta sistemnya. ruang dan waktu, ini lah sistem utama yang Allah ciptakan bagi makhluk.

ruang, merupakan sistem berupa wadah bagi keberadaan makhluk.
waktu, merupakan sistem yang mencegah berbagai hal terjadi secara bersamaan dalam ruang tsb. sehingga dalam ruang, tidak terjadi bumi yang diciptakan, dipelihara dan dihancurkan secara bersamaan.

terciptanya semesta, terpeliharanya semesta, dan kiamatnya semesta, terjadi berurutan pada sistem waktu yang diberlakukan pada semesta tsb. inilah yang diumpamakan dengan jam yang berjalan sesuai dengan sistem yang telah berlaku dalam jam.
sedangkan si pembuat jam, tidak perlu repot2 memutar jarum jamnya secara manual detik demi detik, karena sistemlah yang bekerja.
Allah, tidak menciptakan, kemudian memelihara, lalu mengkiamatkan makhluk, karena sistem waktu lah yang membuatnya terjadi demikian.


sebuah keyakinan yang memang sulit dijelaskan dengan kata2.....

« Edit Terakhir: Maret 27, 2013, 01:13:54 AM oleh Sandy_dkk »
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9259
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Agnostic bukan ateis
« Jawab #13 pada: Maret 27, 2013, 07:30:48 AM »
Quote (selected)
deisme adalah sebuah paham yang mengatakan bahwa Allah (atau Tuhan) adalah layaknya pembuat jam. Mengapa pembuat jam? Sebab seperti seorang pembuat jam itu membuat sebuah jam lengkap dengan systemnya. Setelah menciptakan sebuah jam, seorang pembuat jam tidak perlu lagi mengotrol jalannya jam, sebab jam akan berjalan sesuai dengan system yang telah berlaku dalam jam

kemustahilan deisme itu atas asumsi bahwa maksud dari "tak perlu lagi mengontrol" adalah "diam tak berbuat". sedangkan Allah maha pemelihara segala sesuatu. jadi tentunya setelah diciptakan, sesuatu itu dipelihara. dengan asumsi bahwa pemeliharaan ini merupakan kontrol.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 15
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Agnostic bukan ateis
« Jawab #14 pada: Maret 27, 2013, 07:49:28 PM »
kemustahilan deisme itu atas asumsi bahwa maksud dari "tak perlu lagi mengontrol" adalah "diam tak berbuat". sedangkan Allah maha pemelihara segala sesuatu. jadi tentunya setelah diciptakan, sesuatu itu dipelihara. dengan asumsi bahwa pemeliharaan ini merupakan kontrol.

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya);tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar (Terjemahan Ibnu Katsir)

Kemungkinan maksud Akang seperti ayat kursyi di atas ( yang ditebalkan ) ?
« Edit Terakhir: Maret 27, 2013, 07:51:37 PM oleh ratna »
 

Tags: Agama Keyakinan 
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
7 Jawaban
2517 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 07, 2015, 12:32:37 AM
oleh Monox D. I-Fly
6 Jawaban
3380 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 29, 2013, 01:12:15 AM
oleh Sandy_dkk
3 Jawaban
1103 Dilihat
Tulisan terakhir November 13, 2015, 08:55:12 PM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
854 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 02, 2015, 04:30:36 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1158 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 24, 2015, 04:56:08 PM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
823 Dilihat
Tulisan terakhir April 18, 2015, 10:57:07 AM
oleh comicers
3 Jawaban
750 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 19, 2016, 05:59:43 PM
oleh Kang hendri
0 Jawaban
383 Dilihat
Tulisan terakhir April 10, 2016, 01:58:51 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
147 Dilihat
Tulisan terakhir September 29, 2016, 05:23:25 PM
oleh Sultan
1 Jawaban
121 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 28, 2017, 10:39:02 AM
oleh kang radi

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan