Penulis Topik: menciptakan definisi Filsafat  (Dibaca 3458 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9264
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
menciptakan definisi Filsafat
« pada: Oktober 24, 2013, 02:14:34 AM »
Sampai saat ini, belum ada kata sepakat diantara para ahli tentang definisi filsafat yang secara konsisten digunakan dalam berfilsafat sehari-hari. Mereka memiliki dan menggunakan definisinya sendiir-sendiri, dengan alasan yang kuat dan masuk akal. (Prod. Dr. Supardjo. A., Pengantar Filsafat, Hal. 3)

Sebenarnya tidak harus ada kesepakatan definisi, sebagaimana dinyatakan dalam hukum “Wilayah Kewenangan Definisi” bahwa setiap orang berhak untuk mendefinisikan segala sesuatunya sendiri. yang terpenting adalah definisi tersebut memenuhi kaidah definisi, tidak memaksa orang lain untuk sepakat dengan definisinya,  serta  si pembuat definisi konsisten dalam mempergunakannya. Jadi, terserah Anda, dengan apa Anda hendak mendefinisikan Filsafat.

Teman saya berkelakar, bahwa Filsafat itu artinya “Gajah Buntung”. Karena Fil = Gajah, seperti dalam kamus bahasa Arab, dan Safat = Buntung, seperti dalam kamus bahasa Sunda “Sapat”. Sebuah sendai gurai definisi yang cukup dapat membuat saya tersebut. Tapi seandainya dia serius mendefinisikan Filsafat dengan “Gajah Buntung”, maka itu sah-sah saja. Tapi kalau dia mau membicarakan filsafat dengan saya, maka harus disepakati dulu, apakah yang hendak dibicarakan itu adalah filsafat sebagaimana yang dia definisikan ataukah filsafat yang telah saya definisikan.

Saya sendiri mendefinisikan Filsafat dengan Pemikiran atau Produk Berpikir. Artikel ini merupakan produk berpikir saya, jadi artikel ini merupakan filsafat saya. Berpikir adalah berfilsafat, tetapi tidak berarti pikir = filsafat. Berpikir dan Berfilsafat mempunyai pengertian yang sama, yaitu melakukan suatu tindakan dengan pikiran untuk menghasilkan filsafat. Dan Anda boleh sepakat boleh pula tidak sepakat dengan apa yang saya definisikan ini. Tetapi bila Anda membaca artikel saya, dan menemukan istilah filsafat di dalamnya, maka istilah filsafat dalam artikel-artikel bermakna sebagaimana yang saya definisikan di sini.

Pada suatu hari, saya duduk di teras rumah saudara saya. Dan saya mulai menghitung, berapa jumlah ubin di teras tersebut. saya menghitung lebar teras rumah = 5 ubin, dan panjangnya = 10 ubin. Maka saya menyimpulkan bahwa jumlah ubin teras rumah saudara saya itu adalah 50 ubin, atau bisa dikatakan luas teras rumah tersebut adalah 50 ubin. Angka 5 dan 10 yang saya ketahui dengan menghitungnya sendiri, tidaklah termasuk filsafat, karena ini merupakan fakta real yang saya amati secara langsung. Sehingga di sini saya menyatakan bahwa data atau fakta yang kita amati secara langsung bukanlah filsafat, melainkan objek pengetahuan. Dan ketika objek pengetahuan ini diserap ke dalam memori kita, maka menjadi pengetahuan. Tata cara menghitung luas teras rumah adalah filsafat, yang sekarang secara praktis sudah tidak dikategorikan sebagai filsafat karena sudah termasuk ke dalam disiplin ilmu matematika. Jadi, di sini saya menyatakan bahwa filsafat adalah asal usul segala ilmu pengetahuan. Ketika suatu filsafat sudah masuk ke dalam disiplin ilmu tertentu, ia tidak lagi disebut sebagai filsafat.

Semua ilmu pengetahuan ini adalah filsafat. Matematika adalah filsafat, biologi, fisika, psikologi, dan sebagainya, semuanya itu filsafat. Pada umumnya, kita memisahkan berbagai disiplin ilmu ini dengan filsafat, padahal semua itu bagian dari filsafat. Semisal, ada anak yang sekolah di Madrasah Ibtidaiyah ditanya, “mata pelajaran apa saja yang kamu terima di sekolah ?” anak itu menjawab, “Fiqih, Quran, Hadits, Aqidah dan Agama”. Dia menganggap “agama” sebagai bagian yang terpisah dari “Agama”. Tentu saja ini keliru. karena sebenarnya, Fiqih, Quran, Hadits dan Aqidah, semua itu merupakan bagian dari Agama. Demikian pula sebenarnya agama, matematika, biologi, fisika, dan sebagainya, semua itu sebagai bagian dari filsafat.

Tidak ada suatu disiplin ilmu pengetahuan yang tidak termasuk ke dalam kategori filsafat. Semuanya adalah filsafat. Tetapi, penyebut istilah Filsafat secara praktis kadang disejajarkan dengan disiplin ilmu lain dikarenakan kita perlu mengakagorikan suatu produk berpikir yang belum termasuk ke dalam salah satu disiplin ilmu. Seperti misalnya, bila ilmu agama sudah dipecah menjadi beberapa disiplin ilmu lain menjadi fiqih, quran, hadits, dan akidah, tapi lalu kita menemukan suatu kajian khusus yang berbeda dengan itu semua, yaitu mengkaji tentang asal usul suatu mazhab atau agama, maka kita tidak bisa menyebutnya sebagai fiqih, quran, hadits ataupun akidah, tapi kita bisa menyebutnya sebagai “pelajaran agama saja” atau kita bisa membuat kategori baru dari ilmu agama, yaitu Ushuludin. Demikian pula, ketika kita berfilsafat, maka produk filsafat kita itu dapat kita masukan ke dalam kategori yang sesuai. Misalnya, Kang Sandy telah menemukan suatu rumus “Sandy`s Paper”, dan itu dikategorikan kepada disiplin ilmu matematika. Tapi coba perhatikan, produk-produk pemikiran kita itu tidak semuanya bisa dimasukan ke dalam berbagai disiplin ilmu tersebut. maka, sebelum kita menemukan kategori yang tepat untuk jenis produk berpikir yang baru tersebut, maka kita dapat memasukannya ke dalam kategori filsafat.

Untuk menciptakan definisi Filsafat, saya tidak perlu terlaul banyak membaca buku filsafat, menimbang pendapat para ahli tentang definisi filsafat, lalu memilih mana yang paling bagus definisinya dari para ahli tersebut. saya tidak ragu, tanpa takut untuk mendfinisikan sendiri apa itu filsafat. Saya hanya perlu sedikit merenung, jika selama ini saya banyak menyebut istilah “Filsafat”, maka apakah maksud dari apa yang saya sebut tersebut. lalu saya menuangkannya ke dalam bentuk definisi. Sesederhana itu. Bagi saya, tidak ada definisi filsafat yang lebih baik, lebih relevan, lebih benar dan lebih jelas dari definisi filsafat yang saya ciptakan ini. Tapi adakah yang sepakat dengan definisi Filsafat dari saya ini ? apabila Anda tidak sepakat dengan definisi Filsafat yang saya ciptakan, maka silahkan Anda menciptakan definisi Anda sendiri tentang filsafat!
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re: menciptakan definisi Filsafat
« Jawab #1 pada: Oktober 24, 2013, 06:57:55 AM »
bagaimana dengan ilmu logika kang? apakah ini termasuk kategori filsafat?
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 15
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: menciptakan definisi Filsafat
« Jawab #2 pada: Oktober 24, 2013, 07:56:25 AM »
Berpikir = berfilsafat
Komunitas bepikir = komunitas berfilsafat
Komunitas para pemikir = Komunitas para filsuf

Tetapi tidak semua aktivitas / produk berpikir sama dengan aktifitas / produk berfilsafat
Jadi:   Sebagian berfilsafat itu adalah berpikir.
atau:  Sebagian produk filsafat itu adalah produk berpikir.

bagaimana dengan ilmu logika kang? apakah ini termasuk kategori filsafat?

Ilmu Logika adalah sebagian dari ilmu bahasa, sedangkan bahasa adalah sebagian produk dari filsafat.  Jadi Ilmu Logika adalah sebagian dari Filsafat?
 

Offline Sandy_dkk

Re: menciptakan definisi Filsafat
« Jawab #3 pada: Oktober 24, 2013, 09:56:30 AM »
Berpikir = berfilsafat
Komunitas bepikir = komunitas berfilsafat
Komunitas para pemikir = Komunitas para filsuf

Tetapi tidak semua aktivitas / produk berpikir sama dengan aktifitas / produk berfilsafat
Jadi:   Sebagian berfilsafat itu adalah berpikir.
atau:  Sebagian produk filsafat itu adalah produk berpikir.

Ilmu Logika adalah sebagian dari ilmu bahasa, sedangkan bahasa adalah sebagian produk dari filsafat.  Jadi Ilmu Logika adalah sebagian dari Filsafat?


saya sepakat dengan definisi kang Asep bahwa filsafat adalah pemikiran / produk berpikir.

filsafat = pemikiran
berfilsafat = berpikir
filsuf = pemikir

termasuk juga:
aktifitas berpikir = berpikir = berfilsafat = aktifitas berfilsafat.
produk berpikir = pemikiran = filsafat = produk berfilsafat.


mengenai logika, ketika aristoteles menemukan rumusan logika, apakah ini sama dengan menghitung lebar dan panjang teras, atau sama dengan menghitung luas teras?

jika sama dengan menghitung lebar dan panjang teras, berarti tidak termasuk filsafat.
jika sama dengan menghitung luas teras, betarti termasuk filsafat.
bagaimana menurut kang Asep dan kang Ratna?
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 15
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: menciptakan definisi Filsafat
« Jawab #4 pada: Oktober 24, 2013, 10:39:44 AM »
Dasarnya adalah kutipan dibawah ini :

maka, sebelum kita menemukan kategori yang tepat untuk jenis produk berpikir yang baru tersebut, maka kita dapat memasukannya ke dalam kategori filsafat.

Sebelumnya tidak ada kajian terhadap ilmu ini (Logika). Menurut saya ia terkait dengan ilmu bahasa dan matematika, sampai kemudian Aristoteles mengkajinya sehingga merumuskannya dan menjadikannya sebagai sebuah disiplin ilmu yang baru ?
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9264
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re: menciptakan definisi Filsafat
« Jawab #5 pada: Oktober 24, 2013, 03:20:18 PM »
Kutip dari: ratna
Sebelumnya tidak ada kajian terhadap ilmu ini (Logika). Menurut saya ia terkait dengan ilmu bahasa dan matematika, sampai kemudian Aristoteles mengkajinya sehingga merumuskannya dan menjadikannya sebagai sebuah disiplin ilmu yang baru ?

betul

Kutip dari: sandy
mengenai logika, ketika aristoteles menemukan rumusan logika, apakah ini sama dengan menghitung lebar dan panjang teras, atau sama dengan menghitung luas teras?

jika sama dengan menghitung lebar dan panjang teras, berarti tidak termasuk filsafat.
jika sama dengan menghitung luas teras, betarti termasuk filsafat.
bagaimana menurut kang Asep dan kang Ratna?

rumus syllogisme itu termasuk filsafat. secara praktis, kita menyebutnya ilmu logika. dan tidak praktis ketika kita menyebutnya filsafat.

nama saya Asep. kalau saya disebut manusia, juga tidak salah. tapi tidak praktis, kalau di tempat kerja saya dipanggil dengan sebutan "Hai, manusia, hari ini akan datang kiriman terigu dari PT. Anu, siapkan pembayarannya!" seperti itu pula, Logika, matematika, biologi, karena sudah mempunyai nama-nama tersendiri, hendaknya dipanggil sesuai dengan nama disiplin ilmunya. walaupun sebenarnya, semua itu adalah filsafat.

pertanyaan, "apakah rumus syllogisme termasuk Logika atau filsafat?" itu seperti pertanyaan, "Apakah tata cara shalat merupakan pelajaran fiqih atau agama ?"
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Sandy_dkk

Re: menciptakan definisi Filsafat
« Jawab #6 pada: Oktober 24, 2013, 07:44:49 PM »
rumus syllogisme itu termasuk filsafat. secara praktis, kita menyebutnya ilmu logika. dan tidak praktis ketika kita menyebutnya filsafat.

nama saya Asep. kalau saya disebut manusia, juga tidak salah. tapi tidak praktis, kalau di tempat kerja saya dipanggil dengan sebutan "Hai, manusia, hari ini akan datang kiriman terigu dari PT. Anu, siapkan pembayarannya!" seperti itu pula, Logika, matematika, biologi, karena sudah mempunyai nama-nama tersendiri, hendaknya dipanggil sesuai dengan nama disiplin ilmunya. walaupun sebenarnya, semua itu adalah filsafat.

pertanyaan, "apakah rumus syllogisme termasuk Logika atau filsafat?" itu seperti pertanyaan, "Apakah tata cara shalat merupakan pelajaran fiqih atau agama ?"

rumus silogisme ditemukan dengan cara mengamati pikiran atau ditemukan dengan cara berpikir?

disini nampaknya ada perbedaan pendapat antara saya dan kang Asep. dimana kang Asep mengatakan bahwa silogisme termasuk filsafat, yang artinya ditemukan dengan cara berpikir, bukan begitu kang?

sedangkan menurut saya, silogisme ditemukan dengan cara mengamati, bukan berpikir, sama seperti ketika kang Asep mengamati lebar dan panjang teras dengan menghitung ubinnya. dan yang diamati pada penemuan rumus silogisme adalah pikiran.
jadi, menurut saya silogisme bukan termasuk filsafat.

bagaimana kang?
Agama tidak berguna bagi orang gila!
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9264
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re: menciptakan definisi Filsafat
« Jawab #7 pada: Oktober 24, 2013, 10:24:10 PM »
ya. Rumus Syllogisme berasal merupakan produk berpikir. kenapa proposisi A, bila digabung dengan proposisi A, dalam kerangka berpikir KTTB melahirkan A ? untuk membuktikan kebenarannya, kita perlu berpikir. Hukum peniapan itu sendiri, yang terdapat dalam syllogisme bukanlah sesuatu yang bisa diamati secara langsung. untuk memahaminya, dibutuhkan rumusan konsep, dan ini diperoleh melalui proses berpikir.

seperti kata "negara". apakah objek negara bisa kita amati secara langsung ? tidak. manakah objek yang bisa kita sebut negara ? kalau istana negara, maka itu bisa diamati secara langsung oleh mata. tapi kalau negara, baru bisa dimengerti setelah melalui proses berpikir. Demikian pula dengan "hukum", apakah ia seperti "batu" yang bisa diamati secara langsung ? tidak!
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9264
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 353
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re: menciptakan definisi Filsafat
« Jawab #8 pada: Oktober 27, 2013, 06:52:58 AM »
pendapat saya tentang "semua orang berfilsafat, karena semua orang berpikir", bertentangan dengan pendapat Beerling dalam bukunya "Filsafat Dewasa Ini" (1959), di mana ia menyatakan bahwa tidak semua manusia berfilsafat meskipun mereka berpikir.[1]
 1. Lihat dalam : Buku Pengantar Filsafat, Hal. 17, Karya Prof. Dr. Sutardjo A. Wiramihardja, Psi.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags: definisi Filsafat 
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
4 Jawaban
2628 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 28, 2015, 11:55:54 AM
oleh Sandy_dkk
12 Jawaban
3968 Dilihat
Tulisan terakhir April 24, 2013, 12:18:10 AM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
1045 Dilihat
Tulisan terakhir September 27, 2013, 07:48:10 AM
oleh Sandy_dkk
1 Jawaban
959 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 17, 2014, 08:38:17 PM
oleh Sandy_dkk
7 Jawaban
1444 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 04, 2014, 10:23:19 AM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
999 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 17, 2014, 02:00:43 PM
oleh Kang Asep
12 Jawaban
1487 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 18, 2015, 04:39:14 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
564 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 05, 2015, 08:50:43 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
223 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 20, 2016, 09:24:28 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
171 Dilihat
Tulisan terakhir April 08, 2017, 06:57:51 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan