Penulis Topik: Fenomena Individual-Interaksi Sosial : Mentalitas Kelangkaan  (Dibaca 243 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Sultan

  • Sang Pengembara Yang Mencari Kepingan - Kepingan Pecahan Cermin Kebenaran Yang Berserakan Di Segala Penjuru Alam Semesta
  • Sahabat
  • ***
  • Tulisan: 179
  • Thanked: 1 times
  • Total likes: 21
  • Jenis kelamin: Pria
  • Spiritualitas dan Kebatinan
    • Lihat Profil
Fenomena Individual-Interaksi Sosial : Mentalitas Kelangkaan
« pada: Mei 21, 2017, 01:28:06 PM »
Fenomena Individual - Sosial : Mentalitas Kelangkaan   

•Fenomena individual - sosial ini saya dapatkan dari pengamatan dan observasi terhadap dimensi internal dari diri saya pribadi, pengalaman pribadi dalam interaksi sosial antara saya dengan antar individu, dan interaksi sosial antar individu - individu dalam lingkup sosial masyarakat dalam skala yang lebih luas.

•Di dalam hubungan antara kita dengan antar individu pada interaksi sosial kita baik dalam skala yang luas seperti dalam konteks masyarakat terdekat, warga negara (nasional), atau antar warga negara (internasional) mau pun dalam skala yang kecil seperti dalam konteks persaudaraan, pertemanan, antar tetangga, setidaknya hanya sekali saja sepanjang usia kita, kita pasti mendapati adanya fenomena "Mentalitas Kelangkaan" di dalamnya yang berasal dari figur - figur atau individu - individu tertentu di dalam lingkup interaksi - interaksi sosial kita.

•Mentalitas kelangkaan adalah gejala mental terbentuknya paradigma kelangkaan pada persepsi seseorang tentang orang lain. Di dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People Bab. 3 : Kebiasaan 4 Hal. : 216, Stephen R. Covey juga membahas mengenai karakteristik - karakteristik dari Mentalitas Kelangkaan ini.

•Kebanyakan naskah hidup orang ditulisi dengan apa yang saya sebut Mentalitas Kelangkaan (Scarcity Mentality). Mereka melihat bahwa hidup hanya memiliki sedemikian saja, seolah hanya ada satu kue di luar sana. Dan jika seseorang ingin mendapatkan potongan yang besar dari kue itu, hal itu berarti lebih sedikit untuk orang lain. Mentalitas Kelangkaan adalah paradigma hidup zero-sum (pertambahan pada yang satu berarti pengurangan pada yang lain).
Orang dengan Mentalitas Kelangkaan sulit sekali membagi pengakuan dan penghargaan, kekuasaan atau keuntungan --- bahkan kepada orang yang membantu dalam produksi. Mereka juga sulit sekali menjadi benar - benar bahagia atas keberhasilan orang lain --- bahkan, dan kadang khususnya, keberhasilan anggota keluarga atau teman dekat dan rekan sekerja mereka sendiri. Nyaris seolah sesuatu telah direnggut dari mereka ketika orang lain menerima pengakuan khusus atau rejeki nomplok atau keberhasilan atau prestasi yang mencolok. Walaupun mereka secara verbal menyatakan kegembiraan akan keberasilan orang lain, di dalam hati mereka merasa amat sedih. Nilai diri mereka diperoleh melalui perbandingan, dan keberhasilan orang lain sampai tingkat tertentu berarti kegagalan mereka. Begitu banyak orang dapat menjadi mahasiswa "A"; hanya satu orang dapat menjadi "nomor satu". "Menang" berarti "mengalahkan".
Acap kali, orang dengan Mentalitas Kelangkaan menyembunyikan harapan rahasia agar orang lain menderita kemalangan --- bukan kemalangan yang mengerikan, melainkan kemalangan yang dapat diterima yang akan membuat mereka tetap "di tempat mereka". Mereka selalu membandingkan, selalu bersaing. Mereka mengerahkan energi mereka untuk memiliki benda - benda atau orang lain demi meningkatkan perasaan berharga mereka.
Mereka ingin agar orang lain menjadi seperti yang mereka inginkan. Mereka sering ingin menciptakan tiruan orang - orang itu, dan mereka mengelilingi diri mereka dengan orang - orang yang "patuh" --- orang - orang yang tidak akan menantang mereka, orang - orang yang lebih lemah dari mereka.
Sulit bagi orang yang memiliki Mentalitas Kelangkaan untuk menjadi anggota tim yang saling melengkapi. Mereka memandang perbedaan sebagai tanda pembangkangan dan ketidaksetiaan (The 7 Of Highly Effective People Bab. 3 : Kebiasaan 4 : Hal. 216, Stephen R. Covey)


Essensi dan intisari dari Mentalitas Kelangkaan adalah kemahalan hati dan kemiskinan hati yang berkebalikan dengan kemurahan dan kelimpahan hati serta paradigma zero-sum (pertambahan pada yang satu berarti pengurangan pada yang lain).
Mereka sulit sekali untuk berbagi pengakuan dan penghargaan atas keberhasilan, prestasi, keberuntungan, atau kelebihan orang lain bahkan mungkin hanya untuk sekedar mengakuinya di dalam hati. Hal itu disebabkan oleh mahalnya dan kurangnya (miskin/langka) kapasitas hati mereka, hingga mereka "kemahalan dan kemiskinan hati" untuk membagi penghargaan dan pengakuan kepada orang lain. Mereka sulit untuk menerima keberhasilan, prestasi, dan keberuntungan orang lain yang tidak mereka miliki. Dan mereka juga merasa rendah diri atas suatu kelebihan yang dimiliki oleh orang lain yang tidak mereka miliki ketika mereka membandingkan diri mereka dengan orang lain. Hal itu dikarenakan kecil dan sempitnya kapasitas hati mereka untuk menerima keberhasilan, prestasi, keberuntungan, dan kelebihan orang lain. Mungkin saja mereka memang benar tidak memiliki keberhasilan, prestasi, keberuntungan, dan kelebihan yang orang lain miliki ketika mereka membandingkan diri mereka dengan orang lain. Tetapi setidaknya mereka bisa secara proaktif melakukan dan menciptakan tindakan dan suasana yang positif dengan bermurah dan berlapang hati untuk berbagi penghargaan dan menerima keberhasilan, prestasi, keberuntungan, dan kelebihan orang lain demi kebaikan bersama ; mereka tidak "tersakiti" karena keberhasilan, prestasi, keberuntungan, dan kelebihan yang dimiliki oleh orang lain, dan juga orang lain yang berhasil, berprestasi, beruntung, dan berkelebihan tersebut juga merasa senang atas penerimaan dan penghargaannya. Kemudian untuk kedepannya sangat dimungkinkan untuk menciptakan hubungan positif yang saling menguntungkan ; timbal balik yang positif untuk saling berbagi penghargaan dan penerimaan atas keberhasilan, prestasi, keberuntungan, dan kelebihan masing - masing. Tidak-kah mereka berpikir ke arah situ ? Memang rata - rata orang yang sedang "buruk hati" lebih memilih dan menghendaki "keburukan bersama" daripada kebaikan bersama.

Di dalam kehidupan kita sehari - hari ; di dalam lingkup interaksi sosial kita, terdapat juga banyak kasus Mentalitas Kelangkaan ini. Di antaranya adalah kasus pribadi saya, yang hendak saya ceritakan berikut ini :

Pada masa saya bekerja di Klaten, saya bekerja sama di satu tempat kerja bersama sahabat karib saya sejak kecil. Sebut saja dia sebagai Panji (nama samaran). Sebenarnya dia adalah sahabat baik saya walaupun dengan kekurangan - kekurangan yang bisa saya maklumi. Bahkan dia juga yang memasukan saya ke tempat kerja tersebut. Namun dalam konteks ini, saya hanya ingin berbagi pengalaman pribadi saya yang terkait dengan dia, hanya dengan maksud untuk bahan pembelajaran bagi kita saja terkait dengan topik ini.
Keseharian saya ditempat kerja bersama Panji dan Bos saya, penuh dengan suasana kompetitif. Hampir ketika sedang mengerjakan tugas bersama - sama, yang lebih dikedepankan adalah sikap kompetitif yang sengit bukannya kerja sama atau sinergi yang kreatif. Ketika dia mengerjakan tugas dengan cakap, cerdas, dan kreatif, dia senang sekali menyatakan diri kepada Bos "begini" - "begitu" ; panjang lebar mengenai caranya mengerjakan tugas. Dan pada saat tiba giliran saya yang mengerjakan tugas dengan cakap, cerdas, dan kreatif, saya tidak suka menyatakan diri kepada Bos atas bagaimana caranya saya mengerjakan tugas saya. Saya lebih memilih untuk tetap fokus pada tugas, hingga tuntas. Tetapi justru Bos malah selalu melihat saya pada saat saya sedang bekerja dengan baik. Dan oleh karena itu ia selalu berbagi penghargaan - penghargaan pada saya atas hasil kerja saya dari yang sekedar berbentuk pengakuan - pengakuan verbal semacam pujian, hingga yang berbentuk semacam perhatian - perhatian yang sifatnya mengakrabkan hubungan saya dengannya. Tetapi gejala Mentalitas Kelangkaan mulai nampak pada diri Panji ketika saya mengerjakan tugas dengan baik, dan mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari Bos tanpa saya harus menyatakan cara kerja saya pada Bos. Ia lebih memilih untuk murung dan "bungkam" ; diam seribu bahasa dan selalu menghindar dari saya daripada ikut bergembira atas hasil kerja saya. Dari gejala dan faktor - faktor yang nampak ke permukaan dari dirinya, Panji terlihat sangat minder dan rendah diri. Dari sikap - sikap eksternalnya pun, sangat menunjukan bahwa ia tidak menerima keberhasilan dan keberuntungan saya seperti ada sesuatu yang telah direnggut darinya karena keberhasilan dan keberuntungan saya. Apalagi mau ikut berbagi pengakuan dan penghargaan pada saya atas keberhasilan dan keberuntungan saya. Nilai diri dan perasaan berharganya diperoleh melalui perbandingan diri, keberuntungan bagi dirinya sendiri dan kemalangan orang lain ; jika dia beruntung, orang lain harus "buntung" tidak boleh menyamai apalagi melebihi dirinya.
Inilah sekelumit kisah pribadi saya dalam lingkungan pekerjaan yang saya jadikan contoh dalam konteks ini untuk kasus - kasus Mentalitas Kelangkaan dalam kehidupan sehari - hari.

Berkebalikan dengan Mentalitas Kelangkaan, Mentalitas Kelimpahan adalah paradigma bahwa "ada banyak di luar sana dan cukup untuk dibagi untuk semua orang". Ia bersumber dari proaktifitas, nilai diri, dan rasa aman pribadi yang mendalam dan kokoh.
Mentalitas Kelimpahan membuka peluang lebar bagi semua orang untuk saling menerima kondisi diri masing - masing dengan lapang hati, dan saling berbagi pengakuan dan penghargaan atas keberuntungan pribadi masing - masing, kemudian lebih jauh lagi untuk terciptanya interaksi sosial yang positif dengan penuh nuansa harmonis untuk saling menerima dan berbagi di dalam lingkaran interaksi sosial tersebut.
Juga berkebalikan dengan Mentalitas Kelangkaan, esensi Mentalitas Kelimpahan adalah kemurahan hati, kelimpahan dan keluasan hati, dan paradigma kelimpahan bahwa "ada banyak di luar sana dan cukup untuk dibagi untuk semua orang".

Kedua mentalitas ini (kelangkaan dan kelimpahan) sepertinya bermain di seputar wilayah 'penerimaan' dan 'pembagian'. Ia berada di dalam dimensi konektifitas pribadi dengan antar individu dengan titik tolak "dari dalam ke luar" ; dari dalam diri ke dunia luar.
Kebenaran itu ibarat cermin yang pecah berkeping - keping. Masing - masing kepingnya adalah kebenaran. Namun kepingan - kepingan pecahan cermin tersebut berserakan di segala tempat. Tugas kitalah untuk memungut kepingannya satu per satu kemudian menyusunnya agar menjadi cermin yang utuh.
 

Offline Ziels

Re:Fenomena Individual-Interaksi Sosial : Mentalitas Kelangkaan
« Jawab #1 pada: Mei 27, 2017, 12:47:48 AM »
Iya cerita diatas sesuai dengan apa yg pernah saya perhatikan. Hanya saja saya belum menemukan kepastian tentang kebenaran "kualitas kelangkaan mental sebanding dengan rasa minder yg muncul" atau gampangnya "kalau masih minder berarti masih suka gitu". Yah skip aja lah, mau cerita panjang lebar malah ntar merembet kemana-mana.

Intinya bagi saya kejadian tsb masih ada hubungannya dengan anatta yg ditulis Pak Asep dulu.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
961 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 10, 2013, 03:39:39 PM
oleh Awal Dj
5 Jawaban
1413 Dilihat
Tulisan terakhir September 07, 2015, 12:33:04 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
909 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 14, 2013, 06:38:43 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
834 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 25, 2013, 02:13:44 PM
oleh comicers
1 Jawaban
1190 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 02, 2015, 11:41:58 PM
oleh Monox D. I-Fly
1 Jawaban
1102 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 13, 2015, 01:46:31 PM
oleh lustdream
0 Jawaban
1025 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 12, 2014, 01:10:12 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
477 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 19, 2016, 07:08:51 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
77 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 25, 2017, 02:30:55 PM
oleh raden92

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan