Penulis Topik: Definisi  (Dibaca 1684 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9585
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Definisi
« pada: Pebruari 28, 2014, 10:15:49 AM »


Definisi adalah batasan mengenai sesuatu[1]. Definisi bisa digunakan di dalam berbagai macam dokumen, mulai dari jurnal ilmiah, dokumen-dokumen resmi, surat perjanjian, dalam pemrograman atau bahkan di dalam karya-karya sastra. Dalam komunikasi sehari-hari pun, definisi ini sering kita gunakan untuk menyampaikan suatu pengertian kepada orang lain[2].

Kedudukan definisi di dalam berkomunikasi adalah sangat penting. Mungkin karena sangat pentingnya definisi, Voltaire (1694-1778), ahli pikir dan pujangga Prancis terkenal itu, setiap kali akan bertukar Pikiran dengan lawan bicara senantiasa ia berkta, "If you wish to converse with me, define your term", bermakna, "jikalau Anda ingin bicara dengan daku, tetapkan definisi term yang Anda gunakan"[3].

Sebagaimana Proposisi dan Konklusi, definisipun mempunyai nilai “benar” atau “salah”. Artinya, ada definisi yang benar, ada pula definisi yang salah. Tetapi kriteria benar-salahnya ini berbeda dengan kriteria benar-salahnya sebuah proposisi. Agar tidak tertukar nilai benar-salah definisi, maka definisi yang benar itu disebut "definisi yang sah" dan definisi yang tidak benar disebut definisi "yang tidak sah".

Contoh “setiap benda adalah mempunyai bentuk”.  Ini adalah proposisi yang bernilai benar. Tapi, jika pernyataan tersebut dianggap definisi, maka apakah ia merupakan definisi yang benar atau salah ? atau, apakah kita tahu, pernyataan tersebut termasuk definisi atau bukan ? jika hal itu definisi, maka bagaimana cara kita mengetahui bahwa itu definisi, dan bagaimana pula cara menilai benar salahnya ? Jika kita belum mengetahuinya, maka ilmu logika membantu kita mengetahui apakah suatu pernyataan itu termasuk definisi atau bukan, dan apakah definisi tersebut benar atau salah.

Berdasarkan ilmu logika, terdapat empat syarat definisi[4], yaitu :

  • Sama luas maknanya antara definiens dan definiendum.
  • Tidak menggunakan term definiendum
  • Tidak berupa kalimat negasi
  • Tidak menggunakan kata kiasan

Setiap A adalah B

cara mudah untuk mengetahui apakah pernyataan tersebut merupakan definisi atau bukan, maka cukup  mengajukan pertanyaan, "apakah setiap B adalah A?" jika jawabannya "ya", berarti pernyataan tadi merupakan definisi[5].

Hubungnnya dengan dunia ilmiah, definisi itu sebagai penghubung antara realitas dengan logika[6]. Jika ada yang berpendapt bahwa nilai benar-salah suatu pernyataan ditentukan oleh kesesuaiannya dengan fakta, maka orang ini sependapat dengan saya. tidak ada pertentantang pendapat. tetapi, perlu diketahui bahwa di dalam ilmu logika, fakta tadi diwujudkan dalam bentuk definisi[7]. karena itu, saya nyatakan bahwa nilai benar-salah suatu Proposisi ditentukan oleh definisi[8]. ini hampir sama dengan menyatakan "kesesuaian dengan fakta/realitas" itulah yang menentukan. tetapi, membandingkan antara bentuk pernyataan dengan dengan fakta atau realita pada alam bukanlah tugas logika, melainkan tugas dunia ilmiah. karena itu saya istilah bahwa Logika itu Buta Makna. yang artinya, tidak melihat kepada alam sebagai realitas, tetapi melihat kepada konsep itu sendiri sebagai realitas, sehingga ilmu logika termasuk kepada sintaksisme, yaitu ilmu yang mempelajari sintak kalimat. Jadi, dalam ilmu logika, objek yang dianggap sebagai fakta adalah term-term, dan proposisi-propsisi, bukan selain itu[9]. jika sudah memadang kepada wujud alam, itu berarti sudah memasuki ranah ilmiah.

karena logika buta makna, maka saya istilah "kebenaran itu diserahkan pada dunia ilmiah. biar dunia ilmiah yang memproduksi nilai benar-salah. sedangkan logika terima hasil jadinya, kemudian mengolah nilai benar-salah tersebut. dan salah satu yang merupakan produk bersama, yaitu logika dan ilmiah adalah definisi. atau bisa dikatakan, dunia fakta itu diterjemahkan ke dalam dunia logika melalui definisi. dan di dalam logika, hakikat sesuatu hanya bisa diketahui melalui definisi. tidak ada jalan mengetahui hakikat atau essensi sesuatu selain dengan definisi tersebut.

"Setiap A adalah B"

apakah ini bernilai benar atau tidak ? sesuai dengan realitas atau tidak ? tidak diketahui, karena definisi A maupun B belumlah jelas. karena itu, jika berangkat dari penyeidikan konsep, untuk melanjutkan pada penyelidikan fakta alam pun tidak mungkin dilakukan bila tidak ada definisi, sehingga tidak pernah dapat diketahui nilai benar-salahnya. ini juga menjelaskan, kenapa saya menyebutkan bahwa dalam logika, benar-salah ditentukan definisi. bila ada yang bersikukuh bahwa dalam ilmu logika, benar-salah ditentukan oleh fakta realitas alam, silahkan saja. itu berrti telah mencampur adukan antara ranah logika dengan ilmiah dengan cara yang tidak benar. dan pendapat ini, berarti hanya bisa menilai benar-salahnya sesuatu hanya jika bisa menyaksikan kesesuaian-ketidak sesuaiannya dengan fakta alam. sedangkan bila meyakini bahwa definisi itu menentukan nilai benar-salah, maka pengujian kebenaran sesuatu cukup dengan tolak ukur definisinya saja.

misalnya, jika didefinisikan A =2,4,6 dan B=bilangan genap, maka "Setiap A adalah B" bernilai benar.

B adalah lingkungan jenis. apabila setiap A dinyatakan sebagai bgian dari himpunan B, maka yang dperlu diketahui adalah "kesamaan sifat" yang mempersatukan seluruh himpunan A. ini berarti definisi. bila dinyatakan bahwa kesamaan sifat ini dimiliki oleh setiap anggota himpunan A, maka pernyaaan "Setiap A adalah B" merupakan pernyaataan yang benar, tanpa harus membandingkannya dengan alam realitas.

contoh lain :

Setiap A adalah B => true
Setiap B adalah C => true
maka, pasti benar dan logis => setiap A adalah C

tidak perlu ada perbandingan dengan alam realitas, konklusinya pasti benar dan logis. sehingga dalam ilmu logika, nilai benar-salah murni ditentukan oleh definisi.

adapun nilai benar-salah yang dihasilkan dari penelitian ilmiah, itu diterima dalam wilayah logika sebagai hasil jadi.

dengan kata lain, nilai benar-salah dalam logika itu ditetapkan.

"Setiap A adalah B"

silahkan tetapkan saja, apakah ini menilai true (benar) atau false (salah). siapa yang harus menetapkan ? yaitu "si pemilik pernyataan". karena si pemilik pernyataan inilah yang menuangkan kesaksianna terhadap realitas ke dalam bentuk pernyataan. karena itulah, dialah yang tahu nilai benar-salahnya. karena itu, tidak keliru bila dikatakan "nilai benar-salah" ditetapkan dalam wilayah ilmiah. tetapi, seseorang yang membuat pernyataan bisa saja berbohong. karena itu, di dalam logika untuk mengidentifikasi kejujurannya, menguji kebenaran pernyataannya adalah dengan definisinya, termasuk dengan kontradiksi-kontradiksinya. jika terdapat ketidak sesuaian dengan definisi, maka orang itu telah keliru dalam membuat pernyataan atau memang berdusta. demikian pula bila ditemukan kontradiksi-kontradiksi. jadi, berlandaskan pada definisi itulah, kita mengetahui apakah nilai benar-salah yang telah ditetapkan seseorang terhadap peryataannya memang benar atau keliru.

Bayangkan bahwa kita berada dalam dua wilayah yang berbeda, yaitu wilayah ilmiah dan logika. pada saat kita berada pada wilayah ilmiah, maka di situ kita telah memperoleh nilai kebenaran yaitu, realitas itu sendiri. tidak ada realitas yang bernilai salah. karena keberadaan berarti kebenaran. realitas ini disaksikan oleh panca indera, diketahui, dimengerti sebelum adanya keyakinan tentang "benar" atau "salah". realitas baru difahami sebagai "keberadaan", "kenyataan" atau "kebenaran". nilai benar - salah baru muncul kemudian setelah munculnya peryataan atau proposisi. di mana nilai benar adalah nilai bagi pernyataan yang sesuai dengan kenyataan. dan nilai salah adalah nilai bagi pernyataan yang tidak sesuai dengan kenyataan. tapi nilai benar-salah tersebut tidak akan berfungsi sebelum adanya definisi[10]. pada saat orang membuat suatu pernyataan, berarti dia telah memasuki wilayah logika[11]. dan pernyataan itu berisi term-term. dan term-term itu merupakan definiendum. definiensnya adalah wujud pada alam realitas[12]. karena itu, wujud mana yang akan dimasukan ke dalam variabel atau yang akna diwakiliki oleh suatu term, itu bergantung subjek. karenanya subjektif. dengan kata lain, yang menentukan nilai dari suatu variabel adalah subjek[13]. dan hakikat wujud ini, ketika memasuki wilayah logika hanya bisa difahami melalui definisi essensil. setelah didefinisikan, maka munculah klafisikasi. sehingga keyakinan benar-salah itu bergantung kepada definisi. keyakinan muncul di antara definisi dan klasifikasi[14].

Agar lebih jelas,saya gambarkan lagi dengan dialog antara Tardi dan Arya :

Arya: Setiap A adalah B. proposisi ini bernilai benar atau salah ?
Tardi : Tidak tahu.
Arya: Bagaimana jika A =4,6,8 . dan B = bilangan genap, apakah proposisi "Setiap A adalah B" bernilai benar atau salah ?
Tardi: benar.
Arya : Bagaimana jika A =4,6,8.  dan B = bilangan ganjil. apakah proposisi "Setiap A adalah B" bernilai benar atau salah ?
Tardi : salah.

perhatikan bahwa nilai benar atau salah para proposisi "Setiap A adalah B" bergantung pada definisi term-termnya. karena itu saya sebut "definisi menentukan nilai benar atau salah".

satu contoh lagi :

Arya menyatakan "Setiap ayam berparuh". maka menurut tardi ini bernilai benar atau salah ?

jika tardi menilai "benar", maka itu telah melibatkan asumsi semantik, bukan lagi mantik. tetapi bila Arya mendefinisikan paruh = tanduk, maka proposisi "setiap ayam berparuh" tidak lagi bernilai benar.

apakah boleh mendefinisikan seperti itu ? boleh. itu yang disebut dengan Wilayah Kewenangan Definisi. jika Anda menganggapnya tidak boleh, berarti harus kembali mempelajari bab mengenai Wilayah Kewenangan Definisi tersebut.
 1. Apa definisi dari "definisi" ?
 2. Apakah manfaat definisi ?
 3. Apa yang dikatakan oleh Voltaire untuk menggambarkan betapa pentingnya definsini dalam komunikasi ?
 4. Apa saja syarat definisi itu ?
 5. Bagaimana cara mudah untuk mengetahui "apakah pernyataan itu definisi atau bukan" ?
 6. Apakah yang menghubungkan antara realitas dengan logika ?
 7. Dalam bidang ilmu logika, fakta diwujudkan dalam bentuk apa ?
 8. Apakah yang menentukan nilai benar-salah sebuah proposisi ?
 9. Apakah yang termasuk kepada fakta logika ?
 10. Apakah nilai benar atau salah akan berfungsi tanpa adanya definisi ?
 11. Kapan seseorang mulai memasuki wilayah logika ?
 12. Jika term-term adalah definiendum, maka manakah definiens nya ?
 13. Siapakah yang menentukan nilai variabel ?
 14. Di mana keyakinan muncul ?
« Edit Terakhir: Agustus 19, 2016, 03:48:07 AM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
1 Jawaban
2587 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 21, 2012, 12:32:14 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
5740 Dilihat
Tulisan terakhir November 26, 2012, 03:30:50 PM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
2732 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 03, 2013, 03:05:12 PM
oleh Kang Asep
Definisi Bid'ah

Dimulai oleh ratna « 1 2 3 » Definisi

32 Jawaban
8748 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 14, 2013, 12:39:01 PM
oleh ratna
Paradoks Definisi

Dimulai oleh Sandy_dkk « 1 2 » Definisi

25 Jawaban
8516 Dilihat
Tulisan terakhir September 25, 2013, 10:52:31 PM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
1930 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 28, 2014, 05:11:09 AM
oleh Kang Asep
12 Jawaban
1648 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 18, 2015, 04:39:14 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
593 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 05, 2015, 08:50:43 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
522 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 26, 2015, 01:01:13 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
311 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 20, 2016, 09:24:28 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan