Penulis Topik: Toilet  (Dibaca 78 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9585
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Toilet
« pada: Mei 27, 2018, 07:04:40 AM »
Toilet
Edisi : 27 Mei 2018, 07:02:45




Tidak perlu dengan masalah pelik untuk mendapatkan masalah besar, bahkan masalah yang sepele dan sederhana dapat menjadi masalah yang besar dan mengguncang sebuah negeri. Cukup terlambat 2 menit datang ke tempat rapat, maka kita dapat terlihat seperti sampah bagi semua orang dengan masalah yang berlarut-larut.

Adik saya menceritakan, ada sepasang suami istri yang harus bercerai gara-gara masalah sepele soal saklar lampu, bahwa istrinya meminta si suami mematikan lampu dapur, tapi suami tidak mengerjakannya, lalu itu menjadi perdebatan. Dalam perdebatan itu, kemudian pembahasan melebar ke mana-mana, bahas kekurangan istri dan suami, membongkar aib-aib masa lalu, kemarahan dan kebencian berkembang, lalu berakhir di sidang perceraian.

Dalam kasus lain, perceraian akibat masalah sepele bahkan menjadi masalah nasional, seperti yang terjadi pada Jaiya dan Keshav, sebuah film yang terinspirasi oleh sebuah kisah nyata di sebuah desa di India, diperankan oleh Akshay Kumar sebagai Keshav dan Bhumi Padnekar sebagai Jaiya. Hanya karena soal toilet, mereka Jaiya terpaksa harus mengajukan gugatan cerai pada Keshav, suami yang dicintainya. Sementara seorang warga mengatakan bahwa di desanya tidak pernah terjadi perceraian karena kasus apapun selama kurun waktu 1700 tahun terakhir, dan sekarang sebuah perceraian harus terjadi karena toilet dan menghebohkan semua orang.

Selama berabad-abda lamanya, penduduk desa tidak pernah menggunakan toilet untuk buang hajat, melainkan cukup mereka pergi di pagi hari ke kebun-kebun mereka dan membuang air besar di sana.  Persoalannya, bukan mereka tidak mampu membangun toilet di rumah-rumah mereka, melainkan itu sudah merupakan sebuah budaya, tradisi turun temurun, bahkan lebih dari itu, cara buang air besar seperti itu diyakini oleh penduduk desa sebagai ajaran kitab suci.  Karena itu, selama berabad-abad lamanya, semua orang mengikuti tradisi tersebut dan tidak ada yang menganggapnya sebagai masalah. Pemerintah telah menawarkan bantuan kepada mereka untuk membangun 3.000 toilet. Penduduk desa menerima bantuan tersebut, tapi tidak digunakan untuk membangun toilet, melainkan untuk dijadikan modal usaha kecil.

Masalah terjadi, ketika Keshav menikah dengan Jaiya, seorang gadis terpelajar dari desa lain. Dia menjalani malam pertamanya dengan bahagia. Namun di pagi buta, dia dikejutkan oleh beberapa wanita yang mengetuk pintu kamarnya dan mengajaknya untuk pergi. Jaiya bingung, mengapa mereka mengajaknya pergi di pagi buta, pergi ke mana dan untuk apa ? Saat itulah Jaiya baru tersadar bahwa di rumahnya, bahkan di seluruh tempat di desa tersebut, tidak ada toilet. Dan para wanita itu mengajak Jaya pergi di pagi buta dengan membawa lentera untuk buang hajat di kebun-kebun mereka.

Jaiya sangat kesal, dan berkata pada suaminya, "Seandainya aku tahu bahwa di rumahmu tak ada toilet, aku tidak akan pernah menikah denganmu."

Keshav menanggapinya hanya dengan senyuman, menganggap perkataan istrinya hanya sebuah gurauan saja.

Jaiya pergi bersama para wanita menuju kebun yang jaraknya cukup jauh. Sesampainya di tempat yang dituju, semua wanita berjongkok dan menyelesaikan keperluan mereka. Tapi Jaiya hanya terdiam dan ragu, lalu dia berbalik arah dan pulang dengan hati kesal. "Aku tidak bisa buang hajat di tempat yang terbuka seperti itu." Ujar Jaiya kepada suaminya.

"Ayolah.. Ini tradisi kami sejak berabad-abad. Kamu hanya perlu membiasakan diri dengan itu." kata Keshav kepada istrinya.

Jaiya berusaha untuk beradaptasi.  Karena seperti kata sebuah doktrin, bahwa bila kamu merasa tak nyaman dengan sebuah lingkungan, maka bukan lingkungan itu yang salah, melainkan dirimu. Lingkungan tak pernah bisa salah, tapi kamu bisa salah. Dengan begitu, Jaiya mencoba membiasakan diri pergi ke kebun dan buang hajat di sana.

Namun makin hari, Jaiya semakin merasa tak nyaman. Hingga suatu hari, ketika dia buang hajat di kebun, mertuanya lelakinya yang juga hendak buang hajat di kebun tersebut melihat Jaiya. Jaiya merasa sangat malu dan dia tidak mau pergi lagi kebun untuk buang hajat. Dia menahan untuk tidak buang hajat selama berhari-hari. Keshav jadi bingung dan kasihan pada istrinya, hingga seorang temannya memberinya ide untuk membawa Jaiya ke sebuah tempat di mana kereta api berhenti selama 7 menit di sana. Jaiya dapat buang hajat di toilet yang ada di kereta tersebut. "Ah.. Ide bagus rupanya, " Pikir Keshav.

Sejak hari itu, setiap hari Keshav mengantar istrinya ke tempat pemberhentian kereta api, dan membiarkan istrinya buang hajat di toilet kereta api itu. Sekarang, sepertinya masalah terselesaikan. Tak ada lagi pertengkaran karena toilet. Perut Jaiya tidak lagi kembung karena harus menahan buang air besar. Hari-hari mereka jalani dengan bahagia.

Tetapi, hal tak terduga terjadi. Saat Jaiya berada di toilet kereta, dan Keshav pergi sebentar untuk menemui teman-temannya, Jaiya terkunci di dalam toilet akibat di luar toilet telah ditumpuk beberapa barang milik penumpang. Jaiya menggedor pintu toilet, dan orang-orang membantunya keluar dari sana dengan memindah-mindahkan tumpukan barang. Sementara Keshav datang terlambat. Kereta telah melaju, ketika Jaiya berdiri di pintu kereta untuk turun dan Keshav mengejarnya dengan sepeda motor.  Keshav meminta Jaiya untuk melompat, namun Jaiya tidak cukup berani. Akhirnya, Jaiya memutuskan untuk turun di stasiun berikutnya di mana kereta api akan berhenti.

Jaiya tidak kembali ke rumah mertuanya. Dia memutuskan untuk tidak kembal pada suaminya, hingga suaminya membuatkannya sebuah toilet. Ini masalah besar bagi Keshav. Bagaimana dia akan melawan tradisi dan budaya di tempat di desanya ? Namun dia ingat pada janjinya pada Jaiya bahwa dia berani untuk menghadapi perang yang besar demi untuk mendapatkan cintanya.

Keshav memutuskan untuk menemui para sesepuh dan kepala desa, agar di desa tersebut dibuatkan toilet umum. Karena usulan keras dari Keshav, rapat akbar pun digelar. Mayoritas penduduk desa menentang ide pembuatan toilet. Kedua belah pihak memperjuangkan idenya dengan argumentasinya masing-masing, bahkan mereka bicara atas nama kitab suci. Membangun toilet dianggap sebagai bentuk pensitaan terhadap agama suci mereka. Kepala desa emmbacakan ayat suci (sloka) dan berkata, "dewa Krisna dalam kitab suci mengatakan bahwa kita harus membuang kotoran kita jauh dari rumah. Apakah kamu akan menentang kitab suci ?"

"Hei.. Kepala Desa, mengapa kamu mengutip ayat itu hanya sepotong, serta tidak melanjutkan ke ayat berikutnya ... Bukankah di ayat itu juga dikatakan bahwa seseorang tidak harus mencuci tangannya dan membersihkan diri setelah buang hajat. Lalu, apa yang kau lakukan ? Kau tidak hanya mencuci tanganmu, tapi kau juga membersihkan diri di sungai. Bukankah ini menentang kitab suci ? Orang seperti mu menafsirkan kitab suci seenaknya." Keshav kesal.

Apapun argumentasi Keshav, akhirnya dewan desan memutuskan bahwa ide pembangungan toilet umum ditolak.

Ditolak oleh pemerintah desa, Keshav bertekad untuk membangun toilet di halaman rumahnya sendiri. Ayah Keshav , Panditji yang merupakan seorang Brahmin, menentang keras niat Keshav dengan cara mogok makan. Keshav menyayangi dan memghormati ayahnya, namun dia juga merasa tidak sanggup hidup tanpa kekasih pujaan hatinya. Karena itu, walaupun di tentang semua orang, Keshav tetap membangun sebuah toilet. Shah Jahan membangun Taj Mahal untuk istri yang dicintainya. Namun dia adalah seorang penguasa kerajaan yang memiliki banyak harta kekayaan. Tidak ada yang menentang kehendaknya dan dia tidak kesulitan mendatangkan arsitektur dari berbagai penjuru dunia. Tetapi Keshav, posisinya sebagai rakyat kecil yang tidak punya banyak pengaruh, dan tidak terlalu kaya, maka membangun toilet baginya, tidak semudah Shah Jahan membangun Taj Mahal. Tapi karena cintanya pada Jaiya, maka Keshav tak ada pilhan, dia harus membangun toilet atau mati tanpa seorang istri.

Pasir, semen, bata dan tukang tembok sudah didatangkan. Keshav mulai membangun toilet. Semua orang mencibir dan menentangnya. Namun Keshav teguh pada pendiriannya.

Toilet sudah hampir selesai, dia mefoto-foto toilet itu dan mengirimkan pada istrinya melalui whatsapp. Keshav juga mengirimkan foto dirinya di depan foto Taj Mahal, untuk menggambarkan bahwa dia telah melawan seluruh dunia untuk membantun toilet, demi agar istrinya pulang ke rumahnya. Melihat kegigihan suaminya, Jaiya merasa terharu. Semakinlah cintanya Jaiya kepada Keshav.  Kini Keshav riang gembira, beberapa hari lagi istrinya akan pulang ke rumah.

Namun, .. Ayahnya tidak membiarkan putranya bahagia. Di tengah malam ketika Keshav tertidur lelap, dia mengunci pintu kamar Keshav dan menyuruh beberapa orang untuk menghancurkan toilet yang dengan susah payah di bangun oleh Keshav.

Suara berisik membangunkan Keshav. Amarah tak terbendung ketika Keshav melihat orang-orang menghancurkan toiletnya. Dia mendobrak pintu dan menghentikan orang-orang itu. Namun terlambat, toilet sudah rusak parah. Keshav bersedih dan menelepon istrinya, "Sayang, aku telah mencoba melakukan semuanya, .. Namun aku gagal. Pulanglah, .. Aku sangat rindu padamu."

"Tidak,.. Lupakan saja aku. Aku tidak akan pulang. Aku akan menggugat cerai kamu." kata Jaiya. Hancurlah sudah semuanya.

Berita penceraian karena toilet menyebar  ke seluruh pelosok negeri. Media televisi memberitakannya. Para wartawan mengejar Keshav dan Jaiya untuk memawancarainya. Beberapa penduduk desa juga di wawancara untuk beberapa informasi.

Seorang reporter TV bertanya pada Keshav, "Dalam masalah yang Anda hadapi ini, sebenarnya siapa yang salah ? Menurut Anda, apakah pemerintah dalam hal ini bersalah ?"

Keshav menjawab, "Yang pertama harus disalahkan adalah diri kami sendiri. Pemerintah telah menawarkan bantuan untuk membangun toilet, tapi warga kami sendiri yang menolak. Tapi, pemerintah itu seperti memberikan buku tulis tanpa memberi tahukan kepada kami, bagaimana cara memanfaatkan buku tulis tersebut, sehingga kami melihatnya sebagai hal sia-sia. Pemerintah baru menyelesaikan sebagian dari tugas mereka."

Wartawan lain bertanya, "Mengapa kamu dan istrimu tidak pergi dari desa tersebut untuk membangun rumah dan toiletmu sendiri."

Keshav menjawab, "Itu ide yang bagus dan dapat menyelesaikan masalah soal buang hajat. Tapi dia tidak akan dapat melarikan diri dari masalah saya."

Tiba saatnya sidang perceraian. Hakim bertanya, "Apakah kalian tidak bersikukuh untuk bercerai ?"

 "Ya. Tak ada toilet, tak ada pernikahan." Jawab Keshav.

Namun secara mendadak pengadilan mendapat surat dari Menteri Kesehatan, memohon agar pengadilan menolak gugatan cerai tersebut dan menteri berjanji akan menyelesaikan masalah yang terjadi di desa mereka. Langkah pertama yang akan dilakukan menteri adalah dengan membangun toilet di luar desa mereka, sementara melakukan sosialisasi terhadap penduduk desa untuk meninggalkan budaya lama buang hajat di kebun.  Langkah selanjutnya pemerintah akan membuat banyak toilet umum di desa mereka.

Semua terlihat merasa bahagia dengan keputusan hakim dan janji sang meteri. Namun, wajah Keshav masih tampak murung. Jaiya heran dan bertanya, "Keshav, apa yang salah ? Hakim telah menolak perceraian kita. Dan sekarang kita dapat membangun toiilet di desa kita. Aku bahagia . Mengapa kamu merajuk Keshav ?"

"Ya.. Sekarang di desaku akan dibangun banyak toilet. Tapi aku tidak dapat mengubah budaya dan cara berpikir ayahku. Mohon maaf, aku tidak dapat membawamu pulang." Keshav bersedih.

Tiba-tiba Panditji datang dan berkata, "Hai Keshav, kamu selalu keras kepala. Kamu telah melawan seluruh dunia, dan sekarang kamu bilang tidak akan membawa menantuku pulang. " Panditji mendekati Jaiya dan berkata, "Menantu, biarkan semua ini berlalu. Kepercayaan palsu, kebanggaan palsu, Karakter palsu, semua ini tinggalkanlah di belakang dan kembalilah ke rumah suamimu."

Keshav tertegun mendengar perkataan ayahnya, setengah tak percaya, seolah dalam mimpi. Keshav melirik adiknya dan bertanya, "Apakah ayah sedang sakit."

"Aku tidak sakit, "jawab Panditji, "Justru aku merasa lebih baik sekarang. Ini saatnya kita membuka penutup mata kita, dan menaruh toilet di halaman rumah kita."

Semua orang gembira mendengar perkataan Panditji. Kekuatan cinta, kini telah dapat meruntuhkan budaya dan tradisi yang salah dengan toilet.

Saya tidak cukup pandai menyampaikan ringkasan kisahnya. Jadi, untuk menikmati kisah selengkapnya, tonton saja langsung film nya.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
6 Jawaban
2862 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 25, 2013, 02:53:01 PM
oleh comicers
1 Jawaban
606 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 22, 2015, 06:22:14 AM
oleh ratna
0 Jawaban
379 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 21, 2016, 09:54:45 AM
oleh kang radi

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan