Penulis Topik: Penjaga Anak Gadis  (Dibaca 67 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9275
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 354
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Penjaga Anak Gadis
« pada: September 30, 2017, 07:42:46 AM »
Daftar Isi
====================
1. Obers
2. Gaj Ahmada Yayat
3. Membela Kehormatan Istri
4. [Penjaga Anak Gadis]
====================

4. Penjaga Anak Gadis
Edisi : 27 September 2017, 02:28:06

seorang pemuda yang menyukai seorang gadis, dan ingn berkenalan atau kenal dekat dengannya, terkadang harus berhadapan dulu dengan penjaga nya, yaitu bapaknya. Ini pengalaman saya sewaktu muda.

Sejak saya duduk di bangku SMP, saya sering berkunjung ke rumah paman Dusman, untuk belajar pencak silat. Untuk sampai ke rumah paman, saya harus berjalan  kaki hingga 5 km, melewati kampung-kampung. Perjalanan seperti ini sudah merupakan kegiatan rutin bagi saya. Bahkan setelah saya lulus SMA dan tak lagi belajar Pencak Silat, saya masih terus berkunjung ke rumah paman.

Tapi suatu hari, setelah bertahun-tahun saya sering berjalan melewati kampung Pasir Pari, hati saya tertegun melihat seorang gadis yang cantik jelita dengan rambutnya dikepang satu. Saya menyapanya, "Hai... Hallo !" tapi gadis ini tidak memperdulikan sapaan saya, dia terus saja berjalan dengan cepat menuju suatu tempat. Sayapun mengikutinya dari belakang sambil terus mencoba memanggil. "Hai... Bolehkah saya berkenalan ?" gadis itu tidk menggubris dan terus berjalan.

"Cepat sekali jalannya !" demikian saya pikir, ketika saya kehilangan jejak. Gadis tadi menghilang di suatu tempat. Saya tengak-tengok, ternyata dia sudah berada dalam suatu rumah. "Oh.. Itu dia rupanya." sayapun segera menuju rumah tersebut.


Tok... Tok... Tok....! "Assalamualaikum !" saya mengetok pintu rumah. Berharap gadis tadi yang membukakan pintu. Tapi ternyata yang buka pintu wanita setengah baya, rupanya itu ibunya.

"Mau ke siapa ya ?" tanya si ibu.

Aduh... Saya bingung.... Saya mau menemui gadis tadi.. Tapi ... Saya gak tau namanya. "Eu.... Saya mau ketemu.... Eu... Itu....?"

"Mau ke Stephanie ...?" tanya wanita itu.

"Nah.. Itu bu, Stephanie." saya girang. Mudah-mudahan benar, yang disebut Stephanie itu adadalah gadis yang tadi.

"Stephanie.... Ini ada temennya...!" teriak ibu tadi.

Datanglah seorang gadis memakai busana kaos serba hitam. Benar, ini adalah gadis yang tadi. Dan rupanya Stephanie itulah namanya.


"Siapa ya ?" tanya gadis itu.

Saya menyodorkan tangan, "Perkenalkan, nama saya Asep."

Stephanie menerima jabat tangan saya sambil berkata, "Asep....Asep mana ya... Rasanya saya gak kenal ?"

saya tersenyum, "makanya barusan saya memperkenalkan diri, supaya kenal. Bolehkan saya masuk dan duduk, supaya enak ngobrolnya ?"

"Oh.. Silahkan... !" Stephanie mempersilahkan.

Setelah duduk, Stephanie masuk ke dalam. Saya pikir, dia sekedar hendak mengambil air untuk menyuguhi saya sebagai tamu. Tapi lama ditunggu, Stephanie gak keluar-keluar, "Aduh.. Kemana nih.. Stephanie."

Lama ditunggu, eh.. Yang keluar seorang bapak berkumis tebal, berperawakan kekar. Dia menghampiri saya di ruang tamu dan berkata dengan suara garang, "Dari mana nih ...?"

"Saya dari Cipadung, pak !"

"Terus... Kenal anak saya di mana ?" tanya pria ini. Tak salah lagi, dia bapaknya Stephanie.

"Saya kenal anak bapak, barusan saja di sini pak. Barusan kami berkenalan." jawab saya.

"hmmm... Jadi kamu ngikutin anak saya dari jalan ke sini, pengen kenalan sama anak saya, begitu ya ?" tanya si bapak.

"Betul pak."

"memangnya, kamu suka, apa.. Sama anak saya ?" tanya si bapak bertubi-tubi.

"Iya.. Pak, saya menyukainya dan ingin kenal dengannya." jawab saya datar.


"kok bisa baru kenalan langsung suka ?" tanya si bapak.

"oh enggak pak, bahkan saya menyukainya sebelum kenalan." jawab saya.

Si bapak kumis tebal tersenyum menyeringai. "he..he... Jadi.. Kamu lihat di jalan, kamu suka, kamu ikutin, kamu datang ke sini trus kenalan gitu ?"

"Betul" jawab saya.

"Gak biasanya ada anak muda kayak kamu. Biasanya anak-anak muda, kalau pengen kenalan sama gadis gak kayak gini, sampe nyusul-nyusul ke rumahnya. Biasanya kenalan di jalan, dikenalkan temannya atau gimana kek." kata si bapak heran.

Saya berkata, "tadinya saya juga gak akan ke sini pak, Cuma anak bapak itu tadi saya  panggil-panggil gak nyahut-nyahut.. Jalannya cepet... Jadi ya saya terpaksa ke sini."

"Hmm... Trus.. Kamu gak takut apa,.. Kalau misalnya si Stephanie itu ada suaminya ?" tanya si bapak.

Saya terkejut. Tak terpikir oleh saya, kalau misalnya perempuan tadi sudah bersuami. "OH.. Maaf pak,..saya tidak tahu.. Tidak terpikir... Memangnya anak bapak itu sudah punya suami, pak ? Mohon maaf kalau kiranya sudah bersuami."

"ho..ho... Enggak, ... Anak saya masih gadis, belum bersuami. Kamu orangnya gentle juga ya... Saya suka." kata si bapak.

Oh.. Syukurlah... Bapak yang terlihat garang ini, ternyata suka dengan karakter saya. Selanjutnya, si bapak ini nanya ini itu banyak sekali. Dia seorang penggemar olahraga bulu tangkis. Dia nanya-nanya ke saya, seolah mengetes pengetahuan nasional tentang olah raga bulu tangkis. Tapi kebanyakan saya jawab, "gak tau".

"lha... Katanya suka bulu tangkis, tapi ditanya ini itu kamu gak tau, gimana ?" tanya si bapak.

"iya... Pak,saya suka bulu tangkis maksudnya sering main bulu tangkis bersama teman-teman. Tapi kalau soal wawasan nasional, atlet-atlet nasional bulu tangkis, itu saya gak ngerti pak. Sama juga halnya saya hobby pencak silat, tapi kalau ditanya-tanya soal atlet pencak silat nasional, saya gak ngerti. Saya belajar pencak silat untuk keperluan bela diri saja." jawab saya.

Dalam hati saya bergumam, "duh.. Lama amat sih bapak ini ngajakin ngborol. Saya kan pengen ketemu anaknya, bukan bapaknya." Tapi saya harus menghormati orang tua ini, sehingga masih terus menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Dan kadang-kadang saya menanggapi sesuatu untuk menunjukan bahwa saya menaruh minat pada pembicaraannya dan agar membuatnya senang. Berkali-kali saya melirik ke arah ruangan dalam, berharap melihat Stpehanie, tapi tak terlihat. Saya masih harus berhadapan dengan sang penjaga anak gadis, bapaknya, si kumis tebal.

Setelah hampir selesai mengobrol dengan bapak itu, tiba-tiba muncul paman si gadis, ikut nimbrung ngobrol. Pembicaraan jadi panjang lebar lagi. Jadi, kayak bapak-bapak ngerumpi di pos Ronda.

Satu jam berlalu, entah akan kapan pembicaraan itu akan berakhir. Akhirnya saya memberanikan diri berkata dengan hati agak kesal, "Jadi pak, bolehkah saya berkenalan dengan anak bapak ?"

"Oh.. Boleh.. Boleh... Stephanie... Ini temennya..." si bapak memanggil anaknya.

Anak yang penurut, dipanggil langsung datang. "Ayo duduk di situ !" kata bapaknya, menyuruh Stephanie duduk di kursi yang berhadapan dengan saya.

Lalu si bapaknya berkata lagi, "Ini Asep... Katanya dia mau berkenalan sama kamu. Bapak tadi udah ngobrol-ngobrol, kayaknya si Asep ini anak yang baik, bapak suka. Gak apa-apa kalau kamu mau berteman dengannya."

Hore... Saya lulus uji rupanya.

Setelah itu, bapak dan pamannya meninggalkan kami berdua untuk berbincang di ruang tamu. Senang sekali rasanya, kami berbincang ke sana kemari, tentang sekolah, tentang masa depan, tentang rencana-rencana dan sebagainya. Kebetulan, sama seperti saya, setelah lulus SMA, Stephanie tidak melanjutkan pendidikan, karena terbatasan biaya. Dia juga masih jauh dari rencana menikah dan katanya belum lama ini putus dengan pacarnya.

Tidak terasa, hari menjelang sore. Saya harus pamit pulang. Jika tidak, saya akan berjalan di tengah kegelapan menuju rumah. Hari yang indah, dan berharap kami bertemu kembali untuk membuat hari menjadi lebih indah lagi. Tapi, ... Harapan tak pernah terjadi. Karena itu adalah pertama dan terakhir saya berjumpa dengan Stephanie. Selanjutnya, entah mungkin saya dilupakan oleh kesibukan atau karena hal lainnya, saya tak ingat. Yang jelas, saya tak pernah berkunjung kembali ke rumah Stephanie dan bahkan tak pernah melihatnya kembali, walaupun dari jauh.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Monox D. I-Fly

Re:Penjaga Anak Gadis
« Jawab #1 pada: Oktober 03, 2017, 08:31:02 PM »
Kang Asep dulu creepy juga~~~
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
43 Jawaban
12529 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 07, 2013, 05:35:29 PM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
3363 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 07, 2012, 06:01:41 PM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
3459 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 03, 2013, 12:24:58 PM
oleh Sandy_dkk
14 Jawaban
3153 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 22, 2016, 01:02:40 PM
oleh rusa
Gadis Penebar Bunga

Dimulai oleh kang radi « 1 2 » Cerpen

18 Jawaban
2747 Dilihat
Tulisan terakhir April 04, 2014, 09:13:11 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
475 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 21, 2015, 09:37:32 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
367 Dilihat
Tulisan terakhir September 12, 2015, 02:29:50 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
337 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 04, 2016, 12:29:14 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
138 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 02, 2017, 06:40:59 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
83 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 11, 2017, 03:49:34 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan