Penulis Topik: mengapa aku berpaling darinya  (Dibaca 2879 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
mengapa aku berpaling darinya
« pada: Agustus 04, 2012, 07:20:43 AM »
Sarma kini telah menjadi orang sukses. Ia berhasil mengembangkan perusahaannya yang bergerak di bidang percetakan. Dari usahanya tersebut, kini Sarma memiliki sebuah rumah mewah di Jakarta Barat, Satu Villa indah di Bandung,  sebuah mobil Avanza dan tiga buah sepeda motor.

Hari ini, Ramadhan, anak sulung Sarma minta dijemput dari sekolah. Sarma menunggu di depan sekolah. Ketika itu, tiba-tiba Sarma melihat seorang pria gelandangan mendekati tempat sampah dan mengais-ngais sampah. Rupanya dia sedang mencari sisa-sisa makanan bekas. Tampak dia melihat plastik yang masih berisi sedikit es cendol, yang mungkin sudah agak basi. Lelaki itu dengan lahap menyantap es cendol tersebut.

Ketika Sarma memandang wajah gelandangan itu, Sarma terkejut karena mengenali lelaki itu. Dia adalah Didi, kawan sekelasnya dahulu sewaktu SD di Bandung. Sarma tidak ragu bahwa lelaki itu adalah Didi, kawan sekelasnya dahulu. Karena Didi mempunyai ciri wajah yang khas. Walaupun Didi tidak memiliki tanda seperti tahi lalat dan sudah belasan tahun tidak berjumpa, Sarma benar-benar yakin kalau itu adalah Didi. Wajahnya putih, bulat, hidung mancung, khas wajah keturunan cina dan gerak-gerik yang khas yang dapat dikenali Sarma karena 6 tahun bersamanya di dalam kelas.

Didi berasal dari keluarga Kristen, yang hidup sederhana. Ayahnya adalah seorang pedagang mainan anak-anak. Tapi Sarma mengetahui bahwa tak lama setelah mereka lulus SD, ibu Didi meninggal dunia, disusul dengan meninggal ayahnya tujuah bulan kemudian. Jadilah Didi seorang anak yatim piatu. Tidak diketahui oleh siapa Didi dirawat. Hanya terdengar kabar bahwa Didi tidak meneruskan pendidikannya. Sekolah SMP nya hanya sampai kelas 2, lalu berhenti.  Selain kabar tersebut, Sarma tidak mendapat informasi lainnya. Apalagi sejak lulus SD, Sarma tidak lagi tinggal di Bandung, tapi pindah ke Semarang, tinggal di rumah Pak De nya. Dan meneruskan ke jenjang pendidikan SMU di Jakarta hingga lulus kuliah.

Sarma tidak menyangka bahwa Didi akan hidup terlunta-lunta. Melihat keadaan Didi seperti sekarang, ingin rasanya Sarma menolong. Tapi entah kenapa, Sarma ragu untuk menyapa Didi. Keinginannya untuk menghapiri Didi dan menanyakan perihal keadaannya terhalang oleh pikiran-pikiran lain. “Hidupku kini senang, aku kuat dan sehat, anak-anak lucu dan pintar, istriku cantik dan baik, hartaku cukup, tak ada masalah, semua baik, mengapa aku harus melibatkan diri dalam masalah?” Demikian pikiran lain itu. Tapi di sisi lain, dia berpikir, “Apakah aku tega membiarkan bekas kawanku itu hidup terlunta-lunta seperti itu? Mungkin aku harus menghampirinya, bertanya tentang keadaannya, keberadaan keluarganya, dan lalu memberi uang sekedarnya. Ah tapi, bagaimana kalu ibaratnya diberi hati minta jantung? Bagaimana kalau nanti dia menginginkan sesuatu yang lebih dari saya? Mungkin lebih aman dan nyaman bagiku untuk tetap diam, dan pura-pura tak kenal dengan dia.”

Sejurus lelaki gelandangan itu melirik ke arah Sarma. Pandangan lelaki itupun tampak terhenti sejenak pada wajah Sarma, mungkin memang dia juga mengenali Sarma. Tapi tak lama kemudian, ia kembali mengais-ngais sampah, mencari sisa-sisa makanan lain untuk dimakannya.

Menyadari Didi mengamati wajahnya, Sarma terdiam. Dia menunggu reaksinya, apakah Didi akan mendekatinya dan menyapa dirinya. Jika memang hal itu terjadi, Sarma siap. Apabila Didi datang mengajaknya bicara, atau minta tolong untuk diberi makanan atau uang, Sarma akan merasa senang hati. Tapi ternyata Didi tidak menghampirinya. Sarma ingat bahwa Didi sejak dulu merupakan anak yang pemalu, tidak pandai bergaul dan berkomunikasi. Jika dia seorang yang cerdas, dan terampil berkomunikasi tentulah dia tidak harus hidup menjadi gelandangan seperti itu. Fisinya sehat dan kuat. Kalaulah dia mau bekerja, tentu dia bisa mendapatkan upah untuk hidup sehari-harinya.

“Mungkin tak seorangpun yang menawarinya pekerjaan, dan Didi pun tak mempunyai keberanian untuk melamar kerja. Apalagi, Didi hanyalah lulusan SD. Mungkin ijazahnya itu tak laku, dan Didi pun tidak mendapatkan pendidikan keterampilan lainnya.” Demikian pikir Sarma. Lalu dia membandingkan keadaan Didi itu dengan dirinya sendiri. “Sedangkan aku, lulus S1, menjadi sarjana di bidang teknologi, terbiasa bergaul dengan kaum intelektual, pernah menjadi dosen, dapat dikatakan memiliki keterampilan yang baik dalam komunikasi, tapi mengapa sekarang rasanya berat diriku untuk sekedar menghampirinya Didi dan menyapanya, `Hai, kamu Didi ya? Di, apa yang terjadi padamu, mengapa keadaanmu sampai begini? Maukah kamu aku bantu? Ini ada uang seratus ribu, dan apabila kamu bekerja, datanglah besok ke kentorku. Ini kartu namaku!` sepertinya tubuh dan mulutku kaku, enggan untuk melakuan sesuatu yang menurutku sendiri seharusnya aku lakukan.”

Hati Sarma bimbang antara kepedulian terhadap sesama dengan mengabaikannya. Sebelum Sarma memiliki keputusan yang bulat, Didi sudah berlalu pergi dari hadapannya. Ramadhan sudah keluar dari kelasnya, segera naik ke dalam mobil dan pulang bersama.

Sampai larut malam tiba, Sarma selalu memikirkan mengenai kemalangan nasib Didi. “Mungkin, bila esok ketemu, aku harus segera menghampirinya, serta menawarkan bantuan untuknya. Jika tidak, maka bagaimana kelak aku mempertanggung jawabkan diriku di hadapan Tuhan, setelah memperoleh karunianya yang besar, mengapa aku berpaling dari dia, yang kini menajadi bagi dari  kaum fakir dan miskin?”

Sebelas hari kemudian Sarma bertemu lagi dengan Didi di tempat yang sama. Tapi Sarma tidak segera datang menghampirinya, karena gejolak pemikiran yang sama berulang di dalam jiwanya. “Ya Allah, apakah ini ujian bagi keimananku? Apakah Engkau hendak menguji aku, apakah aku menjadi manusia yang bersyukur atau tidak? Apakah aku akan termasuk kepada golongan orang-orang yeng kufur nikmat, dengan berpaling dari kaum fakri dan miskin?”. Tetapi lagi-lagi, sebelum tekadnya bulat untuk menghampiri dan menolong Didi, lelaki itu telah berlalu pergi.

Para pembaca yang budiman, apakah yang akan anda lakukan jika Anda dalam posisi seperti Sarma? Bagikanlah pikiran anda tentang hal tersebut di forum ini! Jangan lupa, silahkan register dulu, bila anda belum memiliki akun di forum ini!
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Ratno Golan

Re:mengapa aku berpaling darinya
« Jawab #1 pada: Agustus 08, 2012, 03:45:57 AM »
jadi inget pengalaman sendiri, dahulu pernah akan dikeroyok sama supir angkot dkk, gara gara menolong pengendara motor yang ditabrak oleh supir angkot itu, untung punya kesempetan buat kabur jadi ya kabur deh ( maklum saya bukan termasuk orang yg bernyali besar ).., kemudian baru baru ini peluang untuk karir yg lebih tinggi dan menjanjikan terbuka lebar sebab pimpinan sendiri yang merekomendasikannya tetapi kemudian lenyap bahkan masuk dalam daftar hitam gara gara berusaha menolong teman kerja yang diintimidasi oleh beliau, intinya kang kalau menurut hemat saya menolong seseorang itu ternyata membutuhkan keberanian..     
« Edit Terakhir: Agustus 08, 2012, 03:52:57 AM oleh Ratno Golan »
 

Offline Ratno Golan

Re:mengapa aku berpaling darinya
« Jawab #2 pada: Agustus 08, 2012, 05:33:09 AM »
jadi yang seharusnya dilakukan sarma adalah menolong temanya itu, jika memang menurutnya layak untuk ditolong, dengan mengumpulkan tekad dan segenap keberaniannya dengan mengesampingkan kemungkinan kemungkinan yang mungkin saja terjadi akibat dari usaha pertolongannya itu, membuang was was dan keraguan dan meyakini itu datang dari setan yang memang senantiasa berusaha mencampakkan kita dalam lembah penyesalan yg tak berguna, sehingga merana meratapi nasib yang menyedihkan dalam kepalsuan, sebab hidup dalam kepalsuan dan kepura puraan itu tidaklah nyaman, apalagi dihantui oleh rasa bersalah yang berkepanjangan, ditambah lagi dengan beban pertanyaan oleh tuhan di hari kemudian. demi allah kang, saya pernah merasakan hal ini, merasakan betapa dan bagaimana getirnya rasa bersalah seperti ini, menyadari bagaimana hantu itu datang dan pergi tanpa permisi meninggalkan perih dan luka hati sampai kini, meski kadarnya mulai berkurang seiring waktu yang berjalan   
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:mengapa aku berpaling darinya
« Jawab #3 pada: Agustus 08, 2012, 08:05:39 AM »
jadi inget pengalaman sendiri, dahulu pernah akan dikeroyok sama supir angkot dkk, gara gara menolong pengendara motor yang ditabrak oleh supir angkot itu, untung punya kesempetan buat kabur jadi ya kabur deh ( maklum saya bukan termasuk orang yg bernyali besar ).., kemudian baru baru ini peluang untuk karir yg lebih tinggi dan menjanjikan terbuka lebar sebab pimpinan sendiri yang merekomendasikannya tetapi kemudian lenyap bahkan masuk dalam daftar hitam gara gara berusaha menolong teman kerja yang diintimidasi oleh beliau, intinya kang kalau menurut hemat saya menolong seseorang itu ternyata membutuhkan keberanian..     


benar sekali.

menolong seseorang terkadang juga tidak hanya karena keberanian, tapi karena ketidak beranian. yaitu ketidak beranian menghadapi tuntunan di hari pembalasan. JIka kita tau bahwa kita dapat menolong, tapi kita tidak mau menolong, maka apakah kita cukup berani menghadai tuntutan kelak di akhirat?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Ratno Golan

Re:mengapa aku berpaling darinya
« Jawab #4 pada: Agustus 08, 2012, 12:30:37 PM »
benar sekali. menolong seseorang terkadang juga tidak hanya karena keberanian, tapi karena ketidak beranian. yaitu ketidak beranian menghadapi tuntunan di hari pembalasan. JIka kita tau bahwa kita dapat menolong, tapi kita tidak mau menolong, maka apakah kita cukup berani menghadai tuntutan kelak di akhirat?
tentu saja tidak ada yang cukup berani kang, oleh karena itu pilihanya ya harus mau menolong, tetapi kita apakah senantiasa menyadari akan tuntutan di hari pembalasan itu, biasanya kesadaran akan hal itu kadang datang dan pergi, sebab jika kesadaran akan tuntutan itu tetap tentulah kita selalu dalam keadaan beriman, sedangkan iman menurut sayyidina ali ra adalah seperti ombak, tidaklah pasti keadaanya kadang ia kuat kadang pula ia lemah, ketika ia datang dengan kuat mudahlah bagi kita untuk mengambil pilihan, jika demikian apakah menolong orang itu berhubungan dengan tingkat keimanan seseorang kang?
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:mengapa aku berpaling darinya
« Jawab #5 pada: Agustus 08, 2012, 02:01:53 PM »
tentu saja tidak ada yang cukup berani kang, oleh karena itu pilihanya ya harus mau menolong, tetapi kita apakah senantiasa menyadari akan tuntutan di hari pembalasan itu, biasanya kesadaran akan hal itu kadang datang dan pergi, sebab jika kesadaran akan tuntutan itu tetap tentulah kita selalu dalam keadaan beriman, sedangkan iman menurut sayyidina ali ra adalah seperti ombak, tidaklah pasti keadaanya kadang ia kuat kadang pula ia lemah, ketika ia datang dengan kuat mudahlah bagi kita untuk mengambil pilihan, jika demikian apakah menolong orang itu berhubungan dengan tingkat keimanan seseorang kang?

pastilah begitu.

menarik memahami mengenai tujuh tingkat keimanan yang dipaparkan oleh imam jakfar ash shadiq. tapi saya lupa di mana menyimpan catatan itu. apakah antum mempunyai catatan atau artikel tentang tujuh tingkatan keimanan tersebut?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Ratno Golan

Re:mengapa aku berpaling darinya
« Jawab #6 pada: Agustus 09, 2012, 05:39:44 AM »
semalam saya cari kang alhamdulillah ketemu, tapi bukan oleh sayyidina imam ja'far shodiq, namun kh ayip ja'far shodiq, dan bukan tujuh tingkatan, melainkan 6 tingkatan iman : diantaranya iman tqlid, iman 'iyan, iman'iyan, iman haq, iman haqiqot, dan iman haqiqotul haqiqot, apakah ini yang kang asep maksud?
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9589
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:mengapa aku berpaling darinya
« Jawab #7 pada: Agustus 09, 2012, 01:18:59 PM »
semalam saya cari kang alhamdulillah ketemu, tapi bukan oleh sayyidina imam ja'far shodiq, namun kh ayip ja'far shodiq, dan bukan tujuh tingkatan, melainkan 6 tingkatan iman : diantaranya iman tqlid, iman 'iyan, iman'iyan, iman haq, iman haqiqot, dan iman haqiqotul haqiqot, apakah ini yang kang asep maksud?

sepertinya itu berbeda. Tapi, kalau sempat, postingkan saja 6 tingkatan iman tersebut. tentu akan ada manfaatnya bagi saya dan para pembaca yang lain.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
1131 Dilihat
Tulisan terakhir April 16, 2013, 03:13:21 PM
oleh Awal Dj
1 Jawaban
1211 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 27, 2015, 12:32:25 AM
oleh Monox D. I-Fly
1 Jawaban
1072 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 01, 2014, 06:42:32 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
650 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 30, 2014, 03:44:37 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
763 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 12, 2014, 05:00:35 AM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
790 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 25, 2017, 03:44:59 PM
oleh wandi09
1 Jawaban
711 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 21, 2016, 08:48:49 PM
oleh Sandy_dkk
0 Jawaban
183 Dilihat
Tulisan terakhir September 23, 2016, 07:39:22 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
120 Dilihat
Tulisan terakhir November 01, 2017, 03:03:32 PM
oleh comicers
Berpaling

Dimulai oleh Kang Asep Puisi

0 Jawaban
47 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 10, 2018, 12:05:26 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan