Penulis Topik: mendadak menikah  (Dibaca 1586 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
mendadak menikah
« pada: Juni 29, 2012, 12:44:51 AM »
Aku gak bisa tidur. Entahlah kenapa, ada suatu kisah yang menggangguku, yang selalu hadir dalam pikiranku. Aku juga tidak tau, bagaimana caranya kisah ini ada dalam pikiranku. Dari pada aku gak bisa tidur, tanpa kerjaan yang jelas, lebih baik aku tuliskan kisah ini.

------||| mulai |||--------

Sephia, inilah nama gadis itu. Cantik, berkulit putih dan manis. Tetapi ia hidup di lingkungan kumuh, dan lahir ditengah keluarga miskin. Kendatipun demikian, Sephia tumbuh sebagai gadis yang pintar, ramah dan ceria.

Dengan susah payah Pak Ijon, ayah Sephia menyekolahkan Sephia, sangat berharap anaknya itu memiliki pendidikan yang tinggi, sehingga kelak bisa membantu meningkatkan taraf ekonomi keluarga. Tapi sayang, Sephia sekolah hanya sampai kelas 2 SMU saja, karena beratnya biaya ekonomi keluarga, berhubung Rokayah, ibunya Sophia jatuh sakit dan membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan, serta membutuhkan Rokayah selalu disampingnya untuk menemani dan merawatnya.

Dengan sabar dan penuh kasih sayang, Sephia menemani dan merawat ibunya. Sementara ayahnya pergi setiap pagi, mencari nafkah dengan menarik beca. Pendapatan ayahnya itu, cukup untuk bisa menghidupi keluarganya. Tapi dengan kondisi Rokayah yang sakit-sakitan seperti sekarang ini, pendapatan ayahnya itu terasa menjadi sangat kurang, hanya cukup buat makan, tidak cukup untuk pengobatan.

Sudah tujuah bulan lamanya Rokayah mengalami penyakit lumpuh.  Ia masih bisa berjalan, tetapi lemah, harus dipapah. Bahkan terkadang, ketika penyakitnya itu menjadi, Rokayah tak bisa bergerak sama sekali, hanya air matanya saja yang berlinangan. Sudah banyak tabib dan dokter didatangi, tapi Rokayah belum menunjukan tanda-tanda menuju kesembuhan.

Tidak jarang Sephia bangun malam, untuk shalat tahajud dan berdoa kepada Allah, memohon kesembuhan bagi ibunya. Sephia bertekad, apabila ibunya telah sembuh, ia akan meneruskan sekolah atau mencari kerja untuk menopang kehidupan keluarga.

***

Andri adik Sephia yang duduk dikelas 2 SMP tiba di rumah sepulang sekolah, ketika Sephia sedang duduk disamping ibunya yang sedang terbaring. Sambil melemparkan sepatunya ke rak sepatu, Andri mengeluh, “Kak, liat tuh, sepatu Andri sudah bolong gitu. Jari kaki andri keliatan semua. Kan malu diejekin sama teman-teman. Bilangin donk kak sama bapak, biar Andri dibeliin sepatu baru.”

Sephia menghampiri rak sepatu itu dan memeriksa sepatu Andri. Ternyata benar, sepatuh Andri sudah rusak parah, dan akan sukar diperbaiki lagi. Sephia sudah memperaiki sepatu itu lima kali. Dan kali ini, sepertinya tidak akan bisa lagi. “Ah, kasihan sekali adikku. Tapi bagaimana lagi, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan.” Demikian Sephia dalam hatinya.

***

Pak Ijon pulang, selepas magrib. Ia lemparkan topinya ke rak sepatuh. Lalu ia lemparkan dirinya ke kursi, bersandar dan tampak tercenung, seolah ada hal berat yang sedang dipikirkannya. Dengan melihat keadaan itu, Sephia sudah mengerti, tentu ayahnya telah menghadapi hari yang berat dalam kerjanya. Kemungkinan muatan sepi hari ini, atau becanya mengalami kerusakan, atau ada masalah lain. Tapi, Sephia dapat merasakan, beratnya kehidupan yang harus dijalani sang ayah. Maka Sephia menahan diri dari keinginan untuk membicarakan masalah biaya untuk membeli sepatuh Andri.

Sephia segera pergi ke dapur, hendak membuatkan teh manis untuk ayahnya. Tapi gula pasir telah habis. Lalu Sephia mencari gula merah di tempat bumbu. Ia menemukan secuil dan ia tambahkan ke dalam teh panas.

“Gula pasir sudah habis ya?” Demikian tanya Pak Ijon kepada Sephia, setelah lidahnya menyentuh rasa teh manis itu tidak sebagaimana biasanya.

“iya pak, abis!” jawab Sephia.

“Apa masih ada nasi?”

“Tidak ada pak. Ini juga lagi nungguin bapak, soalnya ibu dari siang belum makan, gak ada berasnya.” Jawab Sephia.

“Duh, gimana ya? muatan hari ini sepi. Tadi bapak Cuma dapat sepuluh ribu rupiah. Eh, malah diminta sama pak Emul, utang bapak kemarin. Dibilangin bapak gak ada uang lagi, pak Emul gak mau tau, katanya dia juga butu banget.” Kata pak Ijon.

Sephia menjadi terhenyak. Kalau bapaknya tidak bawa uang sama sekali, bagaimana malam ini mereka akan masak makan. Berutang lagi ke warung sudah gak mungkin, karena pasti bi Inah, pemilik warung gak akan ngasih. Kemarin juga Sephia mencoba pinjam beras, bi Inah gak ngasih, malah dia bilang hal yang kurang mengenakan, “ah, yang kemarin aja belum dibayar!”

“Bapak udah coba cari pinjaman ke sana kemari, tapi gak ada yang ngasih. Bapak udah gak tau lagi harus gimana.” Kata pak Ijon.

Sephia terdiam. Ia juga sama seperti ayahnya, bingung. Lalu ia teringat dengan sepatu sekolahnya yang masih bagus. “mungkin, aku bisa jual sepatu itu sama si Sahudin. Ntar dia bisa jual lagi ke mana kek.”

Segera Sephia bergegas ke kamarnya, mencari sepatuh di kolong  tempat tidurnya. Ia bungkus dengan kantong plastik dan segera menemui Sahudin, kawannya yang sejak lama menaruh hati sama Sephia.

“Din, tolonglah, beli sepatuku ini, nanti kamu bisa jual lagi sama yang lain!”

Sahudin tersenyum senang karena dihampiri oleh Sephia.”Phia, kamu lagi butuh uang yah. Aku punya, nih aku kasih. Butuh berapa?”

Tentu saja Sephia merasa senang diberi uang. Tapi ia tau, seorang lelaki tidak begitu saja mememberinya sesuatu, kecuali ada maunya. Sephia tidak mau. “Enggak Din, saya bukannya mau minta uang. Tolong beli aja sepatuku ini! Nanti kamu bisa jual ke si Ros dengan harga lebih.”

“lha, kalau kamu tau si Ros mau beli sepatu ini, kenapa tidak kamu saja yang jual langsung ke si Ros?”

“Din, si Ros itu rumahnya jauh. Aku butuh uang sekarang. Cepetan deh! Beli sepuruh ribu aja!”

“kayaknya masih bagus ini sepatuh.” Sahudin.

“Emank masih bagus, Din! Kalau aku gak butuh banget, aku gak akan jual.” Ujar Sephia.

“Kalo emang kamu perlu uang, pinjem aja dulu atuh sama aku! Ntar balikinnya kapan-kapan aja boleh!” Sahudin, dengan hati yang riang.

“Ah Din, udah berapa kali aku pinjam uang sama kamu, belum terbayar. Aku sudah banyak utang dan gak mau nambah lagi.“ Sephia memang sangat takut. Kalau dia mempunyai utang terlalu banyak sama Sahudin, nanti akan ada hal-hal yang tidak diharapkannya dilakukan oleh Sahudin terhadapnya. Mungkin ini prasangka buruk yang terlintas dalam pikirannya, tapi mungkin ini juga merupakan sikap kehati-hatinnya.

Malam ini, Sephia sekeluarga bisa makan nasi dari hasil penjualan sepatuh bekas milik Sephia satu-satunya. Entahlah esok hari. Sephia berharap, esok ayahnya bisa mengais rezeki lebih banyak.

***

Sakit Rokayah semakin menjadi. Tubuhnya sudah semakin lemah. Setiap makanan dan minuman yang ditelannya, dimuntahkannya kembali. Sephi panik, sedih dan bingung. Ia tidak ingin kehilangan ibunda yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan kasih sayang itu.

Para tetangga datang melayat silih berganti. Banyak diantara mereka yang mengusap kepala Sephia atau Andri, sambil berkata, “Sabar ya Nak! Semoga ibumu cepat sembuh!” tapi wajah mereka melukiskan, seolah-olah Sephia atau Andri disuruh bersabar, karena mereka menduga bahwa sudah tidak ada harapan kesembuhan atas penyakit yang di derita ibunya.

Para tetangga yang punya sedikit kelebihan rezeki, menyumbang untuk biaya pengobatan Rokayah, antara lima ribu hiingga sepuluh ribu rupiah. Banyak diantara mereka yang menyarankan untuk membawa Rokayah ke rumah sakit, “Sekarang kan ada pengobatan gratis.” Kata mereka.

Bukannya tidak mau membawa Rokayah ke rumah sakit, kendatipun memang istrinya bisa diobati secara gratis melalui program jamkesmas, tetapi berdasarkan pengalamannya, ternyata tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan apabila istrinya dirawat di RS. Kendatipun memang biaya pengobatan itu gratis, tapi ternyata ada biaya lain-lain yang tidak sedikit. Bukan sekedar uang yang tidak tersedia, minimnya wawasan juga membuat pak Ijon merasa tidak siap membawa istrinya itu ke RS. Dia tidak cukup cerdas dan berani dalam menghadapi persoalan-persoalan birokrasi.

***
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:mendadak menikah
« Jawab #1 pada: Juni 29, 2012, 12:46:11 AM »

Seorang pemuda menengok Rokayah. Nama pemuda itu Rahmat. Sama seperti yang lainnya, Rahmat menyarankan agar Rokayah segera di bawa ke RS. Sephia menjelaskan tentang berbagai kesulitan yang dihadapi apabila Rokayah dirawat di rumah sakit. Intinya adalah, kesulitan keuangan yang mereka hadapi, itulah yang menghalangi. “Begini, biar saya saja yang menguruskan semua persoalan birokrasi dan administrasinya. Nanti ibu tinggal berangkat saja.”

Rokayah tertegun, banyak orang yang menyarankan agar ibunya dibawa ke RS, tapi baru kali ini yang mau hingga menguruskan persoalan birokrasi dan administrasinya yang justru menurut Sephia merupakan urusan yang paling rumit, terutama untuk kalangan orang awam dan miskin seperti dirinya. Sedangkan Rahmat, pemuda pemilik Studio Photo di Jl. Maliga itu tampak berpendidikan dan mengerti urusan birokrasi.

“Ah, nanti merepotkan!”  kata Sephia.

“Gak apa-apa!”

lalu pemuda itu berpmit pulang.

***

Rokayah senang hatinya, ketika malam hari ia sedang duduk sendiri di bangku RS, ketika ia menunggui ibunya yang sedang di rawat di RS, tiba-tiba Rahmat datang. “Bgaimana keadaan ibumu sekarang?”

“Alhamdulillah A, sekarang ada perkembangan. Ibu sudah bisa menelan makanan.”

“Syukurlah!”

Lalu keduanya berbincang-bincang, menghabiskan malam.

“Kamu gak ngantuk?” tanya Rahmat.

“Tidak A, kalau AA sendiri?”

“Saya udah terbiaya begadang.” Jawab Rahmat

“jangan dibiasakan lho A, menjaga kesehatan.” Sephia.

Perbincanganpun larut dalam keasyikan, seakan-akan bahan pembicaraan tak kunjung habis. Hingga pukul tiga pagi, Sephia tak kuasa lagi menahan kantuk. Ia berbaring di bangku RS. Sedangkan Rahmat terkantuk-kantuk sambil duduk.

***

Banyaklah biaya yang telah dikeluarkan oleh Rahmat untuk membantu biaya pengobatan Rokayah, ibunda Sephia. Semua orang juga heran, mengapa Rahmat mau membantu pengobatan Rokayah sejauh itu. Apa sebenarnya yang diharapkan oleh Rahmat?

Pak Ijon memanggil anaknya ke teras depan RS. “Phia, tentang Rahmat, dia telah banyak membantu kita. Bapak mau tanya, sebenarnya sejauh mana hubungan kamu dengan Rahmat?”

“Phia hanya sebatas teman pa.”
“Bapak rasa, tentu dia ada hati sama kamu phia. Dan itulah alasan mengapa ia mau membantu kita sejauh ini. Kalo bapak sih gak masalah, asal suka sama suka.” Pak Ijon.

“Ah bapak. Phia gak tau, sejauh ini Phia juga berteman aja.”

“Apa kamu ada hati sama dia?” Tanya pak Ijon.

“Phia gak tau, pak.”

“Lha, kok gak tau. Masa kamu gak tau, apa yang kamu rasakan dalam hati kamu?”

“iya. Phia gak tau. Udah pak, Ah. Jangan dulu ngomongin masalah ini!”

***

Tidak hanya sebatas membantu biaya pengobatan sewaktu di RS, sesampainya di rumah pun, Rahmat terus-menerus memberikan bantuan. Walaupun kini Rokayah sudah bisa duduk dan berjalan, tetapi kesehatan Rokayah belum pulih sepenuhnya. Penyakit yang diderita Rokayah itu seperti tertahan sejenak oleh obat. Ketika sedikit saja lengah dari obat-obatan, penyakit itu datang menyerang seperti sedia kala, bahkan semakin ganas. Karena melihat keadaan Rokayah seperti itu, Rahmat memembawa Rokayah berobat ke pengobaan-pengobatan alternatif, dari satu tabib ke tabib lain. Kadang-kadang, paranormalpun mereka datangi. Upaya Rahmat semakitan tampak bersungguh-sungguh, sehingga membuat Sephia merasa iba pada Rahmat.

“AA mengurus ibu saya seperti mengurus ibu sendiri. bahkan ibu saya merasa kalau AA adalah anaknya yang paling besar, yang sangat menyayanginya. Tapi saya jadi merasa tidak enak. Apakah keluarga AA tidak keberatan dengan semua yang AA lakukan ini?” tanya Sephia.

“Kamu kan sudah sering ketemu dengan ayah dan ibu saya, apakah mereka menunjukan sikap keberatan atas apa yang saya lakukan terhadap ibu Rokayah?”

“Enggak sih. Mereka sangat baik. Saya Cuma merasa gak enak aja!”

“Sudahlah, tidak usah dipikirkan!”   

***

Rahmat datang ke rumah Sephia bersama keluarganya. Hal ini memang sudah biasa. Tak jarang keluarga Rahmat berkunjung ke rumah Sephia untuk menengok Rokayah. Tapi kali ini ada hal yang berbeda. Dengan wajah riang, bu Suminah, ibunnya Rahmat menceritakan kepada Sephia dan ayahnya tentang rencana pernikahan anak si mata wayangnya itu bulan depan. “Pokoknya nanti Phia sama bapak bantu-bantu di rumah saya!”

Senang hati mereka berdua dimintai bantuan oleh bu Suminah yang telah banyak membantu keluarganya. Keduanya tersenyum mengiyakan, seolah ikut gembira hati. Tapi sebenarnya dalam hati, keduanya sama terkejut bukan kepalang. Tidak menyangka kalau Rahmat sudah punya calon istri. Lenyaplah sudah semua bayangan pak Ijon, bahwa Sephia putrinya yang cantik itu kelak akan berjodoh dengan Rahmat. Bahkan ia sudah sangat yakin, bahwa tidak semata seorang lelaki menaruh perhatian pada keluarganya itu kalau tidak ada bunga yang bisa ia petik di rumah itu.  Tapi sekarang, seakan semua sangkaan pak Ijon itu meleset.

Demikian pula dengan Sephia. Dia mengira Rahmat ada perhatian khusus kepada dirinya. Kendatipun secara fisik, rahmat bukanlah tipe Sephia, tetapi Sephia sangat mengagumi tutur kata dan budi pekerti Rahmat. Sephia telah terpikat oleh ketampanan jiwa Rahmat,dan bukan oleh ketampanan fisiknya. Sebenarnya Sephia menunggu, kapan kiranya Rahmat akan menyatakan cinta kepapdanya. Rupanya, apa yang ditunggu tak akan pernah datang.

***
Semakin hari, semakin berkecamuk di dalam pikiran Sephia, tentang mengapa dugaannya meleset, dan tentang apakah Rahmat tak ada hati sama dirinya? Mengapa selama ini Rahmat tidak pernah memperkenalkan pacarnya itu kepada dirinya? Lebih jauh, Sephia ingin mengetahui bagaimana sesungguhnya perasaan Rahmat kepada dirinya? Apakah benar Rahmat banyak mengorbankan harta bendanya karena sifat dermawan dan belas kasihnya semata tanpa ada sesuatu yang diharapkan dari diri Sephia? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang berhari-hari berkecamuk di dalam benaknya. Ingin sekali Sephia mengungkapkan semuanya, tapi rasa malu terlaku kuat menahannya.

Tetapi, Sephia tak kuat tersika oleh perasannya. Semakin hari, semakin ia sadar bahwa dirinya telah jatuh cinta kepada Rahmat. Ia genggam HP cantiknya yang berwarna hijau, hadiah dari Rahmat pada hari ulang tahunnya. Ia sedang menimbang, apakah ia akan menelepon Rahmat dan mengajaknya untuk bertemu di suatu tempat di mana Sephia akan mengungkapkan segala isi hatinya. “Tapi, ah, apakah aku tidak malu, bila berterus terang tentang segalanya, dan menanyakan segala sesuatu yang ingin aku tanyakan?”

Akhirnya ia tekan nomor HP Rahmat, “A, ada hal yang ingin saya katakan. Tapi tidak bisa lewat HP, besok, apa bisa kita ketemu di kebun jambu belakang?”

“Lha, kok di kebun jambu? Di rumah kamu aja?”

“enggak, aku mau dikebun jambu. AA mau kan?”

“Ok deh. AA jemput kamu ke rumah, trus kita berangkat barang ke kebun jambu?” Rahmat.

“Jangan A. Saya tunggu AA dikebun jambu. AA ke sana langsung!”

“Lha. Kok kamu aneh begini sih, minta ketemu di kebun jambu, kayak anak ABG mau pacaran aja. He.. he.. memangnya ada apa sih?” tanya Rahmat.

Disebut kayak ABG mau pacaran, wajah Sephia memerah. Memang Sephia merasa dirinya ABG mau pacaran sama Rahmat. Dia merasa tersendiri, juga merasa kesal hatinya. Dalam hatinya ia menggerutu, “Aneh, apa ni orang gak punya perasaan kalau ada perempuan yang suka padanya? Padahal yang ia tau, Rahmat orangnya peka terhadap pikiran dan perasaan orang lain, tapi mengapa Rahmat tidak peka terhadap perasaan cintanya? ”

***
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:mendadak menikah
« Jawab #2 pada: Juni 29, 2012, 12:47:04 AM »
“A, kenapa sih A, AA tidak memperkenalkan calon istri AA itu sejak lama?”

“Oh, jadi ini yang mau kamu bicarakan itu. Soal itu, kenapa ya? ya mungkin karena belum ada momen yang tepat. Yah, maaf kalo hal itu salah.” Jawab Rahmat

“siapa sih nama calon istri AA?”

“Namanya Listiani.”

“Selamat ya A, semoga AA hidup berbahagia bersamanya!” kata Sephia. Menyusul air matanya berjatuhan. Sephia berupaya menyembunyikan air mata itu, menutupinya dengan telapak tangan. Tapi tentu saja, Rahmat tetap dapat melihatnya.

“Lha, kok kamu menangis sih?”

“Saya Cuma bahagia, bahwa orang yang slama ini telah banyak membantu keluarga kami, kini akan mengarungi bahtera rumah tangga.”

“Phia, saya mohon maaf!”

“Untuk apa?”

“Untuk hal yang membuatmu menangis.” Rahmat.

“Sudah saya katakan, saya menangis karena bahagia. Apakah tidak boleh saya turut berbahagia?”

“Tapi Phia, saya melihat air mata yang jatuh itu adalah air mata kepedihan, seakan hatimu tertusuk duri. Benarkah?”

Entah dari sudut mana keluargnya, air mata Sephia menjadi bertambah banyak, setelah Rahmat berkata demikian. “Apakah AA bisa tau keadaan hati saya?”

“Hati kamu, kamulah sendiri yang lebih mengetahuinya, sedangkan saya hanya menduganya, Phia.”

“Jadi, AA menduga bahwa hati saya sedang sakit seperti tertusuk duri? Itu benar. Tapi taukah AA, apa yang membuat hati saya ini serasa tertusuk duri?”

“karena harapan yang tak terpenuhi.” Jawab Rahmat

“Dan apa yang saya harapkan?”

“Cinta.”

Di tengah tangisnya, Sephia terkejut bahwa ternyata Rahmat seolah mengetahui segala isinya. Jawaban-jawaban itu, seakan menelanjangi dirinya. Tapi Sephia masih bertanya-tanya, bahwa jika memang Rahmat mengetahui perasaan hatinya itu, mengapa Rahmat tidak membalasnya.

“Cinta apa maksudnya?” tanya Sephia.

“kamu mengharapkan cinta dari seseorang, tapi dia tidak memberikannya. Maka dari itu, kamu menangis.” Jawaban yang membuat Sephia semakin terkejut dan semakin kagum kepada si penjawab yang seolah mempunyai kemampuan mistik membaca pikiran orang lain.

“Cinta siapa yang saya harapkan ? cobalah, bila memang AA mengetahuinya!”

“Tentang cinta siapa yang kamu harapkan, itu tidaklah penting, Phia. Cuma saya ingin katakan, tidak perlulah kamu menangis karenanya. Karena cinta itu, diberikan atau tidak, tidaklah membuat tangisanmu reda. Kebahagiaan dan kesedihan hatimu, tidaklah disebabkan oleh cinta yang diberikan oleh orang lain kepadamu, tapi disebabkan oleh cinta yang kamu beritakan  kepada orang lain.” Rahmat.

Sephia menyeka air matanya “Maksudnya bagaimana?”

“Sudahlah Phia, saya tidak dapat menjelaskannya lebih jauh lagi. Saya menduga, kamu telah jatuh cinta kepada saya. Benarkah demikian?” tanya Rahmat.

Sephia terdiam. Air matanyalah yang menjawab.

“Phia, “ Rahmat lirih, “di langit dan di bumi, tidak ada gadis yang paling aku kagumi selain dirimu.”

Terkejut Sephia mendengar kata-kata itu. “Tapi … tapi mengapa AA mau menikah dengan perempuan lain, apakah AA tidak mencintai saya?” kata-kata ini meluncur begitu saja dari mulutnya. Lalu ia menjadi sadar dan ada rasa malu karena ia serasa telah protes pada Rahmat yang hendak menikah dengna perempua lain, sedangkan Sephia bukan apa-apanya Rahmat.

“saya cinta kamu.” Jawab Rahmat.

“AA bohong!” wajah Sephia menunjukan marah, tapi hatinya senang campur heran.

“saya tidak bohong. Saya cinta kamu, tapi saya akan menikah dengan wanit lain”

“Kalau AA cinta saya, berarti AA tidak mencintai wanita yang mau AA nikahi donk?” Tanya Sephia bingung.

“Saya juga mencintai wanita yang hendak saya nikahi ini.”

“ah, gimana sih, katanya AA cinta sama saya, tapi cinta sama perempuan lain juga. Apa bisa gitu cinta dibagi dua?” tanya Sephia.

“Tentu saja bisa, lebih dari dua, cinta bisa dibagi tiga, lima, tujuh dan lebih banyak lagi.” Rahmat.

“Cinta apaan itu?” tanya Sephia dengan wajah yang cemberut, tanda tak suka dengan yang dikatakan Rahmat.

“saya tidak tau, cinta apaan itu. Saya Cuma tau, kalo itu cinta. Tapi kamu boleh tidak setuju dengan yang saya katakan.” Rahmat.

“ya udahlah, bingung saya jadinya. Kalo memang AA cinta saya, tapi mau menikahi wanita lain, silahkan, tapi bisakah AA bawa kemari wanita itu dan pertemukan dengan saya?” tanya Sephia.

“waduh, gak bisa sekarang. Soalnya dia masih bekerja di L.A. nanti dia balik ke sini tiga hari menjelang pernikahan.”

“Jadi, dia itu gadis bule?”

“Bukan. Dia itu orang Batam, tapi kerja di L.A. kontra kerjanya habis bulan ini, dan dia mau pulang dan tinggal di Indonesia.” Rahmat menjelaskan.

***

Malam hari semakin larut. Tapi Sephia tak kunjung merasa ngantuk. Dia tak bisa berhenti memikirkan perbincangannya tadi siang dengan Rahmat. Ada rasa gembira, sedih, bingung dan kecewa. Seakan semuanya berpadu dalam hatinya. Sephia senang karena mendengar bahwa Rahmat mengatakan mencintai dirinya, dan mengatakan bahwa dirinya adalah gadis yang paling dikaguminya. Kendatipun begitu, Rahmat akan menikah dengan perempuan lain. Inilah yang membingungkan dan mengecewakan. Sephia sedih, karena tak dapat menggapai apa yang diharapkan.

***

Hari yang ditunggu tiba. Resepsi pernikahan diselenggarakan di hotel Padmala, salah satu hotel mewah di kota Bandung. Sejak lima hari sebelum resepsi, keluarga Sephia telah ikut serta membantu persiapan resepsi dalam segala hal. Sephia membantu membuat desain undangan dan mengatur agenda resepsi. Pak Ijon membantu pengadaan barang dan dekorasi tempat. ibu Rokayah membantu persiapan dapur.

Pada kartu undangan tertulis dua nama insan, Menikah : Rahmat Maulana -  Listiani Dewi. Photo kedua mempelai juga dipasang. “Cantik nian calon istri A Rahmat. Tidak akan menyesal A Rahmat punya istri secantik dia.” Demikian gumam Sephia dalam hatinya.

***
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:mendadak menikah
« Jawab #3 pada: Juni 29, 2012, 12:47:49 AM »
Para tamu undangan telah hadir. Musik degung, musik khas orang jawab barat telah ditabuh. Bukan saja itu, bapak penghulu yang telah siap menjadi pemandu pernikahan kedua mempelai, juga telah hadir. Tapi masih ada yang kurang, Listiani sang mempelai perempuan belum hadir di tempat tersebut. Semua bertanya-tanya dan bingung, kemanakah gerangan calon pengantin perempuan.?

“Kemana calon pengantin perempuannya?” pertanyaan ini, ditanyakan oleh karib kerabat, para tamu undangan, dan penghulu kepada Rahmat dan ibu bapaknya. Tapi ketiganya selalu menjawab, “Ada, kami juga sedang menunggu. Mungkin ia datang terlambat.”

Rahmat berserta keluarganya, beberapa kerabat dekatnya, serta pera petugas dari catatan sipil tampak berhimpun, seperti ada sesuatu yang sedang mereka rundingkan. Lalu mereka menggelar tempat untuk acara ijab kabul pernikahan. Di satu sisi telah hadir Rahmat, calon pengantin pria. Tapi di sisi lain, tempat yang biasanya di isi oleh pengantin perempuan masih kosong. Mata hadirin pun tertuju pada tempat yang kosong itu dan mencari-cari, manakah sosok permpuan yang akan mengisi tempat tersebut.

“Hadirin yang berbahagia. “Demikian Askana, bapaknya Rahmat membuka acara. Biasanya, proses pernikahan itu dua tahap. Pertama acara lamaran dulu, kedua acara resepsi pernikahan. Tapi kali ini, dua acara tersebut kami satukan jadi satu. Pada kesempatan ini kami akan ajukan lamaran, dan pada kesempatan ini pula, akan kami langsungkan pernikahan, jika lamaran kami diterima oleh calon pengantin perempuan.

Mendengar hal itu, hadirin terkejut. Karena apa yang dikatakan oleh Askana, merupakan hal yang diluar kebiasaan.

“Nak Sephia, tolong duduknya lebih maju ke depan!” Askana melambaikan tangannya kepada Sephia yang dari tadi memang sudah hadir di situ. Sephia jadi kaget, bingung dan deg-degan, apakah yang akan terjadi selanjutnya. Sebagai pengatur acara, justru dia tidak tau kalau acaranya menjdi berantakan seperti itu.

Tak lama kemudian, pak Ijon dan ibu Suminah juga datang, diminta duduk disamping kiri kanan Sephia.

“Begini pak Ijon dan ibu, kami ingin melamar putri bapak sebagai menantu kami, apakah putri bapak menerima dan bapak menyetujui lamaran kami ini?” kata-kata pak Askana kepada pak Ijon ini sangat mengejutkan, terutama untuk pak Ijon sekeluarga.

Sebelum pak Ijon menjawab, Sephia ternganga, hendak ada sesuatu yang dikatakan. Tapi pak Askana segera berkata, “Mohon pertanyaan kami dijawab terlebih dahulu. Kalau ada pertanyaan lain-lain, nanti bisa kita lakukan di belakang layar.” Sambil mengedipkan matanya kepada Sephia. Dan Sephia sekeluarga mengerti, bahwa ada hal-hal yang tidak boleh dibuka ke ranah publik.

“Kalau saya sih, setuju,  kalau anak saya terima.” Jawab pak Ijon.

“Nah, sekarang nak Sephia, ananda terima enggak lamaran kami ini?” tanya pak Askana. Sebenarnya Sephia senang hatinya. Tapi semua ini terlalu mendadak dan mengejutkan. Dia merasa berada di dalam rumah yang penuh misteri. Maka, ia ingin mendapat penjelasan.


“tapi … tapi …..”

Sebelum Sephia berkata lebih jauh, pak Askana sudah memotong. “Begini aja ananda Sephia, kami ingin menajdikan anandan sebagai menantu kami atas pilihan putra kami Rahmat Maulana dan kami sekarang ingin mendengar apakah ananda menerima atau menolak kami ini. Jadi, sekali lagi, saya tanya, apakah ananda menerimanya?”

Sephia terdiam. Memang dia ingin menikah dengan Rahmat. Tapi ia juga merasa bahwa hak-hak dirinya untuk mengerti tidak dihargai. Dia ingin tau terlebih dahulu tentang apa yang terjadi pada Listiani, mengapa rencana pernikahan Rahmat dengan Listiani batal secara tiba-tiba. Tapi di sisi lain, ia membaca isyarat bahwa seakan lamaran itu hanya diberikan sekali saja kepadanya. Dan kesempatan untuk menerima atau menolak, juga hanya sekali itu saja. Sephia memeras pikirannya, harus segera memutuskan. Jujur pada hatinya, bahwa ia mencintai Rahmat, dan tidak mau kehilangan dia. Tidaklah mungkin ia akan menolak lamaran ini. Maka Sephiapun menganggukan kepala tanda menerima lamaran itu.

“alhamdulillah!” ujar pak Askana senang. Ijab kabur pernikahanpun dilangsungkan. Resepsi pernikahan dilanjutkan.

Ketika duduk dikursi pelaminan, tak henti-hentinya Sephia mencucurkan air mata. Bukan saja air mata bahagia yang mengalir, tapi juga ada rasa kesal. Ini juga merupakan perasaan yang membingungkan bagi Sephia. Ia jadi bingung, apakah sebenarnya dirinya sedang merasa bahagia ataukah marah. Harapannya untuk menikah dengan Rahmat terpenuhi. Inilah yang menyebabkan kebahagiaannya. Tapi dia merasa diperlakukan “tidak jujur” oleh keluarga Rahmat, ini juga yang menyebabkan rasa kesal. Ia berpikir, mengapa harus ada rahasia kepada dirinya. Jika Rahmat dan keluarganya memang menyayanginya, seharusnya semua dijelaskan apa adanya, sebelum lamaran diajukan.

Disela-sela bersalaman dengan tamu undangan, ketika ada waktu senggang, tak henti-hentinya Sephia mempertanyakan apa yang terjadi. Tapi Rahmat selalu menjawab, “nanti akan saya jelaskan, bila waktunya tepat.”

“waktu yang tepat itu sebenarnya adalah sebelum lamaran diajukan. Sekarang sudah terlambat. Tapi saya ingin mendengar, walaupun terlambat.” Sephia.

“Sephia, kita tidak akan mengalami rumah tangga kita dengan perdebatan bukan?”

Sephia terdiam.

Malam hari, setelah para tamu undangan pulang, Sephia dan Rahmat berada dalam kamar pengantin berdua. Kembali Sephia menagih penjelasan tentang apa yang terjadi.

Rahmat menjelaskan, “Sephia, sebelum saya jatuh cinta kepadamu, saya sudah memiliki kekasih, yaitu Listiani. Begitu kami jadian sebagai sepasang kekasih, tiga bulan kemudian Listiani mendapat kerja di L.A . kami pun menjalin hubungan cinta jarak jauh. Dan sangatlah sulit menjaga hubungan cinta jarak jauh ini, apalagi dalam jangka waktu lima tahun. Tapi saya berusaha setia pada janji. Oleh karena itu, ketika saya jatuh cinta kepadamu, betapapun aku mencintainya, itu saya anggap godaan kesetiaan terhadap janji, maka saya menahan perasaan ini kepadamu. Sebenarnya berat beban derita yang harus saya tanggung, karena harus menahan cinta ini kepadamu. Demikian pula Listiani, yang aku kira setia kepadaku.

Rupanya di luar negeri sana, Listiani telah berlaku serong. Saya tidak mengetahuinya dan tidak akan pernah mengetahuinya, jika Listiani tidak mengakuinya sendiri. sayangnya, dia mengakui hal itu dalam waktu yang sangat mendesak. Rupanya dia berencana untuk menipu atau membohongi saya, dan berniat tetap menikah. Tapi, di hari pernikahan ini, ketika semua telah dipersiapkan oleh keluarga saya dan juga keluarga Listiani, rupanya Listiani tidak sanggup menahan kedustaannya, dia dicekam oleh rasa bersalah, dan ingin jujur mengakui bahwa kini ia tidak suci lagi, bahkan di dalam kandungannya sudah berisi janin umur lima bulan. Diapun bertanya, apakah saya masih akan menerima dia dalam keadaan demikian? Tentu saja, saya merasa sangat kecewa dan terpukul. Saya sungguh tidak bisa menerima dia dalam keadaan demikian. Tapi menolaknya, berarti akan mengacaukan acara resepsi pernikahan, sedangkan undangan sudah banyak disebarkan. Bagaimana saya akan membuat malu keluarga? Mungkin juga Listiani berharap saya tetap menerima dia, karena waktu yang sangat mendesak. Tapi, saya benar-benar tidak bisa menerima dia dalam keadaan demikian.

Kendatipun kecewa dan terpukul, di sisi lain sebenarnya saya  gembira. Karena harapan cintaku kepadamu memiliki kesempatan terpenuhi. Saya bisa melamar dan menikahimi besok atau lusa. Tpi saya melamar dan menikahimu secara mendadak, untuk menutupi malu keluarga. Jikalau sampai hari ini tidak ada pengantin yang duduk dipelaminan, acara pesta pernikahan dibubarkan, mungkin orang tuaku berat menanggung malu seumur hidup mereka. Oleh karena itu, kamu hadir sebagai dewi cinta yang menolong saya.”

Sephia terbengong-bengong mendengar cerita Rahmat. Dia setngah percaya setengah tidak. Dia juga tidak tau, apakah harus percaya atau harus tidak percaya. Sebelum pikirannya larut lebih jauh di dalam kebingungan, tiba-tiba bibirnya terasa disentuh oleh sesuatu yang lembut dan membuat tubuhnya mendesir. Tak lama kemudian, iapun merasa dalam dekapan hangat yang menghilangkan seluruh kebingungannya. Kini ia larut dalam keindahan dan kebahagiaan.

-------- ||| selesai |||---------
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
41 Jawaban
8112 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 23, 2015, 10:12:58 PM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
830 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 13, 2013, 08:51:35 PM
oleh Abu Zahra
11 Jawaban
3563 Dilihat
Tulisan terakhir September 06, 2013, 09:27:23 AM
oleh Abu Zahra
Mendadak Ustadz

Dimulai oleh Sandy_dkk « 1 2 » My Journal

20 Jawaban
3149 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 06, 2015, 12:38:36 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
698 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 15, 2014, 07:08:55 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
680 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 09, 2014, 06:36:19 PM
oleh Kang Asep
6 Jawaban
1623 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 14, 2015, 05:21:08 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
455 Dilihat
Tulisan terakhir September 27, 2015, 07:12:34 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
352 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 12, 2016, 11:03:19 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
312 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 06, 2016, 04:47:20 PM
oleh Sandy_dkk

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan