Penulis Topik: membayar utang karma  (Dibaca 2458 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9276
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 355
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
membayar utang karma
« pada: Maret 14, 2012, 11:25:10 AM »
Banyak tikus di rumahku. Hal itu sangat menjengkelkan. Entahlah kemana jalannya, tikus-tikus itu bisa masuk ke rumahku. Orangtuaku menyarankan agar aku memasang perangkap tikus atau memberinya racun agar tikus-tikus itu mati. Aku tidak segera menyetujuinya. Apalagi aku percaya dengan hukum karma. Percaya bahwa hewanpun punya perasaan seperti halnya manusia. Mereka juga ingin hidup, seperti halnya manusia. Dan mereka merasakan penderitaan maupun kebahagiaan.

Aku memikirkan, bagaimana caranya mengatasi tikus-tikus itu. Aku teringat cerita seorang kawan buddhis di Dhammacitta.org bahwa dia telah berhenti berperang dengan tikus dan nyamuk dengan cara menutup semua celah yang memungkinkan nyamuk dan tikus itu bisa masuk ke dalam rumah. Dengan cara seperti itu, tidak perlu lagi kita membunuh nyamuk maupun tikus. Cerita ini membuatku terdorong untuk melakukan hal yang sama. Kulihat ada beberapa lubang di langit-langit rumah, setelah kuamati dari sanalah tikus-tikus itu bermunculan.

Sejenak aku pandangi langit-langit rumah itu, aku berpikir “Bagaimana ya cara aku menutupinya? Disumpel pake kertas? Hmmm….percuma, pasti bisa dibobol ama tikus. Dipasangi triplek, duh gimana masangnya ya. Maklumlah, aku benar-benar bodoh dalam soal menggunakan perkakas-perkakas kayu. Bagaimana aku nyuruh tukang kayu aja untuk menutup celah itu? Tapi, masa sih aku harus mengeluarkan uang untuk sekedar ngurusin tikus-tikus bau ini?” Sebenarnya aku terlalu malas untuk ngurusin masalah tikus, jadi aku lupakan saja semunya.

Tapi bagaimanapun, adanya tikus-tikus itu membuatku aku dan anak-anakku kurang nyaman. Apalagi anakku yang kelas 4 SD, kalau aku sedang berada di kantor, dia sering masak sendiri di dapur. Kadang-kadang dia meninggalkan masakanya sampai gosong gara-gara takut pada tikus. Malah itu bisa menimbulkan bahaya yang sangat besar, seperti misalnya kebakaran. Aku akan menyesal tidak membunuh tikus-tikus itu, jika terjadi musibah besar hanya gara-gara anakku takut pada tikus. “Duh, gimana ya, aku bingung. Membunuh tikus aku takut pada karma buruk. Tapi membiarkan tikus, membuat anak-anakku sangat takut dan bisa menimbulkan bahaya.”

Sangat menjengkelkan, semakin hari jumlah tikus itu semakin banyak. Setelah dibiarkan, malah si tikus makin ngelunjak. Dia tidak takut lagi bermain-main di kakiku ketika aku sedang mengetik di komputer. Kadang-kadang, salah satu diantara mereka membuatku kaget, ketika aku konsentrasi dengan pekerjaan-pekerjaanku di komputer, tiba-tiba tikus itu melompat dihadapanku sampai ekornya mengenai hidungku. Teramatlah kurang ajarnya tikus-tikus itu. Sangat kesal aku dibuatnya.


Lalu, suatu hari aku ada ide. Aku percaya bahwa walaupun tikus-tikus itu tidak mengerti bahasa manusia, tapi kurasa mereka mengerti bahasa batin yang bersifat universal. Di dalam tingkat konsentrasi tertentu, terkadang aku jadi bisa mengerti bahasa hewan. Oleh karena itu, jika batinku cukup baik, maka  mungkin aku bisa berbicara kepada tikus-tikus itu agar mereka pergi dari rumahku.

Dengan sedikit rasa humor, aku membakar dupa. Aku percaya bahwa asap dupa itu bisa menjadi sarana pengantar pesan saya kepada para tikus di rumahku. Dengan sungguh-sungguh, sambil membakar dupa aku berkata, “Wahai para tikus yang ada di rumahku, sesungguhnya aku tidak mau membunuh kalian. Maka saya persilahkan kalian untuk pergi dari rumahku. Jika dalam jangka waktu 4 hari, kalian tidak pergi maka aku akan membunuh kalian semua dan jangan kalian salahkan aku.” Aku merasa berhak mengancam mereka.

Ajaib, esoknya tak satupun terlihat tikus berkeliaran di rumahku. Demikian juga hari kedua, ketiga dan keempat. Tapi pada hari kelima, tikus itu tampak berkeliaran lagi. Begitu melihat mereka, aku bergumam, “oh…kalau begitu berarti kalian ingin mati.” Aku segera berangkat ke pasar untuk membeli racun tikus dan kemudian menaruh racun itu dibawah lemari dapur.

Aku tak habis pikir, apa tikus-tikus itu telah salah tafsir dengan kata-kataku atau gimana ya. Aku bilang bahwa jika tikus-tikus tak pergi dalam jangka waktu 4 hari, maka aku akan membunuh mereka. Maksudku, setelah empat hari seharusnya tak ada satupun tikus yang tersisa di rumahku. Mungkinkah si tikus malah menafsirkan bahwa mereka harus pergi hanya selama 4 hari saja? Kok bisa ya tikus salah tafsir, kirain Cuma kawan-kawan diskusiku yang di DC aja yang bisa salah tafsir, eh ternyata tikus-tikus di rumahku juga bisa salah tafsir. Buktinya mereka malah pergi selama 4 hari dan di hari kelima datang lagi dengan jumlah yang tampak lebih banyak. Mungkin selama 4 hari itu mereka berlibur bersama keluarga mereka, trus pulang bawa teman-temannya ke rumah, jadi jumlah tikus makin banyak. Mungkin ayah atau ibu mereka berkata kepada anak-anak mereka, “Nak, mari kita pergi dari rumah ini selama 4 hari! Pemilik rumah ini akan membunuh kita bila kita tidak pergi selama 4 hari. Jadi, nanti hari ke lima kita bisa pulang lagi.” Eh, dasar tikus bodoh.

Tadinya sih, aku memberi waktu jangka 4 hari itu untuk memberi mereka waktu buat beres-beres tempat, nyari tumpangan baru dan angkut-angkut barang. Saya kira 4 hari itu waktunya sudah cukup. Dasar tikus dungu, bukannya pindahan malah piknik selama 4 hari, ngeselin banget. Tapi sekarang aku sudah menaruh racun. “Rasain tuh, kedunguan dan keserakahan kalian terhadap makanan yang bukan milik kalian, akan membunuh kalian sendiri.” Demikian gerutuku dalam hati.

 
Keesokan harinya, tikus-tikus kecil tampak berjalan terseok-seok di lantai rumah. Aku memukul tikus itu pake sandal, “Dasar tikus bau, mati loe!” Tikus itu tampak sudah lemah akibat pengaruh racun, aku memukulnya pula. Beberapa ekor tikus lainnya yang agak sedikit besar dari tikus yang pertama aku temukan di bawah akuarium dan di belakang lemari. Lalu aku taruh mereka di dalam kertas koran, membungkusnya dengn kertas koran itu secara berlapis-lapis dan membakarnya di tempat sampah.

Tikus-tikus yang berukuran sedang ditemukan di mana-mana, aku segera membuangnya, mengubur atau membakarnya. Kupikir, kini rumahku akan terbebas dari hama tikus.

Keesokan harinya lagi, seekor tikus besar nongol dari balik lemari. Tikus ini sangat besar, mungkin bapaknya tikus-tikus kecil yang mati kemarin. Dia menatap ke arahku. “hus! Hus!” aku mengusir tikus itu. Tapi aneh, bukannya pergi, tikus itu malah berjalan pelan-pelan sempoyongan ke arahku. “eh buset, malah nyamperin kau!” aku menjauh karena merasa jijik dan takut digigit.

Rupanya tikus ini sudah kepayahan akibat racun. Dia lebih kuat bertahan hidup dan masih mampu berjalan, walaupun dari mulutnya darah sudah menetes-netes. Tikus itu terus mendekat ke arahku. Aku tengok kiri kanan untuk mencari pemukul, tapi tidak kutemukan sesuatu yang bisa aku gunakan untuk memukul kecuali kain lap lantai. Aku ambil kain itu lalu aku pukulkan ke tikus besar itu. Sejenak tikus itu berhenti dan menatapku. Dari sorot pandang matanya, seolah-olah dia berkata padaku, “mengapa kau membunuh kami, padahal kami hanya mencari makan. Kini aku tengah sekarat dan kesakitan, mohon jangan biarkan aku menderita lebih lama lagi, bunuhlah aku segera.” Lalu tikus itu terus berjalan mendekati aku.

Karena tikus itu tak bisa diusir pergi, aku pun diam saja sambil duduk bersila. Tak lama kemudian tikus itu sampai di depanku dengan tetesan-tetesan darah dari mulutnya, lalu dia kejang-kejang, sekarat, dan matilah dia. Aku kasihan melihatnya. Tapi harus bagaimana lagi, kupikir tidak seharusnya mereka tinggal di rumahku. Kalau toh mau mencari makan, kan mereka bisa tinggal di kebun, di kolong jembatan, di hutan atau dimana kek, asal jangan di rumahku. Aku menguburkan tikus itu.

Sore harinya, ketika aku hendak mengambil nasi di lemari makan, terasa dingin kakiku disentuh sesuatu. Ketika kulihat aku terkejut dan melompat, “eh, buset, ini tikus yang mau mati lagi!” mungkin itu adalah ibunya. Tikus itu melihat ke arahku, lalu dengan terseok-seok dia mendekati aku. Sangat penasaran, mengapa tikus-tikus ini mendekati aku kalau mau mati, apa sebenarnya yang mereka inginkan. Maka aku diam saja untuk menunggu apa yang ingin dilakukan tikus itu padaku.

Tikus besar itu berhenti tepat di depan ibu jari kaki kiriku. Dari gerak-geriknya, sepertinya dia memohon sesuatu. Seolah-olah dia berkata, “Tuan, aku ini adalah ibu dari anak-anak tikus yang telah anda bunuh. Suamiku juga telah mati menyusul anak-anakku. Kini giliranku untuk mati karena racun yang anda berikan kepada kami. Tuan, mohon ampunilah kami! Bila kami harus mati dengan cara seperti ini, mungkin ini sudah nasib kami, tapi mohon janganlah tuan membunuh seluruh keluargaku. Aku masih punya anak, seekor tikus yang masih sangat kecil, biarlahkan dia hidup! Biarkanlah dia hidup, Tuan!”

Glek! Aku menelan ludahku sendiri, karena kasihan melihat tikus itu. Badannya tampak bergetar dan matilah dia dalam posisi seperti sedang memohon di kakiku. Aku tidak tahu, kalau di rumahku masih ada tikus yang tersisa. Tapi sesudah kematian tikus yang mati di depan ibu jari kakiku itu, masih ku temukan seekor tikus yang juga sangat besar.

Malam harinya, seperti biasa, sebelum tidur aku bermeditasi terlebih dahulu barang setengah atau satu jam. Tapi ada yang lain dalam meditasiku kali ini, rasa ngantuk berat menyerangku, sehingga kira-kira baru 10 menit saja aku langsung merebahkan diri di kasur.

Dalam tidur aku bermimpi, aku mendengar suara-suara merintih kesakitan. Lalu aku mencari suara rintihan itu dan akhirnya kutemukan dua ekor tikus yang sedang berguling-guling sambil memegangi  perut mereka. Salah satu dari tikus itu berkata kepadaku, “Tega sekali kau meracuni kami, padahal kami hanya mencari makan! Tahukah kamu bahwa dengan meracuni kami, itu sama seperti kamu tidak menyayangi bapak-bapakmu. Ketahuilah bahwa bapakmu dan bapak angkatmu, matinya akan seperti kami berguling-guling kesakitan.”

Lalu aku mendekati kedua tikus itu. Tiba-tiba mereka berubah menjadi kedua bapakku, yaitu bapak kandungku dan bapak angkatku. Keduanya berguling-guling memegangi perut kesakitan, dan mereka tengah menghadapi ajal.

Aku terbangun dan terkejut dengan mimpi itu. Kulihat jam di dinding menunjukan pukul 2.00. aku ingat, menurut orang tua, jika mimpi pada waktu sepertiga malam terakhir, maka mimpi itu bukan sembarang mimpi, melainkan mimpi yang akan menjadi kenyataan. “Astagfirullah hal adzim!” Demikian gumamku. “Ya Allah, aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk, dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, dengan nama Allah yang maha pengampun, ampunilah segala dosa-dosaku, dan aku berlindung kepada Allah dari kejahatan mimpi buruk.” Lalu aku berwudhu dan shalat malam.

Setelah itu, beberapa hari rumahku sepi dari suara ribut-ribut aktifitas tikus. Tapi entah selang beberapa hari, tiba-tiba kulihat seekor tikus mungil melompat-lompat sangat lucu. Anakku yang paling kecil, yang berusia 2 tahun melihat tikus itu. Dia tertawa-tawa melihat lucunya perilaku si tikus kecil, lalu dia mengikuti kemana perginya si tikus kecil. Begitulah, setiap harinya anakku terhibur oleh tikus kecil yang lucu itu. Aku berkata pada anakku yang paling besar, “Tikus ini ketika kecil tampak sangat lucu dan menyenangkan, tapi kalau sudah besar bau dan menjengkelkan, apalagi kalau sudah berkembang biak.” Tapi aku tidak ingin membunuh tikus, karena ingat janjiku pada si ibu tikus beberapa hari yang lalu.

Setahun kemudian, tikus-tikus di rumahku telah banyak lagi. Aku tak mau membunuh tikus lagi. Kini setiap malam, aku menaruh sepiring makanan di dapur di bawah wastafel tempat cuci piring. Makanan itu selalu dihabiskan oleh para tikus di rumahku. Malam harinya, di dapur tidak terdengar ribut-ribut lagi. Mungkin mereka sudah tau di mana saya menyimpan makanan, lalu mereka makan sampai kenyang dan kembali tidur. Mereka tidak berkeliaran terlalu jauh dan tidak setiap waktu. Asal mereka telah kenyang, mereka berhenti membuat keributan.

Masih kulihat lubang di langit-langit rumah itu. Aku bisa menutupnya sekarang. Tapi biarlah saja tidak kututup. Sungguh aku merasa bersalah kepada tikus-tikus yang telah aku bantai setahun yang lalu. Untuk menebus kesalahanku pada tikus-tikus itu, kini aku melayani tikus-tikus keturunan mereka, menyisihkan rezeki setiap hari untuk memberikan mereka makanan. Jika nanti kurasa telah cukup bagiku membayar utang karmaku, barulah aku akan menutup lubang itu.

Sampai di sini ... ku posting artikel ini di Dhammacitta.org, tempat di mana aku biasa berbagi pikiran dan berdiskusi. Ada yang menyukai ceritaku ada yang tidak. Itu sudah biasa. Hanya anehnya, sesudah beberapa hari aku posting artikel itu, aku jadi berubah pemikiran lagi. Ketika aku melihat tikus-tikus berkeliaran di rumahku, aku berpikir “Apakah benar membunuh tikus-tikus yang sejatinya merusak itu melahirkan karma yang buruk? Apalagi aku seorang muslim, apa pantas percaya kepada huku karma? Sejatinya tikus-tikus itu merusak, tentu tidalah berdosa bila aku memberantas hama tikus ini.” Demikian gumamku.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9276
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 355
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:membayar utang karma
« Jawab #1 pada: Maret 14, 2012, 11:25:39 AM »

Aneh, setelah satahun aku memiliki pikiran kasih terhadap tikus-tikus itu, tanpa rasa marah dan kebencian, bahkan melayani mereka seperti anggota keluargaku sendiri dengan selalu memberi mereka makan, kini aku muak dan marah pada mareka, seperti tahun lalu. Maka untuk kedua kalinya, aku membeli racun tikus dan mreacuni seluruh tikus itu.

Bangkai-bangkai tikus berserakan di mana-mana. Sebagian aku bakar dalam keadaan sekarat. Sebagian ku kuburkan. Selang seminggu saja, rumahku sudah bersih dari tikus.

Belum genap dua minggu sejak aku meracuni tikus-tikus itu, tiba-tiba terjadi hal yang aneh pada diriku. Suatu pagi, ketika aku keluar dari kamar mandi, tiba-tiba jantungku berdebar kencang, dadaku sakit, dan aku ambruk, lalu pingsan. Ketika terbangun, aku tidak dapat bergerak sama sekali. Apabila bergerak, maka jantungku rasanya mau copot. Kulihat anakku yang paling kecil sedang duduk di dekatku, dan dia tampak bingung, akan apa yang terjadi pada saya. Sedangkan istri dan anankku yang paling besar sedang tidak ada di rumah.

Kejadian ini, apakah merupakan hukum karma, karena aku telah membantai tikus-tikus di rumahku?

Aku menelpon adikku. Sulit sekali terhubung. Sedang keadaanku rasanya seperti sedang sekarat. Berkali-kali barulah tersambung. Adikku lekas datang dan menolong. Aku dibawa ke UGD Ujung Berung. Segera dilakukan EKG dan pemeriksaan darah. Hasil pemeriksaan semua normal, kecuali darah yang cukup tinggi hingga 140. Dokter memusutkan bahwa saya boleh pulang dan cukup minum obat. Sungguh aku heran, dokter menyuruhku pulang, sedangkan aku dalam keadaan yang sangat lemah dan kesakitan.

Adapun meningkatnya darah, ku rasa itu akibat stress. Dan stress ini akibat serangan penyakit yang mendadak. Jadi bukan darah tinggi itu yang menyebabkan aku jatuh pingsan. Apalagi sebelumnya aku tidak memiliki riwayat darah tinggi.

Bingung. Akhirnya aku mengadu kepada guru spiritualku melalui telpon. Di telpon, beliau menjawab, “Itu bukan serangan jantung, itu adalah proses kematangan spiritual kamu!” Demikian kata guruku.

Guruku datang menjenguk. Beliau kemudian mentransfer energi tenaga dalam ke dalam tubuhku. Akupun kelojotan seperti orang kena strum. Anehnya, setelah di transfer aku menjadi sehat seketika. Tadinya tak mampu untuk berdiri, kini bahkan bisa berlari. Akupun pulang. Guruku membekaliku dengan doa yang harus aku baca 60 kali setiap terasa ada serangan penyakit.

Baru empat jam di rumah, serangan jantung itu terjadi lagi. Aku menelepon adikku. Dia datang dan membantuku semaksimal yang dia bisa. Ketika itu, hal aneh terjadi. Setiap aku mencoba berbicara, aku seakan mau jatuh pingsan. Tapi bila aku berdzikir atau membaca alQuran, tidak masalah. Adikku mengdukan hal ini kepada guruku, melalui telepon. Guruku menjawab, “Memang tidak boleh bicara. Kakakmu itu harus puasa bicara, minimal sampai tengah malam. Bacalah saja doa yang tadi aku berikan!”

Lalu akupun terdiam, duduk dan berdzikir. Baru 15 kali membaca doa yang diberikan guru, kemudian aku berpikir “ bagaimana kalau aku berbicara melalui tulisan, apakah aku akan jatuh pingsan seperti bila aku berusaha bicara melalui lisan?” ternyata setelah aku coba, aku baik-baik saja. Aku menulis semua hal yang ingin kukatakan pada adiku melalui media tulisan. Aku pun berhenti berdzikir dan berdoa, dan malah bercengkrama melalui media tulisan. Adikku berkata, “Dasar si kakak ini, gemar diskusi, walaupun sedang sakit gak bisa bicara, maksain diskusi lewat tulisan”.

Lalu aku tanggapi perkataan adakku itu dengan menulis di selembar kertas, dan menyodorkannya.

Ternyata benar kata guruku. Lewat tengah malam, akupun mampu bicara lagi. Serangan jantung itu terjadi lagi berulang-ulang hingga 3 bulan kemudian. Sayapun menjadi sangat lemah. Sjatinya saya adalah seorang olahrawan dan seorang pelatih beladiri. Sejak mendapatkan serangan penyakit tersbut, tubuh saya lemah dan rapuh. Bila mencoba berjalan kaki sejauh 100 meter saja rasanya hendak ambruk. Lenyaplah rasanya kekuatan yang selama ini dianugrahkan kepdaku. Seandainya aku ayam jago, seakan dipotong taji dan jenggernya. Aku tak berdaya.

Berobat ke rs-rs terbesar di kota Bandung, hasilnya nihil. Aku masih saja sering terkena serangan. Kadang-kadang obat penenang cukup membantu aku untuk bisa tidur. Tapi itu tidak menyelesaikan masalah. Aku juga dibantu oleh tabung oksigen di rumah. Bila serangan terjadi, aku menggunakan tabung oksigen, itu sedikit membantu. Tapi juga tidak menyelesaikan masalah. Makin lama, aku makin kebal dengan obat. Tabung oksigen pun tampak tidak mempan lagi. Lalu aku mencoba pengobatan alternatif, tabib-tabib dan sinse aku datangi. Mereka semua memang cukup membantu, tapi serangan jantung terus terjadi berulang-ulang. Hingga aku berpikir bahwa mungkin aku akan segera mati.

Sejak saat itu, setiap hari aku merasa bahwa itu adalah hari terakhir dalam hidupku. Esok, belum tentu aku bisa melihat matahari terbit. Kini aku sudah pasrah, tak mau lagi datang berobat ke rs ataupun ke tabib. Aku berpasrah kepada Allah, hanya memohon agar Allah mengikhlaskan dan menyabarkan hatiku seandainya memang telah tiba ajalku.

Aku menangis, bahwa diriku rasanya belum mampu membahagiakan semua orang yang aku cintai. Banyak dosa dan kesalahan yang selama ini tidak kuakui sebagai dosa dan kesalahan, kini aku mengakuinya. Di hari-hari yang kuanggap akhir hidupku, tak ada keinginan lain bagi diriku, kecuali membahagiakan semua orang dengan apa yang bisa aku lakukan. Aku berupaya memenuhi hatiku dengan cinta dan menyebarkan cinta. Aku berpikir “kurasa hakikat hidup ini adalah untuk menyatakan cinta melalui perbuatan”.

Tiada rasa marah dan benci kepada siapapun. Sungguh aku kasihan dan menyayangi semua orang. Ketika aku melihat orang yang sedang mabuk-mabukan, sungguh hatiku merasa kasihan kepadanya dan berpikir “tak ingatkah dia, bahwa dia tak lama lagi akan menghadapi ajal, malakal maut. Mengapa dia menyia-nyiakan hidupnya seperti itu?”
Penyakit yang menimpaku seolah-olah memberi aku suatu pengetahuan tentang apa saja yang akan dihadapi oleh seseorang ketika dia menghadapi ajal, sehingga mengetahui pula apa yang seharusnya dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Ketahuilah, bahwa hal yang menakutkan dan sangat menyakitkan ketika terjadinya ajal itu bukanlah karena dicabutnya nyawa, melainkan karena diperlihatkan seluruh dosa dan kesalahan kita selama hidup. Hal yang mungkin tidak dapat terbayangkan oleh mereka yang tidak mengalami kesakitan seperti yang saya alami.

Dunia seakan mencekam. Wajah setiap orang tampak pucat pasi seperti mayat. Dan aku melihat setiap orang bagaimana ketika dia meregang nyawa. Ketika ada seorang ibu menuntun anaknya yang masih kecil, tiba-tiba aku seperti melihat sebuah tayangan di mana si ibu dan anak tersebut sedang meragang nyawa dalam waktu brsamaan. Semua itu adalah keadaan yang menyedihkan.

Banyak kejadian aneh dan menakutkan, serta suara yang selalu berkata, “kamu akan segera mati, kamu akan segera mati”. Gelisah dan sedih.  Tapi kemudian pertolongan datang. Dengan cara apa dan bagaimana, itu tidak mudah diceritakan karena sangat kompleks. Tapi aku bersyukur, kini aku telah keluar dari masa-masa kritis. Tak lupa aku juga ingin berterima kasih kepada semua orang yang telah membantu kesembuhanku, termasuk pada dokter, para tabib, para psikolog, para supranatural, dan khusus kepada adikku sendiri yang selalu setia menemani dan membantuku. Sejak bangkit dari sakit, banyaklah perubahan dalam diriku. Kini aku berpacu dengan waktu, harus segera melakukan kebaikan yang bisa aku lakukan. Karena kendatipun sekarang aku sembuh, tapi setiap makhluk yang hidup tentu ditunggu maut. Maka tak akan ku sia-siakan masa sehatku ini.

Aku berkunjung ke rumah guruku, “Guru, sebelum aku jatuh sakit, aku membanti tikus-tikus di rumahku. Apakah aku telah berbuat kedzaliman, dan apakah sakitku itu merupakan hukuman atas kedzalimanku?”

Guruku menjawab, “Bergantung dari niat dan tujuanmu membunuh tikus-tikus itu. Apa tujuanmu?”

“Sungguh saya khawatir tikus-tikus itu akan memakan kabel gas, dan lalu terjadi bahaya terhadap anak istriku.” Demikian jawabku.

“kalau begitu, tujuanmu melindungi keluarga, bukan membunuh tikus2 itu. Maka tidaklah berdosa.” Demikian kata guruku.

Aku terdiam. Tapi hatiku menyangkal, “padahal ada cara lain untuk mengusir para tikus itu selain dengan membunuhnya.”

Wallahu alam.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
3 Jawaban
2109 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 22, 2013, 05:05:53 PM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
2775 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 09, 2016, 01:14:58 PM
oleh Ziels
1 Jawaban
1017 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 30, 2013, 07:08:29 PM
oleh Abu Zahra
7 Jawaban
3177 Dilihat
Tulisan terakhir September 09, 2013, 05:57:59 PM
oleh comicers
5 Jawaban
2530 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 03, 2013, 04:31:31 PM
oleh comicers
0 Jawaban
615 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 14, 2015, 02:04:37 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1042 Dilihat
Tulisan terakhir September 21, 2015, 02:29:15 PM
oleh Ziels
0 Jawaban
206 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 01, 2016, 01:54:39 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
157 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 01, 2017, 11:16:32 AM
oleh ciptojunaedykeyen

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan