Penulis Topik: Maharina dan Saraswati  (Dibaca 1929 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9591
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Maharina dan Saraswati
« pada: Juli 14, 2012, 01:26:37 AM »

Dulu, saya mempunyai dua orang murid perempuan. Keduanya berusaia 20 dan 19 tahun. Yang satu bernama Maharina dan satunya bernama Saraswati.

Yang pertama-tama datang untuk belajar itu adalah Maharina namanya. Setelah belajar suluk dan filsafat, Maharina menjadi “dokter mental” bagi teman-temannya. Dia menawarkan jalan “ketenangan hidup”. Dengan cara itu, banyaklah orang tertarik untuk ikut bersama Maharina dalam belajar suluk dan filsafat.

Maharina tampak menikmati posisinya sebagai “dokter mental” bagi kawan-kawannya. Setiap kali ada pemasalahan-permasalahan yang tidak dapat dia jawab sendiri, maka dia adukan kepada saya. Setelah memperoleh jawaban yang dia inginkan, dia kembali kepada kawan-kawannya.

Kemudian, bertemulah Maharina dengan seorang perempuan yang hampir sebaya dengannya, yaitu Saraswati, yang mempunyai mental “sangat gelisah”, “sering bimbang” dan banyak keraguan. Bagi Saraswati, kehadiran Maharina bagaikan kehadiran ibunda yang memberikan pelukan yang hangat, ketika seorang anak terbawa dalamnya tangisan. Maharina berhasil memberinya ketenangan dan kenyamanan. Hal ini membuat Saraswati merasa kecanduan. Dia selalu ingin berada di dekat Maharina untuk mendengarkan nasihat-nasihat dan filsafatnya. Tak tau pagi, siang sore ataupun malam hari, Saraswati selalu berupaya berada di dekat Maharina. Bila jauh sedikit saja, Saraswati kembali jatuh ke dalam kesedihan dan kegelisahan.

Maharina berusaha membuat Saraswati mandiri dan tidak bergantung kepadanya. Tapi, Maharina gagal. Maharina berusaha dengan berbagai cara, tapi masih juga gagal. Dia heran, mengapa Saraswati sulit diajari untuk mandiri, mengapa tak mau mandiri dan terus menerus menganggu dirinya demi mencapai ketenangan pribadinya.

Lalu, dengan rasa kesal dan hampir putus asa, Maharina datang kepada saya. Dia tunjukan kepada saya tentang banyak kebaikan dan nasihat yang telah banyak diberikannya kepada Saraswati. Dia mulai mencela dan merendahkan Saraswati sebagai seorang perempuan yang “kurang smart”, “malas belajar”, “egois”, dan lain sebagainya.

Saya berkata kepadanya, “Maharina, muridku! Apa yang engkau alami itu adalah ujian dari Allah. Engkau harus sabar dalam menanggungnya. Bila engkau bersabar, maka engkau bisa memperoleh kemenangan dengan hinggapnya mutiara ilmu di dalam dirimu. Tapi bila engkau tidak bersabar, maka mungkin saja keadaan akan segera berbalik, engkau akan menempati posisi Saraswati. Sedangkan Saraswati akan menempati posisi engkau.”

Setelah hari itu, lama saya tak jumpa dengan Maharina. Pendidikan spiritualnya saya titipkan kepada murid lain yang lebih senior yang bernama Muwahid. Setelah tujuh bulan kemudian, saya mendengar bahwa Muhawid telah mengajarkan hal-hal yang berbeda dari ajaran para guru. Dia telah melakukan pembangkangan dan pembelotan. Maka kemudian saya turun kembali ke perhimpunan untuk menyelidiki tentang apa yang terjadi.

Saat saya menggelar ceramah, di isi dengan pantun dan nasihat, semua orang terdiam. Mereka tampak tunduk dan patuh. Tapi saya tau, bahwa hati mereka sedang bergerilya, menentang nasihat-nasihat saya. Hal itu karena telah banyak bisikan liar menyebar bahwa katanya, saya telah mengajarkan ajaran tarekat sesat dan filsafat yang menyimpang. Sangat menyedihkan. Kini murid-murid terpecah menjadi dua. Kelompok pertama adalah kelompok yang masih menganggap saya berada pada jalan yang lurus. Sedangkan kelompok kedua, adalah kelompok orang yang sudah menganggap saya berada pada jalan yang sesat. Tapi kedua kelompok ini hadir dalam satu majelis dan seolah masih berguru pada orang yang sama. Mereka tetap bertahan dalam perguruan dengan alasan untuk menyelematkan umat dari bahaya ajaran yang saya berikan. Tapi mereka tidak berani dengan terus terang melakukan penentangan. Inilah orang-orang munafik.

Adapun Maharina adalah salah seorang murid yang sudah terprovokasi. Tapi dia masih berpura-pura sebagai murid yang patuh dan setia. Ketika dia berbicara dengan saya, dia lebih sering memuji-muji guru dan ajaran lain dari pada mencoba menyelami ajaran gurunya sendiri. Dia menceritakan bahwa kini, sahabatnya yang bernama Saraswati telah berpindah ke perguruan lain dan mencapai kemampuan mental yang tinggi di dalam ketenangan, konsentrasi, filsafat dan kemampuan-kemampuan supernatural. Lalu dia berkata, “Sedangkan saya, sudah tiga tahun berguru kepada akang, apa yang sudah saya peroleh? Saya tidak bisa apa-apa?”

Saya menjawab,”Memangnya kemampuan apa yang ingin engkau pelajari dari saya? Yang saya ajarkan tidak lain adalah cara memahami kalimat Laa haula walaa kuwata illa billah, yakni bahwa kita ini tidak memiliki daya upaya, kecuali atas pertolongan Allah. Jadi, barangsiapa yang sudah sadar diri bahwa dirinya tidaklah berdaya upaya, tidak mempunyai kemampuan apapun yang bisa disombongkan, maka berarti dia telah berhasil menyelami apa yang saya ajarkan.”

“Begini ya kang, kemarin Saraswati datang ke rumah saya. Lalu dia memandangi lampu ruang tamu di rumah saya. Mula-mulanya tidak terjadi reaksi apapun. Tapi setelah kira-kiara setengah jam Saraswati memandangi lampu itu, tiba-tiba lampu rumah itu mati. Hebat sekali kekuatan batinnya itu, kang. Apa Akang bisa mengajarkan hal serupa itu kepada saya?” tanya Maharina.

Saya tersenyum dan berkata, “Maharina, apakah kamu tertarik dengan hal-hal seperti itu? Saya tidak dapat mengajarkan ilmu-ilmu seperti itu. Kalau mati memadamkan lampu di ruang tamu kamu, sebaiknya tekan saja saklarnya. Tidak akan sampai setengah jam, bahkan seketika itu juga lampu di rumahmu itu akan padam.”

Lalu Maharina menceritakan bagaimana kehebatan filsafat Saraswati, sehingga Maharina mengalami ketenangan bersamanya. “Kang, jika dulu saya sering menasihati Saraswati, sekarang sayalah yang sering dinasihati. Saya gelisah bila tak bersamanya.”

Teringatlah saya kepada apa yang saya katakan dahulu kepadanya. Maka saya berkata, “tidakkah kamu ingat akan apa yang saya katakan dahulu, bahwa keadaan akan terbalik?”

Maharina diam saja.

Keadaan perguruan menjadi semakin kacau. Delapan puluh persen murid sudah mempraktikan suluk dari ajaran antah brantah. Ketika mereka sedang prakti, saya memergoki mereka dan langsung mengambil alih. Saya berkata, “Tidak begini suluk yang saya ajarkan, maka berhentilah, dan laksanakan suluk sebagaimana yang saya ajarkan!”

Walaupun hati mereka menentang, tapi mulu mereka diam. Tidak ada seorangpun yang berani menentang, termasuk Maharina. Mereka segera mengubah riyadhoh mereka. Dengan tarikan nafas dan hembusan nafas, yang bersamanya mereka menyebut asma Allah. Tapi sungguh mereka tak rela hati melaksanakan apa yang saya perintahkan. Maka semakin lama mereka praktik, semakin reduplah cahayanya, sampai pada titik Nadzir dari kegelisahan, kekacauan, ketidak realaan dan penentangan mereka, lalu tiba-tiba para murid yang sedang praktik suluk ini marah. Mereka terpental ke arah belakang. Lalu dengan wajah yang marah dan tatapan mata yang dipenuhi dengan kebencian, mereka memukul-mukul lantai. Mereka ingin menatap mata saya. Tapi mereka tidak mampu melakukannya, dan mereka menjadi jengkel. Keadaan mereka menjadi mirip seperti orang kerasukan. Mereka mengeram dan berteriak, memukul,  mengeluh, dan tenggelam di alam penderitaan. Ada banyak hal yang ingin mereka katakan, tapi tak mampu mereka kemukakan.

Maharina menubruk dan tersungkur di pangkuan saya. Dia mengeram seperti harimau. Dia berupaya mencakar dada saya, tapi tidak mampu menggapainya. Berat benar penderitaan yang harus dia rasakan. Hatinya bertanya, “mengapa aku begini?” di sisi lain, dia marah besar kepada saya dan berkata, “apakah kamu yang telah membuat aku menjadi seperti ini? Brengsek kamu!” seandainya dapat dia ingin merasuk ke dalam dada saya untuk berbagi kegelisahan. Tetapi saya bagaikan cahaya di dalam sebuah bola kaca, yang tidak tersentuh oleh angin, sehingga tidak ada kegelisahan yang mampu masuk ke dalamnya.

“Habislah energi kamu, Maharina.” Kata saya.

“Akang tau, energi saya telah habis, mengapa akang membiarkan energi saya habis?” Maharina menangis.

“Tidak ada yang menghabiskan energi kamu, kecuali kemarahanmu sendiri. mengapa kamu marah Maharina?”

Mendengar pertanyaan saya, Maharina menangis tersedu sedan.

“Batinmu itu telah mengalami kerusakan yang parah, perbaikilah segera. Besok datanglah kembali ke perhimpunan ini, kita akan memulainya dari awal kembali.”

Hari demi hari, saya menunggu kembali kedatangan Maharina, kini sudah 7 tahun berlalu, Maharina tidak pernah kunjung datang. Semoga di malam yang sunyi ini, sukmaku hadir di dalam mimpinya, untuk mengatakan kepadanya, bahwa selama ini aku selalu menunggu dia datang kembali.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Ratno Golan

Re:Maharina dan Saraswati
« Jawab #1 pada: Juli 16, 2012, 11:24:43 PM »
kisah yg bagus, puitis dan mengharukan
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1062
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 21
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Maharina dan Saraswati
« Jawab #2 pada: Juli 28, 2012, 10:58:01 PM »
rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri pak, begitu juga adie dulu pengennya yang macem2 tapi setelah beberapa lama dengan bapak yang macem2 berubah jadi satu macam

maaf pak sekarang jadi jarang silaturahmi
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9591
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Maharina dan Saraswati
« Jawab #3 pada: Juli 29, 2012, 04:58:27 AM »
rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri pak, begitu juga adie dulu pengennya yang macem2 tapi setelah beberapa lama dengan bapak yang macem2 berubah jadi satu macam

maaf pak sekarang jadi jarang silaturahmi

gak apa-apa die! saya ngerti kok, kalo programer selalu sibuk. yang penting kamu sekeluarga selalu dalam keadaan sehat saja.

sering-sering aja mampir ke forum ini!
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1062
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 21
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Maharina dan Saraswati
« Jawab #4 pada: Juli 29, 2012, 10:48:15 AM »
Amien pak, semoga bapak dan sekeluarga juga selalu dikasih yang terbaik oleh ALlah swt
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
10 Jawaban
6199 Dilihat
Tulisan terakhir November 08, 2012, 10:58:26 AM
oleh ratna
2 Jawaban
3826 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 06, 2013, 05:53:02 AM
oleh Abu Zahra
1 Jawaban
1816 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 10, 2013, 08:50:53 PM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
1167 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 25, 2014, 07:31:55 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
508 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 22, 2015, 10:28:22 PM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
1311 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 16, 2015, 11:20:03 AM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
717 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 26, 2015, 07:21:52 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
602 Dilihat
Tulisan terakhir April 07, 2015, 12:04:12 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
540 Dilihat
Tulisan terakhir April 14, 2015, 12:52:52 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
402 Dilihat
Tulisan terakhir April 30, 2015, 11:39:10 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan