Penulis Topik: Kebusukan  (Dibaca 1197 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Kebusukan
« pada: September 25, 2012, 10:34:59 AM »
  Aku memiliki sebuah gigi busuk di mulutku. Gigi yang menyusahkanku. Selama siang hari gigi itu terlelap, tenang. Namun dalam ketenangan malam, ketika dokter gigi tidur dan toko obat tutup, rasa sakit itu pun muncul.
  Suatu hari, sepertinya ketidak sabaranku bertambah, aku pergi kedokter gigi itu dan memintanya untuk mencabut gigi terkutuk itu. Gigi yang menyebabkanku sengsara dan menghalangiku merasakan kebahagiaan tidur. Kesunyian malam berubah menjadi erangan dan kegaduhan.
  Dokter itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata," bodoh, jika harus mencabut gigimu,  kami bisa mengobatinya."
  Kemudian dia mulai mengebor tepian gigiku menggunakan berbagai peralatan unttuk memulihkan dan membebaskan gigiku dari pembusukan. Setelah selesai mengebor, dia mengisinya dengan emas murni dan berkata dengan penuh kesombongan, Sekarang gigimu yang rusak telah menjafdi lebih kuat dan lebih kokoh daripada gigi yang bagus lainnya." Aku percaya padanya dan membayarnya serta meninggalkan tempat itu.
  Namun belum satu minggu berlalu, gigi terkutuk itu kembali pada penyakitnya semula dan beban siksaan itu mengubash nyannyian indah jiwaku menjadi ratapan dan penderitaan yang  begitu mendalam.
  Maka akupun pergi kedokter gigi yang lain dan berkata padanya," cabut gigi terkutuk ini tanpa pertanyaan apapun, sebab seseorang yang menderita sakit tidak sama dengan seseorang yang hanya memperhitungkannya."
  Dia pun mencabut gigiku, mematuhi perintahku. Dia mengamati gigiku dan berkata," gigi busuk itu sudah dicabut, kamu harus merawatnya dengan baik."
 
  Dalam mulut Masyarakat ada banyak penyakit gigi bahkan sampai membusukkan tulang-tulang rahang. Tetapi masyarakat tidak membuat upaya untuk mencabut mereka dan melenyapkan penderitaan mereka. Dia mengisi dirinya dengan isian emas. Beberapa dokter gigi mengobati gigi-gigi masyarakat ini hanya dengan gemerlap emas.
  Mereka banyak yang menyerah pada bujukan beberapa pembaharu, penyakit, dan rasa nyeri, serta kematian adalah nasib mereka.
  Dalam mulut bangsa sssyiria ada banyak gigi yang busuk, hitam, kotor bernanah dan berbau busuk. Para dokter lebih memilih berusaha mengobati dengan sisan emas daripada dengan pencabutan. Dan penyakit itu masih tetap ada.
  Sebuah bangsa dengan gigi-gigi busuk adalh malapetaka bagi penderita sakit perut. Beberapa bangsa menderita dengan ketidaksanggupannya mencerna.
  Jika kamu berharap dapat mengamati  gigi-gigi busuk bangsa syiria, kunjungilah sekolah-sekolah dimana putra putri mereka pada hari ini dipersiapkan untuk menjadi laki-laki dan perempuan dewasa di esok hari.
  Kunjungilah pengadilan dan saksikanlah penyelewengan-penyelewengan dari bajingan dan penyuap-korup keadilan. Lihatlah betapa mereka mempermainkan pikiran dan perasaan rakyat seperti kucing bermain-main degan tikus.
  Kunjungilah rumah-rumah orang kaya dimana kesombongan, kebohongan dan keminafikan merajalela.
  Tetapi jangan menyianyiakan kesempatan untuk melewati gubuk-gubuk orang miskin, dimana ketakutan kebodohan dan kekecutan hati menghinggapi mereka.
  Kemudian kunjungilah dokter gigi dengan jari jemari yang cekatan, pemilik peralatan-peralatan lunak, plester gigi dan obat-obat penenang, yang menghabiskan hari-hari mereka untuk mengisi lubang-lubang pada gigi-gigi busuk dari sebuah bangsa untuk menutupi kebusukan mereka.
  Bicaralah pada para pemb uat perubahan, yang bersikap sebagai intelegensia bangsa syiria dan banyak mengatur masyarakat, banyak mengadakan konferensi-konferensi, serta banyak menjadi perbincangan masyarakat. Ketika kamu berbicara kepada mereka kamu akan mendengar irama yang barangkali lebih agung daripada suara gemeretak batu gerinda, dan lebih mulia daripada bunyi kuak kodok-kodok pada malam hari di bulan juni.
  Ketika kamu bercerita tentang bangsa syiria yang sedang menggerogoti rotinya dengan gigi -gigi busuk, mengunyahnya dengan saliva beracun sehingga menyebabbkan sakit perut alam perut bangsa ini, mereka pun menjawab,"ya, tetapi sedang mencari isian gigi dan obat-obat penenang yang lebih baik."
  Dan jika kamu menyarankan 'pencabutan' kepada mereka, mereka akan mentertawakan kamu sebab kamu belum belajar seni agung dari ilmu kedokteran gigi yang dapat menyembunyikan penyakit ini.
  Jika kamu memintanya dengan tegas, mereka akan pergi menjauh dan menghindarimu, dan berkata kepada diri mereka sendiri:
  "Banyak orang idealis di dunia ini, dan kelemahanya adalah impian mereka."


Kahlil Gibran
« Edit Terakhir: September 25, 2012, 10:45:56 AM oleh ratna »
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: Kebusukan
« Jawab #1 pada: September 25, 2012, 10:45:10 AM »

  Ada apa dengan Kahlil Gibran terhadap bangsa Syiria? sedangkan dia adalah seorang Lebanon?

  Tidaklah saya posting ini karena kebencian saya kepada bangsa Syiria , sama sekali tidak, atau perasaan yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Kahlil Gibran, tetapi sekedar ibrah yang bisa diambil sebagai bahan instrospeksi bagi kita sebagai bangsa.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re: Kebusukan
« Jawab #2 pada: September 25, 2012, 01:59:29 PM »
gajah mati meninggalkan gading.
pujangga mati meninggalkan syair, sajak, puisi, cerpen, novel roman dan metafora
kita mati mau meninggalkan apa?

Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: Kebusukan
« Jawab #3 pada: September 26, 2012, 10:34:11 AM »
  Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama, kemudian kita mati meninggalkan apa? tentu saja kita akan meninggalkan nama karena kita adalah manusia. Hanya kemudian nama apakah yang akan kita tinggalkan? nama baik atau nama yang buruk. Nama yang akan membuat wangi keluarga, tempat tinggal, komunitas dan lain-lain atau sebaliknya. Kemudian nama hanya akan disebut jika nama itu menghasilkan suatu karya. Apapun hasil karya itu, yang penting karya itu dikenal tak peduli apakah karya itu menyebabkan kebahagiaan atau penderitaan. Kemudian ada pertanyaan' kita mati mau meninggalkan apa'? JIka ada yang mau meninggalkan sesuatu maka pasti ada yang tak mau meninggalkan sesuatu, jika ini benar, berarti ada dua pilihan, apakah mau meninggalkan sesuatu itu atau tidak? benar demikian kang?

 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re: Kebusukan
« Jawab #4 pada: September 26, 2012, 04:32:02 PM »
Sip. Benar sekali. jawaban yang mantap, kang!
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan