Penulis Topik: Gadis Penebar Bunga  (Dibaca 2829 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Gadis Penebar Bunga
« pada: Maret 20, 2014, 12:55:56 PM »

Aku keluar dari kamar mandi, dengan berbalut handuk menutupi pinggang sampai lutut. Ah, memang mandi di pagi hari itu menyegarkan. Kulihat jam di dinding. Masih jam lima seperempat. Aku masih punya sedikit waktu untuk berpakaian, serta menyiapkan materi kuliah nanti.


Ini adalah hari ketiga, aku menempati kamar kost ini. Alasan utama mengapa aku memilih untuk sewa kamar, adalah karena jarak dari kampus ke rumah yang amat jauh. Aku tak sanggup, jika harus bangun jam tiga pagi setiap harinya, dan berangkat jam empat hanya agar bisa sampai tepat waktu jam tujuh nanti di kampus. Ya, rata-rata jam kuliah di kampusku adalah pagi hari. Dan sialnya, rute dari rumah ke kampus adalah rute macet.


Hari pertama dan kedua kulewati dengan beres-beres kamar dan memindahkan barang-barang. Baru menjelang malam pada hari kedua, semuanya selesai. Beres, dan rapi. Aku suka saat semuanya terorganisir, tidak berantakan. Dan karena itu pula, aku terpaksa tidak masuk kuliah selama dua hari. Tapi tidak apa-apa, karena tempat tinggalku sekarang dekat dengan kampus. Aku bisa mencapainya, bahkan hanya dengan berjalan kaki. Dan, bukankah jalan kaki di pagi hari itu menyehatkan raga, bukan?


Jarum kini menunjukkan pukul setengah enam pagi. Saatnya berangkat. Aku telah selesai berpakaian, juga mengepak buku-buku ke dalam tas. Ayo, mulai hari baru dengan menghirup udara segar!



Hari pertama aku berjalan di tepi, menyusuri jalan raya yang masih lengang. Kuhirup sepuasnya udara pagi ini, anggap saja memberi kesejukan kepada paru-paru. Fajar yang merangkak naik, perlahan menggeser dominasi malam dan bintang-bintang. Langit pagi ini yang teduh, agak mendung namun menghembuskan hawa kesejukan.


Suasana pagi ini masih sepi, hanya ada beberapa orang yang lalu-lalang, sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dan aku, masih asyik melangkahkan kaki sambil mendengarkan lagu lewat headset.


Ada satu yang menarik perhatianku. Kelopak bunga, bertebaran di sepanjang tepi jalan yang kulewati, sekitar lima puluh meter dari gang tempat aku keluar. Dan tak jauh di depan sana, berdiri seorang perempuan muda, memakai gaun terusan hitam, berbalut cardigan, serta membawa keranjang. Ia, terus berjalan perlahan, menebarkan kelopak bunga di sepanjang kakinya melangkah. Aneh. Untuk apa ia menebar bunga?


Aku menepis pikiran itu, kemudian melanjutkan perjalanan. Aku berpapasan dengannya, memperhatikan setengah wajahnya yang tertutup poni panjang.


"Permisi," ujarku.


Perempuan itu mengangguk pelan, kemudian berbalik arah dan kembali menebar bunga. Sejenak aku menoleh ke belakang. Tepat di sampingnya, terdapat tumpukan sampah yang menggunung. Menimbulkan bau busuk menyengat. Aku berpikir, mungkin ia melakukan hal tersebut untuk sedikit mengusir bau busuk sampah-sampah itu. Entah, aku tak lagi perduli.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Gadis Penebar Bunga
« Jawab #1 pada: Maret 20, 2014, 12:56:46 PM »
Hari kedua aku berangkat ngampus dengan berjalan kaki. Kali ini aku berangkat lebih pagi, karena ada materi kuliah yang harus aku pelajari, dan sialnya, referensi lengkapnya ada di perpustakaan kampus. Maka, sebelum mulai jam kuliah, sebisanya aku mempelajari materi tersebut dan membuat beberapa rangkuman.

Aku kembali menyusuri jalan raya. Berjalan agak tergesa, mengingat waktu yang kupunya tak banyak. Sekitar lima puluh meter dari gang, aku kembali berpapasan dengan perempuan yang kulihat kemarin. Ia memakai cardigan yang sama, namun dengan gaun yang berbeda warna. Perempuan itu, masih sibuk menebar bunga di sepanjang tepi jalan. Sejenak, ia memperhatikan tumpukan sampah yang semakin menggunung. Dan aku, entah mengapa sedikit merasa penasaran dengan apa yang dilakukannya.

Aku mendekat, ingin menyapa. "Pagi," salamku padanya.

Perempuan itu mengangguk pelan, sikap yang sama yang ditunjukkannya kemarin. Namun kali ini, aku berinisiatif untuk memulai pembicaraan.

"Tiap hari disini?"

Perempuan itu hanya mengangkat bahu. Kemudian kembali menebar bunga. Aku yang merasa tak digubris, bersungut-sungut kesal. Dan aku tersadar, ada hal yang lebih penting untuk ku urus. Maka, aku kembali bergegas melanjutkan perjalanan.

"Permisi," ujarku, disertai anggukan.

Wanita itu membalas dengan anggukan juga. Sejenak, aku menoleh ke belakang. Menatapnya, menebak-nebak apa reaksinya saat aku pergi menjauh. Diluar dugaan, ia tersenyum. Simpul, namun misterius. Sebuah senyum kecil, tersungging dari bibir yang tipis. Membuatku merasakan percampuran sensasi antara merinding, juga senang berbunga-bunga.

Aku kembali melangkah, mempercepat tempo untuk sampai secepatnya ke kampus. Meninggalkannya yang kembali sibuk menebar bunga.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Gadis Penebar Bunga
« Jawab #2 pada: Maret 20, 2014, 12:58:10 PM »
Hari ketiga aku ber-jogging pagi, serta hari kelima aku menempati kamar kost. Jadwal kuliah memang lebih santai hari ini, namun aku sengaja tetap berangkat lebih pagi. Ya, ada satu alasan khusus. Gadis itu, ia berhasil membuatku penasaran. Memaksa benakku memikirkannya, serta hal yang rutin ia lakukan; menebar bunga. Membuatku larut dalam jam-jam penuh kesia-siaan. Menatap kosong ke atap, sambil merebah pasrah di atas ranjang.

"Gue mesti ada progress hari ini, seenggaknya tau alesannya nebar bunga tiap hari."

Aku, sekali lagi, menyusuri tepi jalan yang masih lengang. Dan, yang kuharap pun ada disana. Perempuan itu, berdiri di tepi jalan, menebar bunga ke jalur yang dilewatinya. Bolak-balik, terus begitu. Aku begitu asyik memperhatikannya. Perlahan, muncul keberanian untuk mendekat. Siapa tahu, hari ini ada kemajuan dan bisa lebih dekat dengannya.

"Pagi, gadis penebar bunga," aku memberi salam padanya.

Ia menatapku, lewat celah poni yang menutupi matanya. Dapat kulihat, sorot mata yang dingin dan muram. Teduh, namun menyimpan kemisteriusan. Aku kira, sikapnya akan seperti hari-hari yang lalu, mengangguk pelan lalu tak menggubris perkataanku.

Diluar dugaan, ia tersenyum simpul padaku. "Kok kamu panggil aku begitu?" tanya sang gadis.

Aku mengangkat bahu, kemudian berkata, "entah, saya cuma ngomong sesuai dengan apa yang saya lihat. Kamu, tiap hari nebar bunga disini kan?"

Ia tertawa, menutupi bibir tipisnya dengan sebelah tangan. Diluar dugaan, ia cukup manis saat tertawa. Seakan, semua kemisteriusan itu sirna. Lenyap, ditelan riang tawa.

"Iya, udah jadi rutinitas belakangan ini. Sampah disini semakin menggunung. Aku gak mungkin angkut sampah-sampah ini, jadi, cuma ini yang bisa aku lakukan."

Aku memotong ucapannya, "menebar bunga?"

Ia mengangguk. Lalu mengambil sejumput kelopak bunga, kemudian kembali menebarnya di sisi tumpukan sampah. "Tumpukan sampah itu akan semakin terlihat buruk, jika gak ada penghias. Setidaknya, aku membuatnya terlihat sedikit lebih baik."

Aku mengamini ucapannya. Memang, ada kesan berbeda saat kuperhatikan lebih seksama. Tumpukan sampah itu tak lagi terlihat mengerikan. Yang jadi pertanyaan, kemana otak warga yang membuang sampah disitu? Dan kemana para petugas, yang berkewajiban mengurus sampah ibukota? Ah, selalu. Mereka menganggap ini hanya masalah kecil, tunggu besar dan diprotes, baru ambil tindakan.

"Oh iya," aku menjulurkan tangan, "Febi."

"Fafa," ujarnya, seraya menyambut tanganku.

Aku melirik ke jam di pergelangan tangan. Sudah waktunya meneruskan perjalanan. Aku kemudian mohon pamit kepada perempuan muda di depanku.

"Besok masih ada kan?"

Fafa tersenyum, dan entah mengapa, aku suka melihat senyumnya itu. "Iya, pasti ada kok."

"Sampai ketemu besok, kalau begitu."

Aku melambaikan tangan, kemudian beranjak pergi. Fafa mengangguk pelan, namun kali ini disertai senyuman. Khusus ditujukan padaku.

Aku mempercepat langkah. Ada yang berbeda. Ada semangat yang tiba-tiba muncul dari diriku. Dan aku, anehnya, berharap hari ini cepat berlalu, agar esok dapat kembali berjumpa dengannya. Dengan Fafa, si gadis penebar bunga.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Gadis Penebar Bunga
« Jawab #3 pada: Maret 20, 2014, 12:59:29 PM »
Pukul setengah lima pagi, dan aku sudah bersiap untuk berangkat pergi. Terlalu dini untuk pergi ke kampus? Memang. Dan bukan kampus yang jadi tujuanku. Aku ingin menemuinya lagi. Fafa, gadis itu begitu menarik perhatianku. Membuatku larut dalam rasa penasaran akan kemisteriusannya. Atau, sikapnya yang kadang kelam, kadang riang. Ia, bagai dua sisi dari koin logam.

Aku berjalan agak tergesa-gesa. Kuperkirakan, jika pukul enam pagi saja ia sudah sibuk lalu-lalang menebar bunga, maka ia akan mulai melakukan aktifitas tersebut pada.... yap, sekitar jam lima. Aku harus menemuinya, menghabiskan waktu lebih banyak dengannya.

Aku telah sampai pada pinggir jalan yang terdapat tumpukan sampah di sisi paling kirinya . Bau busuknya benar-benar menyengat. Dan aku harus meludah beberapa kali, serta menutup hidung rapat-rapat. Meski begitu, aku tetap berdiri. Ikut mondar-mandir, menunggu kehadirannya. Entah, perkiraanku agak meleset. Di subuh ini, sosoknya belum muncul. Hanya ada aku, tumpukan sampah, serta nuansa dingin khas fajar yang akan menyingsing.

Langit yang masih gelap, ditambah hembusan angin dingin, membuatku harus merapatkan jaket yang kukenakan. Aneh, suasana pagi ini begitu sepi. Apa mungkin, karena aku yang terlalu pagi ada disini? Entah.

"Fafa kemana, ya? Apa jangan-jangan, dia gak dateng?" Aku menggumam, gelisah berharap-harap akan keberadaannya.

Iseng, aku memperhatikan tumpukan sampah yang menggunung itu. Tingginya hampir satu setengah meter, dan sepertinya lebih tinggi dari hari-hari kemarin. Terlebih baunya, ah, benar-benar membuat mual. Bau sampah ini, benar-benar busuk! Manusia tak berotak mana yang terus menerus seenaknya buang sampah sembarangan?

Sejenak, ada suasana hening tercipta. Aku tak lagi mendengar suara. Senyap. Pun dengan daun-daun pepohonan yang tak lagi melambai ringan. Terlebih, tak ada satupun kendaraan yang lewat jalan ini, padahal ini adalah salah satu jalan utama. Suara seperti ditelan oleh sesuatu. Ini seperti, hening yang menyeramkan. Langit yang masih gelap, menambah kesan seram. Serentak, bulu kudukku meremang hebat.

Disaat aku kebingungan dengan apa yang terjadi, mataku tetap menatap ke tumpukan sampah di depanku. Ya, seakan ada sesuatu disana. Yang kutakut, tiba-tiba akan menyeruak dan menerkamku, menyeretku masuk ke dalam tumpukan sampah itu dan tak pernah muncul lagi.

Aku memejamkan mata, berusaha mengusir rasa takut itu. Namun sia-sia, bayangan menyeramkan mulai menghantui benakku. Dan aku terpaksa harus kembali membuka mata. Namun, kali ini kualihkan pandangan.

Aku kemudian memperhatikan kelopak-kelopak bunga yang bertebaran di atas rerumputan dan di sisi tumpukan sampah. Bunga-bunga yang layu dan mulai membusuk. Ada kelopak mawar, anggrek, melati, dan kamboja.

"Sayang juga sih, Fafa mesti buang-buang bunga, cuma biar tempat ini gak jelek-jelek amat," gumamku.

Inisiatifku mulai berputar. Tumpukan sampah ini memang tak sedap dipandang mata. Dan tak akan ada yang mau mengangkutnya, jika tak dimulai dari diri sendiri. Maka, aku menyingsingkan lengan jaket, lalu mulai ambil tindakan mengurus sampah tersebut.

Degh...

Aku berhenti. Entah, rasa apa ini. Namun, ada perasaan tak enak yang tiba-tiba kurasakan. Seperti... seseorang yang memperhatikanku dari kejauhan. Siapa? Aku menengok ke sekitar. Masih sepi. Meski fajar mulai menampakkan wujudnya, namun masih belum ada tanda kehidupan yang lewat sini.

"....ssshhh..."

Satu suara tertangkap oleh indera pendengaranku. Suara yang mirip dengan bisikan, namun terdengar jelas di telinga. Aku kembali celingukan, berharap menemukan jawaban rasional atas suara yang tadi kudengar.

Krrssk..., krrsskk....

Ada suara lagi. Kali ini berasal dari tumpukan sampah di depanku. Dan, ada gerakan disana. Sampah-sampah itu bergerak, berguncang pelan. Aku perlahan menjulurkan tangan, mengecek apa yang membuatnya bergerak. Hampir sampai.... sedikit lagi, dan aku bisa tahu apa yang ada dibalik tumpukan sampah ini.

Kkrrssk, ssrrkk, krreessskk....

Tumpukan sampah itu kembali berguncang! Aku melompat mundur, kaget atas gerakan yang muncul tiba-tiba. Degup jantung berpacu cepat, aku memegang dada. Dadaku sesak dan sakit. Nafasku tersengal, naik turun tak beraturan. Mataku membelalak lebar, mencari-cari asal gerakan itu.

Satu tepukan keras di pundak, kembali mengagetkanku. Aku terlonjak, berteriak sekencang-kencangnya.

"Huwaaaaaaa......!!!"

Dada ini sakit sekali. Aku mencengkeram dada, nafasku makin parah tersengal. Aku didera efek kaget bukan kepalang, lemas lunglai dan hampir tak ada tenaga. Aku jatuh berlutut, bertumpu pada kedua tangan. Sekilas, mataku menangkap ada dua kaki yang berdiri, tepat di sampingku.

"Tong, ngapain dimari?"

Aku mencari sumber suara. Mendongak, dan kudapati seorang wanita paruh baya, berambut ikal dan memakai koyo di sisi keningnya. Alisnya terangkat sebelah, menatapku dengan penuh keheranan.

"Eh, itu... a-anu," aku mencoba mencari kalimat penjelasan yang logis, "..i-ini, la-lagi, mau ngubek sampah, mak. I-iya, mau beresin sampah-sampah ini sih," ujarku, agak terbata-bata.

Wanita itu menggelengkan kepala, lalu berujar, "hati-hati, ntar kesambet. Ini tempat angker tong, pagi aja serem, pegimana malem."

Aku bangkit, menepuk-nepuk lutut membersihkan celana dari remah-remah tanah yang menempel. "Iya, mak," ujarku mengamini ucapannya.

Wanita itu berlalu, dan ketika ia kini beberapa meter berada di depanku, aku teringat akan sesuatu. Buru-buru aku mengejarnya, untuk menanyakan sesuatu.

"Mak, mak." Ia menoleh, dan menghentikan langkahnya. "Suka liat ada cewek yang nebar bunga disini gak, mak? Biasanya sih dateng tiap pagi."

Wanita itu menggeleng dengan mantap. "Seumur-umur emak tinggal disini, belon pernah liat ada cewek yang nebar bunga. Tapi, kalo bunga-bunga yang ada disini, udah dari sekitar empat hari yang lalu. Tiap pagi, pasti ada bunga yang udah ditebar disini," jelasnya.

Tiba-tiba, rintik hujan turun dari langit. Ternyata, langit gelap itu pertanda akan mendung. Wanita itu buru-buru pergi, berlari kecil meninggalkanku sendiri. Aku memperhatikannya, yang sosoknya perlahan semakin kecil terlihat. Dan bersamaan dengan itu, ada siluet tubuh wanita yang perlahan namun pasti, menuju ke arah tempatku berdiri. Sekilas, ia berpapasan dengan si wanita paruh baya, tapi saling acuh. Wanita itu, membawa keranjang rotan dan payung hitam. Rambutnya yang lurus dan berponi, menutupi setengah wajahnya. Ia memakai gaun bermotif polkadot, dibalut dengan cardigan hitam. Agak gloomy, kurasa. Namun aku amat mengenalnya. Fafa, akhirnya kamu datang juga!

Aku buru-buru menghampirinya. Ada rona sumringah di wajahku, saat menyapanya. "Pagi, gadis penebar bunga. Hujan lho, masih mau nebar bunga?"

Ia menyibak poni, menatapku hangat. "Iya, cuma sebentar sih. Karena hujan juga. Kamu mau nemenin?"

Aku mengangguk mantap. Kami lalu berjalan beriringan, dan Fafa menebar bunga di sepanjang jalan yang kami lewati. Aku mencoba untuk memulai pembicaraan.

"Kamu ada alasan lain, kenapa harus menebar bunga?"

Fafa mengangguk, "ada. Aku selalu suka bunga, selalu ingin, tempat yang kusukai berhiaskan kelopak-kelopak bunga. Dulu, tempat ini begitu jadi tempat favoritku." Fafa mendesah berat, "tapi, semenjak tumpukan sampah itu ada, tempat ini kehilangan keindahannya."

"Terus, motif kamu suka bunga apa?"

"Tiap bunga mewakili perasaan aku. Mawar, misalnya. Aku itu orangnya berani, kadang penuh dengan perasaan meluap-luap. Dan anggrek, itu saat aku sedang kasmaran, rindu ingin disayang. Melati, sebagai perlambang saat aku menginginkan ketenangan. Dan, kamboja...," sejenak ia diam, "aku ingin, di tempat terakhirku nanti, ada yang selalu menaburkan bunga itu untukku."

Aku diam. Sejujurnya, Fafa adalah gadis yang aneh, menurutku. Namun ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku penasaran, ingin tahu lebih banyak tentangnya.

"Oh iya, kamu dari tadi sendirian ya?" tanya Fafa.

Aku menjawab enteng, "gak juga sih. Tadi ada ibu-ibu nemenin, sekalian nanya-nanya aja."

Fafa mengangkat sebelah alis. "Ibu-ibu siapa?"

"Itu, yang tadi papasan sama kamu. Masa gak liat?"

Fafa menggeleng, ia menatapku penuh curiga. "Enggak ada ibu-ibu yang papasan sama aku kok. Kamu yakin, kalo emang bener tadi ada ibu-ibu disini?"

Aku terhenyak. Kini, aku yang menatapnya curiga. "Jangan bercanda deh. Tadi beneran ada ibu-ibu, sumpah."

Fafa diam. Ia seakan ingin aku mempercayai ucapannya dengan sikap diam gadis ini. Aku kini kembali diselimuti rasa takut, wajahku langsung pucat pasi. Ada tetesan keringat dingin, perlahan mengalir turun dari dahi, menuju sisi wajahku.

"A-aku, ma-mau berangkat kuliah du-dulu, ya."

Fafa melambaikan tangan, sambil mengucap kata perpisahan. "Iyah, aku juga mau pamit. Hari ini gerimis, aku kurang nyaman."

Aku pergi meninggalkannya. Berjalan cepat setengah berlari, mengejar waktu. Tak kupedulikan gerimis yang semakin membasahi rambut dan jaketku. Aku hanya ingin secepatnya sampai di kampus, dan menepis pikiran jelek yang terlintas, bahwa tadi aku baru saja bertemu dengan hantu. Entah, aku tak mengerti namun aku percaya apa yang diucapkan Fafa.

Hujan mulai mengguyur dengan derasnya, dan kebetulan, satu angkot lewat. Aku mencegatnya, lalu naik. Ah, aman. Sekarang aku terlindung dari hujan.

Aku terus menatap Fafa dari kejauhan. Ia masih berdiri, memandangi tumpukan sampah dengan kedua mata sendunya. Dan hatiku, seakan teriris saat melihatnya. Melihat Fafa yang sedang berduka.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Gadis Penebar Bunga
« Jawab #4 pada: Maret 20, 2014, 01:01:02 PM »
Hari kelima, Seperti biasa, gadis itu sudah ada di tempat dimana ia biasa menebar bunga. Fafa, kini berpakaian persis saat pertama kali aku melihatnya. Aku berjalan mendekat, namun ada rona merah yang kurasakan, ya... karena mengingat-ingat kejadian di mimpi semalam. Pyash! Aku merasakan wajahku yang memanas.

"Pagi, Fafa. Gimana kabar hari ini?"

Fafa menatapku penuh arti. Sambil terus menebar bunga, ia menemaniku berjalan kaki. Aku memperhatikan ke bawah, dan lucu saat melihat langkah kami ternyata sama. Kiri, kanan, kiri, kanan. Senada, seperti satu hati.

"Kabar aku, lebih baik dari sebelumnya. Kamu mau berangkat kuliah? Aku temenin ya, sampai ujung jalan sana," ujarnya riang.

Aku mengangguk senang. Sepanjang perjalanan, dihiasi dengan obrolan tentang segala hal. Mulai dari cita-citanya yang ingin mendirikan toko bunga, sampai kepada makanan kesukaannya, yaitu salad buah.

"Febi, aku mau cerita sesuatu deh. Boleh?"

Aku menatapnya, kemudian mengangguk. "Cerita aja. Tentang apa sih?"

"Dulu, aku pernah baca cerita sedih tentang gadis yang menunggu dijemput pacarnya. Tapi, pacarnya gak pernah datang. Bahkan, sampai saat gadis itu meregang nyawa."

Aku penasaran. Rasa itu menggelitik, mencoba mencari tahu lebih dalam. "Coba, ceritain detilnya deh."

"Jadi ceritanya gini. Ada seorang gadis, yang sudah berpacaran lama dengan seorang pemuda. Cukup lama sampai memakan waktu tahunan. Seperti halnya pasangan yang lama memadu kasih, maka akan terjadi kerenggangan dalam hubungan mereka. Tapi sayang, waktunya tidak tepat." Fafa kembali larut dalam kemuraman, dan jujur saja, hatiku teriris saat melihatnya. "Suatu hari, si gadis pulang kerja. Namun karena terlalu larut, maka tak ada angkutan umum yang melewati jalurnya pulang. Si gadis berinisiatif menelepon sang pacar, meminta pacarnya untuk datang dan menjemputnya. Sayang sekali, yang terjadi malah cekcok. Sementara pacarnya masih sibuk dengan urusan pribadi, dan memberi pilihan kepada si gadis untuk menunggu atau pulang sendiri."

"Si gadis marah, dan nekat untuk pulang dengan berjalan kaki, seraya mengirim pesan kepada si pemuda untuk tetap menjemputnya. Sayang, ternyata telepon dan pesan itu adalah yang terakhir ditujukan kepada si pemuda. Si gadis, dirampok dan dibunuh di tengah jalan. Beberapa jam kemudian, mayatnya ditemukan telah bersimbah darah. Dan saat si pemuda mendapat kabar tersebut, dia tak pernah berhenti untuk menyesali diri sendiri. Lalu, si pemuda mendedikasikan hidupnya untuk menaburkan bunga di makam si gadis, setiap harinya. Pemuda itu sampai membuka toko bunga, dan menyisihkan bunga yang tak dijual, untuk diambil kelopaknya dan ditabur di makam sang gadis. Hanya dengan cara itu, si pemuda beranggapan bahwa dia bisa menebus dosa, perlahan meski tanpa kepastian."

Fafa menyudahi ceritanya dengan iringan desahan berat. Aku menangkap, ada kekalutan di wajahnya. Satu perwujudan dari rasa iri, seperti ingin menjadi gadis di ceritanya. Aku berinisiatif menggenggam tangannya. Malu, perlahan jemariku menempel dengan jemarinya. Fafa terperangah, menengok ke arahku lalu tersenyum. Jari kami, kemudian saling membelit. Kami saling menggenggam erat. Meski tanpa ada kata terucap.

"Kamu tau poin dari cerita aku? Ada satu lagi alasan khusus kenapa aku suka menebar bunga. Aku ingin, agar saat kematianku nanti ada pria baik yang menebar bunga untukku. Agar aku yakin, bahwa aku tak sendiri di dunia ini. Agar aku tau, bahwa masih ada orang yang mengingatku, serta mendedikasikan sebagian waktunya untuk mengenangku," ujar Fafa sambil menatapku.

Kami sampai pada ujung jalan. Dan aku, harus segera berpisah dengan Fafa, karena arahku dan arah Fafa berlawanan. Aku mengambil jalur ke kanan untuk ke kampus, sementara Fafa menuju ke kiri. Fajar yang menyingsing, semakin menambah kesan menyedihkan tentang perpisahan di pagi hari. Aku mengucapkan salam perpisahan padanya, yang dibalas dengan lambaian tangan dan tebaran bunga.

"Febi," dari kejauhan, Fafa berteriak memanggilku. "Besok, aku tunggu kamu disini sebelum matahari terbit, ya!" teriaknya.

Aku mengacungkan ibu jari, serta berseru, "pasti! Tunggu aku, ya!"

Kami berpisah. Dan aku, merasa ada satu getar. Entah, mungkin ini yang namanya benih cinta.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Gadis Penebar Bunga
« Jawab #5 pada: Maret 20, 2014, 01:01:49 PM »
Hari keenam. Dimana hari ini aku begitu bersemangat, ingin secepatnya bertemu dengannya. Si gadis penebar bunga.

Aku buru-buru berangkat, setelah selesai memakai parfum. Ada dua alasan. Pertama, ini gengsi. Masak seorang pria harus tampil dengan bau tak sedap di hadapan seorang wanita? Kedua, jalan yang kulewati terdapat tumpukan sampah yang, uhh, bau busuknya amat menyengat indera penciuman.

Pukul setengah lima pagi, dan ini waktu paling pagi bagiku untuk berangkat. Aku menatap langit yang masih diselimuti bintang, sambil tetap meneruskan perjalanan. Lamat-lamat salawat menjelang adzan subuh yang berkumandang sejenak menghentikan langkahku. Aku ragu. Haruskah melipir sejenak di masjid, atau tetap menemui Fafa? Dan siluet tubuh Fafa, membuatku terpaksa mengambil opsi kedua.

Aku berlari kecil menghampirinya. Melambaikan tangan seraya memanggil namanya. Entah apa yang kupikirkan, mau bertemu seorang gadis di pagi yang terlalu dini.

"Hai, selamat pagi Fafa," ujarku padanya.

Fafa diam, tenggelam dalam kebisuan. Gestur tubuhnya kaku, dan ia membiarkan setengah wajahnya kembali tertutup poni. Ia berjalan pelan, menjulurkan tangan dengan telapak yang terbuka, mengajakku untuk menggenggam tangannya.

Deghh...

Firasat itu kembali menghantuiku, saat kulitku menyentuh kulitnya. Dingin, sedingin es. Pagi ini, ada yang berbeda dari Fafa. Bibirnya membiru, wajahnya pucat pasi. Seputih salju. Raut wajah yang tak lazim untuk manusia, meski jika ia sedang sakit sekalipun. Namun begitu, aku tetap menggandengnya, berjalan beriringan dengannya.

Sepanjang perjalanan, Fafa seperti terusik oleh suara-suara lantunan adzan. Berkali-kali ia gelisah, bergeleng-geleng ke kanan dan kiri. Kadang, menggesek-gesekkan telinga dengan telapak tangan. Sering ia memejamkan mata, seperti sedang merasakan sakit yang amat sangat. Genggaman tangannya makin erat, dan aku paham, ada sesuatu yang dirasakannya. Maka dari itu, aku berinisiatif merogoh tas. Mengambil headset dan menyuruh Fafa memakainya.

"Makasih," ujarnya singkat.

Fafa menempelkan ujung headset rapat-rapat ke telinganya, menyumpal dari suara yang masuk. Dan aku, bahkan tak bisa menjelaskan kenapa aku bisa berpikir untuk memberi aksesori ponsel itu padanya. Ketika kumandang adzan selesai dilantunkan, Fafa seperti merasa lega. Ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya pelan. Lalu, ia menatapku dalam-dalam. Menggenggam kedua tanganku, saling berhadap-hadapan.

"Gak kerasa ya, ini hari ke enam aku ketemu kamu." Fafa semakin menggenggam tanganku erat. Ada rasa dingin yang menusuk dari telapak tanganku sampai ke pundak. Rasa yang, sulit untuk dijelaskan kata. "Banyak hal, yang meski tak begitu berarti, tapi cukup untuk buat aku ngerti," nada suara Fafa makin berat, "kamu bela-belain datang tiap pagi, yang meski sebenarnya belum jam kuliah kamu, untuk ketemu aku."

Aku mengernyit, "kamu tau darimana?"

"Dari waktu. Semakin kesini, kamu itu datang semakin pagi. Dan pernah, kamu nunggu aku, kan? Hebat, Febi. Aku pernah bertemu cowok kayak kamu, tapi itu dulu. Dengan kamu, aku serasa menemukan sosok itu lagi."

Aku menggeleng, memegang dagunya untuk menengadahkan wajahnya untuk terus menatapku. "Maksudnya apa sih, aku gak ngerti."

Fafa memelukku. Begitu erat.

Degh...

Jantungku serasa berhenti berdetak. Suhu tubuh Fafa begitu dingin. Teramat dingin bahkan sampai menusuk ke dalam tulang rusukku. Aku langsung menggigil kedinginan, dan refleks mendorong tubuh Fafa untuk melepaskanku. Namun dekapannya begitu erat. Ia tak mau melepas pelukannya. Terus menyiksaku dengan suhu tubuhnya yang dingin. Fafa, siapa kamu sebenarnya?

"Aku mau kamu ikut aku. Aku gak tahan, jika harus terus sendirian, Febi." Fafa mencengkeram punggungku, menancapkan kuku-kuku tajam nan dinginnya menembus kulitku. "Kamu, mau kan temenin aku?"

Suaranya berubah berat dan misterius. Ada ketakutan yang tumbuh semakin besar di dalam diriku, saat mendengar suaranya. Ya, aku yakin. Yakin sekali jika Fafa, bukan manusia biasa. Atau, lebih tepatnya, bukan manusia. Gadis yang mulai kucintai, ternyata bukanlah ras manusia. Dan aku berada dalam kebingungan, antara menyelamatkan diri, atau mengabulkan permintaan gadis yang kucintai.

Kuku-kuku itu semakin dalam menancap, menghantarkan aura dinginnya menyelusup di jaringan kulitku. Punggungku, seketika mati rasa. Suhu tubuhku menurun drastis. Wajahku mulai memucat, serta kulihat kedua tanganku yang sama pucatnya. Tolong, suhu dingin ini menusuk-nusuk tubuhku. Aku tak kuat. Ini benar-benar menyiksa! Dingin ini akan membunuhku. Tolong, aku akan mati!

Aku tersenyum, entah untuk apa. Kupaksakan tanganku untuk bergerak, menggapai rambutnya. Mengelus rambut itu perlahan, ditengah tubuhku yang menggigil kedinginan.

"Fafa, aku mulai sayang sama kamu. Dan, aku harap, kita bisa bersama. Tapi, aku sadar, kita gak mungkin bersama kan?"

Fafa mendongak, menatapku tajam. Ada kemarahan dalam sorot matanya. Kemarahan dan rasa takut yang tak bisa kujelaskan.

"Kamu gak mau nemenin aku? Iya?!"

"Sstt...," aku memotong pertanyaannya, "aku belum selesai ngomong. Jalan satu-satunya, aku harus ikut kamu. Iya, kan? Dan aku mau. Mungkin, kamu gak akan merasa kesepian lagi, setelah aku temani."

"Kamu akan kehilangan segalanya. Masa depan, juga keluarga. Sanggup?" Fafa memberiku satu pertanyaan sulit.

Aku mengangguk, mantap. Kucium keningnya. Membiarkan bibirku membeku saat bersentuhan dengan kening itu. Fafa kemudian memajukan wajahnya, membisikiku sesuatu.

"Terima kasih. Sekarang, tutup mata kamu. Oh iya," Fafa mencium bibirku yang membeku, "aku sayang kamu."

Aku menutup mata. Meresapi rasa dingin menyiksa, siap menjemputku menuju alam baka. Namun, ada suatu kehangatan yang menyusul. Hangat cinta Fafa, yang diberikannya khusus untukku.

Kesadaranku terenggut. Semua gelap, hening dan sunyi. Amat sangat gelap.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Gadis Penebar Bunga
« Jawab #6 pada: Maret 20, 2014, 01:05:24 PM »
Aku membuka mata, dan langsung mendapati diri tengah berada di kamar kost yang kutempati. Terbalut selimut, serta baju hangat. Siapa yang..., ah sudahlah, aku harus segera mencari tahu! Pukul berapa sekarang? Aku harus bertemu Fafa, sekali lagi!

Aku melihat jam di dinding. Pukul delapan pagi. Sial, ini pertama kalinya aku bangun sesiang ini. Semoga Fafa masih ada disana. Aku buru-buru melompat dari ranjang. Mencuci muka, lalu bergegas pergi.

Aku berlari sekencang mungkin, tak peduli dengan nafasku yang memburu. Aku harus bertemu dengannya, si gadis penebar bunga. Aku telah sampai di mulut gang, dan langsung mengarahkan pandangan ke jalan yang biasa kulewati. Ada kerumunan disana. Aku yakin, itu adalah kerumunan manusia. Ada yang tak beres!

"Permisi, permisi," aku menyeruak diantara kerumunan, untuk melihat lebih dekat tentang apa yang orang-orang ini saksikan. "Ada ap-," kata berhenti, saat aku melihat sesosok jasad terbujur kaku di atas rerumputan. Seluruh tubuhnya telah membusuk, dan ada bekas sayatan di lehernya. Aku kenal dengan gaun yang dipakai mayat itu. Terlebih, terlebih... wajahnya! Itu Fafa!
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Gadis Penebar Bunga
« Jawab #7 pada: Maret 20, 2014, 01:06:21 PM »
"Kalau aja petugas dinas kebersihan gak bersihin sampah itu, mayatnya gak akan pernah ketemu."

Tanganku mengepal. Ingin meninju mereka yang bicara sembarangan itu. Dan aku cukup mengenali wajah salah satunya. Ibu-ibu yang kujumpai pada suatu pagi di tempat ini. Ibu-ibu berambut keriting yang dulu mengagetkanku. Dan ternyata, ia sama jahatnya dengan orang-orang yang lainnya. Hanya bisa bicara. Tanpa ada tindak nyata. Kenapa tidak kalian saja yang bergotong royong mengangkut sampah ini? Kenapa tidak dari dulu, sehingga Fafa tidak harus tersiksa? Kenapa?!
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Gadis Penebar Bunga
« Jawab #8 pada: Maret 20, 2014, 01:06:40 PM »
Dan akhirnya, usaha beberapa polisi untuk menarikku dari jasad Fafa berhasil. Aku disandarkan pada sebuah batang pohon, sembari ditemani seorang lelaki. Wajahnya juga menyiratkan kekalutan, sama denganku. Ia seperti menahan tangis, berkali-kali wajahnya menghadap ke atas, berusah menahan laju air mata agar tak turun.

"Kenalkan," ia menjulurkan tangan, "Nara. Pacar Fafa. Berkali-kali saya menyusuri jalan ini, hanya untuk bisa melacak keberadaannya. Tapi, semua terlambat. Fafa yang aku sayang, sekarang telah pergi. Ironis, saya seharusnya ada disaat Fafa meminta tolong untuk dijemput." Ia menjambak rambutnya sendiri. Aku tahu, ia frustasi. "Saya egois, terlalu egois sampai harus mengorbankan orang yang saya sayang."

Aku menepis tangannya, merasa kalut dan marah. Entah, aku tak mengerti. Tak ada lagi yang bisa kumengerti saat ini.

"Fafa," aku menahan isak tangis yang hampir tak terbendung, "cuma mau ada yang menebar bunga di makamnya. Itu aja. Dia cuma pengen dikenang. Udah."

Aku bangkit, lalu meninggalkannya meratap sendiri. Meninggalkan kerumunan serta para polisi. Menarik diri, berdiam di sudut. Asyik mengenang saat bersama Fafa, yang tak kutahu itu adalah ilusi atau kah nyata.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Gadis Penebar Bunga
« Jawab #9 pada: Maret 20, 2014, 01:07:10 PM »
Selang sepuluh hari setelah ditemukannya jasad Fafa. Aku kembali menjalani rutinitas sebagai anak kuliahan yang sibuk dengan tugas. Namun, aku punya satu kesibukan baru.

Setelah bersiap-siap, aku memakai sepatu dan mengambil tas. Tak lupa keranjang rotan berisi kelopak-kelopak bunga. Aku begitu bersemangat, berangkat saat mentari masih malu untuk menampakkan wujudnya.

Aku menyusuri jalan yang biasa kulalui. Tampak di depan, seorang pemuda berdiri sambil menggenggam keranjang yang mirip dengan yang kubawa. Aku menyapanya, beradu telapak tangan lalu mulai berkata, "mulai sekarang gimana, Ra?"

Nara, mengacungkan ibu jari. Kemudian ia mengambil sejumput bunga, dan mulai menebarkannya diatas rerumputan. Aku melakukan hal yang sama. Kami saling menebar bunga, sampai seluruh bunga yang ada di keranjang habis.

Di depan sana, berdiri sesosok gadis dibalik batang pepohonan. Ia memakai gaun hitam, dibalut cardigan warna senada. Ia menyibak poni, lalu menyunggingkan senyum termanisnya. Aku tersenyum, membalasnya. Dan kulihat, Nara juga melakukan hal yang sama.

"Liat juga, Ra?"

Nara mengangguk. "Cantik ya, pacar gue?"

"Emang. Makanya gue sayang sama dia."

Nara tersenyum. "Kira-kira, siapa ya yang lebih Fafa sayang, gue, apa elo ya?"

Aku mengangkat bahu, kemudian mengajaknya untuk pergi dari tempat ini. "Main ke kampus gue, yuk. Kantinnya asik buat nongkrong. Kita bisa cerita-cerita disitu," tawarku padanya.

Nara berjalan menghampiri motornya. Lalu menyalakan mesin, dan menungguku naik di jok belakang. Sekilas, aku melambaikan tangan. Pertanda selamat tinggal, kepada Fafa.

Semoga kamu tenang disana, gadis penebar bunga.

(Terima kasih untuk andreeejf -> Guru Semprot)
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9342
  • Thanked: 57 times
  • Total likes: 385
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Gadis Penebar Bunga
« Jawab #10 pada: Maret 21, 2014, 01:05:03 AM »
panjang juga ceritanya.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Gadis Penebar Bunga
« Jawab #11 pada: Maret 21, 2014, 06:16:44 PM »
panjang juga ceritanya.

tadinya mau di show kan dikit tapi nanggung
ini cerita dari temen online username andreeejf , cerita nya ada yang gak ditulis sebagian (dipotong) karena cerita aslinya ada adegan mesum hehehehe

kalau ada cerita lain lagi nanti adie show kan disini mudah2an dengan melihat cara penulisan dan ide andreeejf  jadi bisa nulis sendiri, biar menuhin trhead Cerpen aja
« Edit Terakhir: Maret 21, 2014, 06:22:58 PM oleh kang radi »
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9342
  • Thanked: 57 times
  • Total likes: 385
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Gadis Penebar Bunga
« Jawab #12 pada: April 03, 2014, 09:24:42 AM »
intisari dari cerita ini bagaimana ?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline kang radi

  • Master
  • *
  • Tulisan: 1061
  • Thanked: 3 times
  • Total likes: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Kemelekatan yang tak terasa
    • Lihat Profil
Re:Gadis Penebar Bunga
« Jawab #13 pada: April 03, 2014, 10:23:28 AM »
intisari dari cerita ini bagaimana ?

wah harus belajar nulis dari pak asep nih,
maksudnya intisari itu apa ? apa seperti sinopsis atau tema atau inti cerita atau hikmah yang mau disampaikan ?

Kalau yang dimaksud adalah inti cerita berarti kisah ini menceritakan seseorang yang tidak sengaja (tidak tahu) bertemu dengan makhluk astral yang mati di bunuh preman untuk menyampaikan pesan bahwa mayatnya ada di balik sampah
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9342
  • Thanked: 57 times
  • Total likes: 385
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Gadis Penebar Bunga
« Jawab #14 pada: April 03, 2014, 10:07:39 PM »
terus ... pelajaran berharga atau pesan moral yang bisa ditangkap kang radi dari cerita tersebut apa ?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
10 Jawaban
4500 Dilihat
Tulisan terakhir September 27, 2012, 11:10:59 AM
oleh kang radi
0 Jawaban
1138 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 06, 2013, 04:52:40 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1559 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 22, 2014, 10:35:40 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
553 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 04, 2014, 10:01:20 AM
oleh Asep
0 Jawaban
544 Dilihat
Tulisan terakhir September 01, 2014, 12:46:24 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
478 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 21, 2015, 09:37:32 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
371 Dilihat
Tulisan terakhir September 12, 2015, 02:29:50 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
334 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 09, 2015, 06:46:34 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
146 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 02, 2017, 06:40:59 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
87 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 11, 2017, 03:49:34 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan