Penulis Topik: Eliya Yamani  (Dibaca 55 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9202
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Eliya Yamani
« pada: Oktober 27, 2017, 03:10:43 AM »
Daftar Isi
====================
1. Obers
2. Gaj Ahmada Yayat
3. Membela Kehormatan Istri
4. Penjaga Anak Gadis
5. Eliya Yamani
====================

5. Eliya Yamani
Edisi : 28 Oktober 2017, 01:31:36

Sukahurip, Kabupaten Cilacap, tahun 1927.

Kad Yaman, sedang pergi jauh ke negeri Yaman untuk suatu urusan pekerjaan. Dia memang sering pergi ke negeri itu, dan mengurus beberapa bisnis hingga enam atau tujuh bulan lamanya. Namun Kad, lahir di Indonesia dan mencintai negeri Indonesia. Dia menikah dengan seorang gadis cantik bernama Henifah Achyar, warga keturunan Yaman juga, dan dari buah cinta mereka berdua, pada tahun 1908, lahirlah seorang anak perempuan yang mereka namai Eliya Yamani. Sekarang Eliya telah berusia 19 tahun.

Tahun lalu, Kad pulang dari Yaman dengan membawa seorang pemuda tampan bernama Yed Nejjaf. Kad bermaksud menjodohkan Eliyah pada Yed. Namun rupanya Eliya tidak menyukai pemuda tersebut, walaupun pemuda tersebut tergolong kaya dan tampan. Kad dan Henifah berusaha membujuk Eliya, namun cinta tak bisa dipaksa. Untungnya Yed seorang pemuda yang baik, dia sendiri yang meminta agar Kad tidak memaksa Eliya untuk menikah dengannya. Dan lagi pula, sejak di Yaman mereka berdua sudah sepakat bahwa Yed akan ikut serta ke Indonesia untuk melihat Eliya. Jika saling suka, bolehlah Yed meminang Eliya. Kad akan merestuinya, karena persahabatan erat mereka berdua. Tetapi bila Eliya tidak menyukai Yed, maka Yed anggap kepergianyna ke Indonesia sebagai wisata saja.

Kad kembali ke Yaman, sengaja tidak membawa serta Yed. Kad meninggalkan Yed di rumahnya, berharap dengan pergaulan yang lama, ada bibit-bibit cinta yang tumbuh antara Yed dengan Eliya. Namun sudah lima bulan lamanya, tidak terlihat tanda-tanda Eliya menyukai Yed. Akhirnya, Henifah mencoba menjodohkan Eliya dengan anak saudaranya yang asli orang Cilacap, bernama Edi Ajra. Mula-mulanya terlihat tanda-tanda suka Eliya pada Edi, namun baru beberapa kemudian sikapnya berubah menjadi dingin kembali. Henifah membujuk rayunya, dengan mengatakan bahwa anak gadis sebesar dia sudah harus menikah. Malu sama tetangga kalau jadi perawan tua. Eliya menjawab, “Tapi aku tidak suka sama dia Ummi ....” Henifah hanya bisa menghela nafas. Tidak mudah mencarikan jodoh buat anaknya. Bukannya Eliya tidak cantik, tapi anak gadis si mata wayang ini jarang bergaul. Sehari-harinya di rumah saja. Tetapi sekalinya ada pria yang melihatnya, dipastikan langsung jatuh cinta karena kecantikannya. Karena kecantikannya pula, Eliya sangat dipingit oleh ibunya. Akhirnya, sekarang Eliya sulit mendapatkan jodoh.  Banyak lelaki yang menyukainya dari kalangan bangsawan, tetapi tak ada satupun yang menjadi pilihan Eliya.

Suatu hari Eliya duduk-duduk bersama Yed di teras rumah, sambil mendendangkan sebuah lagu berbahasa Yaman yang pernah diajarkan ayahnya. Kira-kiar artinya begini :

Mengapa kau pergi begitu lama
Saat kau jauh terasa begitu dekat
Ketika dekat terasa begitu jauh
Kapankah kau akan tiba kembali
Aku selalu sabar menanti

Joko Kandi, yang sedang menjemur padi-padi, menghampiri Eliya dan berkomentar, “Waduh... non ... suaramu sangat merdu ... aku suka sekali dengan lagu ini. Kira-kira aku mengerti artinya ... itu lagu tentang seorang yang pergi jauh dan lama. Iya kan ?”

Eliya tersenyum dengan senyumanya yang paling manis, “iya... kok kamu tah sih ... “

“Bapak mu sering menyanyikan lagu itu ketika dikebun, dan dia pernah ngasih tahu aku arti lagu itu sebait demi sebait. Entah mengapa ya non... kalau saya mendengar lagu itu, kok sepertinya lagu itu menyindir saya.” Kata Joko Kandi.

“Lho.. memangnya kamu hendak pergi jauh juga, Joko ?” tanya Eliya.

“entahlah non, ... sepertinya begitu ...” jawab Joko. “Eh.. permisi non, ... saya nerusin kerjaan dulu.

Sejak kecil, Joko memang bekerja bersama ayahnya membantu keluarga Kad Yaman mengurus kebun, ternak dan sawah. Tapi sekarang ayahnya Joko telah tiada, dan ibunya sudah tua renta. Dalam hati, Eliya selalu mengagumi Joko, anak yang periang, rajin, ramah, jujur, baik hati dan sangat berbakti pada orang tuanya.  Saat Eliya berkunjung ke gubuk Joko, yang atapnya terbuat dari ijuk, di situ serasa Eliya menemukan kedamaian yang penuh cinta. Walaupun berada di rumah gubuk bambu yang sudah tua, Eliya merasakan seakan hidup di sorga. Keluarga Joko selalu memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Bukan saja karena dia anak majikannya, tapi perlakuan terhadap dirinya, seperti perlakuan terhadap joko, anak mereka sendiri.

Sejak kecil, persahabatan Joko dengan Eliya sangatlah erat. Namun demikian, mereka seperti dipisakan oleh kelas sosial. Seringkali terbersit di hati Joko, bahwa dia mencintai Aliya, namun  sesering itu pula Joko menepis pikiranna itu, dan menganggapnya sebagai pikiran negatif. “Ah.. sebaiknya aku tidak berkhayal kejauhan. Aku harus menganggap non Eliya seperti si Roro Sari, adikku sendiri.

Demikian pula di dalam perasaannya Eliya, rasa sukanya pada Joko melekat erat. Namun, Eliya tidak berpikir bahwa itu adalah yang namanya cinta. Eliya masih polos dan lugu, tak tahu artinya cinta. Sejatinya Joko Kandi dan Eliya Yaman saling mencintai, namun keduanya bungkam seribu Bahasa.

Bahkan Henifah, kemudian meminta Joko untuk membujuk Eliya agar mau segera menikah.  Karena itu, ketika Eliya menghampiri Joko pada saat Joko sedang memberi makan bebek-bebek, Joko berkata, “Kamu mau menikah ya non ?”

“Idiiih.. siapa bilang ?” Eliya memukul lengnan Joko.

“Non... sudah waktunya menikah lo non .... aku pengen menimang ponakan ..he..he...” canda Joko.

“Aku sudah terlihat tu ya ? emang kamu ingin aku segera menikah begitu ?” tanya Eliya.

“Lha iya .... nanti ... kalau non Eliya gak menikah-nikah, temen-temenku bilang, `eh Joko kenapa tuh non Eliya belum menikah .... gak laku ya ... ya sudah... aku yang lamar aja ya...` kalau gitu gimana hayo... ?” canda Joko.

Eliya terdiam. Wajahnya cemberut. Dia berpikir, “Apakah wajahku jelek, sehingga tak ada lelaki gagah yang mau meminangku.  Bahkan ayahku harus mendatangkan pria dari negeri Yaman untuk menjadi suamiku.” Eliya tertunduk, matanya berkaca-kaca. Dia segera balik badan, tak mau Joko melihatnya meneteskan air mata. Dia lari ke dalam rumahnya dan membenamkan dirinya di bantal.

Sejak hari itu, ucapan Joko selalu terngiang-ngiang. Membuat hatinya terasa hancur. Semakin terkenang ucapan Joko, semakin rasa tak percaya diri. Dia juga jadi sering memikirkan perkataan bibinya, bahwa kalau perempuan terlalu pilih-pilih, nanti Tuhan tak mau kasih jodoh.

Sementara Joko sendiri jadi kepikiran Eliya terus. Dia merasa bersalah dengan ucapannya, karena melihat Eliya tersinggung dengan perkataannya. Keesokan harinya, Joko berusaha menemui Eliya, namun Eliya tak mau keluar kamar. Joko semakin gelisah, tak salah lagi, Eliya sangat marah padanya.

Sudah dua minggu lamanya, Joko tidak melhat Eliya. Senja hari, ketika pulang ke rumahnya, ibunya Joko dengan gusar memberikan sepucuk surat, “Joko, ... ini tadi non Eliya memberi surat buat kamu... sebenarnya ada apa.... kenapa wajah non Eliya terlihat murung dan pucat ?”

“Entahlah bu... aku juga enggak tahu... dua minggu lalu... aku membujuknya untuk segera menikah... itu juga kan karena ibunya, memintaku untuk membujuk Eliya.” Jawab Joko.

Ibunya Joko tertegun.  Dugan-dugaan yang selama ini terbersit, bahwa ada cinta diantara anaknya dan non Eliya, sekarang dugaan itu semakin kuat. Tapi tak ada kata apapun yang diucapkannya lagi. Ibunya Joko langsung pergi ke dapur untuk memasak.

Joko membaca surat dari Eliya.

"Joko, ...
Aku memang gadis yang jelek, sehingga tak ada lelaki yang mau melamarku. Bahkan ayahku, harus mencari pemuda dari negeri Yaman untuk menjadi suamiku. Aku tidak menyukai dia. Tapi aku tidak mau membuat kamu malu, karena memiliki teman perawan tua. Maka sudah kupikirkan matang-matang, bahwa aku akan menerima lamaran Yed dan menikah dengannya. Semoga kamu senang dengan keputusan ini".

Joko termangu ... mengapa Eliya tidak menemuinya dan bicara langsung. Mengapa harus melalui surat yang dititipkan ke ibunya. Mengapa Eliya harus menikah karena marah pada ucapannya minggu lalu, padahal Eliya tidak menyukai Yed. Seribu tanya bergema di dalam hatinya. Namun tak ada jawaban. Dan tak ada yang dapat dilakukan. Joko benar-benar menyesali perkataannya.

Henifa gembira, bahwa putrinya telah setuju menikah dengan Yed, pemuda Yaman, rekan bisnis ayahnya. Yed pun sangat gembira.  Dia akan pergi ke Yaman untuk menjemput dan meminta restu orang tuanya serta mengabari Kad, ayahnya Eliya yang masih di Yaman. Yed akan kembali ke Indonesia segera bersama mereka semua.

Melihat kegiaran Yed, hati Eliya berdebar, dia bertanya-tanya dan mulai ragu dengan keputusannya, apakah keputusannya benar, ataukah dia telah membuat keputusan yang akan dia sesali seumur hidup ? entahlah. Tapi kata telah diucapkan, kini Eliya telah terikat oleh janjinya sendiri.


Hari demi hari yang dijalani, Eliya semakin merasa tertekan. Ia merasa bahwa telah membuat keputusan yang salah. Karena kegelisahan yang mendalam, akhirnya Eliya jatuh sakit. Saat ayahnya besama keluarga Yed tiba di Sukahurip, kondisi Eliya sudah sangat mengkhawatirkan. Tabib-tabib sakti telah didatangkan, tapi tak ada perkembangan. Keadaan Eliya semakin buruk. Dan sekarang, sudah tiga malam berturut-turut kondisi Eliya seperti kejang-kejang, sebagian orang mengatakannya kesurupan. Henifah terus menerus menangis, memikirkan anaknya yang mengkhawatirkan.

Dalam demamnya yang tinggi, Eliya memanggil-manggil nama Joko. Semua orang terperanjat, mengapa Eliya memanggil-manggil Joko. Tabib bertanya, “Siapa itu Joko ? sebaiknya panggilah dia kemari !”

Di malam gelap dan turun hujan, Kad segera pergi ke rumah Joko yang berjarak kira-kira 500 meter, meminta Joko dan ibunya untuk datang. Tentu saja, Joko dan ibunya bukan baru tahu keadaan Eliya. Mereka berdua, juga bersama Roro Sari sering menjenguk Eliya. Bahkan dua hari yang lalu, baru saja mereka menjenguk Eliya. Ibunya Joko membawakan makanan-makanan kesukaan Eliya, namun  percuma saja, Eliya sudah kehilangan nafsu makan. Tapi Eliya terlihat senang ketika dikunjungi oleh Joko dan ibunya.

Setibanya di rumah Kad, keadaan Eliya sangat merisaukan. Dia terlihat kejang-kejang, semua perempuan yang ada di situ terlihat terisak, seolah menyangka Eliya akan pergi untuk selamanya. Tapi ajaib, ketika Joko menyentuh tangan Eliya, serta merta Eliya menggenggam erat tangan joko dan mulai menjadi tenang. Eiiya terlhat menjadi pulas. Joko bemaksud beranjak dari situ dan melepaskan genggaman tangan Eliya, namun Eliya tak melepaskannya dan menggenggam semakin erat. Joko bingung, ... dia sangat kasihan dan juga senang menenangkan Eliya dengan cara itu, tapi juga khawatir dipandang tak sopan. Dia memmadang ke arah Kad, dengan sorot matanya dia bertanya, apa yang mesti dia lakukan. Pak Kad menganggukan kepala, memberi isyarat agar Joko mengikuti kemauannya Eliya.

Sekarang nyatalah bagi semua orang, bahwa antara Eliya dan Joko bukan hanya ada rasa pertemanan, tapi ikatan cinta telah tumbuh di hati mereka. Henifah juga berpikir demikian, tapi dia pikir, perempuan tidak selalu harus mengikuti perasaannya, melainkan harus melakukan apa yang layak untuk dilakukan. Eliya sudah memutuskan untuk menikah dengan Yed, dan sekarang Yed dan keluarganya telah datang dari jauh untuk menagih janji Eliya. Itu harus dipenuhi demi kehormatan keluarga.

Joko terkantuk-kantuk .... namun tangannya tak juga dilepaskan Eliya. Sepertinya Eliya tertidur pulas, tetapi apabila Joko mencoba melepaskan genggamannya, Eliya terbangun dan memperat kembali genggamannya. Joko tidak dapat menolak. Terkadang Eliya menarik tangan Joko dan mendekapkan ke dada nya. Tentu saja, hal itu membuat Joko menjadi merasa gugup dan serba salah. Karena  itu merupakan bagian sensitif dari perempuan. Sementara itu, selama ini Joko belum pernah menyentuh perempuan.  Henifah pun tidak suka melhat hal itu, melihatnya sebagai perbuatan tidak terpuji hingga terucap istighfar dari lisannya, lalu mencoba melepaskan genggaman tangan Joko. Namun Eliya tak mau. Dia membuka matanya, dan memandang ibunya dengan sorot mata yang memelas, memohon agar ibunya mengizinkan dirinya memeluk tangan joko di dadanya. Karena keadaan putrinya yang memprihatinkan, Henifah tak kuasa untuk menolak kemauan anaknya.

« Edit Terakhir: Oktober 28, 2017, 01:34:19 AM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9202
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Eliya Yamani
« Jawab #1 pada: Oktober 27, 2017, 03:10:55 AM »
Henifah tertidur di sisi Eliya. Sementara Joko duduk di kursi, disamping ranjang Eliya sambil terkantuk-kantuk. Tangannya tetap didekap erat oleh Eliya. Dalam keadaan setengah tidur, tiba-tiba Joko merasa jari telunjuknya menjadi basah dan hangat. Dalam keadaan ngantuk berat, Joko membuka matanya, betapa terkejutnya Joko karena dia melihat ujung jarinya dikulum oleh Eliya. Tetapi Eliya terlihat tidur pulas, seperti bayi yang mengemut ibu jarinya ketika tidur. Joko tambah panik ketika Henifah terbangun dan mengetahui kondisi tersebut. Henifah terperanjat dan kemudian membangunkan suaminya serta menunjukan apa yang dilakukan oleh Eliya.

Kad membangunkan putrinya dengan pelan. Lalu membujuk Eliya untuk melepaskan jari telunjuk Joko dari mulutnya. Eliya meneteskan air mata dan berkata, “ayah,... ketika aku mendekapkan tangan Joko ke dadaku, aku merasa tenang dan nyaman. Ketika saya menghisap jari telunjuk Joko, terasa darahku berdesir, semangaku bangkit, dan aku merasa sembuh. Ayah... apabila ayah ingin melihatku sembuh, izinkanlah aku.”

Kad bingung. Dia ingin anaknya sembuh, tapi juga tidak ingin melihat anaknya melakukan hal-hal tercela. Lalu Kad bertanya, “Nak... apakah kamu mencintai Joko ?”

Eliya memaling wajahnya, air matanya berjatuhkan ke atas bantal. Tak perlu jawaban lagi. Semuanya sudah jelas, Eliya mencintai Joko. Tapi Kad masih ingin bertanya pada Joko, “Nak Joko, apakah kamu mencintai Eliya ?”

Joko tertunduk, “saya menyayangi Eliya seperti menyayangi Roro Sari, adik saya, Tuan. Saya tidak berani mempunyai perasaan lebih dari itu.”

Kad berkata, “Joko, .... putriku tidak menganggapmu sebagai kakaknya. Dia mencintaimu. Apabila kamu juga mencintainya, kami akan merestui kalian berdua untuk menikah. Yang penting sekarang, Eliya dapat sembuh dulu. Jadi, sekali lagi, apakah kamu mencintai putriku ?”

Pelan dan malu, Joko menjawab, “iya.. Tuan.”

Berat bagi Kad dan istrinya untuk merestui Joko dan Putrinya, akan tetapi jika itu adalah kebahagiaan bagi putrinya, mereka rela mengorbankan keinginan mereka sendiri. Mereka tak ingin kehilangan putrinya.

Untungnya Yed dan Keluarganya adalah orang-orang yang berhati baik. Setelah Kad memohon maaf dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, Yed dan keluarganya menerima dengan lapang dada. Tak lama kemudian mereka terbang kembali ke Yaman.

Hari demi hari, keadaan Eliya semakin membaik. Wajahnya kembali berseri dan bercahaya. Rasa bahagia, memang merupakan obat yang paling mujarab untuk segala penyakit. Setelah Eliya benar-benar pulih, Kad dan Henifa mempersiapkan pernikahan Joko dan Eliya.

Sebelum menikah, seorang guru spiritual yang merupakan guru dari Kad, memberi wejangan pada Joko dan Eliya, bahwa sebaiknya mereka menahan diri untuk tidak melakukan hubungan intim selama 40 hari pertama setelah menikah. Hal itu dikatakan untuk menghapus dosa Eliya yang pernah mengulum jari Joko ketika Eliya sedang sakit dulu.  Joko dan Elya bersedia untuk melaksanakan hal itu. 

Setelah menikah, Kad sering mengajak Joko ke acara perjamuan tarekat. Kad adalah salah satu pengikut aliran terekat tertentu. Di perjamuan itu, berkumpulan para Habib dan Sayyid, yang kemudian melantunkan dzikir berjamaah. Kad mengajari Joko cara memakain jubah dan sorban ala timur tengah. Di dalam keluarga tarekat itu, Joko dihormati orang-orang karena penghormatan mereka kepada Kad Yaman. Bahkan suatu malam, anggoa majelis mempersilahkan Joko untuk memimpin dzikir. Namun Joko menolak, karena dia bukan ahlinya, anggota baru di  majelis. Namun beberapa orang mendesaknya, “ayo... lakukan sebisa nya saja, belajar !” kata mereka.

Dengan terbata-bata, karena tidak cukup hafal, Joko mencoba memulai memimpin dzikir, diikuti oleh jamaah. Pada saat membaca “alladzii amrin jamiin .... “ Joko mendadak lupa, apa kelanjutan bacaan tersebut. Dia berhenti dan mengulanginya, namun selalu lupa. Hingga satu orang jamaah memberitahunya, “alladzii amrin jamiin nasta`inuu allaha kullu haajatina..” Joko mengikuti bacaan itu, tapi dia sulit membacanya dalam kalimat yang utuh. Dia malah menjadi gugup dan gagap. Belasan kali dia diberi contoh oleh seorang jamaah lain, namun ajaib, Joko tidak dapat mengucapkan kalimat itu.

Sepulang dari majelis, Joko terus mencoba mengucapkan kalimat tersebut, namun selalu gagal. Di rumah,  Eliya heran karena melihat suaminya sering bengong. Padahal, Joko sedang berusaha mengingati kalimat yang diajarkannya di perjamuan tarekat. Berhari-hari, keadaan Joko tidak berubah, dia sering bengong sendiri. Eliya mengadu ke ayahnya, atas apa yang terajdi pada suaminya. Kad juga bingung dengan apa yang terjadi pada Joko. Lalu dia mengadu kepada mursyidnya. Mursyidnya mengatakan bahwa itu karena Joko berdzikir terlalu mendalam, sehingga dia kemudian menjadi sangat dekat dengan Tuhan, mendapatkan energi ilahi dan melupakan dunia.

Sejak saat itu, keadaan Joko berubah drastis. Dia persis seperti orang yang hilang ingatan. Bahkan dia tidak dapat mengenakan sarungnya sendiri. Joko mencoba memakai sarungnya, tetapi dia seperti lupa caranya. Tak ubahnya seperti anak kecil yang baru belajar menggunakan kain sarung, dan gagal, harus selalu dibantu oleh Eliya. Di hadapan ayahnya, Aliya menangis, “Ayah... mengapa suamiku diajak ke perkumpulan tarekat itu. Jika akhirnya harus begini, aku gak mau. Aku gak mau suamiku dekat dengan Tuhan, atau mendapat cahaya ilahi, tapi keadaannya tak jauh beda dari pada orang gila.  Aku mau suamiku kembali normal.”

Usia pernikahan mereka balumlah sampai dua bulan. Semestinya, itu adalah bulan-bulan di mana mereka memadu kasih, dan bermanja-manja dengan asmara. Tetapi, kini Eliya dirundung duka dengan musibah yang menimpa suaminya. Jangankan memadu kasih, disentuhpun belum pernah, karena Joko kehilangan ingatan sebelum nadzar 40 hari mereka terpenuhi. Tak ada yang dapat dilakukan Eliya, kecuali menangis dan merawat suaminya sambil terus mencari tabib yang dapat mengobati suaminya. Tapi keadaan Joko tidak berubah. Dia tidak lagi bicara. Bila Eliya menghampiri, Joko hanya bicara dengan sorot matanya saja, tanpa ada sepatah katapun yang diucapkan. Joko dapat berdiri dan berjalan, dapat makan dan bahkan dapat berlari, namun dia tidak dapat melakukan semua itu sendiri. Ketika dia berjalan, dia tidak tahu kemana dia harus melangkah dan mengapa harus melangkah. Dia tidak dapat mengingat tujuan perbuatannya untuk jangka panjang.

Sebenarnya Joko tidak lupa pada istrinya, tidak hilang ingatan sepenuhnya.  Dalam batinnya dia sadar bahwa itu adalah Eliya, perempuan yang mencintainya dan menjadi istrinya, perempuan yang hampir saja mati karena tak mau berpisah dengannya, menolak lamaran pria kaya dan memilihnya menjadi suami. Tapi, sekarang hari demi harinya tak ada yang dapat dilakukan oleh Joko kecuali duduk diam, makan disuapin, mandi dimandiin, mengenakan baju pun harus dibantu. Dalam hati, Joko sangat kasihan pada istrinya itu. Tampaknya dia diciptakan hanya untuk mencintai dan mengurusnya, tanpa mendapatkan balasan cinta yang layak. Segala pikiran berkecamuk di dalam dirinya, namun tak ada yang dapat dilakukan. Joko pun tidak mengerti akan keadaan dirinya. Joko berharap, Tuhan mencabut nyawanya, agar Eliya mendapat kebebasan dan dapat menikah lagi dengan pria lain. Sebaliknya, tidak pernah terbersit dalam benak Eliya untuk meninggalkan Joko. Dia terus berharap dan berharap, Joko dapat disembuhkan.

Sukahurip, Desember 1977. Lima puluh tahun telah berlalu. Kini keduanya telah tua renta, menjadi kakek dan nenek tanpa seorangpun anak maupun cucu. Bahkan mereka berdua masih dalam kondisi perawan dan perjaka. Walaupun tak pernah bercinta, namun keduanya saling sayang dan saling cinta. Walaupun tak ada kata-kata yang diucapkan oleh Joko, namun matanya selalu bicara bahwa ia sangat berbelas kasih dan sangat berterima kasih pada Eliya.

Setiap pagi, Eliya membawa Joko untuk duduk di halaman rumah, menjemurnya dengan snar matahari setelah menyuapinya dengan sepiring nasi. Sejenak Joko ditinggalkan, karena Eliya harus pergi ke dapur. Sekembalinya dari dapur, Joko terlihat tertidur di kursi rodanya. Elinya menyentuh pipinya dan menyebut namanya, “Joko...Joko... “ namun kepalanya terkulai lemah. Eliya menyentuh urat nadinya, sudah tak berdenyut. Eliya mencium kening, pipi dan bibir Joko. Kemudian ia berlutut di hadapa Joko yang terduduk di kursi rodanya. Lalu Eliya menjatuhkan pipinya di atas paha Joko yang kini sudah tak bernafas lagi. Air matanya berjatuhan. Teramatlah sedih berpisah dengan kekasih yang sangat dicintainya. Namun bila waktunya tiba, Tuhan harus memanggil salah satu dari mereka, Eliya memang ingin agar Joko dipanggil terlebih dahulu. Karena Eliya khawatir, jika dia pergi lebih dulu, siapakah kelak yang akan merawat Joko.

Setahun setelah kepergian Joko, Eliya pun meninggal di rumahnya dan kebumikan oleh para tetangganyadi kampung kelarhirannya Sukahurip, Cilacap. Sementara Roro Sari telah lama pindah, diboyong oleh suaminya ke Purwakarta, Jawa Barat, dan tak ada kabar beritanya.

Demikianlah kisah Eliya Yamani, mohon maaf apabila terdapat kesamaan nama orang dan tempat, itu kebetulan saja. Kisah ini datang dari mimpi. Nama-nama orang, nama tempat dan tahun terjadinya peristiwa, tidak saya karang sendiri, melainkan muncul begitu saja di dalam mimpi. Dalam kenyataan, saya tidak tahu ada nama desa di Cilacap bernama Sukahurip. Saya mencarinya di Google Map pun tak menemukan.  Juga kisah perjalanan Kad Yaman yang sering pulang pergi negeri Yaman dan Cilacap, antara tahun 1915 hingga 1930, apakah hal yang masuk akal. Apakah sudah ada lalu linta penerbangan ke negeri itu. Saya tidak tahu. Tapi itulah mimpi saya, kisahnya terjadi di Cilacap Jawa Tengah. Bahkan di dalam mimpi itu, saya mempelajari bacaan “alladzi amrin jamiin nastai`nu `alallaha kullu haajatina.” Saya tidak mengetahui apakah ini kalimat yang benar dari sisi bahasa arab, dan tak tahu pasti maknanya. Dalam kehidpan sehari-hari, seingat saya tidak pernah mendengar kalimat seperti itu. Jadi, itu baru saya hafal di dalam mimpi.

Bangun tidur, saya termenung mengingati mimpi yang berisi kisah yang terasa menyayat hati. Saya bertanya-tanya, mengapakah saya bermimpi hal yang demikian. Saya mempunyai kebiasaan mengingat mimpi, segera setelah terbangun dari mimpi itu. Karena setelah lebih dari dua jam, bila mimpi itu tak diingat-ingat, maka saya akan benar-benar lupa isi dari mimpi itu atau bahkan tidak ingat sama sekali kalau saya telah bermim . Saya meyakini bahwa sebenarnya setiap orang sering bermimpi panjang, seperti saya. Namun kebanyakan orang tidak biasa mengingati mimpi segera setelah bangun tidur, sehingga tak pernah sadar ada mimpi-mimpi panjang yang dialaminya.

« Edit Terakhir: Oktober 28, 2017, 01:34:53 AM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan