Penulis Topik: Dikejar Bayangan (cerita masa kecil)  (Dibaca 2240 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 15
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Dikejar Bayangan (cerita masa kecil)
« pada: Juli 14, 2014, 09:35:32 AM »

Di Kejar Bayangan


Kisah ini terjadi  pada sekitar tahun 1980 an. Lagi-lagi saya tidak ingat hari dan bulannya...

Nah, begini ceritanya …


Pada tahun-tahun itu (1980) di kampung saya hanya ada dua orang yang mempunyai televisi. Televisi tersebut adalah televisi hitam putih belum berwarna.  Posisi rumah dua orang yang mempunyai televisi itu cukup berjauhan. Yang satu terletak di pinggir bagian utara kampung dekat dengan gunung padang yang merupakan perbatasan kampung. Gunung tersebut tidak besar, hanya merupakan suatu bukit kapur yang cukup tinggi. Yang satu lagi berada di bagian paling selatan kampung dipinggir bengawan solo. Mereka yang mempunyai televisi itu merupakan orang terpandang di kampung saya karena termasuk orang yang cukup kaya.


Televisi tersebut menggunakan sumber energi listrik dari accu, karena pada tahun-tahun itu belum ada listrik di kampung saya. Maklum kampung saya letaknya memang cuklup  terisolasi. Posisinya dilingkungi oleh hutan dan dilingkari oleh sungai bengawan solo yang cukup besar sehingga kampung saya itu hampir-hampir menyerupai pulau. Jalan utama masuk ke kampung saya adalah melalui sungai dengan perahu sebagai alat penyeberangan. Sebenarnya ada pula jalan lain yang tidak perlu menyeberang dengan perahu akan tetapi cukup jauh memutar di tambah dengan kondisi jalannya yang buruk dan cukup seram pula, yakni melalui gunung padang di utara kampung.


Listrik baru masuk ke kampung saya sekitar tahun 2000 an, di mana saya sudah berada lama di perantauan sehingga tidak bisa ikut serta menikmati euforia listrik masuk desa.


Sementara posisi rumah saya terletak pas di tengah-tengah kampung. Jarak yang di tempuh untuk pergi menonton televisi di antara kedua orang yang mempunyai televisi itu sama-sama jauhnya, baik yang di utara maupun yang di selatan. Bedanya jika pergi menonton ke utara berarti menempuh perjalanan yang mendaki  dan jika ke selatan berarti menurun. Untuk mencapai rumah orang yang mempunyai televisi tersebut bagi anak-anak seperti saya bukanlah hal yang mudah. Mengapa? Karena harus melewati beberapa tempat yang angker, dimana di kenal bahwa tempat-tempat yang angker itu ada hantu dan penunggunya. Entah benar entah tidak saya tidak tahu tetapi orang orang tua suka menceritakan hal itu kepada anak-anak sebaya saya.


Jika pergi ke utara berarti melewati tikungan pohon jambu yang ada gondoruwonya, kemudian melewati pertigaan pohon kedondong yang ditunggui pocong, lalu melewati areal sawah dan kebun kosong terbuka    yang sangat luas yang di tengah-tengahnya terdapat pohon trembesi yang amat besar rimbun serta padat di penuhi semak belukar di bawahnya, nah disini jika beruntung bisa berjumpa dengan banaspati si rambut api.


Jika pergi ke selatan berarti melewati turunan dimana ada gang kecil yang sudah tidak terpakai yang jauh letaknya dari rumah-rumah penduduk. Untuk di ketahui rumah-rumah penduduk dimasa itu letaknya masih saling berjauhan satu dengan yang lainnya.  Biasanya terpisah oleh kebun singkong atau kebun jagung. Nah di gang kecil itu ada penunggunya di mana sekali-sekali tampak ada orang berbaju petani tempo dulu yang berwarna hitam-hitam lengkap dengan caping bambunya. Kadang berpapasan jalan tanpa bertegur sapa dan di sebut sebagai hantu orang saleh. Kemudian di pohon mangga yang besar pohonnya ada pocong belang-belang yang siap menghadang, lalu jalan menurun lagi melewati prapatan menuju tempat penyeberangan yang merupakan jalan utama masuk kampung. Di tempat penyeberangan ini terdapat pohon ingas yang gatal buahnya dan pohon trembesi yang mungkin telah berusia ratusan tahun. Penunggunya adalah sejenis makhluk yang berbadan manusia berkepala kambing dengan tanduknya yang melingkar di kedua sisi pipinya. Makhluk adalah yang paling legendaris dan populer diantara anak-anak sebaya saya. Menceritakannya saja sudah membuat bulu kuduk merinding tak berhenti. Dari tempat penyeberangan lalu belok menyusuri pinggir sungai yang berpagar rimbunnya pohon bambu sejauh perjalanan. Pohon bambu yang bernama pring belo dengan ukuran yang sangat besar dan tinggi seperti pohon kelapa.


Ceritanya pada waktu itu saya dan kakak saya berniat untuk menonton televisi. Kemudian kami berangkat lepas isya ke arah selatan sebab yang di utara kabarnya accu nya habis dan sedang di strom…

 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9202
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Dikejar Bayangan (cerita masa kecil)
« Jawab #1 pada: Juli 14, 2014, 11:50:53 PM »
tahun 80, usia saya baru 2 tahun, masih ngedot. mas Ratno sudah berlari kencang.  :happy fourth:

maaf mas .. saya tergelitik untuk mengkritisi tulisan mas.

Kutip dari: Ratna
Pada tahun-tahun itu (1980) di kampung saya hanya ada dua orang yang mempunyai televisi. Televisi tersebut adalah televisi hitam putih belum berwarna.  Posisi rumah dua orang yang mempunyai televisi itu cukup berjauhan. Yang satu terletak di pinggir bagian utara kampung dekat dengan gunung padang yang merupakan perbatasan kampung. Gunung tersebut tidak besar, hanya merupakan suatu bukit kapur yang cukup tinggi. Yang satu lagi berada di bagian paling selatan kampung dipinggir bengawan solo. Mereka yang mempunyai televisi itu merupakan orang terpandang di kampung saya karena termasuk orang yang cukup kaya.

paragraf tersebut terasa janggal ketik saya baca. menurut hemat saya, seharusnya kalimat yang saya beri warnah tersebut dihilangkan, maka pembaca akan merasa lebih enak membacanya.

kalau memperhatikan kesinambungkan kalimatnya, tampaknya semuanya sinambung. tapi entah kenapa, kalimat yang saya beri warna merah itu kok terasa mengganjal.

kalimat pertama menjelaskan tentang : dua orang yang punya TV
kedua : menjelaskan tentang TV
ketiga : jarak rumah dua orang pemilik TV
keempat : memperjelas posisi rumah pemilik TV pertama
Kelima : menjelaskan tentang ukuran gunung padang
keenam : menjelaskan tentang poisi rumah pemilik TV kedua
ketujuh : menjelaskan status sosial pemilik TV

orang kedua tinggalnya dekat bengawan solo. kalau mengikuti pola sebelumnya yang menerangkan gunung, semestinya bengawan solo juga diterangkan. tanpa menjelaskan ukuran gunung itu, terasa lebih enak untuk dibaca.

Kutip dari: Ratna
Pada tahun-tahun itu (1980) di kampung saya hanya ada dua orang yang mempunyai televisi. Televisi tersebut adalah televisi hitam putih belum berwarna.  Posisi rumah dua orang yang mempunyai televisi itu cukup berjauhan. Yang satu terletak di pinggir bagian utara kampung dekat dengan gunung padang yang merupakan perbatasan kampung.  Yang satu lagi berada di bagian paling selatan kampung dipinggir bengawan solo. Mereka yang mempunyai televisi itu merupakan orang terpandang di kampung saya karena termasuk orang yang cukup kaya.

atau bisa jadi, itu cuma persoalan selera dan gaya menulis saja, bukan soal baik buruk atau benar salah dalam teknik menulis.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 15
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Dikejar Bayangan (cerita masa kecil)
« Jawab #2 pada: Juli 15, 2014, 06:00:53 AM »
tahun 80, usia saya baru 2 tahun, masih ngedot. mas Ratno sudah berlari kencang.  :happy fourth:

He..he.. tahun 80 umur saya 5 tahun lebih satu bulan. Walaupun saya sudah berlari kencang, kadang-kadang saya masih ngedot juga.... :be happy:

maaf mas .. saya tergelitik untuk mengkritisi tulisan mas.

paragraf tersebut terasa janggal ketik saya baca. menurut hemat saya, seharusnya kalimat yang saya beri warnah tersebut dihilangkan, maka pembaca akan merasa lebih enak membacanya.

kalau memperhatikan kesinambungkan kalimatnya, tampaknya semuanya sinambung. tapi entah kenapa, kalimat yang saya beri warna merah itu kok terasa mengganjal.

kalimat pertama menjelaskan tentang : dua orang yang punya TV
kedua : menjelaskan tentang TV
ketiga : jarak rumah dua orang pemilik TV
keempat : memperjelas posisi rumah pemilik TV pertama
Kelima : menjelaskan tentang ukuran gunung padang
keenam : menjelaskan tentang poisi rumah pemilik TV kedua
ketujuh : menjelaskan status sosial pemilik TV

orang kedua tinggalnya dekat bengawan solo. kalau mengikuti pola sebelumnya yang menerangkan gunung, semestinya bengawan solo juga diterangkan. tanpa menjelaskan ukuran gunung itu, terasa lebih enak untuk dibaca.

atau bisa jadi, itu cuma persoalan selera dan gaya menulis saja, bukan soal baik buruk atau benar salah dalam teknik menulis.

Kritikan Akang boleh juga, rasanya memang lebih enak dibaca jika kalimat yang dimerahkan itu dihilangkan. Saya hanya merasa perlu  menjelaskan bahwa gunung padang itu tidak layak disebut sebagai gunung..

 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9202
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Dikejar Bayangan (cerita masa kecil)
« Jawab #3 pada: Juli 15, 2014, 07:17:35 PM »
lumayan juga ratingnya. dalam dua hari sudah dikunjungi sebanyak 33 kali.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 15
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Dikejar Bayangan (cerita masa kecil)
« Jawab #4 pada: September 02, 2014, 10:15:38 PM »
Lanjut Kang ...


Setelah berpamitan sama simbok (ibu), kami bergegas berangkat. Saya berjalan di belakang kakak saya, nyeker tanpa alas kaki, begitu pula kakak saya. Sebenarnya saya ingin berjalan berdampingan saja, akan tetapi jalanan yang layak dilalui hanya seukuran jalan setapak saja, posisinya tepat di tengah-tengah jalan.  Walaupun jalanan kampung saya sebetulnya cukup lebar sekitar 3 sampai 4 meteran, hanya saja pinggir sebelah kanan dan pinggir sebelah kiri rusak sebab di pakai untuk jalanan kerbau dan sapi.


Keadaan masih cukup terang akibat cahaya lampu petromak yang memancar dari rumah saya, sehingga hati saya pun masih cukup tenang. Kami meneruskan langkah dengan ringan seperti tanpa beban. Semakin jauh semakin jauh cahaya lampu petromak yang memancar dari rumah kami semakin memudar , tinggal kerlap kerlip, itupun kadang-kadang terlihat kadang-kadang tidak terlihat akibat tertutup oleh rimbunnya daun pepohonan.

Hati saya mulai kebat-kebit. Kini saya memaksa berjalan berdampingan disebelah kakak saya. Dengan berpegangan pada ujung bajunya. Walaupun seringkali kakak saya menepis tangan saya tapi saya tetap saja meraih ujung bajunya.

Jika berpapasan dengan satu dua orang maka hati saya menjadi agak lega, atau jika melewati rumah warga yang kebetulan masih terbuka. Saya agak terhibur, paling tidak masih ada manusia disana. Yang sewaktu-waktu bisa dimintai pertolongannya…hehehe..

Hati saya kembali kecut tatkala mendekati tempat-tempat ber ‘penghuni’ yang legendaris itu. Satu dua tempat terlewati hingga sampai perempatan jalan. Jantung saya terasa berdetak lebih kencang dag … dig … dug … dag. Semakin erat saya mencengkeram baju kakak saya. Rupanya ketakutan saya ini diketahui oleh kakak saya. Maka kambuhlah ulah isengnya. Tiba-tiba dia berhenti dan menepis tangan saya, lalu berkata setengah berbisik ,” Rat, tuh lihat .. kayaknya ada hitam-hitam di atas pohon mangga..”  “Gleg!” Saya tercekat. Sedetik kemudian,  wessss ….… kakak saya berlari meninggalkan saya. Kontan saja saya kaget bukan kepalang kemudian saya berlari tunggang langgang mengejarnya sambil berteriak-teriak sekerasnya. Kakak saya berhenti sembari tertawa cekikikan dan berkata,” Hehe … becanda doang kok.”  Becanda doang? Jantung saya mau copot dia bilang becanda doang? saya gebuk saja punggungnya keras-keras.

Perempatan jalan telah terlewati. Kini jalanan mulai menurun agak curam. Erat saya mencengkeram tangan kakak saya. Kawatir kembali ditinggalkan. Tampaknya kakak saya kelihatan santai-santai saja dan tidak lagi berusaha menepis tangan saya. Hal ini malah mengundang kecurigaan saya.

Semakin lama kakak saya berjalan agak lebih kepinggir, keluar dari jalan setapak yang berada di tengah-tengah jalan. Ini membuat saya terdorong pula ke arah pinggir mendekati jalanan kerbau. Saya sedikit keheranan dengan ulah kakak saya ini. Gerangan apa lagi yang hendak dia rencanakan. Dan sebelum keheranan saya terjawab, tiba-tiba … nyossss … kaki saya menginjak ranjau! Terasa dingin dan becek. Tahu kalau saya menginjak kotoran kerbau, tawa kakak saya meledak .. hua hahaha …! Terpingkal-pingkal seolah hendak  memecah keheningan malam. Duh Gusti pingin nangis rasanya diri ini .. tega bener kamu mas …

Singkat cerita, sekarang saya sudah sampai di tempat tujuan. Sebelum masuk, terlebih dahulu saya pergi menuju sumur di samping rumah empunya televisi untuk mencuci kaki. Sedangkan kakak saya sudah nyelonong masuk dan bergabung dengan banyak orang yang sedang menonton televisi.



 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9202
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Dikejar Bayangan (cerita masa kecil)
« Jawab #5 pada: September 03, 2014, 08:32:03 AM »
kalo cukup banyak pengalaman mistiknya, bisa dikumpulkan untuk dijadikan buku. buat warisan anak cucu. cucu kita tentu senang membaca cerita masa kecil kita. he..
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 15
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Dikejar Bayangan (cerita masa kecil)
« Jawab #6 pada: September 08, 2014, 12:05:07 PM »
kalo cukup banyak pengalaman mistiknya, bisa dikumpulkan untuk dijadikan buku. buat warisan anak cucu. cucu kita tentu senang membaca cerita masa kecil kita. he..

Saya pikir ini bukan pengalaman mistik Kang, jadi saya post di board cerpen. Di buat buku? boleh juga ..
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 15
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Dikejar Bayangan (cerita masa kecil)
« Jawab #7 pada: September 25, 2014, 11:57:14 PM »

Sampai di dalam rumah, saya memilih tempat untuk duduk pas di depan tiang rumah. Jaraknya dengan televisi kira-kira lima meteran. Walaupun agak sempit berdesakan dengan orang-orang dewasa, rasanya lebih enak jika menonton sambil senderan tiang. Waktu itu acaranya kalau tidak salah ingat adalah ketoprak. Siaran dari station televisi surabaya. Ketoprak yang ini bukanlah ketoprak sejenis makanan khas dari daerah betawi akan tetapi sejenis pagelaran kesenian drama yang menampilkan cerita dengan setting kerajaan-kerajaan jaman dahulu yang diiringi oleh gamelan jawa. Ceritanya bisa dari lingkup nusantara atau dari luar nusantara, seperti cerita dari tanah India, Mesir, Timur Tengah dan China. Sesungguhnya bagi saya apapun acara yang ditampilkan tetaplah menyenangkan, sedangkan televisinya saja sudah merupakan hal yang menakjubkan bagi saya.

Beberapa lama kemudian, saya mulai merasa mengantuk. Dan di tengah kantuk yang mulai merayap itu, saya melihat kakak saya yang duduk diantara teman sebayanya bangun berdiri. Reflek saya bertanya,” Arep neng ngendi mas (mau kemana mas..)?” Pipis,” jawabnya singkat sambil berjalan bergegas. Kembali saya memperhatikan tayangan acara yang tengah berlangsung di televisi. Tidak terlalu lama, rasa kantuk datang kembali. Kali ini saya tidak dapat menahannya. Leesss…saya tertidur dengan bersender kepada tiang rumah, pulass.

Akibat badan saya bergeser dari sandaran tiang dan hendak terjatuh, maka saya kaget terbangun. Walaupun begitu mata saya masih terasa berat untuk tetap terjaga. Lalu saya memutuskan untuk mencuci muka supaya rasa kantuk mereda. Saya berjalan dengan langkah berat menuju ke arah sumur yang terletak di samping rumah. Benar juga, setelah cuci muka, pandangan terasa terang dan pikiran terasa segar. Dan akibat dari kesegaran itulah saya menjadi teringat dengan kakak saya. Jangan-jangan….! Dia tadi pamit pipis itu hanya modus belaka! Waduh gawat, segera saya dengan tergesa masuk kedalam rumah. Dan benar!! Setelah saya periksa dengan seksama, kakak saya tercinta tidak kelihatan batang hidungnya, begitu pula dengan teman-teman sebayanya. Tiba-tiba badan saya gemetar, lidah saya tercekat kelu, dan dengkul terasa lemas, membayangkan jika nanti harus pulang sendirian. Terlintas perjumpaan dengan banyak setan penunggu tempat-tempat seram nan menakutkan itu.

Di tengah kecemasan itu masih ada secercah harapan, ya secercah harapan. Saya akan mencari orang yang pulangnya ke arah utara, searah dengan rumah saya. Tidak peduli meski harus menunggu sampai larut malam. Semoga masih ada yang tersisa diantara orang-orang tua itu, bisik hati saya. Kemudian saya mulai menyelidik kembali satu demi satu. Menatap lekat-lekat kepada muka orang-orang yang tengah serius memperhatikan tayangan acara televisi. Dan hasilnya …. Nihil. Tidak ada yang pulang kearah utara. Kembali saya memeriksa dengan lebih memicingkan mata, akan tetapi hasilnya tetap sama, nihil!

Pupuslah sudah harapan saya. Dengan gontai saya melangkah menuju keluar rumah ke arah teras. Sambil memeluk tiang teras rumah saya menangis tersedu tapi perlahan, kawatir di ketahui orang, malu. Bagi saya dunia terasa kelabu, seolah kiamat sudah menunggu di depan sana. Duh Gusti bagaimana ini…
 

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9202
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Dikejar Bayangan (cerita masa kecil)
« Jawab #8 pada: September 30, 2014, 04:32:57 PM »
kenapa gak nginep di rumah tersebut, mas ?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
1 Jawaban
3865 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 13, 2013, 10:44:46 PM
oleh ratna
1 Jawaban
789 Dilihat
Tulisan terakhir September 25, 2013, 05:31:44 PM
oleh kang radi
0 Jawaban
768 Dilihat
Tulisan terakhir November 25, 2013, 01:52:42 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1263 Dilihat
Tulisan terakhir September 30, 2014, 04:27:13 PM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
664 Dilihat
Tulisan terakhir November 25, 2015, 12:58:04 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
696 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 26, 2014, 04:31:01 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
1682 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 04, 2015, 04:42:00 PM
oleh ratna
6 Jawaban
2349 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 24, 2015, 02:11:00 PM
oleh kang radi
0 Jawaban
319 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 21, 2015, 01:48:24 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
550 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 02, 2016, 10:01:29 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan