Penulis Topik: Di Tengah Debu Jalanan  (Dibaca 982 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9522
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 480
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Di Tengah Debu Jalanan
« pada: November 05, 2013, 12:54:27 PM »
“Tot …! Tot…!” tiba-tiba saja suara bunyi klakson mengagetkan Basyar yang sedang berjalan mendorong gerobak sayurannya. Ketika ia menoleh ke belakang, ia melihat sebuah mobil sedan mewah yang tampaknya terburu-buru. Dari arah berlawanan, ada sebuah truk. Jadi, sedan itu tidak bisa menyalip Basyar dengan gerobaknya. Rupanya pemilik sedang itu kesal dan menganggap tukang sayur itu mehghalangi jalannya, sehingga ia membunyikan klakson dengna keras berkali-kali. Dalam hatinya Basyar merasa marah, “Dasar orang kaya! Gak sabar! Menunggu sebentar apa salahnya sih ? kan saya juga sedang jalan.” Walapun begitu, Basyar segera mendorong gerobaknya ke atas trotoar.

Lewatlah sedan itu. Bayar terhenyak, karena melihat orang yang di dalam sedan itu adalah Endro, sahabat masa kecilnya. Walaupun bertahun-tahun tidak berjumpa, Basyar tidak akan ragu bahwa tiu adalah Endro, temannya semasa SD. Disampingnya duduk seorang perempuan cantik jelita. Mungkin itu istri Endro. Sejenak Basyar bertemu pandangan dengan Endro. Basyar mencoba melemparkan senyum. Tapi tiada senyum balasan ditemukan. Mobil sedan itu itu lewat begitu saja, meninggalkan debu yang mengepul menerjang wajah Basyar, karena hentakan ban mobil dan hembusan angin yang kecang.

Terasa oleh Basyar, tiadanya balasan senyum itu sebagai kesombongan orang kaya, yang telah melupakan persahabatan masa kecilnya karena harta dan tahta. Sekilas ada sakit menyeruak ke dalam sanubari Basyar. Ia berpikir, “Apakah karena harta dan tahta, Endro melupakan persahabatan masa kecilnya denganku ? tidak lah mungkin ia lupa kepada wajahku. Karena walaupun aku sudah tidak bergaul lagi dengannya, tapi ia sering melihatku ketika aku menjajakan sayuran. Bahkan ibunya Endro sering membeli sayuran dariku.”

Terlebih sakit, ketika ia mulai membandingkan nasib malangnya yang tidak seberuntung Endro. Walaupun sejak kelas 1 hingga kelas 6 SD, Basyar selalu rangking 1, sedangkan Endro tidak pernah sekalipun masuk 10 besar, tapi sekarang Endro hidup sukses sebagi pengusaha, sedngkan Basyar hanyalah penjual sayuran dengan gerobak dorong yang berkliling dari rumah ke rumah. Basyar menyesali, mengapa kesuksesannya di kelas dulu seakan tidak berdampak bagi kehidupannya. Basyar bergumam, “Mengapa aku tidak seberuntung Endro? Kalulah bisa memilih, aku juga ingin menjadi sarjana, punya rumah mewah, kendaraan yang keren, dan kedudukan yang terpandang.”

Setelah lulus dari SD, dengan nilai belajar yang memuaskan, Basyar tidak melanjutkan sekolah ke SMP. Entahlah, apakah karena orang tuanya tidak mampu membiayai ataukah karena mereka tidak mengerti pentingnya pendidikan, yang jelas, sejak lulus SD hingga punya istri, Basyar mengikuti kemauan ibunya untuk menjual sayuran, menjajakannya dari rumah ke rumah.

=================== *** ======================

Celakalah kita, bila kita sampai iri hati pada keburuntungan orang lain. Abu Zahra mengatakan bahwa iri hati termasuk salah satu bentuk dari syirik, sehingga orangnya disebut musyrik. Sebab, jika ia yakin dengan Qadha, Qadhar serta keadilan ilahi, tentu ia tidak akan menyesali nasibnya atau iri hati terhadap keburuntungan orang lain. Sedangkan Sang Buddha menyebutkan bahwa membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain itu sebagai bentuk kesombongan, apakah menganggap orang lain lebih buruk darinya ataukah menganggap orang lain lebih baik darinya, keduanya juga merupakan bentuk kesombongan.  Tapi, cobalah Anda simak! Apakah hal yang dialami oleh Basyar seperti dalam kisah di atas, pernah terjadi di dalam hati Anda atau tidak ? apakah hal itu berarti Anda menyesali nabi Anda, iri terhadap keberuntungan orang lain, sedih dengan kemiskinan, berharap orang lain tidak mendapatkan keuntungan itu, ataukah Anda merasa tidak beruntung dengan hidup Anda ?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Monox D. I-Fly

Re:Di Tengah Debu Jalanan
« Jawab #1 pada: Agustus 25, 2015, 09:54:43 PM »
Kalau menurut saya, iri itu nggak papa asalkan jangan dengki. Karena saya mendefinisikan iri dan dengki sebagai sesuatu yang berbeda. Kalau yang dirasakan Basyar ini sih udah termasuk dengki.
 

 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
2 Jawaban
4044 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 19, 2013, 10:07:38 PM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
1669 Dilihat
Tulisan terakhir April 15, 2015, 10:33:26 AM
oleh Monox D. I-Fly
2 Jawaban
883 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 11, 2013, 02:32:43 PM
oleh Awal Dj
6 Jawaban
2788 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 25, 2013, 02:53:01 PM
oleh comicers
1 Jawaban
991 Dilihat
Tulisan terakhir November 28, 2015, 11:51:59 PM
oleh Monox D. I-Fly
2 Jawaban
2017 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 26, 2014, 01:28:29 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
862 Dilihat
Tulisan terakhir November 23, 2015, 10:35:49 AM
oleh Monox D. I-Fly
0 Jawaban
186 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 02, 2016, 03:37:24 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
389 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 12, 2017, 09:11:32 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
93 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 10, 2017, 06:25:06 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan