Penulis Topik: Segenggam Nasi dan Air Mata  (Dibaca 187 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Segenggam Nasi dan Air Mata
« pada: Oktober 23, 2016, 11:20:07 PM »

Pangeran Sidharta tidak mau dimahkotai dan mengambil kendali kerajaan, apabil a ayahnya tidak mengizinkan  dirinya untuk pergi berkeliling negeri melihat-lihat keadaan rakyatnya. Raja bersikeras tidak mengizinkan. Tetapi, putrid Yasodhara membujuk Raja Sudodhan untuk mengizinkan pangeran Sidharta studi tour, keliling negeri.

Sampaikan di suatu gubuk kecil yang banyak anggota keluarganya. Pangeran Sidharta dipersilahkan duduk diteras gubuk itu. Sebentar saja  pemilik rumah masuk dan keluar dengan membawa segenggam nasi dalam batok kelapa. “Maaf, pangeran. Hanya ini yang kami punya. Kami menawarkan apapun yang kami punya. Silahkan !”

Pangeran Sidharta trenyuh hatinya. Keluarga itu sangat miskin, berusaha menjamunya dengan segenggam nasi untuk menghormatinya. Pangeran berkata, “Bagaimana kalian dapat bertahan hidup dengan segenggam nasi ?”

“kami selalu bekerja keras, tapi hanya inilah yang kami punya. Kami tidak berdaya dan tidak memiliki kekuatan untuk mendapatkan makanan lebih.” Kata pak Tua pemilik rumah. 

Mata pengeran Sidharta berkaca-kaca. Dia beranjali dan berpamitan hendak pergi meninggalkan tempat itu. Tetapi, pak Tua menahannya, “Pangeran, bahkan anda tidak menyentuh makanannya.”

Pak Tua ingin agar sang pangeran mencicipi jamuan yang diberikannya. Tapi bagaimana pangeran akan makan segenggam nasi, yang keluarga itu tidak memiliki apa-apa lain selain darinya. Tetapi, menolak permitaan pak Tua, tentu aka menyakiti perasaannya pula. Akhirnya, dengan titik air mata yang berjatuhan, pangeran Sidharta mengambil beberapa butir nasi, dan mengunyahnya dengan cita rasa kesedihan. Tidak lebih dari empata atau limba butir nasi, pangeran kemudian berterimam kasih dan berpamitan untuk pergi.

Setelah pangeran pergi dari gubuk kecil itu, anak pak Tua yang masih kecil menemukan gelang emas. Keluarga itu sangat gembira. Dengan gelang emas tersebut, kebutuhannya akan makanan dapat terpenuhi hingga setahun yang akan datang. Si kecil berkata, “ayah, apakah dia seorang pangeran ?”

“Bukan, .. dia adalah malaikat.” Jawab sang ayah. 
« Edit Terakhir: Oktober 23, 2016, 11:22:40 PM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
4 Jawaban
1656 Dilihat
Tulisan terakhir Juli 11, 2015, 12:14:44 AM
oleh Monox D. I-Fly
1 Jawaban
1281 Dilihat
Tulisan terakhir September 28, 2012, 08:50:32 AM
oleh kang radi
14 Jawaban
8947 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 20, 2013, 07:43:31 PM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
3434 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 31, 2013, 10:10:26 PM
oleh comicers
1 Jawaban
646 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 17, 2015, 08:08:07 PM
oleh Monox D. I-Fly
3 Jawaban
1143 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 20, 2016, 09:17:34 PM
oleh rusa
1 Jawaban
517 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 07, 2016, 05:38:00 PM
oleh kang radi
0 Jawaban
479 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 07, 2016, 07:31:11 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
35 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 31, 2017, 10:51:00 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
10 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 13, 2018, 07:44:31 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan