Penulis Topik: Mencari Kedamian  (Dibaca 747 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Mencari Kedamian
« pada: Desember 21, 2015, 10:12:33 AM »
Sistem Meditasi Buddhisme adalah obat mujarab bagi mereka yg merasa sangat terganggu dengan hal2 seperti kesedihan dan kegelisan. hal itu karena pada awalnya, sang Buddha saya penemu sistem meditasi tersebut adalah orang yg mengalami kegelisahan dan kesedihan yg mendalam akkbat dari sifat belas kasihnya pada makhkluk2 yg menderita. Dia selalu bertanya, mengapa penderitaan ada dan sangat mendambakan kedamaian.

Untuk meraih kedamaian, pangeran Sidharta mengutarakan niat pada istrinya bahwa dia akan pergi berkelana menjadi pertapa guna menemukan jawaban dari pertanyaan2nya selama ini.

"Kau ingin mencari kedamaian ? lalu bagaimana dengan aku ? aku membutuhkanmu di sini. Rahul membutuhkanmu juga. " Yasodhara sangat berharap sang pangeran mengurungkan niatnya.

tapi pangeran Sidharta bersikukuh,"aku akan kembali padamu, setelah aku temukan jawaban. aku akan krmbali untuk Rahul."

Yasodhara memeluk erat suaminya dengan berderai-derai air mata. Yaso tahu, tidak ada lagi yg akan dapat mencegah suaminya untuk pergi untuk menemukan jawaban dan kedamaian yg ia dambakan. walaupun sakitnya bagai menusuk jantung, Yasodhara tidak ada pilihan selain harus merestui kepergian suaminya.

"Jika tidak ada lagi hal yg bisa mencegahmu untuk pergi, maka pergilah di malam hari ketika kami terlelap tidur. sebab di siang hari, aku tidak sanggup menyaksikan kepergianmu." Yasodhara sedih.

Malam berikutnya, Sidharta benar-benar bangun di malam hari. dia melihat perbekalan telah dipersiapkan istrinya. Sidharta berjalan mendekati istri dan anak untuk tetakhir kalinya. Yasodhara tahu bahwa suaminya sedang berdiri mematung memandangi dirinya. Tapi Yasodhara tidak bangkit..dia tetap berbaring seolah2 terlelap tidur. padahal Yaso sedang kuat2 menggigit bibirnya sendiri, menahan tangisan. dadanya sesak. Namun dia tidak ingin suaminya tau bahwa dirinya sedang menangis.


akhirnya di malam buta, pangeran Sidharta pergi meninggalkan istana, ditemani oleh Chana, sshabat dan kusir setianya.

Yasodhara bangkit dari ranjangnya, segera berlari menuju jendela, melihat kpergian suaminya dengan perasaan yg sangat sedih. Yasodhara merasa bahwa suaminya tidak akan menemukan jalan untuk kembali padanya sebagai pecinta yg akan memanjakan dirinya dengan belaian, ciuman dan pelukan. karena dia tahu ramalan Brahmana Asita sudah waktunya menjadi kenyataan bahwa pangeran Sidharta pasti akan menjadi pertapa, menjadi Buddha. segala upaya  untuk menyangkal ramalan ini telah dilakukan oleh ayah Sidharta, raja Sudhodana. namun terbukti, semua gagal.

Banyak orang di masa lalu hingga sekarang menuduh yg dilakukan pangeran Siddharta tidaklah terpuji, karena dia menggalkan tanggung-jawabnya sebagai suamk dan ayah. Tetapi, para pengikut Buddha membelanya, bahwa apa yg dilakukan Buddha adalah demi kebahagiaan umat manusia.

Saya tarik benang merahnya antara ptaktik kedamaian Buddha dengan ptaktik2 meditasi masa kini yg juga bertujuan mengembangkan kedamaian. Tidak semua orang tertarik dan merasa butuh dengan pencapaian kedamaian sebagaimana yg dicari2 Buddha Gotama. Sebagian orang hidup dengan praktik yg sederhana saja, menerima penderitaan dalam hidup dengan ikhlas dan sebagai hukum kehidupan yg tidak terelakan.

Beberapa gadis masa kini memilih mengurung diri atau menyendiri ketika mereka bersedih. mereka akan merenung dslam kesakitan hatinya yg dalam. Tapi sebagia  gadis, tidak terlalu banyak ambil pusing dengan masalah2 hidup. Jika merrka bersedih, mereka move on, tetap melakukan apa yg semestinya dilakukan dalam hidup sehari2.

Saya pernah tenggelam dalam ketenangan2 meditasi. dan gemar menunjukan keajaiban2 meditasi pada orang lain.  Saya berpikir bahwa kedamaian adalah hal yg utama dan yg paling berharga untuk diperoleh dalam hidup. oleh karena itu, saya cenderung untuk bersamadhi setiap kali hati saya merasa kurang nyaman. Hingga akhirnya guruku menegurku bahwa lhidup bukanlah untuk mengejar kedamaian2 pribadi. sejak saat itu saya menjadi sadar, bahwa sepanjang hidupnya, istri saya mrngslami kesedihan dan kegelisahan, rasa sakit dan penderitaan, tapi dia tidak pernah mengeluh, mempermasalahkan, mempertanyakan, dan tidak pula pergi bersemedi seperti saya. dia tidak tahu caranya bersamadhi. tapi di dalam kesedihan dan kegelisahannya, dia tidak berbelok arah. dia tetap melakukan kebaikan2 dengab melaksanakan apa2 yg menjadi kewajibannya. dengan demikian, tidak ada kewajiban yg dia lalaikan. Sementara saya, terkadang melalaikan kewajiban bekerja hingga seminggu lamanya untuk bersemedhi, mencapai jhana2 dan mencapai kedamaian yg mendalam. Guru saya tidak menyetujui cara seperti ini. tentu saya tida begitu saja sepakat dengan guru saya. hanya setelah melalui proses yg panjang, akhirnya saya dapat mengerti bahwa obsesi memperoleh kedamaian yg mendalam merupakan kesalahan. usaha mempertahankan ketenangan mental secara terus menerus juga merupakan kekeliruan, dan mrnjadi sumber tindakan yg salah. saya berguru pada istri saya yg tidak dikalahlan oleh kesedihan. walaupun sambil berderai2 air mata karena sedih, istri saya tetap teguh melaksanakan apa yg seharusnya dia perbuat.

Jika saya mengikuti jalannya Buddha, maka ssyapun pergi meninggalkan anak dan istri, mencari kedamaian dan  kesalamatan bagi diri sendiri, bertapa dan tenggelam dalam kedamaian2 internal. Berarti dalam hal ini saya memiliki cara dan pendapat yg berbeda dengan Buddha, bahwa menurut saya hidup dalam lingkungan keluarga, tidaklah menjadi penghalang untuk sampai pada pencerahan sempurna. Makan, minum, menjadi raja serta berhubungan intim dengan istri bukanlah sesuatu yg mengotori kesucian. Ini tampak seperti filsafat yg menyangkal ajaran Buddha. Tapi sebenarnya tidak demkian. Ini hanya cara berbeda. Sebagian pria punya masalah dengan wanita. Bila bersama wanita, daya spiritualnya tkdak dapat berkembang. maka untuk jenis pria ini, tidak ada jalan lain kecuali mesti meninggalkan wanita. Tapi tidak semua pria demikian kondisinya.

Jadi, apa yg dilakukan Buddha belum tentu cocok untuk dilakukan oleh kita karena adanya perbedaan kondisi internal.
« Edit Terakhir: Desember 21, 2015, 10:14:37 AM oleh Kang Asep »
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
697 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 04, 2012, 08:21:03 PM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
974 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 21, 2012, 11:45:04 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
877 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 22, 2013, 02:41:46 PM
oleh Awal Dj
0 Jawaban
1034 Dilihat
Tulisan terakhir November 05, 2013, 03:19:19 PM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
1255 Dilihat
Tulisan terakhir Oktober 06, 2014, 08:42:17 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
599 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 07, 2015, 08:36:49 AM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
900 Dilihat
Tulisan terakhir September 09, 2015, 01:45:22 AM
oleh Monox D. I-Fly
1 Jawaban
916 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 12, 2015, 03:38:01 PM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
672 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 21, 2015, 10:05:15 AM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
667 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 11, 2016, 08:05:47 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan