Penulis Topik: Perlindungan Intelektual  (Dibaca 383 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9585
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Perlindungan Intelektual
« pada: Desember 17, 2017, 12:37:36 PM »
Di dalam agama Buddha dikenal secara pupuler apa yang disebut dengan Sutta Kalamma. Sutta Kalamma ini adalah prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Buddha kepada suku Kalamma di India yang tengah kebingungan terhadap berbagai mazhab, sekte, aliran dan agama yang ada. Masing-masing kelompok agama menyatakan ajarannya adalah number one, satu-satunya jalan kebenaran dan lainnya salah. Suku Kalamma menjadi bingung, tidak mengetahui mana yang harus diikuti. Menjawab kebingungan Suku kalamma, Buddha menjelaskan sepuluh prinsip yang saya menyebutnya "Perlindungan Intelektual", sehingga kita tidak menjadi budak intelektual orang lain ,  dapat terindung dari tipu daya, serta membebaskan kita dari sifat fanatisme.

Kesepuluh prinsip ini saya rangkumkan sebagai berikut :

Pertama, seseorang tidak harus menerima sesuatu sebagai kebenaran hanya karena sesuatu itu disebarkanluaskan secara beranting dari mulut ke mulut.

Kedua, seseorang tidak harus menerima sesuatu sebagai kebenaran hanya karena sesuatu itu telah menjadi tradisi turun temurun.

Ketiga, seseorang tidak harus menerima sesuatu sebagai kebenaran hanya karena tersebar luas secara sensasional.

Keempat, Seseorang tidak harus menerima sesuatu sebagai kebenaran hanya karena sesuatu itu tertulis dalam kitab suci.

Kelima, seseorang tidak harus menerima sesuatu berdasarkan Takka  atau metoda induksi ilmiah.

Keenam, seseorang tidak harus menerima sesuatu sebagai hal benar hanya berdasarkan Naya, logika syllogisme filsafat.

Ketujuh, seseorang tidak harus menerima sesuatu sebagai kebenaran hanya karena terasa masuk akal.

Kedelapan, Seseorang tidak harus menerima sesuatu sebagai kebenaran hanya karena sesuai dengan pendapat publik.

Kesembilan, Seseorang tidak harus menerima sesuatu sebagai kebenaran hanya karena sesuatu itu dianggap dinyatakan oleh adhli di bidangnya, sarjana, seorang profesor, orang terkenal, pemuka agama, atau orang terpandang. Intinya, kredibilitas seseorang bukan kriteria untuk sesuatu harus dinyatakan benar.

Kesepuluh, Seseorang tidak harus menerima sesuatu sebagai kebenaran hanya karena sesuatu itu dinyatakan oleh gurunya.

Lalu, jika kesepuluh hal di atas bukanlah kriteria kebenaran yang harus kita terima, lalu manakah kriteria yang mengharuskan kita menerima sesuatu sebagai kebenaran ?

Buddha mengajarkan prinsip ehiphasiko yang berarti, "datang, lihat dan buktikan sendiri."

Kebenaran yang dimaksud oleh Buddha adalah kebenaran yang mengantarkan seseorang kepada Panna, atau kebijkasanaan. Seperti dua orang arsitek yang mengajarkan teori membangun sebuah gedung. Keduanya dapat menggunakan berbagai metoda untuk membuktikan kebenaran teorinya, metoda logika, teori ilmiah, menggunakan argumentum ad verecundiam dan sebagainya. Tetapi semua itu bukan kebenaran yang sesungguhnya, melainkan hanya sekedar pendekatan teori. Kebenaran yang sesungguhnya adalah praktik secara langsung, arsitek yang teorinya benar, akan terlihat dalam bentuk rumah yang kokoh. Sedangkan arsitek yang teorinya keliru, rumahnya akan goyang atau bahkan roboh. Inilah ehiphasiko. Sepintas ini mirip dengan metoda eksperimen ilmiah. Ya benar, ada kemiripannya. Tetapi ilmiah hanya terbatas pada objek-objek yang dapat ditangkap oleh panca indera. Sedangkan kebenaran yang dibicarakan oleh Buddha itu meliputi kebenaran Dhamma atau kebenaran spiritual, di luar objek-objek indrawi. Karena itu, praktik yang dilakukan untuk mencapai kebenaran ini bukanlah eksperimen ilmiah, melainkan praktik mistik, yang kalau di dalam ajaran Islam ada dalam praktik suluk yang dipraktikan para salik di dalam kelompok tarekat dan tasawuf.

Hukum imliah termasuk kepada kebenaran mutlak yang tidak dapat diingkari. Tetapi produk ilmiahnya, itu yang tidak mustahil mengandung kesalahan. Karena konklusi-konklusi ilmiah berlandaskan kepada obeservasi dan eksperimen. Ini bergantung kepada sampel dan kelengkapan bahan eksperimen. Metoda penyimpulannya pasti benar, tetapi sample yang dipilih bisa jadi tidak tepat, atau bahan yang digunakan untuk eksperimen tidak lengkap, maka hasil kesimpulannya bisa salah. Karena itu, kebenaran kebenaran ilmiah dapat dikaji ulang dan diperbaharui kembali.

Adapun Logika, memanglah sesuatu yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Akan tetapi, sesuatu tidak harus diakui benar hanya karena logis, karena "benar" dan "logis" adalah dua hal yang berbeda. Sesuatu yang logis belum tentu benar. Sesuatu yang benar, belum tentu logis. Dengan demikian benar bahwa sesuatu tidak harus diterima sebagai kebenaran hanya karena logis. Tetapi, apabila argumentasinya valid, maka tidak ada jalan untuk memungkiri kebenarannya.

Frase "tidak harus menerima", tidak sama artinya dengan "harus tidak menerima". Dengan demikian, "tidak harus menerima sesuatu hanya karena sesuatu itu logis", itu tidak sama artinya dengan "harus tidak menerima sesuatu  karena sesuatu itu logis". Sesuatu yang logis tentu harus diakui sebagai hal logis. Dan sesuatu yang benar, tentu harus diakui sebagai hal benar.  Dan kita tidak harus mengakui sesuatu itu benar karena logis atau mengakui sesuatu itu logis karena benar.

Misalnya, apabila seluruh argumentasinya benar dan valid, sehingga konklusinya dapat diterima sebagai kebenaran, akan tetapi hal itu belum tentu dapat mengantarkan seseorang kepada pengetahuan akan dhamma, kebenaran batiniah, kebenaran spiritual, sehingga belum tentu membawanya kepada kebijaksanaan sebagai wujud dari pengetahuan yang benar.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
1760 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 14, 2013, 05:36:02 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1555 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 20, 2013, 04:57:52 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
442 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 12, 2017, 04:49:47 AM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan