Komunitas Para Pemikir

Rubrik Para Ahli => Budha => Topik dimulai oleh: Kang Asep pada Januari 07, 2018, 04:39:50 PM

Judul: Mencari Jawaban
Ditulis oleh: Kang Asep pada Januari 07, 2018, 04:39:50 PM
Mencari Jawaban
Edisi : 07 Januari 2018, 16:36:36

Rakyat bersedih, keluarga kerajaan berduka. Tentu apalagi kekasih yang ditinggal pergi. Pengeran Sidhata telah memutuskan untuk pergi jauh meninggalkan istana, meninggalkan segala bentuk kemewahan untuk menjadi seorang pertapa. Dia menjelajahi hutan-hutan, berteman dengan binatang buas dan burung-burung, berkelana demi mencari kebenaran. Dimanakah kebenaran itu hendak dia dapatkan ?

Yashodara terperangah, mendengar ringkikan kuda Chana. Segala hati berdebar karena angan-angan, "ah... Jangan-jangan Chana kembali membawa pangeran." Tetapi kuda tinggalah ringkikan, tanpa penunggang yang dinantikan.

"Kupikir Chana membawa pangeran kembali, tapi di sana hanya ada si Kanthak seorang diri." Si Kanthak, kuda kesayangan pengeran Sidharta terikat pada sebuah pohon di halaman istana, tanpa tuannya.

Chana datang ke tengah keluarga kerajaan dengan wajah tertunduk, mata sendu dan berbunga air mata yang masih juga ditahannya, sampai akhirnya jatuh ke permukaan bumi. Sang Raja bertanya padanya, "Chana, mana pangeran ?"

Dengan berlinangan air mata, Chana menjawab, "tidak .... Dia tidak ikut dengaku."

Semua orang tertegun dengan hati yang terkoyak. Chana melanjutkan dengan suara yang parau bersama irama jatuhnya titik air mata. "Aku memohon agar aku diizinkan untuk ikut dengan pengeran, namun pengeran terus menolak. Dia mengatakan `aku akan kembali bila aku telah mendapatkan jawaban atas pertanyaanku. Sampaikan pesanku pada ayahku bahwa perang tidak pernah menyelesaikan apapun. Dan sampaikan pesanku kepada ibuku bahwa aku memang tidak pernah melihat ibu yang melahirkanku. Namun ia sangat berarti bagiku. Aku sangat berhutang budi padanya. `."