Penulis Topik: Berbagi Rasa Sakit  (Dibaca 140 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Online Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9203
  • Thanked: 55 times
  • Total likes: 342
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Berbagi Rasa Sakit
« pada: Desember 20, 2016, 09:50:46 PM »


Berton-ton beras dibagikan kepada rakyat jelata.  Para fakir miskin bersuka cita. Seorang lelaki tua menyentuh kaki pangeran Sidharta .  pangeran terkejut, “Hei.. apa yang kamu lakukan ?”

Lelaki tua itu berkata, “Terima kasih pangeran ! anda adalah pahlawan kami. Anda telah  datang kemari untuk membagikan beras dan gandum pada kami ?”

Pangeran Sidharta menjawab, “Aku ingin, tidak ada lagi penduduk Kapilavastu yang kelaparan. Aku ingin semua rakyat mendapat makanan dan hak-hak mereka.”

Lelaki tua itu terharu, “Katakan pengeran, imbalan apa yang anda inginkan atas kemurahan hati anda ini ?”

“Rasa sakitmu. Aku datang ke sini untuk berbagi rasa sakitmu.” Jawab Sidharta.

Tiba-tiba seorang pemuda bertubuh tegap datang dengan bergegas, menyeruak di antara kerumunan, “Minggir, minggir .. !” teriak pemuda itu. Dia berjalan cepat menuju pangeran Sidharta, dengan amarah dia berkata, “Apa …. ? kamu ingin berbagai rasa sakit kami ? tidak…. Kamu tidak akan pernah mengerti rasa sakit yang kami derita.  Apa kamu pernah kelaparan ? Apakah kamu pernah tidur dalam dingin malam tanpa alas dan tanpa baju ? Tidak kan ? lalu bagaimana kamu akan dapat merasakan rasa sakit kami, hah ?”

Dengan serta merta, pemuda itu merebut sekarung beras yang telah dibagikan ke salah satu warga, lalu membantingnya ke tanah, “Kami tidak ingin apa-apa darimu. Kami bangsa Sakya,  kuat untuk menghidupi diri kami sendiri. Jika kamu benar-benar ingin membantu kami, maka tolong hentikan penindasan yang dilakukan oleh pejabat Negara terhadap kami ! Tolonglah ! tidak ada yang member kami sumbangan. Tetapi mereka mengambil apapun yang kami miliki. “

Pemuda itu menangis  sejadi-jadinya. Orang-orang tertegun. Salah seorang warga berkata, “Yang dia katakan itu benar, pangeran. Mereka mengambil harta benda kami dengan dalih pajak.”

Pangeran Sidharta merasa geram. Dengan lantang dia berkata,“ini adalah kekejaman. Siapa nama pejabat Negara yang berlaku keji sperti ini ?”

Pangeran Sidharta menemui pejabat terkait. Kepadanya, pangeran Sidharta berkata, “Walaupun kamu seorang pejabat negara, tetapi kamu mengambil harta benda dari rakyat kecil.”

“Tidak pangeran ! itu tidak benar.” Jawab pejabat tersebut.

“Itu lihat… kamu memiliki banyak sekali biji-bijian, bergudang-gudang gandum dan beras, padahal kamu bukan seorang petani.”  Sangkal pangeran Sidharta.

Chana menimpali, “Dia mengambilnya dari rakyat.”

“Kamu serakah !” Sidhart, dengan suara keras.

“Tidak pengeran. Saya hanya melaksanakan perintah raja Veerbahu untuk mengambil pajak dari rakyat.”  Pejabat tersebut ketakutan.

Pangeran Sidharta geram, “Kamu mendengar dan patuh pada perintah raja Veerbahu, tapi kamu tidak mendengar teriakan rakyat kecil, kaum fakir dan miskin. Kamu harus dihukum atas perbuatanmu ini !”

Sang pejabat bertekuk lutut di tanah dengan beranjali dan tubuhnya gemetar ketakutan. “Ampun pangeran…maafkan saya ! jangan hukum saya ! saya berjanji tidak akan melakukan kejahatan seperti ini lagi.”

Tiba-tiba istri pejabat tersebut menarik anak gadisnya yang cacat keluar, “Tuhan telah menghukum kami atas perbuatan buruk suamiku. Putriku telah menjadi cacat seperti ini.”

Pangeran Sidharta tertegun, melihat kondisi gadis cacat yang menyedihkan itu. Matanya berkaca-kaca. Lalu berkata pada si pejabat dzalim, “aku tidak akan menghukummu, karena melihat putrimu yang begitu tak berdaya. Tetapi, kamu telah mengambil biji-bijian dari para petani dan kaum miskin. Sekarang bagikanlah kembali biji-bjian itu kepada mereka! Aku ingin kamu member makan setiap anak yang ada di desa ini.”

“Baiklah pangeran ! akan saya lakukan semua itu !” janji sang pejabat. Dia kini telah menginsyafi kesalahannya.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
7 Jawaban
1884 Dilihat
Tulisan terakhir April 23, 2013, 11:07:30 PM
oleh Kang Asep
4 Jawaban
1213 Dilihat
Tulisan terakhir April 28, 2013, 12:56:28 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1654 Dilihat
Tulisan terakhir November 27, 2013, 07:00:16 AM
oleh Kang Asep
2 Jawaban
858 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 01, 2015, 11:27:38 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
671 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 06, 2015, 09:03:05 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
366 Dilihat
Tulisan terakhir Pebruari 16, 2016, 09:02:38 PM
oleh Kang Asep
1 Jawaban
458 Dilihat
Tulisan terakhir September 12, 2016, 01:29:44 AM
oleh Cecep Nahrowi
0 Jawaban
115 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 12, 2016, 08:43:16 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
152 Dilihat
Tulisan terakhir September 02, 2016, 02:33:24 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
23 Dilihat
Tulisan terakhir November 08, 2017, 03:47:59 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan