Penulis Topik: jangan  (Dibaca 1071 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
jangan
« pada: Januari 29, 2014, 07:18:45 AM »
“ASTAGFIRULLAH, ni anak gak bisa dikasih tau ya. Mama bilang jangan naik ke sana, bahaya,” seorang mama berteriak histeris ketika melihat bayi berusia 6 bulan menaiki lantai ruangan yang lebih tinggi 20 cm dari ruang keluarga.

Anaknya terus tumbuh. Mama pun masih histeris ketika melihat anaknya memegang pulpen yang biasa dipakainya.

”Jangan pegang pulpen, itu bahaya, nanti kena mata,” tukasnya.

Anaknya berusia 3 tahun, berusaha menaiki kursi untuk mengambil makanan di meja makan. Kembali mama berteriak, “Jangan naik, nanti kamu jatuh, nih kuenya mama ambilkan.”

Hari pun berganti. Waktupun berlalu. Mama selalu menjadikan dirinya sebagai dewa penolong bagi anak tercinta. Mau bergerak mama gendong, mau sesuatu mama ambilkan. Hingga tiba usia anak ini 5 tahun.

Hari itu ada kegiatan pentas seni di sekolahnya. Ketika anak lain bahagia akan tampil, memakai kostum terbaik, anak ini duduk dibarisan para orangtua sambil memegangi baju mamanya.

“Kamu ini malu-maluin mama, sudah dibelikan baju baru, tapi kenapa gak mau ke panggung?” dengan suara ketus mama memarahi anaknya.

Anak ini pun menangis.

“Ayo pulang kalau gini terus, mama gak suka,” Sambil menarik tangannya berlalu meninggalkan acara pentas seni.

Beberapa minggu kemudian saat kegiatan olahraga, anak ini tidak mau bergabung bermain dengan teman lain. Lari-lari kecil, melompat, menangkap bola juga merayap. Tak ada yang dilakukannya.

Lagi-lagi mama memarahi anaknya.

Saya mendekati anak ini, kemudian bertanya “Mau bergabung?”

“Tidak” jawabnya.

“Mengapa?” tanya saya.

“Takut jatoh, Bu,” jawabnya.

Oh, saya paham sekarang.

Saya mendekati mamanya. Saya sampaikan, mulai sekarang anak ini tidak usah dimarahi kalau tidak mau ikut kegiatan olah raga. Atau tidak mau ikut kegiatan yang berhubungan dengan ketinggian. Karena setelah saya tanya dia takut. Mama pun terdiam.

Mengapa takut? Karena sejak bayi mamanya selalu berkata “jangan ini jangan itu”. Sehingga tersimpan memori di dalam otak anak, bahwa apapun yang dilakukan atau disentuhnya tidak aman. Hal ini menimbulkan rasa tidak percaya pada dirinya sendiri juga pada lingkungan. Saya memahami maksud mama baik. Supaya anak aman, jauh dari bahaya dan tidak terluka.

Memang bukan sesuatu yang mudah melakukan pendampingan kepada anak-anak usia dini tanpa larangan. Orangtua harus memberikan informasi yang benar dan memberikan batasan- batasan. Sehingga anak berhenti melakukan sesuatu bukan karena takut, tapi memahami mengapa hal tersebut tidak boleh dilakukan. [] 

(FB: widianingsih idey widya , pemilik sekolah sentra bukti pelangi jatinangor)

http://www.islampos.com/akibat-mama-selalu-bilang-jangan-95646/

Orang tua yg terlalu protektif emang bisa bikin anak jadi terkungkung. Gak pede. Rendah diri dan sebagainya.

Kalo takut terjadi sesuatu yg negatif, lebih baik anaknya diingatkan utk berhati2 dlm berbuat dan berjaga2 agar terhindar dari hal2 negatif yg mungkin muncul. Juga perlu diajari bagaimana cara2 menghindari hal2 negatif itu. Yg begitu lebih menanamkan sikap hati2 ke anak dan si anak tetap percaya diri.

terlalu mengekang sebenernya juga kurang bagus mungkin yg lebih tepat adalah mengarahkan  O0

Untuk kejadian di atas sebaiknya kata2 apa yang kita gunakan?

”Jangan pegang pulpen, itu bahaya, nanti kena mata,” diganti , kalau pegang pulpen hati hati ya nak, ujungnya lancip

“Jangan naik, nanti kamu jatuh, nih kuenya mama ambilkan.” diganti, kalau naik kursi hati hati ya nak, jangan lupa pegangan.

begitukah? CMIIW

^ itu bisa ditafsirkan oleh anak, boleh pegang pulpen. bagaimana kalau anaknya pegang pisau tajam. apa si ibu harus bilang, "Nak, kalau pegang pisau, hati-hati ya !"

kalau menurut hemat saya, perkataan yang lebih baik, apabila kita hendak melarang anak memegang pisau contohnya, maka kita perintahkan dia untuk memegang yang lain, "Nak, ini ada buku gambar mewarnai, dan ini pensil warna. mewarnai yuk sama ibu !" atau "Lihat si Kitty, boneka lucu ini. sepertinya pengen kamu gendong!"

ketika saya mengikuti kuliah ilmu pendidikan, seorang dosen berkata, "apabila kita ingin menjadi guru yang baik, maka janganlah kita mengatakan "jangan!" kepada anak didik kita!" saya tertawa dalam hati : kenapa dia sendiri mengatakan "jangan" kepada anak didiknya ?
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 482
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:jangan
« Jawab #1 pada: Januari 29, 2014, 09:13:14 PM »
soal larangan berkata "jangan" ini mengingatkan saya kepada dialog saya beberapa tahun lalu dengan umat Buddhis di DC :

Quote (selected)
Quote (selected)
guru meditasi saya seorang yang kasar. kalau anaknya jatuh dia akan berkata, "awas! kalo kamu menangis, gw tempeleng!" saya menyalahkan cara mendidik guru saya tersebut. menurut saya, dia "kurang ilmu" dalam mendidik. tapi, sekarnag saya melihat hasilnya

Logikanya begitu...

1. Kalau sampai murid tsb nangis... dan ditempelengin guru....
      berarti guru tsb akan berusan dgn kantor polisi....(child abuse)
2. Kalau sampai murid tsb nangis... dan tidak ditempelengin....
      berarti guru tsb BERBOHONG...
3. Kalau murid tidak nangis, dan tidak kena tempelengan...
      berarti gutu tsb BERKATA KASAR

Apakah cara ngajar guru tsb yg dikagumin bro Chanra perlu ditiru?
Apakah Diknas, Dikti dlm sertifikasi guru2 mengajarkan dgn cara2 diatas?

semoga tidak terpancing emosinya!

justru, saya sering ditatar teknik mendidik dengan cara yang berbeda.
bahkan dalam suatu penataran, para guru dinasihati, "janganlah guru mengatakan kata "jangan" kepada murid-muridnya. misalnya, kalao murid-murid kelas 1 SD nakal, naik ke atas bangku, janganlah anda berkata,"jangan naik ke atas bangku nak!", tapi katakan padanya "siapa yang mau turun duluan?". jadi, sekali lagi, jangalah mengatakan kata "jangan"!".
wha...ha..ha.. :)) dia sendiri menatar para guru berulang-ulang mengatakan kata "jangan". soalnya sih, sulit mengindari kata "jangan".
mula-mulanya saya tidak kagum dengan cara mengajar guru meditasi saya tersebut. dan berpikir "cara mendidik seperti itu jelek". tapi saya lihat outputnya gimana, hasil didikannya bagus-bagus, memiliki mental yang kuat dan tahan uji. termsuk gw :)) :))
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Tags:
 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
1 Jawaban
1805 Dilihat
Tulisan terakhir April 20, 2012, 09:58:50 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
538 Dilihat
Tulisan terakhir November 25, 2014, 09:58:55 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
415 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 20, 2015, 10:40:45 PM
oleh Kang Asep
10 Jawaban
1177 Dilihat
Tulisan terakhir April 29, 2015, 06:08:50 PM
oleh Agate
1 Jawaban
1353 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 06, 2015, 10:09:19 AM
oleh Ziels
0 Jawaban
439 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 31, 2015, 11:11:15 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
443 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 16, 2016, 01:32:51 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
193 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 02, 2016, 03:29:14 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
147 Dilihat
Tulisan terakhir September 18, 2016, 02:33:58 PM
oleh Kang hendri
0 Jawaban
13 Dilihat
Tulisan terakhir Juni 09, 2018, 11:24:52 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan