Penulis Topik: Surat Ratna Kepada SBY  (Dibaca 2705 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Surat Ratna Kepada SBY
« pada: Januari 08, 2013, 06:19:37 PM »
Kepada Yth : Bapak Presiden RI – Susilo Bambang Yudhoyono

Assalamualaikum W.W.

Adalah mustahil mengingkari amanat konstitusi bahwa kemerdekaan berserikat, berkumpul, dan menyatakan pendapat merupakan hak azasi manusia yang dilindungi undang-undang. Namun menjadi persoalan besar ketika hak azasi itu dipakai oleh Front Pembela Islam (FPI) untuk menekan hak azasi pihak lain, bahkan dalam jumlah yang mayoritas juga berkeinginan untuk berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat, bebas menganut agama serta bebas beribadah sesuai ajaran agama dan kepercayaan masing-masing.

Sejak pertama berdiri menjelang reformasi, rakyat menyaksikan dan media mencatat, FPI ratusan kali melakukan kekerasan, mengganggu keamanan dan ketertiban, menyebarluaskan permusuhan dan kebencian antar suku, agama, ras, gender dan antar golongan bahkan perorangan.

Ratna Sarumpaet Crisis Center (RSCC) secara berkala menerima laporan masyarakat dari berbagai wilayah tentang kesewenang-wenangan / brutalitas FPI, terutama pada mereka yang berbeda ideolongi dengannya, serta mereka yang tidak patuh pada keinginan dan ancaman-ancaman FPI.

Meresahkannya perilaku FPI sudah berulangkali melahirkan tuntutan masyarakat agar Pemerintah membubarkan Ormas ini. Namun disinilah letak masalahnya. Sikap Pemerintah/Kepolisian, termasuk sikap Presiden, kasat mata menunjukkan betapa Pemerintah seolah kehilangan wibawa di hadapan FPI sekaligus memperlihatkan nihilnya rasa tanggung-jawab Pemerintah melindungi rakyat yang hak azasinya dirampas oleh kesemena-menaan FPI.

Maka tidak salah apabila apa yang menimpa gereja GKI Yasmin Bogor dan gereja HKBP Filadelfia Tambun, Bekasi dirasakan masyarakat sebagai bentuk pembiaran Negara yang sudah tidak bisa diterima akal. Bertahun-tahun dua gereja ini tidak bisa beribadah sebagaimana mestinya karena terus menerus diterror FPI. Satu setengah tahun GKI Yasmin beribadah di trotoar, selanjutnya, hampir setahun mereka beribadah sambil mengadukan nasib di depan Istana Presiden, namun Negara, Pemerintah, juga Presiden, diam.

FPI tidak hanya menyasar mereka yang berbeda agama dengannya termasuk tiga klenteng yang mereka serbu di Makassar, komunitas Budha di Lampung dan Bali, serta rangkaian terror ke komunitas Ahmadiyah. FPI juga berambisi mengatur jalan pikiran, menentukan dan memaksakan standard moral yang berlaku, dan mereka yang menolak standar FPI akan dinyatakan kafir, perusak moral dan perusak alam semesta.

Komunitas seni, kesenian dan seniman, mulai dari tingkat tradisi, modern hingga kesenian pop juga sangat sering jadi korban bulan-bulanan FPI. Pembuatan Film Lastri di Solo (2008) misalnya, sudah menghabiskan biaya persiapan ratusan juta rupiah, berhenti total karena FPI mengharamkan. Izin produksi yang dikeluarkan Mabes Polri diinjak-injak di depan mata anggota Polri, dan Polisi diam.

Konser Lady Gaga dibatalkan Kepolisian karena FPI mengancam akan membuat Jakarta rusuh. Biaya persiapan yang pasti mahal dan pengembalian 50 ribu tiket yang sudah terjual menjadi beban penyelenggara, sementara kepala FPI yang secara terbuka dan angkuh melontarkan ancaman tidak ditindak, padahal ancaman/terror adalah tindak pidana.

Missi suci FPI sebagai pejuang moral dengan merusak café-café / restoran / bar dan tempat billiyar karena menjual miras pada bulan Ramadhan, serta menyerbu tempat2 pelacuran pun tidak sesuci yang terdengar. Banyak laporan masuk ke RSCC mengatakan Laskar Pembela Islam (LPI) para militernya FPI, bisa seketika kehilangan taring dan melupakan missi sucinya, apabila target bersedia damai dan menyodorkan uang.

Bahkan sesuai penelitian RSCC pada tahun 2005, semua warung/gerobak rokok di Jakarta ditempeli stiker “Kawasan FPI” sebagian “Kawasan FBR”. Dua kelompok ini tiap sore memungut 5 ribu hingga 15 ribu rupiah dari tiap pedagang rokok. Hasil penelitian ini sudah dilaporkan RSCC pada Polda Metro Jaya (2006). FBR dibekukan tak lama setelah itu, sementara FPI aman.

Presiden SBY dua kali mengeluarkan pendapat mengenai ormas brutal.

Pertama, pada perayaan hari Pers Nasional di Kupang NTT, 2011. Meski tak menyebut nama organisasi, Presiden memerintahkan agar organisasi massa yang menciptakan keresahan ditindak tegas, jika perlu dibubarkan. Sayang, Presiden hanya berhenti di pernyataan. Tidak diikuti dengan pengawasan (up-date), apakah perintah dalam pernyataannya dipatuhi aparatnya. Padahal tahun 2011, Mabes Polri mencatat, FPI melakukan aksi kekerasan dan pelanggaran hukum sebanyak 29 kali dari total seluruhnya 51 kali pelanggaran yang dilakukan seluruh ormas di Indonesia.

Kedua, dilontarkan saat jumpa pers di Istana Negara, 13 Maret 2012. Presiden menyatakan ormas yang dianggap paling sering melakukan aksi kekerasan adalah Front Pembela Islam (FPI). Celakanya, Presiden hanya meminta FPI melakukan instrospeksi diri padahal introspersi diri adalah selemah-lemahnya gagasan dalam mengatasi kelompok sebrutal dan sesemena-mena FPI. Sialnya lagi, Presiden tidak pernah terdengar meminta Pemerintah, dalam hal ini Kepolisian untuk melakukan introspeksi diri.

Karena perubahan tidak akan turun begitu saja dari langit kecuali rakyat bangkit merebutnya, maka sudah saatnya masyarakat Indonesia menuntut dengan tegas pembubaran Front Pembela Islam (FPI).

"Membiarkan brutalitas FPI, sama artinya menghancurkan ke-Indonesia-an kita dan menghilangkan nilai-nilai keadaban yang terangkum dalam empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara yakni: Pancasila, UUD’45, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika."

Secara yuridis pembubaran ormas brutal dimungkinkan dengan UU No 8/1985 tentang Ormas dan PP No 18/1986. Alternatif lain, dapat ditempuh melalui jalur pertanggungjawaban pidana korporasi. Korporasi, termasuk di dalamnya Ormas, sebagai suatu sistem harus mampu memberi pertanggung jawaban fungsi sosialnya.

Namun cara paling tepat adalah model seperti yang pernah dilontarkan ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD: “Pembubaran Front Pembela Islam (FPI) tidak membutuhkan pengadilan. Cukup aparat kepolisian menyatakan aktivitas FPI dihentikan.” Beliau mengatakan itu tidak hanya karena lebih efisien dalam proses, tapi karena FPI tidak pernah terdaftar sebagai Ormas berbadan hukum formal. Ratusan tindakan brutal FPI selama ini bisa dijadikan dasar untuk meminta FPI menghentikan aktivitasnya.

 Beranjak dari pemikiran-pemikiran di atas, Ratna Sarumpaet Crisis Center melayangkan petisi ini pada seluruh rakyat Indonesia agar menanda tanganinya untuk kemudian dilayangkan kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, c.q Kapolri "Agar segera membubarkan Front Pembela Islam atau FPI, serta membebukakan aktivitasnya."

Kepada Bapak Presiden SBY dan jajaran kami meminta dengan sangat agar tidak ragu dan tidak menyia-nyiakan tuntuntan dalam petisi ini. Rakyat menghendaki bangsa ini memiliki kehidupan yang wajar, memiliki hubungan antar masyarakat yang harmonis, saling menghormati dan damai, dan untuk kepentingan itu seluruh rakyat ada di belakang Bapak dan jajaran  Bapak.

Demikianlah petisi ini kami buat, dengan memohon pada Allah SWT agar melindungi bangsa ini untuk selamanya, amien.

Wabilahi taufik walhidayah, wassalamualaikum WW.

dikutip dari :
-http://www.change.org
-Post Indah Jogja(G+)
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Surat Ratna Kepada SBY
« Jawab #1 pada: Januari 08, 2013, 08:35:37 PM »
Jika harus berkomentar, saya tidak tahu harus mengatakan apa. Yang saya tahu wajah islam tidaklah beringas dan penuh kekerasan. Dakwah musti dilakukan dengan hikmah supaya orang bersimpati, seperti orang jualan, casing musti bagus penampilan harus menarik, warna bungkus semestinyalah mencitrakan isinya, sedangkan islam adalah rahmatan lil alamin. Kalau jualan tidak dengan cara-cara yang santun bagaimana akan laku? boro-boro mengundang empati yang ada malah menimbulkan antipati. Pada akhirnya yang lain kena getahnya pula. Pernah waktu saya berangkat ngaji  sekitar jam 11 malam saya di teriakin oleh sekumpulan anak muda yang mengira saya adalah anggota FPI "... woee..FPI!..FPI.."  di jalan dipinggir rel kereta api di wilayah jakarta barat dimana disitu adalah terkenal sarang preman. Saya sendirian waktu itu, dan Alhamdulilah mereka tidak mengeroyok saya.
Sesungguhnya saya simpati dengan apa yang diperjuangkan oleh mereka (FPI) jika saja mereka tidak selalu mengedepankan kekerasan dalam tindakan. Yang haram memanglah harus dikatakan haram, yang perlu diluruskan memang haruslah diluruskan, yang perlu diberantas memang sudah seharusnya diberantas. Tetapi harus disadari bahwa kita adalah masyarakat yang sepakat bahwa hukum harus ditegakkan melalui prosedur yang benar. Tidaklah serta merta menghantam kedzoliman dengan hantam kromo yang justeru menimbulkan dampak buruk yang lebih besar...
 

Offline ratna

  • Global Moderator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 1862
  • Thanked: 2 times
  • Total likes: 22
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Surat Ratna Kepada SBY
« Jawab #2 pada: Januari 08, 2013, 10:57:18 PM »
Dahulu Guru kami beserta seluruh jamaah pengajian yang sedang melaksanakan tabligh akbar didekat markas besar mereka, pernah dikepung dan dengan memekik takbir mereka merangsek maju dengan sebagian mengacung-acungkan senjata. Rupanya mereka tersinggung dengan beberapa isi ceramah Guru kami yang menurut mereka bernada kritikan terhadap sepak terjang mereka. Alhamdulillah semuanya selamat, tidak ada yang terluka. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan apa yang dinyatakan sebab memang faktanya  sesuai dengan kenyataan. Yang lebih baik mustinya berkaca diri, konsolidasi dan menata ulang langkah-langkah yang akan diambil untuk menegakkan kebenaran tanpa harus bersitegang dengan sesama saudara seiman. Jika ada penolakan-penolakan disana-sini janganlah kemudian di gebyah uyah disamaratakan bahwa semua yang menolak itu adalah musuh. Faktanya sebagian yang menolak itu adalah sesama pelaku dakwah juga, oleh karena itu pasti ada yang salah dengan pemahaman terhadap bagaimana memberantas kemaksiatan itu. Tetapi bagaimanapun juga ( meskipun pernah menyakiti kami) saya tetap berharap FPI tetap exis menolak segala macam kemaksiatan dan kebatilan dan tentu saja dengan catatan mereka mau dan bisa bermetamorfosis menjadi suatu gerakan yang lebih baik lagi yang mencerminkan islam sebagai rahmatan lil alamin.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Surat Ratna Kepada SBY
« Jawab #3 pada: Januari 09, 2013, 07:07:13 AM »
setuju, kita berharap FPI belajar dari pengalamannya, tak perlu dibubarkan tapi perlu berubah ke arah yang lebih baik.
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

Offline dw4ryf

Re:Surat Ratna Kepada SBY
« Jawab #4 pada: Januari 19, 2013, 01:43:33 PM »
^Tujuannya memang bagus oleh karena itu saya berharap FPI tidak dibubarkan tetapi FPI perlu memperbaiki cara penyampaiannya. Jangan pakai cara-cara yang mengarah pada kekerasan.
 

Offline cikande

Re:Surat Ratna Kepada SBY
« Jawab #5 pada: Pebruari 26, 2014, 11:29:14 AM »
Hukum harus ditegakkan. Jika FPI memang salah, wajib mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun juga jangan menutup mata akan adanya kegiatan positif yang dilakukan oleh FPI.
Indonesia investment law info for your investment activities in this country.
 

Offline Kang Asep

  • Administrator
  • Master
  • *****
  • Tulisan: 9592
  • Thanked: 61 times
  • Total likes: 483
  • Jenis kelamin: Pria
  • Logika = Undang-undang berpikir
    • Lihat Profil
Re:Surat Ratna Kepada SBY
« Jawab #6 pada: Pebruari 26, 2014, 01:53:22 PM »
 ^ setuju!
Diskusi adalah usaha saling membantu dalam memahami struktur realitas melalui jalan komunikasi berlandaskan pada rasa hormat dan kasih sayang.
 

 

GoogleTagged



Related Topics

  Subyek / Dimulai oleh Jawaban Tulisan terakhir
0 Jawaban
1766 Dilihat
Tulisan terakhir Desember 04, 2012, 09:21:16 PM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
1204 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 28, 2014, 08:13:48 PM
oleh Abu Zahra
2 Jawaban
1105 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 31, 2014, 08:48:12 AM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
1057 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 28, 2014, 08:16:22 PM
oleh Abu Zahra
2 Jawaban
1247 Dilihat
Tulisan terakhir Januari 30, 2014, 06:10:19 PM
oleh Abu Zahra
0 Jawaban
724 Dilihat
Tulisan terakhir Maret 21, 2014, 12:52:11 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
506 Dilihat
Tulisan terakhir Mei 16, 2014, 07:07:51 AM
oleh Kang Asep
3 Jawaban
912 Dilihat
Tulisan terakhir Agustus 31, 2014, 12:52:11 PM
oleh ratna
0 Jawaban
115 Dilihat
Tulisan terakhir April 11, 2017, 07:02:25 AM
oleh Kang Asep
0 Jawaban
100 Dilihat
Tulisan terakhir April 12, 2017, 03:58:41 PM
oleh Kang Asep

Ilmu Logika

Proposisi Syllogisme Kupas Logika TTS

Meditasi

Menenangkan Pikiran Mengembangkan Kekuatan-Kekuatan